Kamis, 30 Oktober 2014

Anugerah Bidadari (versi IC) - Chapter 11

“Aku bosan, Cakka. Tidak bisakah
kau membiarkan aku membacanya
dengan tenang?” gerutu Alvin.“Setiap kali aku membaca koran,
kau selalu memulai ejekan-
ejekanmu itu. Kalau kau cemburu pada Ratu Ashilla, katakan saja. Kita harus mengakui sekarang ia lebih terkenal daripada kau.”

“Aku tidak akan cemburu padanya!” sangkal Cakka.

“Terserah kau sajalah.” Alvin tidak
peduli.

Keadaan telah berubah banyak
dalam hari-hari terakhir ini di
seluruh wilayah Vandella juga pada
diri Alvin dan Cakka.

Kalau dulu Cakka yang bosan
mendengar Alvin memuji Ashilla,
dan sekarang Alvin lah yang bosan
mendengar hinaan-hinaan Cakka yang dituju untuk Ashilla.

Keputusan-keputusan Ashilla untuk terus memperbaiki keadaan rakyat dan membuat rakyat mulai mempercayai serta mencintainya. Tetapi, kecurigaan Cakka tidak juga berkurang.

Alvin tidak tahu apa yang membuat pria itu sekeras ini. Biasanya, Cakka lah yang paling mudah berubah mengikuti keadaan. Sekarang ia tegar seperti batu dengan keputusannya.

“Kalau cinta sudah ditipu, beginilah akibatnya.” kata Alvin
pada dirinya sendiri dan terus dengan kegiatan membacanya.

Dalam pekan-pekan terakhir sejak
Ashilla memulai pemerintahan nya, koran-koran.terus menyoroti dirinya. Koran-koran tanpa ragu untuk mengupas semua tindakannya yang selalu mengejutkan rakyat.

Tidak ada lagi yang menyamakan
Ashilla dengan ayahnya. Semua
tahu bahwa Ashilla berbeda dengan ayahnya. Ia setegas ayahnya tetapi selembut bidadari.

Kedudukannya yang tinggi serta
paras wajahnya yang cantik dan
didukung dengan usianya yang masih muda, membuat para bangsawan pria berlomba-lomba untuk mendekatinya.

“Sebaiknya kau harus berhenti
membencinya atau kau akan
kehilangan dia selama-lamanya,
Cakka. Ketika aku pergi ke
Thamasha, aku mendengar orang-
orang berkata, ‘Ratu adalah gadis
yang sangat menarik. Andai dia
bukan seorang Ratu, aku pasti
melamarnya.’ Kau akan sangat
menyesal bila itu terjadi. Apalagi
bukan hanya rakyat Vandella yang
mengatakannya.” kata Alvin mengingatkan.

“Aku tidak akan menyesali
pernikahannya!” kata Cakka tegas.

“Sungguh?”

“Aku berbicara dengan seluruh
kemantapanku.” kata Cakka lagi.

“Aku lega mendengarnya. Aku juga
tertarik padanya. Sekarang aku
tidak perlu mengkhawatirkan apa-
apa untuk menikahinya.” jawab Alvin enteng.

“Kenapa harus khawatir?”

“Kau hampir saja menikahinya.” kata Alvin pasrah. Tiba-tiba Alvin itu melonjak kaget mengingat hal itu. “Kalau pernikahanmu tidak diganggu, kau telah menikah dengan Ratu! Dan, kau sekarang telah menjadi Raja Vandella!”

“Aku beruntung tidak menikahi
setan cilik itu!!” sahut Cakka dingin.

Alvin hanya bisa mengangkat bahunya. “Terserah padamu, tapi jangan marah kalau aku menikahinya.”

“Aku turut bahagia karenanya.”
kata Cakka dingin.

Alvin mengacuhkannya dan kembali berkutat dengan kegiatan membaca korannya. Setiap kali ia menemukan berita yang menarik, ia selalu berseru..

“Lihat ini!”

Dan Cakka hanya menyahutinya dengan seribu macam hinaan.

Sejak ditinggalkan Ashilla, keadaan di Lasdorf banyak berubah seperti keadaan Vandella
umumnya.

Berkat peninggalan Ashilla, kehidupan rakyat Lasdorf mengalami perubahan lebih makmur. Terlihat dengan semakin
besarnya penghasilan rakyat dalam
satu hari. Serta membaca bukan lagi hambatan bagi mereka.

Dengan berubahnya sistem
pemerintahan Vandella, untuk
sementara waktu Cakka hanya
menyibukkan diri dengan
melakukan apa yang harus
dilakukannya sejak dulu dan sudah
dimulai oleh Ashilla.

Cakka kini menjadi guru bagi rakyatnya. Setiap hari ia
meluangkan waktunya untuk mereka disamping mengolok Ashilla dihadapan Fred.

Sering kali Alvin berpikir apakah rakyat Lasdorf akan menyetujui sikap Cakka jika mereka tahu bahwa Ratu Ashilla adalah Cilla. Tetapi, berulang kali ia berpikir itu tidak mungkin terjadi. Karena Cakka takkan membiarkan rakyatnya tahu siapa Ratu mereka.

“Pangeran! Pangeran!”

Cakka langsung berdiri ketika mendengar seruan panik itu dan menuju jendela. Ia melihat ke bawah dengan perasaan cemas.

Seseorang berlari menuju
bangunan tempat Cakka berada dan beberapa meter di belakangnya ada seseorang yang duduk diatas kuda dan digiring mendekat oleh pasukannya.

Cakka segera menemui mereka.

“Pangeran!”

“Apa yang terjadi, Gilang?”

“Ada utusan dari Ratu Ashilla!” kata
Gilanh setengah tak percaya, “Ia
datang membawa bendera
perdamaian.”

Cakka melihat pria tua diatas
kuda yang dalam keadaan terikat.
Tangannya menggenggam bendera
putih, tanda menyerah itu.

“Hamba diutus oleh Yang Mulia Ratu Ashilla untuk menemui Anda, Pangeran.” ucap Gabriel menjelaskan kedatangannya ke Lasdorf.

Cakka mendengus puas. Akhirnya gadis itu akan melakukan sesuatu
terhadapnya. Dan ia ingin tahu
rencana licik apa yang sedang
direncanakan setan cilik itu.

“Bawa dia masuk!!” perintah Cakka.

“Tapi Pangeran!”seru Gilang cemas.

“Jangan khawatir.. Aku bisa menanganinya sendiri.” kata Cakka tegas.

Orang-orang yang mengawal Gabriel segera menurunkan pria itu dari atas kuda dan membawanya keruang utama.

“Tinggalkan kami berdua!” perintah Cakka pada prajuritnya.

“Baik, Pangeran.”

Sepeninggal mereka, Cakka
melepaskan ikatan Gabriel.

“Terimakasih, Pangeran.” kata Gabriel setelah tali itu lepas dari tubuhnya.

“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Cakka to the point.

Gabriel tidak terkejut menerima
sambutan dingin itu. Ashilla telah memperingatinya sebelum
melepas kepergiannya menemui Cakka.

“Ratu ingin mengundang Anda
untuk datang ke Istana Azzereath
untuk berdamai.”

Melihat pandangan Cakka tetap
sinis, Gabriel tetap melanjutkan perkataannya, “Ratu sangat menyesal tidak dapat datang sendiri kesini. Karena banyak hal
yang harus diselesaikannya. Hari
ini beliau membuka sidang untuk
Riko.”

“Riko?” tanya Cakka dengan mengangkat alisnya satu.

“Ratu sangat luar biasa! Dalam
waktu singkat, ia tahu Riko telah mencuri uang rakyat. Perhitungan Ratu sendiri dengan perhitungan para ahli keuangan tidak jauh berbeda. Hari ini Ratu menggelar persidangannya bersama para Menteri.”

Cakka memandang Gabriel dengan sinis.

“Khusus hamba, hamba mendapatkan tugas untuk menjemput Anda. Ratu berkata sayalah wakilnya yang paling tinggi didalam Kerajaan Vandella. Ratu sangat menghormati Anda namun ia tidak bisa menemui Anda sendiri.”

“Sebenarnya apa yang
direncanakan oleh Ratumu itu? Ingin menarik perhatian rakyat dengan menghukum menteri kesayangan ayahnya?” tanya Cakka dengan nada sarat penuh kesinisan.

Gabriel menghela nafas. Ashilla juga telah memperingatinya
tentang pandangan sinis Cakka
terhadapnya.

“Ratu berencana untuk mengubah
kerajaan ini. Ia ingin membuang
semua peninggalan ayahnya dan
menggantinya dengan yang baik.
Termasuk memperbaiki hubungan
pemerintah dengan Anda.” ucap Gabriel berusaha tidak ikut terpancing.

“Katakan padanya aku menolak!!”

“Ratu telah menduganya.” kata
Gabriel.

Cakka membuang muka dengan
angkuh.

“Ia tidak memaksa Anda bila Anda
menolak..” kata Gabriel jujur. “Tetapi, saya memohon Anda sudi
datang ke Azzereath.”

“Anjing yang setia.” ejek Cakka.

Gabriel bersikap seperti tidak
mendengarnya.

“Saya minta maaf atas kejadian
beberapa bulan lalu. Ratu tidak
memerintahkan kami untuk
menyerang tempat ini. Bahkan Ratu tidak tahu penyerangan itu. Ratu hanya memerintahkan kami untuk.bertahan di Thamasha sampai beliau datang. Sayalah yang
memerintahkannya. Saya juga yang melakukan itu karena saya
menghawatirkan keselamatan Ratu. Ratu tidak berniat untuk
memperpanjang permusuhan dengan Anda.” jelas Gabriel.

Cakka tetap tidak menanggapi.

“Saya mohon, Pangeran. Ratu bisa
jatuh sakit bila ia memaksakan diri
untuk datang ke Lasdorf. Saat ini ia
sangat kelelahan karena setiap saat ia terus bekerja tanpa mau berhenti. Tidak seorangpun yang bisa menghentikannya.” ucap Gabriel dengan wajah memohon.

“Kau pikir aku bisa?”

“Saya tahu Anda juga tidak bisa, Pangeran.” Gabriel mengakui, “Tapi dengan Anda sudi untuk datang ke Azzereath, kami sangat
berterimakasih.”

“Sebagai gadis yang dibesarkan di
desa miskin, Ratu tahu bagaimana
kesulitan rakyat Vandella. Ia
berkeinginan untuk memperbaiki
semua itu. Dalam diri Ratu
terdapat sifat keras Raja Sion. Ia
selalu berkata, ‘Aku tidak akan
berhenti sebelum semuanya
selesai. Banyak yang harus
dilakukan.’ Ratu ingin segera
menyelesaikan segalanya dan tanpa ia sadari, ia telah merusak
tubuhnya sendiri. Ratu masih terlalu muda untuk mengerti hal itu.” kata Gabriel masih berusaha membujuk Cakka untuk datang ke Istana.

“Kami semua mengkhawatirkan
kesehatan Ratu bila ia harus
menempuh perjalanan panjang ini.
Ratu tidak ingin memaksa Anda
untuk datang ke Azzereath tapi
kami memohon pada Anda. Tak
seorang pun di Azzereath yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ratu tiba-tiba sakit. Saat ini adalah masa paling sulit dan Ratu sangat dibutuhkan di Vandella.” lanjut Gabriel.

“Betapa setianya kalian pada keturunan serigala itu!!” ejek Cakka.

Gabriel sama sekali tidak merasa tersinggung mendengar kata-kata sinis itu.

“Ratu Ashilla lebih menyerupai
ibunya daripada ayahnya. Anda
mungkin tidak percaya, tetapi ini
benar. Ratu Ashilla sangat
membenci ayahnya. Bahkan Ia tidak mau.memerintah Vandella yang merupakan warisan dari ayahnya. Tapi, ia tetap melakukannya hanya demi rakyat
Vandella. Kami tahu Ratu mencintai rakyat dan kami pun juga sama, mencintai Ratu kami.”

Cakka diam membisu.

Gabriel putus asa melihat pandangan angkuh pria itu.

"Yang Mulia Ratu benar, pangeran tidak bisa dipaksa begitu saja.” pikirnya sedih.

“Aku ikut!!” Cakka pada akhirnya
memutuskan, “Aku ingin tahu apa
yang akan direncanakan oleh setan cilik itu terhadapku.”

                   -----0-----

“Menteri Dalam Negeri sudah tiba,
Yang Mulia.” ucap sang prajurit pada Ashilla.

“Bawa dia menghadapku.” jawab Ashilla.

Prajurit itu kembali keluar. Tetapi,
Ashilla terus memandang
halaman Istana.

Akhir-akhir ini di Istana menjadi
semakin ramai karena kehadiran
para tunawisma itu. Setiap hari
selalu ada yang pulang dan pergi.
Yang menginap di Hall pun tidak
sedikit.

Mereka senang tinggal di Istana.
Orang-orang Istana pun selalu
menerima mereka dengan ramah.
Segala kebutuhan mereka tersedia
disini.

Ashilla telah membuat Istana Azzereath yang selama ini ditakuti,
menjadi tempat yang paling
menyenangkan untuk ditinggali.
Sebagai Ratupun, ia bertindak
sebagai tuan rumah yang ramah.

Halaman Istana kini tidak hanya
indah tetapi juga menawan dengan
banyaknya anak-anak yang bermain disana. Orang-orang pun dengan bebas bersenda gurau di halaman Istana.

Dulu Istana Azzereath yang terkenal dingin kini menjadi Istana yang selau ceria. Canda tawa kini selalu menghiasi kehidupan di Istana.

“Hamba datang menghadap, Yang Mulia.” kata Gabriel seraya
membungkuk, “Saya telah menjemput Pangeran Cakka sesuai dengan keinginan Anda. Saya mengaku bersalah, Yang Mulia, karena saya tidak berhasil
membujuk Pangeran untuk
beristirahat sebelum menemui
Anda.”

“Tidak apa-apa, Gabriel. Sekarang
kau bisa meninggalkan kami
berdua.”

Ashilla tetap tidak bergerak setelah kepergian Gabriel.Matanya terus menatap ke halaman Istana.

Cakka pun melakukan hal yang sama yaitu berdiam diri seraya memandangi rambut Ashilla. Rambut itu kini tampak lebih
bersinar keemasan. Rambut emas
itu tergerai menutupi pinggang
Ashilla yang kecil. Tubuhnya yang terbungkus gaun ungu cerah tampak ramping.

Gadis itu terus memandang ke
depan dengan menyilangkan
tangan di depan dadanya. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkannya.

Ashilla tahu sebelum menghadapi Cakka, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Pembicaraannya dengan Cakka takkan semudah rapat dengan para Menteri. Mengingat kejadian-kejadian di masa lalu,pembicaraan ini akan menjadi
semakin sulit.

Ashilla menguatkan dirinya sebelum akhirnya ia menatap
Cakka. Ashilla senang bisa bertemu dengan orang yang selalu
dipikirkannya itu. Tapi, ia
membuang jauh-jauh perasaan
rindunya itu.

“Terimakasih Anda sudi untuk datang ke tempat ini. Dalam kesempatan ini pula saya minta maaf karena telah.menipu Anda dan rakyat Lasdorf.” kata Ashilla sopan.

“Katakan apa yang sebenarnya
kau rencanakan?” balas Cakka
tajam.

“Saya berencana mengajak Anda
berdamai.” jawab Ashilla tenang.

“Berdamai??” cemooh Cakka.

“Saya tahu Anda tidak akan
mempercayainya tapi saya ingin
Anda tahu saya ingin memperbaiki
kehidupan rakyat Vandella. Untuk
itu, saya mempunyai dua tawaran
untuk Anda.” ucap Ashilla tanpa memperdulikan cemoohan yang terlontar dari mulut Cakka.

“Tawaran berdamai?”

Ashilla mengacuhkan kata-kata
yang penuh ejekan itu. “Anda
ingin meneruskan pernikahan kita
atau tidak?”

Cakka terdiam mendengar tawaran
yang tidak diduganya itu.

Ashilla sedih melihat raut wajah
dingin Cakka. Gadis itu segera
memunggungi Cakka untuk mencegah pria itu melihat
kesedihannya.

Ashilla menutup matanya ketika
berkata, “Semua telah diputuskan.”

Tanpa bertanya pada Cakka pun,
Ashilla sudah mengetahui jawaban yang keluar dari mulut Cakka. Cakka membenci ayahnya dan takkan sudi untuk menikah dengannya.

Kali ini Ashilla menatap Cakka dengan tenang.

“Tinggallah disini untuk beberapa
hari sampai semuanya selesai.
Sebelum Anda menduduki tahta,
saya akan merapikan Istana ini.
Saat ini Castil Quarlt'arth sedang
ditata ulang untuk tempat
penampungan para tunawisma.
Sebelum akhir minggu ini segala
kegiatan di Hall akan dipindahkan
kesana.” jelas Ashilla.

“Castil Quarlt'arth?” tanya Cakka
tak percaya.

Ashilla tidak ingin menjelaskan
banyak tentang rencananya dengan
kastil peristirahatan ayahnya yang
megah.

“Semuanya akan beres sebelum
penobatan Anda.”

Ashilla menepuk tangannya dua
kali lalu prajurit yang menjaga
pintu pun masuk.

“Tolong antarkan Pangeran Cakka
ke kamarnya.” kata Ashilla pada sang prajurit.

“Baik, Yang Mulia.” kata prajurit itu
lalu pada Cakka ia berkata, “Mari,
Pangeran.”

“Silahkan beristirahat. Anda pasti
lelah setelah menempuh
perjalanan jauh.” kata Ashilla
sebelum membalikkan badan.

Cakka melihat punggung Ashilla
dan pergi meninggalkan ruangan
itu.

Tidak banyak yang mereka
bicarakan. Mereka lebih banyak
bersikap seperti dua orang asing.

Cakka tak menduga semua kata-
kata Ashilla. Gadis itu benar-benar berbeda dengan gadis yang di Lasdorf dulu.

Ashilla kini lebih cantik dan juga
lebih anggun serta berwibawa. Ia
bukan lagi gadis yang selalu
mengajaknya bertengkar.

“Saya sangat senang dapat bertemu Anda, Pangeran. Saya
tidak pernah menyangka akan
bertemu Anda di Istana ini. Sudah
sejak dulu saya ingin bertemu
Anda.” ucap sang prajurit menyela lamunan Cakka tentang Ashilla.

“Apa aku setenar itu?” tanya Cakka dingin.

“Benar, Pangeran. Yang Mulia Ratu
sendiri sering mengatakan kekagumannya pada Anda. Ia merasa bangga bahwa Vandella mempunyai pahlawan seberani Anda.” jawab sang prajurit.

Cakka tidak mempercayai apa yang
didengarnya.

“Yang Mulia Ratu mengatakan ingin
mengajak Anda bekerja sama untuk membangun kembali Vandella. Beliau yakin Anda pasti tahu.segala hal yang baik untuk
Vandella. Tapi, kami berkata Ratu
juga pantas memimpin Vandella.
Anda berdua pantas untuk
menjadi pemimpin Vandella.”
Prajurit itu tiba-tiba menutup
mulutnya. “Maafkan saya,
Pangeran. Akhir-akhir ini kami
semua terbiasa bersikap terbuka.”

“Yang Mulia Ratu yang menyuruh kami untuk bersikap jujur. Ia selalu berkata kesopanan kami padanya hanya untuk menunjukkan hormat kami padanya. Dan, ia tidak berhak
mengurung kebebasan kami dalam
bentuk apa pun. Ratu selalu
menekankan hal itu pada kami. Ia
tidak ingin terlalu disanjung tetapi
kami selalu memujanya. Karena itu, disini kami bisa akrab dengan
Ratu dan pada saat yang.bersamaan kami juga menghormatinya.”

“Banyak yang dilakukan Ratu untuk
mengakrabkan diri dengan kami
semua. Setiap hari Ratu bekerja
tanpa henti terutama pada hari-
hari pertama dulu. Setelah Ratu
membuka Istana untuk umum,
setiap hari Minggu Ratu
menghentikan semua kegiatan di
Istana. Setiap hari Minggu kami juga mengadakan pesta sederhana di halaman. Saat itu Ratu tidak
menginginkan penghormatan
padanya dalam bentuk apapun.
Saat itu Ratu ingin dianggap
sebagai rakyat biasa.”

“Saya berharap Anda tinggal di sini
sampai hari Minggu. Kami akan
senang sekali bila Anda mau. Kami
semua selalu berharap dapat
bertemu Anda.” jelas sang prajurit panjang lebar.

Cakka tidak menanggapi.

Prajurit itu berhenti di sebuah
pintu dan membukanya. “Inilah
kamar Anda, Pangeran. Kamar
teman Anda tepat di sebelah
kamar ini. Selamat beristirahat,
Pangeran. Yang Mulia Ratu ingin Anda menganggap Istana sebagai rumah Anda sendiri.”

Prajurit itu membungkuk lalu pergi.

Cakka memasuki kamarnya dengan
enggan. Banyak hal yang menghantui pikirannya. Ia tidak ingin menemui Alvin seperti janjinya sebelum menemui Ashilla. Saat ini ia ingin menyendiri.

Cakka tidak heran Alvin tidak
mencarinya. Ia yakin pria itu
sedang tidur nyenyak di
sebelahnya. Sesaat setelah kereta
mereka memenuhi Istana, ia sudah menguap lebar-lebar.

Ashilla benar-benar berbeda.
Tapi gadis itu masih tetap penuh
misteri. Seperti dulu, di mata
birunya yang cerah, tersimpan
banyak rencana. Entah apa yang
direncanakannya kali ini tapi Cakka tetap akan mewaspadai
gadis itu.

Mungkin sekarang ia tidak
menunjukkannya, tapi Cakka yakin
suatu saat nanti gadis itu akan
menunjukkannya. Suatu saat nanti
pasti Ashilla akan menunjukkannya.

Teringat kembali akan Ashilla,
Cakka mengutuki dirinya. Ia tidak
dapat memungkiri keinginannya
untuk menarik gadis itu ke
pelukannya dan menciumnya
sampai ia puas. Cakka benci. Ia
masih merindukan gadis serigala
itu sedangkan itu adalah hal yang
paling ingin dibunuhnya.

Cakka mengutuki Ashilla karena yang menimbulkan kesan dingin di
antara mereka. Kalau gadis itu
menebarkan sikap permusuhannya, ia takkan seperti ini. Perasaannya tidak akan kacau oleh keinginan untuk menghancurkan sikap dingin dan menjaga jarak itu.

Rencana apa yang akan disusun oleh Ashilla untuknya? Apapun itu, ia tidak akan berhasil. Kalau Ashilla
mengira ia dapat memperalat
dirinya, ia salah. Terutama kalau ia
ingin mengangkatnya sebagai Raja
untuk menarik perhatian rakyat.

Timbul kembali keinginan Cakka
untuk mencekik gadis yang telah
menipunya itu.

Pada pertemuan mereka yang baru saja berlalu, Cakka telah melupakan keinginannya karena sikap Ashilla yang tidak diduganya.
Pada pertemuan kedua mereka,
Cakka yakin ia harus mengendalikan diri agar tidak
mencekik leher cantik itu.

Dan, saat itu juga Ashilla harus
berhati-hati padanya.

****

Sore hari seorang pelayan datang
menemui Cakka.

“Yang Mulia Ratu ingin Anda hadir
dalam pertemuan di Ruang Hijau.”
kata sang prajurit.

“Pertemuan apa?” tanya Cakka heran.

“Pertemuan dengan masyarakat.” jawab sang prajurit.

Cakka keheranan.

“Setiap sore selama satu jam,
Yang Mulia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan masyarakat. Dalam jamuan minum teh itu, Yang Mulia
mendengarkan masalah-masalah
rakyat. Banyak yang datang dari
jauh untuk mengeluh pada Yang Mulia Ratu. Sekarangpun Yang Mulia Ratu sudah berada di antara mereka.”

Pelayan pria itu membantu Cakka untuk mempersiapkan dirinya lalu
mengantarnya ke Ruang Hijau.

Ketika Cakka tiba disana, Ashilla sedang duduk di sebuah kursi tinggi sambil memangku kedua tangannya. Ia tampak sangat
cantik dengan senyum manis yang
tersungging di wajahnya yang
ceria. Rambutnya yang digelung
tinggi, membuat gadis itu tampak
lebih dewasa.

Cakka jengkel ketika ia menyadari
tidak ada gadis yang lebih anggun
daripada Ashilla saat ini.

Padahal gaun yang dikenakannya sangat sederhana. Gadis itu juga tidak mengenakan hiasan rambut.
Ashilla seperti ingin menyesuaikan diri dengan tamu-
tamunya.

Sikap ramah dan terbuka Ashilla lah yang.membuat suasana di dalam ruangan itu terasa hangat. Tidak ada kesan antara rakyat yang sedang menghadap Ratunya.Yang terkesan hanyalah suasana yang hangat yang penuh dengan kekeluargaan.

Sebagai tuan rumah, Ashilla sangatlah ramah. Tanpa mempedulikan kedudukannya, ia
mau melayani tamu-tamunya.

“Pangeran Cakak sudah datang, Yang Mulia.” ucap sang prajurit tiba-tiba.

Semua orang menoleh pada Cakka.

Ashilla tersenyum dan berkata,
“Selamat datang, Pangeran. Kami
tengah membicarakan Anda. Mari,
silahkan duduk.”

Ashilla berdiri dan memberi
tempat untuk Cakka. Ashilla
merasakan pandangan dingin
Cakka ketika ia menuangkan teh
untuknya.

“Silahkan duduk disini, Yang Mulia”
Mereka yang duduk di kursi.panjang saling berdempetan untuk
memberi Ashilla tempat duduk.

“Terima kasih.” ucap Ashilla tulus

Ashilla baru saja duduk berdesak-desakan ketika orang-orang itu mulai berbicara dengan Cakka.

Dalam pertemuan kali ini Ashilla
hanya menjadi pendengar. Ia tidak
mengatapan apa-apa tetapi
menyimpan banyak hal dalam
pikirannya.

Dalam hatinya, Ashilla tersenyum bahagia. Ia bahagia atas keputusannya yang baginya paling
baik.

Cakka tidak menyadari bahwa kursi yang sekarang didudukinya adalah kursi untuk Raja Vandella. Ashilla tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu bila ia mengetahuinya. Yang Ashilla ketahui saat ini adalah keputusannya tepat.

Dengan penuh perhatian Cakka
mendengarkan kata-kata rakyat dan menanggapinya dengan bijaksana. Pria itu selalu tahu apa yang harus dikatakannya atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

Ashilla tidak mau terlalu memperhatikan Cakka. Ia tidak
mau Cakka berpikiran buruk
tentangnya. Ashilla ingin semuanya berlangsung dengan
baik tanpa ganjalan di hati pada
saatnya.

Apapun alasan Cakka dulu.memaksa menikah dengannya,
Ashilla tidak mau.mempedulikannya lagi.
Memikirkannya hanya membuat
hatinya terasa makin sakit.

Dulu Cakka ingin memanfaatkannya untuk
menggalang kekuatan melawan
ayahnya. Sekarang Ashilla senang. Tidak perlu ada perang untuk mengganti pemerintahan otoriter ayahnya.

Aneh!

Semua ini aneh!

Ketika berada di Lasdorf, Ashilla
merasa gila karena kebenciannya
yang mendalam pada Cakka. Kini
Ashilla merasa gila karena
cintanya yang mendalam pada Cakka.

Apa yang dikatakan orang-orang
memang benar. Batas antara benci
dan cinta tidak sampai setipis
kertas.

Tapi apa yang bisa dilakukan oleh
Ashilla terhadap perasannya itu?
Ashilla tahu sejak awal Cakka.ingin memanfaatkannya. Dan, setelah tahu ia adalah putri orang yang telah membunuh orang tuanya, ia takkan memaafkannya. Ashilla tahu bahwa Cakka membenci dirinya.

Kebencian yang dirasakan Cakka pada Ashilla berbeda dengan kebencian yang dirasakan oleh Ashilla pada Cakka. Ashilla.tahu pria itu benar-benar membencinya hingga terasa pada
seluruh cara dia ketika melihat dan berbicara dengannya.

Tidak ada gunanya mempertahankan permusuhan ini.

Tepat satu jam Ashilla berada di
Ruang Hijau, gadis itu lalu berdiri.

“Maafkan saya. Saya tidak bisa
menemani Anda lebih lama lagi. Jika kalian ingin, silahkan melanjutkan tanpa saya.” ucap Ashilla tiba-tiba.

Cakka mengawasi kepergian Ashilla tanpa berbicara apa-apa.

Dari pelayan yang melayaninya
tadi, Cakka tahu bahwa Ashilla selalu.l sibuk. Tiada hentinya ia berada di Ruang Kerja.

Di malam hari pun saat semua orang terlelap, Ashilla masih terjaga. Lewat tengah malam gadis itu baru akan beranjak dari meja kerjanya. Sebelum memasuki ruang tidurnya, Ashilla masih menyempatkan untuk mengelilingi Hall untuk memeriksa keadaan rakyatnya yang tidur disana.

Pelayan itu berkata, “Kami sering
menyebut Ratu sebagai Bidadari
Malam. Tiap malam Anda akan
melihat Ratu membawa lilin kecil
dan berkeliling Hall.”

Cakka tidak mengerti kenapa
malam ini ia tidak bisa tidur.
Pikirannya melayang-layang dan
matanya sukar tertutup.

Samar-samar Cakka mendengar
langkah-langkah ringan.

Cakka mencari mantel di lemari
dan pergi menuju Hall.

Di ujung lorong, Cakka melihat
Ashilla yang tengah menyelimuti
seseorang. Hampir tiap langkah,
gadis itu berhenti untuk
membenahi selimut banyak orang
itu.

Tanpa disadarinya, Cakka.tersenyum melihat pemandangan
itu.

Seorang Ratu yang kedudukannya
sangat tinggi dan penuh dengan
gemerlapan, turun tangan hanya untuk memberikan kasihnya pada rakyat.

Cakka terus berdiri di ujung
lorong sampai Ashilla menuju ke
arahnya.

“Anda belum tidur?” tanya
Ashilla keheranan.

“Aku tidak bisa tidur.” jawab Cakka, "Kenapa kau belum juga tidur?”

“Banyak yang harus saya selesaikan.”

“Sudah banyak yang kau selesaikan. Apa yang kurang?”

Ashillaa tersenyum.

“Rencanamu itu…” tanya Cakka setelah tidak mendengar jawaban dari Ashilla

“Kita telah sepakat dalam hal itu,”
potong Ashilla. “Saya akan
menyerahkan tahta pada Anda.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Cakka kurang setuju.

“Jangan mengkhawatirkan saya.
Masih banyak yang dapat saya
lakukan.”

“Bagaimana dengan pernikahan
kita?” tanya Cakka lagi sepertinya belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Ashilla.

Ashilla menghela napas dan
terus berjalan. “Pernikahan kita
hanya hampir resmi secara agama.
Andaikan kita menyelesaikan
pemberkatan pernikahan dan
mengakhirinya dengan
penandatanganan surat
pernikahan…”

“Tapi itu juga tidak akan membuat
pernikahan kita resmi secara
hukum. Nama yang ada bukan
nama saya. Tak ada yang
mengetahui pernikahan itu selain
kita, Alvin serta Ify. Saya yakin
hanya Alvin yang tahu saya adalah
Chilla.”

“Apa kau mencintaiku?” tanya Cakka tiba-tiba.

Seketika Ashila berhenti dan menatap Cakka lekat-lekat setelah mendengar pertanyaan yang membuat diriny kaget.

Cakka tidak tahu bagaimana kata-kata itu yang terucap. Ia sendiri juga terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu.

“Saat ini yang paling saya cintai
adalah rakyat.” Ashilla
melangkahkan kakinya.

Cakka segera mengikuti  langkah Ashilla. “Kalau aku menjadi Raja,
bagaimana denganmu?”

“Saya rasa kita telah membicarakan hal itu,” jawab Ashilla.

“Bagaimana dengan rakyat?”

“Rakyat mencintai Anda. Mereka
pasti senang bila Anda yang memerintah mereka. Saya telah
membuka jalan bagi Anda untuk
memulai pemerintahan. Anda tidak perlu mencemaskan apa pun.” jawab Ashilla berusa tenang.

“Kau telah membuka jalan tetapi apa yang aku lakukan akan sama dengan yang kau rencanakan?” tanya Cakka lagi.

“Para Menteri akan membantu
Anda. Mereka tahu apa yang saya
inginkan. Mereka telah bersumpah
pada saya akan terus memberikan
yang terbaik bagi Vandella.”

Cakka terdiam.

Semua telah diatur oleh Ashilla
sedemikian rapi hingga tidak
mungkin dibatalkan lagi. Ashilla
telah memperhitungkan segalanya. Segala kekurangan rencananya telah ditutupnya dengan rapat hingga tak ada yang bisa merusaknya.

Ashilla berhenti dan membuka
pintu.

“Selamat malam, Pangeran.”

Cakka kebingungan.

“Ini kamar Anda, Pangeran.” Ashilla mengingatkan dengan
tersenyum geli.

“Semoga Anda bisa tidur dengan
nyenyak.” Ashilla berbalik dan
melangkah pergi.

“Ashilla!” Seru Cakka tiba-tiba dan menarik tangan gadis itu. Cakka menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.

Tindakannya itu membuat Ashilla cemas. Ia takut api lilin yang ada ditangannya mengenai baju Cakka.

Lalu Cakka melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Ashilla. Ia tidak akan menemukan wajah secantik dan semanis ini di manapun. Dengan lembut, ia mencium bibir Ashilla, bukan hanya menempelkan bibirnya tapi Cakka sedikit melumat bibir manis itu yang menjadi candu baginya, kemudian menghilang dibalik pintu tanpa berbicara apapun.

Ashilla terpaku.

Jantungnya berdebar sangat
kencang. Seluruh darah ditubuhnya seperti menggelegar.
Wajahnya terasa panas.

Ashilla merasa seperti demam.
Berminggu-minggu ia merindukan
kehangatan dan rasa aman di
dalam pelukan Cakka. Tetapi, ia
tidak berani memimpikannya.

Ashilla tahu jika Cakka memeluk
atau menciumnya, ia akan semakin
sukar meninggalkan pria itu.
Sedangkan demi rakyat Vandella, ia harus menjauh dari Cakka.

Ashilla tahu apa yang harus segera dilakukannya. Ia akan meminta Gabriel untuk membantunya.

Hari-hari berikutnya akan menjadi
saat yang paling sulit bagi Ashilla.

*******************************

aaaaaaaaa akhirnya Cakka ketemu sama Ashilla juga hihihii :D noh yang kangen sama cakshill di part ini mereka bertemu.
gimana gimana??? udah puas belom?? :) kalau belom ditungguin terus yaa :D *modus*

Rabu, 01 Oktober 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 10

assalamualaikum... maaf bangett yaa karena ke-ngaret-an saya.. saya juga ngga tahu kenapa akhir2 ini malesss bangett buat buka blog ini hehe :)

udah lah ngga usah lama2 mariiii :D

*********************************************************************************

Dua hari setelah pengumuman
titah dari Ashilla, Hall Istana mulai
ramai. Bangsawan-bangsawan
mulai berdatangan untuk menyerahkan bantuan mereka.
Orang-orang kaya pun tak mau
ketinggalan.

Ashilla menyadari ini semua
berkat pemberitaan yang ada dikoran yang dengan gencar
mengabarkan bahwa dirinya telah
menyamar menjadi gadis desa
hanya untuk memberi bantuan pada rakyat dengan tangannya sendiri. Tapi sangat disayangkan, menurut Ashilla, koran-koran itu terlalu berlebihan dalam memujinya. Karena dalam koran tesebut dikatakan bahwa ia mau melupakan kedudukannya demi menyuapkan nasi pada orang tua yang lumpuh.

Walaupun begitu, Ashilla tetap mengucapkan terima kasih pada mereka. Berkat mereka penyebaran berita kegiatan amalnya menjadi lebih cepat.

Bantuan sudah banyak yang
terkumpul di Hall Istana. Para prajurit Vandella terus mengantarkan bantuan ke kota-kota di seluruh pelosok Vandella. Bahkan, penduduk Perenolde pun turut membantu nengantarkan bantuan ke daerah-daerah di luar Perenolde.

“Ratu Ashilla telah Menggerakkan Mega Bantuan untuk Rakyat Vandella.” Demikian judul disalah satu koran.

Sekali lagi Ashilla berhasil membuat gempar rakyatnya. Tak seorang pun dari rakyat Vandella yang akan menduga bahwa Ratu mereka yang keturunan langsung dari Raja Sion yang terkenal dengan sifat kejamnya itu, ternyata mempunyai sifat yang baik. Ratu telah menunjukkan sikap ketulusannya dengan membuang harga dirinya sebagai Ratu Vandella saat dirinya mengunjungi pemukiman penduduk miskin pada hari
pertama Ia menyalurkan bantuan.

Rakyat juga mengetahui bahwa Ratu mereka telah mengeluarkan mereka yang tak bersalah dari balik jeruji besi. Banyak diantara mereka yang keheranan ketika dirinya dibebaskan. Ketika mereka bertanya pada prajurit kerajaan apa yang terjadi, dan prajurit kerajaan menjelaskan bahwa Ratu Ashilla memerintahkan untuk membebaskan mereka yang tidak bersalah. Mereka yang tahu bahwa ini adalah keputusan yang keluar dari Ratu Ashilla, mereka sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan Ratu sebaik Ashilla pada mereka.

Dalam waktu kurang dari dua
minggu dalam pemerintahannya, Ashilla telah membuat rakyat beranggapan bahwa dirinya sebagai anugerah yang luar biasa.
Ia yang semula ditakuti kini menjadi pujaan tiap orang. Rakyat memuja dan menyanjungnya.

Walaupun begitu Ashilla tidak begitu memikirkannya. Kini yang ada dibenak Ashilla adalah kenapa dirinya tidak melihat adanya rakyat yang datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Tempat penerimaan bantuan sangatlah ramai, berbeda dengan tempat pengambilan bantuan. Tempat itu sangat sepi, tidak ada satupun rakyat yang datang.

“Apa mereka tidak berani untuk masuk?” tanya Ashilla heran.

“Benar, Yang Mulia. Nampaknya mereka takut Anda mempunyai rencana tertentu dibalik kegiatan ini. Apa perlu kami membujuk mereka?” ucap seorang prajurit.

“Jangan, tidak perlu!” Ashilla cepat-cepat mencegah. “Aku khawatir mereka semakin curiga bila kalian melakukan itu.”

“Apa yang harus kami perbuat,Yang Mulia?”

Ashilla terus mengawasi kerumunan orang-orang yang ada didepan gerbang Istana. Mereka sejak tadi hanya menggerombol disana. Tidak maju dan juga tidak mundur. Padahal jumlah mereka terus bertambah dengan seiring.berjalannya, tapi tidak ada keberanian dari mereka.

“Baiklah.. ” kata Ashilla tiba-tiba.
“Aku yang akan menanganinya
sendiri, kalian tinggal tunggu disini saja.”

“Jangan, Yang Mulia. Biar kami saja yang melakukannya.” cegah Deva.

“Percayakan padaku, Deva. Sekarang perintahkan prajurit untuk membuka gerbang belakang. Aku akan tiba disana dalam waktu lima menit.”

                  -----0-----

“Kenapa kalian hanya berkumpul disini? Kenapa tidak masuk kedalam?” tanya Ashilla pada salah satu orang yang ada digerombolan tersebut.

“Sebenarnya kami ingin masuk kesana, tapi kami tidak berani.” jawabnya.

“Ya, aku mengerti perasaan kalian.
Aku pun demikian ketika pertama
kali diundang oleh Ratu. Tapi ternyata disana aku disambut dengan baik oleh para prajurit yang menjaganya.”

“Tapi Anda lebih kaya dari kami, Nona.” seseorang dari mereka menyelentuk. “Yang Mulia Raja sangat membenci pada kami orang miskin, karena kami tidak pernah mampu membayar pajak yang ditentukan oleh Raja sendiri. Apalagi kini ada Puterinya yang menggantikan beliau. Siapa tahu ia
mengundang kami semua untuk
dibunuh?”

Ashilla tidak menanggapi ucapan itu. Ia malah berjalan menuju ke tempat ia tadi menyembunyikan bola. Disana, ia pura-pura tersandung bola itu.

“Bola sialan!” umpat Ashilla dengan wajah pura-pura kesal. “Siapa yang meletakannya disini?”

Beberapa anak yang mendengar
umpatan itu mulai mendekati Ashilla. Dalam hati Ashilla tersenyum senang melihatnya tapi ia tidak menunjukannya, ia masih tetap dengan wajah menahan amarah. Lalu Ashilla mengambil bola itu dan melemparkannya sekuat tenaga kearah gerbang masuk Istana seraya berkata. “Pergi jauh dan jangan kembali lagi !!”

Dalam hati Ashilla tersenyum senang karena rencananya berhasil. Anak-anak itu berlari mengejar bola yang terus menggelinding ke gerbang masuk Istana. Ashilla pura-pura terkejut
melihatnya.

“Gawat!” seru Ashilla pura-pura khawatir padahal dalam hatinya ia bersorak gembira.

“Lihatlah! Ini semua karena kesalahanmu. Apa yang harus kita lakukan kalau mereka dibunuh?” Orang-orang itu mulai menyalahkan Ashilla.

“Tenang..” kata Ashilla berusaha menenangkan mereka. “Aku yang akan menolong mereka, jika mereka akan dibunuh. Para prajurit itu patuh padaku.”

Ashilla mulai berjalan ke gerbang masuk Istana. Sementara itu orang-orang dibelakangnya mulai mengikutinya walau dari jarak
yang cukup jauh.

Bola itu terus menggelinding hingga memasuki halaman Istana. Anak-anak kecil itu terus mengejar tapi tiba-tiba mereka dihadang oleh para penjaga pintu gerbang. Langsung saja Orangtua dari mereka berteriak panik dibelakang Ashilla.

“Biarkan saja mereka masuk!” seru
Ashilla langsung.

Penjaga pintu gerbang itu pun mengijinkan mereka untuk masuk.

“Kenapa kau membiarkan mereka masuk?” Orang-orang itu menuntut Ashilla.

“Jangan khawatir, aku yakin mereka akan baik-baik saja.”

“Kalau terjadi sesuatu pada
mereka, kau harus bertanggung
jawab!” tuntut salah satu orangtua.

“Tentu saja!” jawab Ashilla tenang.

Saat itu pula anak-anak tadi muncul kehadapan mereka. Mereka kelihatan tampak senang. Mulut mereka pun penuh dengan berbagai macam makanan. Teman-teman mereka yang melihat hal itu langsung mendekati. Mereka bercakap-cakap lalu bersama-sama masuk ke Istana.

Para orangtua yang melihat itu langsung panik dan segera berlari mencegah anak mereka hingga tanpa sadar mereka juga telah memasuki Istana.

Ashilla masuk dengan wajah tersenyum. “Anak-anak saja berani memasuki Istana, kenapa kita tidak?”

Orang-orang itu terkejut saat
menyadari mereka telah berada di
halaman Istana. Mereka hendak
keluar tapi saat itu pula muncul
pelayan-pelayan Istana dari segala
penjuru.

“Jangan takut..” kata Ashilla lembut, “Aku akan melindungi
kalian. Aku akan menjamin keselamatan kalian.”

Ashilla tetap tersenyum lembut
ketika melihat wajah ketakutan mereka. Ia terus berjalan memasuki Istana.

“Selamat datang..” sambut penjaga
pintu sambil membuka pintu
utama lebar-lebar.

Orang-orang itu terheran-heran
melihat di Hall telah disiapkan
berbagai macam makanan yang
lezat-lezat.

Anak-anak yang tidak punya
kekhawatiran apa-apa langsung saja melesat ke meja makan dan menyantap semua makanan yang ada.

Sekelompok orang mendekati anak-anak itu dan mencegah mereka untuk tidak makan lebih banyak lagi. “Jangan dimakan! Siapa tahu ini beracun!” kata mereka.

Ashilla berjalan mendekati sebuah meja yang tersedia makanan dan mengambil sepotong biskuit. Lalu ia memakannya seraya berkata, “Ini
enak sekali. Tidak mungkin ada
racunnya.”

Melihat itu, beberapa orang mulai terpengaruh akan tindakan Ashilla. Mereka mulai mengambil makanan walau dengan takut-takut. Melihat teman-teman mereka makan dengan lahap, yang
lain ikut menyusul. Orang-orang miskin yang selalu kelaparan itu
melupakan segalanya. Saat itu
yang penting bagi mereka adalah
mengisi perut mereka yang
berbunyi.

Makanan terus berpindah dengan
cepat, tapi yang ada dihadapan
mereka tidak kunjung habis.

Pelayan-pelayan Istana terus
membawakan makanan dan
sesekali berkata sopan. “Silahkan
dimakan.”

Ashilla senang melihat pemandangan yang ada di depannya. Akhirnya para fakir miskin itu dapat mengenyangkan perut mereka.

“Anda tidak makan, Nona?”

“Tidak, Tuan. Silahkan Anda
melanjutkan makannya, saya sudah kenyang. Ini semua disiapkan khusus untuk kalian.”

“Tidak apa-apa, Nona. Makanan ini
masih banyak. Ia terus mengalir
seperti sungai.” celetuk yang lain.

“Sungai yang nikmat dan
mengenyangkan.” timpal yang lain.

Ashilla tersenyum mendengar celetukan-celetukan itu.

“Yang Mulia!”

“Ada apa, Deva?”

“Para menteri sudah tiba, Yang Mulia.” ucap Deva.

“Baiklah, aku mengerti. Tolong
temani para tamu kita sementara
aku menemui mereka.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva.

“Maafkan saya, saudara-saudara.
Saya tidak bisa menemani kalian
lebih lama lagi. Ada yang harus
saya lakukan.” ucap Ashilla seraya tersenyum minta maaf.

Orang-orang itu menatap Ashilla
lekat-lekat.

Ashilla tersenyum dan sambil
mengangguk kecil, ia berlalu meninggalkan Hall.

“D… dia…”

“Gadis itu Ratu Ashilla.” ucap Deva enteng.

“Ap..apaa!! Aku tidak percaya!!”

“Ratu sendiri yang mengajak kita untuk masuk! Aku tidak percaya!”

“Aku merasa bersalah telah
mencurigainya.”

“Ia sama sekali tidak marah sudah
kita tuduh seperti itu. Itu artinya
ia benar-benar bermaksud baik.”

Seketika suasana Hall menjadi ramai dengan celotehan-celotehan mereka.

Deva tersenyum geli mendengar
apa yang dibicarakan mereka.

“Memang tak seorang pun yang
menduga bahwa ia adalah Ratu.”
gumamnya.

Bukan karena Ashilla yang tidak pantas untuk menjadi Ratu, orang-orang sukar mengenalinya sebagai Ratu. Ashilla mewarisi ketegasan dan wibawa ayahnya. Tetapi, ia juga mewarisi sifat lembut dari sang ibunya. Sifat lembut itu lebih nampak pada dirinya dan dengan raut wajahnya yang masih sangat muda, semua orang mengira ia adalah gadis cantik yang lembut seperti seorang bidadari.

Kedudukannya di Kerajaan Vandella ini sangat tinggi. Ia adalah
pemimpin dari kerajaan ini dan
demi dia, semua orang mau
melakukan apa saja. Kepadanya
semua nasib rakyat ini terletak.

Tetapi, tingkahnya tidak
menunjukkan kedudukannya. Ia
lebih banyak berkelakuan seperti
gadis pada seusianya yang selalu
gembira. Di balik itu semua, Ashilla menyimpan kekuatan
yang luar biasa.

Kekuatan menentukan yang baik
dan yang salah.

Kekuatan mengambil keputusan
yang tepat.

Kekuatan memberi perintah.

Kekuatan bertindak tegas.

Kekuatan yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang Ratu yang tegas dan penuh wibawa serta bijaksana.

Kekuatan itulah yang selalu dia
tampakkan saat memberi titah
pada orang lain.

Kekuatan itu pula yang membuat
semua orang mau memberi lebih
dari yang diminta gadis itu.

***

“Selamat pagi, Tuan-tuan.” kata
Ashilla sambil tersenyum ramah,
“Maaf saya membuat Anda semua menunggu.”

Menteri-menteri itu pun berdiri.
“Selamat pagi Yang Mulia Ratu Ashilla.” balas mereka.

Ashilla duduk di kursinya dan berkata,

“Aku senang kalian bisa menyelesaikan tugas yang
kuberikan dua minggu lebih cepat
dari waktu yang kuberikan. Hari ini
aku meminta kalian datang untuk
melaporkan hasil kerja kalian dan
untuk membicarakan beberapa
hal."

“Agar segalanya lebih cepat, aku
meminta kalian menyerahkan
laporan kalian padaku sekarang
juga. Tidak perlu berdiri, berikan
saja pada orang disamping kalian.”

Dalam waktu singkat berkas-berkas laporan itu berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga tiba di tangan Ashilla.

Ashilla menumpuk laporan- laporan yang masing-masing
tebalnya hampir tiga sentimeter
itu. Kemudian ia berkata,

“Aku akan mempelajari laporan-
laporan ini sebelum.membicarakannya dengan kalian.
Sekarang yang akan kita bicarakan
adalah keputusan-keputusan yang
telah aku buat tapi belum aku laksanakan. Aku ingin meminta
pendapat kalian tentang hal ini.”

Ashilla mengambil lembar teratas dari kertas-kertas yang dibawanya ketika memasuki Ruang Rapat tadi.

“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Yang
pertama adalah mengenai Riko.”

Ashilla melihat Goldi.

“Sudah saatnya kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada atasanmu itu, Goldi. Sebelumnya aku memintamu untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun termasuk keluarga Riko.”

“Hamba mengerti, Yang Mulia.” jawab Goldi patuh.

Ashilla tersenyum puas sebelum
melanjutkan, “Riko tidak pernah membantuku seperti apa yang dikatakan dikoran-koran. Ia aku tahan disini atas tindakannya yang
melanggar hukum. Kecurigaanku padanya telah terbukti. Aku telah
menghitung kekayaannya yang
seharusnya dan membandingkan nya dengan kekayaan yang dimilikinya. Hasilnya adalah sangat berbeda jauh, jadu ia telah mencuri uang negara selama ia menjabat sebagai Menteri Keuangan.”

Menteri-menteri berbisik membicarakan pengumuman
Ashilla.

Siapa yang menyangka bahwa Menteri kesayangan Raja Sion itu ternyata mencuri uang negara? Selama pemerintahan Raja Sion, Riko selalu membuat Raja senang. Ia selalu tepat waktu menyetor pajak. Ia adalah tangan kanan Raja yang sekejam Raja Sion sendiri dalam menarik pajak.

“Aku tidak akan membuka sidang
sebelum para ahli keuangan
membuktikannya. Dalam waktu
dekat ini Bagas akan memberikan
hasil perhitungannya. Saat itu
akan terbukti jumlah uang yang
selama ini telah dicuri Riko.
Sampai saat itu tiba, aku tetap
ingin kalian merahasiakan hal ini.”

“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.

“Masalah lain yang ingin aku bicarakan adalah mengenai
keputusan-keputusanku. Aku telah
mengelompokannya sesuai dengan
bidang kalian masing-masing.”

Ashilla berdiri untuk membagikan surat-surat keputusannya.

“Bacalah dan beritahu aku bila ada
yang tidak kalian setujui.”

Sementara mereka membacanya,
Ashilla kembali ke kursinya dan
berkata, “Keputusan-keputusanku
ini sangat erat dengan bidang
kalian masing-masing dan undang-
undang yang kalian perbaharui itu.
Aku sengaja menunda pelaksanannya untuk disesuaikan
dengan Undang-undang yang baru.
Bila kalian telah setuju dan merasa
tidak ada yang perlu diperbaiki,
segera lakukan hal itu.”

“Maaf, Yang Mulia. Ada yang ingin
saya tanyakan.” ucap Goldi setelah beberapa menit terdiam.

“Silahkan, Goldi.”

“Anda menurunkan pajak hingga
tingkat terendah. Apakah hal ini
tidak akan mengurangi pendapatan
kita?” tanya Goldi setelah membaca kertas itu.

“Pasti akan mengurangi pemasukan kita. Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, aku telah menghitung semuanya. Uang yang kita miliki saat ini sangat cukup untuk membiayai segala pengeluaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Ingatlah, Goldi, ayahku menarik
pajak yang sangat tinggi selama
53 tahun ia memerintah dan ia sangat kikir dalam membelanjakannya.”

“Anda mengatakan uang negara
dicuri Riko. Bukankah itu…” tanya Goldi lagi.

“Aku akan membuat Riko mengembalikan sebesar yang ia
curi pada rakyat. Kalian tidak perlu
merisaukan hal ini. Riko cukup
pintar untuk mengetahui ketelitian
ayahku. Ia tidak mencuri apa yang
harus dia berikan pada ayahku tapi
ia mencuri dari rakyat sendiri.
Dengan kekuasaannya sebagai
Menteri Keuangan yang
bertanggung jawab atas segala
penarikan pajak, Riko meminta
sedikit lebih banyak dari yang
ditetapkan ayahku, yaitu sekitar
seperdua puluh bagian.Kelebihannya itu adalah untuknya
dan agar ayahku tidak marah bila
mengetahuinya, ia memberikan
sebagian kecil dari kelebihan itu.”

“Apakah uang yang kita miliki
cukup untuk membeli bahan baku
dari luar negeri dan memberi
bantuan pada rakyat untuk
mengembangkan industri?” tanya
Difa khawatir.

Ashilla menatap Menteri Ekonominya itu.

“Sebelum aku memutuskan hal itu,
Difa, aku telah memperhitungkan
segalanya. Aku telah membuat
perhitungan kasar atas uang yang
kita miliki. Aku juga telah membuat uraian pengeluaran yang akan timbul karena keputusan-keputusanku itu.”

Ashilla mengangkat seberkas dokumen. “Inilah perhitungan
kasarku. Kepastian yang lebih
tepat akan keluar setelah Bagas dan para ahli keuangan lainnya selesai dengan tugas mereka. Kalian hanya perlu melakukan tugas di tangan kalian itu. Jangan
mengkhawatirkan dananya.
Kekayaan kita cukup untuk semua
itu.”

“Sungguh sangat disayangkan Raja
saja yang semakin kaya di negeri
ini sedangkan rakyat semakin
miskin. Aku akan merubah semua
itu. Aku, dengan dukungan kalian
akan memperbaiki keadaan ini.”
kata Ashilla bersungguh-sungguh.

“Setelah semua pembaharuan ini
dilaksanakan, aku yakin lima tahun
lagi rakyat sudah makmur. Saat itu
kita secara bertahap akan menaikkan pajak untuk
memperbesar pemasukan kita.
Jangan membebani rakyat dengan
pajak-pajak yang tinggi selama
masa perbaikan ini. Kita harus
menyesuaikan pajak dengan
keadaan rakyat. Pajak bukan untuk
Raja tapi untuk rakyat.” Ashilla
menegaskan.

“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan segera mengumumkan keputusan Anda tentang perpajakan ini.”

Ashilla mengangguk puas. “Untuk kedamaian rakyat ini pula aku akan memperbaiki hubungan dengan para pemberontak itu.”

Semua Menteri terlonjak kaget
tapi Ashilla tidak peduli dan tetap melanjutkannya,

“Setelah masalah-masalah
pembaharuan ini selesai, aku akan
mengundang pemimpinnya kesini.
Dan hingga saat itu tiba, aku ingin peperangan dengan mereka
dihentikan. Aku harap minggu depan aku telah menyelesaikan
pekerjaanku mempelajari Undang-
undang yang kalian buat ini dan
mengesahkannya.”

“Saya tidak setuju, Yang Mulia!”
Rio mengangkat tangannya, “Para pemberontak itu tidak menyukai Raja Sion. Saya khawatir mereka juga tidak menyukai Anda.Pemimpin mereka mungkin akan menggunakan undangan itu untuk membunuh Anda.”

Dalam hati Ashilla percaya hal
itu bisa terjadi tapi ia tetap dengan pendiriannga, “Aku berada diantara mereka hampir dua bulan, Rio. Aku tahu mereka berjuang demi kemakmuran rakyat. Mereka memang pantas membenci ayahku atas kekejamannya. Bila mereka juga
membenciku itu adalah hal wajar. Aku adalah putri dari serigala yang mereka benci. Tetapi, pemimpin mereka sangat pandai. Dia pasti tahu apa dampaknya bila dia membunuhku. Dia pasti mengerti hal itu.”

“Rio benar, Yang Mulia. Bila kekhawatiran itu terjadi, bagaimana nasib kami rakyat
Vandella? Siapa yang akan
melanjutkan perbaikan ini?” kata
yang lain hampir bersamaan.

“Bila kita memutuskan terus
berperang dengan mereka, apa
kata rakyat?” tanya Ashilla tegas.

Semua terdiam.

“Dalam masa-masa pembaharuan
ini, jangan mengeluarkan biaya
yang tidak berguna seperti untuk
perang. Apa yang kita dapatkan
dengan perang? Tujuan kita dan
pemberontak itu sama,
menciptakan kehidupan yang adil
dan makmur. Aku tidak akan
mengorbankan rakyat untuk perang bodoh ini.”

“Yang Mulia Ratu…”

“Aku mengerti akan kekhawatiran kalian. Tapi, untuk kali ini aku tidak ingin dibantah.” ucap Ashilla tegas. “Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan aku juga tahu mereka pasti tahu apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang kacau ini. Pemimpin mereka juga tidak akan membunuhku tanpa alasan yang kuat.”

“Anda harus memperhitungkan
semuanya masak-masak, Yang Mulia.” kata Rio mengingatkan.

“Itu sudah aku lakukan, Rio. Aku
tidak akan menarik keputusanku ini walau kalian tidak setuju. Bila
memang mereka membunuhku,
biarlah itu terjadi. Apa artinya
sebuah nyawa ini dibandingkan
mereka yang menderita?”

Sebelum ada yang membantahnya
lagi, Ashilla cepat-cepat melanjutkan ucapannya. “Jika tidak ada lagi pertanyaan, kalian bisa.mengatakan segala yang
terlupakan olehku dalam keputusan itu.”

Para menteri itupun mendesah panjang. Dalam hal ketegasan, Ashilla memang seperti ayahnya, membuat orang lain tahu bahwa ia bersungguh-sungguh.

“Satu tugas lagi untuk kalian
semua, aku ingin kita membina
hubungan baik dengan semua
negara lain. Kita membutuhkan
dukungan luar negeri dalam masa-
masa ini.” ucap Ashilla menambahkan.

“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka semua dengan kompak.

“Silahkan katakan apa saja yang
terlupakan olehku.”

Semua termenung melihat kertas-
kertas di hadapan mereka. Ashilla pun tidak mau duduk berdiam diri. Gadis itu mengambil seberkas laporan dan mempelajarinya.

Lama ia menanti, tapi tidak ada
yang mengangkat tangan untuk
melaporkan apa yang terlupakan
olehnya.

“Kenapa kalian diam saja?” tanya
Ashilla heran.

“Saya rasa tidak ada yang perlu
diperbaiki maupun ditambahkan,
Yang mulia.” kata Gabriel jujur. “Menurut saya semuanya telah Anda putuskan tanpa ada yang terlewat.”

“Saya pun merasa seperti itu, Yang Mulia.” kata Rio ikut menimpali.

“Yang lain?”

“Tidak ada, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.

“Baiklah, rapat kita hari ini selesai.
Aku akan membutuhkan kalian bila
aku telah membaca semua laporan
kalian. Aku akan selalu terbuka
untuk menerima pertanyaan
kalian.”

Ashilla lalu berdiri dan diikuti menteri-menterinya.

“Selamat siang.”

“Selamat siang, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla meninggalkan ruangan
itu dan diikuti para menteri. Kepada prajurit yang menjaga pintu, Ashilla berkata, “Tolong kalian letakkan tumpukan berkas itu di Ruang Kerja.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla kembali ke Hall. Ia melihat orang banyak itu tampak gembira. Mereka mendapatkan makanan dan barang-barang lain yang selama ini tidak pernah mereka mimpikan.

Terlihat kerumunan wanita yang
sibuk memilih gaun dan
kerumunan anak-anak yang
memilih mainan.

Perbedaan hidup Raja Sion dan
rakyat Vandella benar-benar
tampak jelas.

Badan mereka yang kotor dan
kebersihan Istana Azzereath yang
selalu gemerlap. Baju mereka yang compang-camping dengan benda-benda Istana yang mewah.

Semuanya menggambarkan dengan jelas ketimpangan yang ada.

Diam-diam Ashilla meninggalkan
Hall. Ia merasa tindakannya tepat.
Ia tidak bisa menyerahkan tahta
pada orang lain sebelum ia
memperbaiki kesalahan yang dilakukan ayahnya. Tetapi ia juga tidak bisa bersantai-santai dalam hal ini.

                   -----0-----

“Lihat ini!”

Cakka hanya membuang wajah. Ia
sudah tahu apa yang akan dikatakan Alvin.

“Ratu Ashilla rela turun dari tempatnya yang tinggi hanya untuk
mengusap wajah rakyatnya. Ini judul berita utama koran lima hari yang lalu. Lihatlah ini juga, Ratu mengumumkan pada rakyat untuk mau mengambil sendiri bantuan di Istana Azzereath dan untuk mereka yang kaya, Ratu meminta mereka untuk turut menyumbang.” ucap Alvin menggebu-gebu.

Cakka tetap mengacuhkannya.

Alvin meneruskan membaca koran.

Letak Lasdorf yang tersembunyi membuat daerah ini selalu ketinggalan berita. Koran yang datang selalu koran beberapa hari yang lalu.

Seluruh rakyatnya Cakka sudah tahu apa saja yang dilakukan oleh Ashilla dan mereka sukar mempercayainya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa Ashilla adalah Cilla.

Sejak Ozy melaporkan hasil
pengintaiannya, Alvin selalu
memuji-muji Ashilla dihadapan
Cakka. Berbeda dengan Cakka,Alvin mempercayai segala maksud
baik Ashilla. Ia menyukai semua
yang dilakukan gadis itu untuk Kerajaannya.

“Lihat ini!” lagi-lagi Alvin berseru
tak percaya. “Ratu dengan cuma-cuma menyumbangkan gaun-gaunnya! Aku tak percaya Ratu sekaya dia rela memberikan gaun-
gaun terbaiknya untuk rakyat.”

Cakka bosan, sangat bosan. Dalam hari-hari terakhir ini Alvin benar-benar membuatnya muak dan bosan.

“Tindakannya ini menunjukkan
niatnya yang benar-benar tulus.”
komentar Alvin. “Aku ingin tahu apa yang disidangkannya dengan para Menteri hari ini. Ozy mengabarkan mereka bersidang
hari ini, bukan?”

Cakka mengangguk malas.

“Dia gadis yang luar biasa, bukan? Ia pasti akan membawa kita pada
kemakmuran.” Alvin berkata
mantap.

“Cakka, apa kau akan meneruskan
pemberontakanmu ini?” tanya Alvin tiba-tiba.

“Sementara ini aku akan diam dulu
melihat keadaan. Aku yakin tak
lama lagi ia akan menunjukkan
taringnya yang sesungguhnya.” ucap Cakka tajam.

“Dan kau akan mulai peperangan lagi??" tebak Alvin.

“Tepat!” sahut Cakka tegas.

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Cakka. Kenapa kau tidak bisa mempercayainya? Yang Mulia Ratu telah menunjukkan niat baiknya dan kau tetap tidak
mempercayainya.” tanya Alvin heran.

“Yang Mulia Ratu?” kata Cakka mengejek. “Sejak kapan kau
menghormatinya sebagai Ratu?”

“Sejak aku mempercayainya." jawab Alvin dengan tersenyum.

Cakka mendengus kesal. “Dia tidak pantas untuk kau hormati setinggi itu. Percayalah padaku, ia adalah serigala berbulu domba.”

“Ia memperbaiki pemerintahan
ayahnya. Apakah ia akan
memperbaiki hubungan
pemerintah denganmu?” Alvin
bertanya-tanya pada dirinya
sendiri. “Kalau ia mengajakmu
berdamai, apa kau akan mau
menerimanya?”

“Aku akan membunuhnya!” geram
Cakka. “Sekarang hentikan omong
kosongmu itu. Aku benar-benar
muak mendengarnya!”

Alvin mengangkat bahunya dengan
pasrah.


******************************************************

Rabu, 17 September 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 9

“Kami tidak setuju, Yang Mulia Ratu!!” seru mereka kompak.

Ashilla keheranan melihat orang-orang yang dengan tegasnya
menolak keinginannya. “Kenapa tidak?” tanyanya heran. “Tidak ada yang salahnya bukan, jika aku ikut kalian??”

“Tentu itu tidak benar Yang Mulia... Keselamatan Anda akan terancam, Yang Mulia.” ujar Deva. “Kita akan bertemu langsung dengan rakyat.Kemungkinan adanya para pemberontak diantara mereka sangatlah besar. Bila rakyat mengetahui Anda sedang bersama kami, kemungkinan mereka akan menjadi sulit untuk diatur. Saat itulah kami akan kesulitan melindungi Anda. Walaupun seluruh pasukan Istana dikerahkan untuk menjaga Anda, tapi kami tidak dapat melawan rakyat sebanyak itu. Selain itu, Anda pasti melarang kami untuk tidak melukai rakyat.”

Ashilla tersenyum lembut. “Aku mengerti kekhawatiranmu, Deva. Mereka tidak akan tahu aku ada diantara kalian. Mereka belum bertemu denganku dan hari ini adalah pertama kalinya kita akan
menyalurkan bantuan untuk mereka. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita, karena aku baru saja memutuskan perintah ini.”

“Yang dikatan Deva benar, Yang Mulia. Perhatian kami nanti akan lebih tertuju pada rakyat daripada untuk Anda.” sergah Gabriel.

“Aku tahu, Gabriel. Aku telah
memikirkannya matang-matang.” jawab Ashilla meyakinkan mereka.

“Biarkan kami sendiri yang melakukannya, Yang Mulia. Kami sangat khawatir dengan keselamatan Anda.” ucap Kiki ikut menyeruakan pendapat.

“Aku percaya padamu, Kiki.” lalu Ashilla diam berpikir merencanakan sesuatu dan tiba-tiba saja ia tersenyum. “Aku tahu caranya bagaimana agar kalian tidak khawatir lagi.Tunggulah aku disini.”

Kemudian Ashilla berlari kedalam.

Orang-orang yang ada disitu hanya bisa berpandangan dengan heran.

***

Sivia dan para pelayan wanita lainnya masih sibuk membongkar gaun-gaun milik Ashilla yang ada di ruang ganti kamar gadis itu. Saking sibuknya mereka, bahkan mereka tidak menyadari dengan kedatangan Ashilla di ruangan itu.

“Tunggu sebentar!!” cegah Ashilla tiba-tiba.

“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan raut wajah penuh keheranan.

“Tidak ada apa-apa, Sivia. Aku
hanya ingin mengambil gaun ibuku
yang kau pegang itu.” jawab Ashilla sambil tersenyum manis.

Sivia menyerahkan gaun itu dengan rasa keheranan. “Untuk apa gaun ini, Yang Mulia?”

Ashilla membentangkan gaun itu
didepannya. “Kau akan tahu nanti,
Sivia.” Lalu gadis itu menghilang masuk ke kamar tidurnya.

Ashilla tersenyum puas ketika
melihat bayangan dirinya didepan cermin. Gaun hijau tua itu sudah kuno dan membuatnya tampak puritan. Tidak akan ada yang mengenalinya sebagai Ratu Vandella dengan gaun seperti ini. Siapa yang akan menyangka bahwa gadis dalam balutan baju kuno seperti ini adalah seorang Ratu?

“Aku tak ingin menyia-nyiakan
pekerjaan kalian, tapi ini akan
membuatku semakin mirip gadis
desa yang kuno." gumam Ashill
ketika ia melepas gelungan
rambutnya yang berhiaskan
muntiara-muntiara murni yang
berkilauan.

Rambut keemasan yang panjang
itu tergerai hingga hampir
mencapai lutut Ashilla. Sejak
ibunya meninggal, Ashilla terus
memanjangkan rambutnya. Rambut kesayangannya itu banyak menyimpan kenangan-kenangan indah saat ibunya masih hidup.

Ketika sedang menyisir rambutnya, Ashilla teringat akan ibunya yang sangat suka membelai rambutnya dengan
penuh kasih sayang. Tanpa
disadarinya, Ashilla menitikkan
air mata kerinduan.

“Sekarang aku sudah menduduki tahta kerajaan ini, Mama. Aku berjanji akan memperbaiki semua
kesalahan yang dilakukan oleh serigala itu.” janji Ashilla.

Lalu dihapusnya air matanya dan
segera kembali ke Hall.

***

Semua orang yang sedang sibuk memindahkan semua barang ke wagon, heran melihat Ashilla.

“Apa aku sudah mirip dengan gadis desa?” tanya Ashilla sambil tersenyum.

Mereka menatap Ashilla lekat-lekat. Dengan gaun hijau tuanya yang sudah kusam itu, Ashilla tidak nampak seperti seorang Ratu. Gaun polos itu terbuat dari kain katun biasa dengan lengannya yang panjang dan kerahnya yang menutup rapat leher Ashilla yang indah. Dengan
rambut panjang yang tergerai,
Ashilla mirip seperti gadis perawan pada jaman kuno dulu.

“Nampaknya kita harus mengalah, Deva.” ucap Ray setelah terdiam cukup lama.

“Anda benar, Tuan Ray.” jawab Deva pasrah.

Ashilla tersenyum puas. "Kereta mana yang sudah siap berangkat?”

“Kereta ini yang hampir siap untuk
diberangkatkan, Yang Mulia” jawab
Kiki. “Kami menanti bingkisan yang
terakhir. Itu dia datang!!”

Pelayan datang dan segera memasukkan sebungkus gaun yang terakhir kedalam wagon.

“Ayo kita berangkat!” seru Ashilla pada Gabriel dan Ray. Lalu dia menerima uluran tangan dari dua prajurit yang ada didalam wagon tersebut.

Ray menatap Deva. “Kau yang kami andalkan, Deva”

“Jangan khawatir, Tuan. Saya tidak akan pergi dari sisi Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.

Kusir kuda segera membawa wagon mereka meninggalkan Istana Azzereath setelah semuanya naik.

Semua yang ada didalam kereta
sangat mencemaskan keselamatan
Ashilla. Hanya gadis itu sendiri
yang tidak nampak cemas. Gadis itu nampak sangat gembira, terbukti dengan senyum lebar yang tercetak dibibir gadis itu.

Senyum lebarnya seketika berubah menjadi senyum tipis ketika kereta berhenti di sebuah
pemukiman rakyat miskin.

Penduduk tempat itu terkejut
melihat kedatangn wagon besar itu
dan mereka lebih terkejut ketika seorang prajurit berseru.

“Kami datang membawa bantuan
untuk kalian. Bila kalian mau,
antrilah dengan tertib disini.”

Semua penduduk berbisik-bisik mendengar pengumuman tersebut.

Ashilla segera meloncat turun dari dalam kereta dan sebelum ada yang menyadari ia langsung bertindak. Gadis itu membawa sesuatu dalam keranjang dan mulai berjalan mendekati orang tua yang tengah berbaring lemah didepan rumah reyot.

Orang-orang yang didalam wagon
terkejut. Mereka berteriak.
“Yang...” seakan sadar apa yang akan diucapkan, mereka segera menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka sadar kata-kata yang biasa mereka gunakan untuk memanggil Ashilla, itu bisa membuat celaka gadis itu sendiri.

Deva melompat turun dan segera
mengejar Ashilla.

Ashilla berlutut disisi orangtua
tersebut. Ia mengeluarkan makanan yang ada didalam keranjang yang ia bawa dan memberikannya seraya berkata.
“Terimalah ini, Tuan. Saya membawanya untuk Anda. Jangan
biarkan Anda dan keluarga Anda kelaparan.”

Ashilla melihat anak-anak kecil
yang kurus kering disisi pria tua
itu. Ia tersenyum ramah pada
mereka dan berkata, “Apa kalian tidak mau mencoba kue-kue yang
lezat ini??”

Tak butuh waktu lama, anak-anak kecil tersebut tanpa ragu langsung
mengambil sendiri apa yang ada di
keranjang Ashilla. Mereka terlalu
lapar untuk memikirkan siapa
Ashilla dan mengapa ia datang
membawa makanan untuk mereka.

Pria tua itu tidak tahan melihat
anak-anaknya makan dengan lahap. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengambil roti yang ada ditangan Ashilla.

Melihat mereka makan dengan
lahap, tak ayalnya membuat Ashilla tersenyum senang. Penduduk lain yang juga sangat kelaparan tidak dapat menahan air liur mereka melihat pemandangan tersebut. Perut mereka yang merengek seakan-akan minta diisi oleh sang pemiliknya. Tak pikir panjang mereka segera menyerbu Ashilla.

Deva yang melihatnya, segera saja melindungi Ashilla dari kerumunan rakyat miskin tersebut. “Kalian bisa mengambil
makanan sebanyak-banyaknya di
kereta!!”

Orang-orang itu langsung beralih ke kereta setelah mendengar seruan tersebut.

“Yang Mulia telah membuktikan bahwa perbuatan lebih berguna daripada kata-kata.” ucap Gabriel lalu ia melompat turun diikuti oleh prajurit yang lain.

Dalam waktu singkat, mereka sangt sibuk menurunkan makanan dari kereta untuk diberikan pada warga. Mereka sibuk mengatasi tangan-tangan yang terulur meminta makanan. Beberapa
orang berusaha masuk kedalam kereta untuk mengambil sendiri makanan dan membuat prajurit sangat kewalahan menghadapi mereka.

“Tenang semua!! Tenang!! Kalian pasti mendapatkannya!!”

Teriakan-teriakan seperti itulah yang terdengar disekitar kereta.

Ashilla sendiri melihat kereta yang
dikerumuni oleh orang yang sedang berebutan itu lantas berdiri dan berjalan kesana untuk membantu mereka.

Deva segera menyusul gadis itu
untuk melindunginya dari
kerumunan orang banyak. Deva
turut membantu menurunkan
barang-barang dan membagikannya pada orang-orang.

Karena semua mencegah ia turun
tangan, Ashilla hanya bisa duduk
diantara orang-orang itu dan berbincang-bincang dengan
mereka. Sambil berbincang-
bincang, Ashilla memberikan obat-obatan kepada mereka yang
membutuhkan. Gadis itu juga tidak
segan untuk merawat mereka yang
terluka.

Deva yang sudah berjanji untuk terus berada disisi Ashilla, ia akan mengambilkan segala sesuatu yang
diperlukan oleh Ashilla sambil menjaganya.

“Apa Anda pusing, Tuan?” tanya Ashilla penuh perhatian “Sejak tadi saya melihat Anda terus memegang dahi.”

“Tidak, Nona.” jawab pria tua itu.

Ashilla tersenyum. “Deva, tolong kau carikan obat untuk Tuan ini.”

“Baik, Nona.” jawab Deva patuh.

Ashilla merasa bahwa pria tua ini terus menatapnya tetapi ia tidak
mempedulikannya. Dalam hari-hari terakhir ini, Ashilla sudah biasa menjadi pusat perhatian. Gadis itu meneruskan kesibukannya menjadi dokter untuk orang-orang miskin itu.

Tanpa gadis itu sadari, bahwa pria itu terus berusaha mengenali
Ashilla. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis ini. Tapi dimana dan kapan???  Ia terus berpikir dengan kerasa untuk bisa mengingatnya.

“Anda membuat saya khawatir, Tuan. Apa Anda sakit? Kalau Anda merasa tidak sehat, silahkan mengatakannya. Saya akan mencari dokter untuk Anda.” tanya Ashilla cemas.

Pria itu tidak memperdulikan perkataan Ashilla dan terus menatap gadis itu. Menatap mata biru yang penuh perhatian itu, mata yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dengan tegasnya berkata…

“Yang Mulia Ratu Ashilla!” seru pria itu tiba-tiba. “Tidak salah lagi. Anda pasti Yang Mulia Ratu. Saya pernah melihat Anda di Gedung Parlemen ketika Anda mengumumkan kematian Raja
Sion.”

Ashilla sangat terkejut dibuatnya. Apa mungkin pria itu adalah salah satu wartawan yang dulu mengikuti jalannya kegiatan di Gedung Parlemen??

Deva lebih terkejut lagi. Ia dengan segera menghampiri Ashilla dan membantu gadis itu untuk berdiri.

Orang-orang yang melihatnya tidak bisa mempercayai begitu saja.

“Anda pasti Yang Mulia Ratu Ashilla.” kata pria itu masih kekeh dengan pendapatnya.

“Sebaiknya kita segera kembali, Yang Mulia.” bisik Deva.

Ashilla tersenyum manis pada
pria itu lalu mengikuti Deva menuju ke kereta.

Melihat keributan itu, pasukan
segera bersiap-siap untuk kembali ke Istana Azzereath.

“Yang Mulia! Yang Mulia!”

Orang-orang itu berseru memanggil-manggil Ashilla dan berusaha untuk mendekati gadis itu. Namun, pasukan kerajaan segera menghadang mereka agar tidak mendekat.

“Yang Mulia! Yang Mulia!” Mereka terus meneriakan Ashilla dan melambai-lambaikan tangannya pada Ashilla. “Yang Mulia Ratu! terimakasih! Terima kasih atas kebaikan hati Anda!”

“Mari, Yang Mulia.” ucap Gabriel dan Ray berbarengan dan dengan tidak sabar merek mengulurkan tangannya dan mulai membantu Ashilla untuk naik kedalam kereta.

Pasukan kerajan yang sedikit itu sudah mulai tidak sanggup menghadapi rakyat yang terus memaksa untuk mendekati Ashilla.

“Kita segera kembali ke Istana Azzereath!” seru Deva pada pasukannya.

Segera pasukan itu melompat menaiki kereta. Dan dengan segera kusir kuda melajukan keretanya dengan kencang.

“Terimakasih, Yang Mulia Ratu! Terimakasih!” teriakan mereka mengiri kepergian Ashilla.

Dari dalam kereta, Ashilla melihat mereka berlutut ditanah dan menyembah-nyembah sambil
terus meneriakkan ucapan terima
kasih mereka kepadanya. Hingga mereka jauh pun suara-suara itu masih terdengar.

“Maafkan aku..” ucap Ashilla “Aku
tidak bermaksud untuk membuat kalian kewalahan.”

“Itu sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Anda, Yang Mulia.” jawab mereka hampir bersamaan.

“Aku senang mempunyai orang-
orang yang setia seperti kalian. Kalian selalu menjaga dan melindungiku. Aku takkan melupakan hal ini.” jawab Ashilla tulus.

“Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia. Tugas kami adalah terus menjaga dan melindungi Anda.” kata Deva.

Ashilla hanya tersenyum. Tak lama kemudian kereta memasuki halaman Istana dan berhenti didepan pintu Istana. Dua orang
prajurit sudah bersiap-siap untuk
membantu Ashilla turun.

“Bagaimana perjalanan Anda, Yang Mulia?” sambut Kiki setelah Ashilla sudah turun dari kereta.

“Baru kali ini aku harus lari dari
orang banyak karena ketahuan.”
kata Ashilla menahan geli. “Aku
merasa seperti pencuri.”

“Benarkah itu? Dan apa Anda terluka Yang Mulia??” tanya Kiki tidak percaya dan cemas.

“Benar, Kiki. Kami semua tidak menyangka bahwa ada yang mengenali Yang Mulia Ratu disana. Kami telah memilih tempat yang cukup jauh dari Istana.” Gabriel menerangkan. "Dan, Yang Mulia Ratu baik-baik saja tidak ada yang terluka secuil pun." lanjut Gabriel sambil tersenyum menenangkan.

“Saya sangat bersyukur Anda baik-baik saja, Yang Mulia.” ucap Kiki tersenyum lebar.

“Jangan beritahu Sivia tentang ini. Aku tidak ingin dia khawatir.” ucap Ashilla.

“Tentu, Yang Mulia. Ketika mengetahui Anda ikut pergi, ia sangat cemas.”

“Aku akan menemuinya agar ia
tidak merasa cemas lagi.”

Ashilla segera berlari menuju kamarnya.

***

“Yang Mulia! Kenapa Anda melakukan tindakan berbahaya seperti itu?”

Serbuan yang didapatnya ketika ia
tiba dikamarnya, membuat Ashilla tersenyum. “Aku harus melakukannya, Sivia. Kau tidak perlu cemas. Aku pergi dengan beberapa prajurit.”

Sivia tidak bisa berbuat apa-apa. “Irva, ambilkan baju ganti untuk Ashilla!” perintahnya.

Ashilla tidak membantah sedikitpun ketika para pelayan
sibuk membantunya mengganti
gaunnya. Mereka menyiapkan air yang hangat dan wangi untuk dirinya mandi. Dan mereka pula yang mengenakan gaun sutra yang indah pada dirinya dan menghiasi
rambut panjangnya dengan manik-
manik yang indah.

Hingga mereka selesai dengan
dirinya, Ashilla tetap diam berpikir.

“Terimakasih, Sivia.” Ashilla sudah
bersiap pergi lagi setelah rambutnya selesai disisir rapi.

“Anda mau kemana lagi, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan heran.

“Jangan khawatir. Aku hanya ingin
menemui Gabriel.”

“Anda harus beristirahat. Anda
sudah terlalu lama bekerja.” ucap Sivia membujuk Ashilla sambil berjalan mendekati.

Ashilla segera beranjak ke pintu
sebelum dicegah Sivia. “Selamat tinggal, Sivia.” katanya ketika membuka pintu.

“Jangan lupa untuk makan malam, Yang Mulia!” seru Sivia melihat kepergian Ashilla.

Ashilla hanya tersenyum mendengar seruan itu. “Kali ini aku takkan lupa, Sivia.” katanya pelan sambil berjalan menuju Hall.

***

Kiki masih sibuk mengatur Hall
ketika Ashilla datang.

“Dimana Gabriel dan Ray serta
Deva?” tanya Ashilla pada Kiki.

“Deva sedang pergi ke pusat kota untuk mengumumkan titah Anda, Yang Mulia. Sedangkan Tuan Gabriel dan Tuan Ray saya meminta mereka untuk beristirahat. Apakah Anda
memerlukan mereka, Yang Mulia? Saya akan memanggil mereka untuk Anda.” jawab Kiki.

“Tidak perlu, Kiki. Biarkan mereka
beristirahat. Suruhlah seorang
prajurit untuk menemuiku di
Ruang Kerjaku.”

“Baik, Yang Mulia.” jawab Kiki seraya membungkuk memberi hormat.

Kemudia Ashilla berbalik, kembali menuju ke Ruang Kerjanya dan menuliskan sesuatu pada secarik kertas.

“Hamba datang memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia.” seru seorang prajurit permintaan Ashilla.

Ashilla bangkit dan menghampiri prajurit itu. “Antarkan surat ini pada Menteri Keamanan.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” kata Prajurit itu lalu pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.

Setelah kepergian prajurit itu, Ashilla menemui penjaga pintu Ruang Kerjanya. “Salah satu dari kalian, panggilkan Dayat untukku.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.”

Sesaat kemudian Dayat sudah hadir menghadap Ashilla.

“Apa semua ahli keuangan itu masih ada disini?”

“Tidak, Yang Mulia. Siang tadi beberapa diantara mereka sudah
meninggalkan Istana.” jawab Dayat.

“Bila malam ini mereka makan di
Ruang Makan apa cukup?”

Dayat berpikir sebentar lalu berkata, “Cukup, Yang Mulia.”

“Bagus, siapkan makan malam disana. Aku akan makan bersama mereka.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Bila Gabriel dan Ray masih disini, aku ingin mereka turut ikut
bersamaku.” ucap Ashilla lagi.

“Saya akan memberitahu mereka,
Yang Mulia.” kata Dayat kemudian pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.

Setelah kepergian Dayat dari ruangannya, Ashilla kembali menekuni pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Ashilla sedang membuat keputusan
baru untuk memperbaiki kehidupan rakyat.

Ketika hari mulai gelap, seorang
pelayan datang untuk menutup
jendela-jendela dan mulai menghidupkan lilin-lilin. Mereka tahu akan kesibukan Ashilla, karena itu mereka tidak berani mengusik gadis itu.

Hingga hari menjadi gelap pun, Ashilla masih tetap sibuk diruangannya dengan tumpukan laporan para menterinya dan surat-surat keputusannya yang sangat tebal.

“Makan malam sudah disiapkan,
Yang Mulia.” ucap seorang pelayan tiba-tiba yang membuat Ashilla kaget dibuatnya.

Ashilla mengangkat kepalanya.
“Aku akan segera pergi kesana.”

Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan Ashilla.

Ashilla merapikan meja kerjanya.
Lalu meraih secarik kertas dan
pergi ke Ruang Makan.

***

“Selamat malam, Yang Mulia Ratu.” seru Gabriel dan Ray bersamaan.

“Selamat malam juga, Gabriel.. Ray.”

“Apa Anda akan mengumumkan nya sekarang, Yang Mulia?” tanya Ray ketika melihat Ashilla membawa secarik kertas yang ada ditanganya.

“Benar. Aku tidak bisa menunda hal ini lebih lama lagi, Ray. Aku
akan mengatakannya seusai acara makan malam.”

“Saya melihat Anda bekerja terlalu
keras, Yang Mulia. Beristirahatlah sebentar demi kesehatan Anda. Bila Anda sakit, siapa yang akan memperbaiki kehidupan rakyat?” seru Gabriel melihat ketekunan gadis itu.

Ashilla tersenyum. “Kau sangat mirip dengan Sivia, Gabriel.” Sebelum pria itu menanggapi ucapannya, Ashilla segera berkata lagi. “Bagaimana perkembangan tugas yang aku berikan pada kalian?”

“Saya hampir selesai, Yang Mulia. Kami telah menyusun semuanya.
Sekarang kami sedang memeriksa
ulang semuanya.”

“Karena undang-undang kami berhubungan dengan negara lain,
kami sedikit mengalami hambatan
karena hampir semua keputusan
itu masih dilaksanakan. Tetapi,
kami telah menghubungi negara-
negara tersebut dan meminta
mereka tetap mau bekerja sama
dengan kita bila keputusan baru
itu dilaksanakan. Mereka
mengetahui perubahan yang
terjadi di kerajaan kita dan mereka mendukung Anda dengan sepenuhnya. Kami sekarang sedang membuat laporannya.”

“Aku berharap menteri-menteri lain juga hampir selesai.” ucap Ashilla menimpali.

“Mereka juga hampir selesai, Yang Mulia.” kata Gabriel dengan tersenyum. “Kami terpengaruh oleh semangat Anda. Kami ingin
memberikan yang terbaik untuk
Anda.”

“Tidak, Gabriel. Kalian bisa
melakukan tugas besar ini dengan
cepat karena sejak dulu kalian
tahu mana yang salah dan mana
yang harus diubah. Sejak dulu
kalian telah mempunyai gambaran
tentang peraturan yang lebih baik,
tetapi kalian tidak berani
mengatakannya. Sekarang kalian
mengingatnya kembali dan
menyempurnakannya.” ucap Ashilla panjang lebar.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa membantah ucapan Ashilla karena saat itu mereka sudah tiba di Ruang Makan. Prajurit membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Ashilla.

Mereka segera berdiri. “Selamat malam, Yang Mulia Ratu Ashilla.” ucap mereka serempak.

“Selamat malam..” balas Ashilla.
“Mari silahkan duduk, Tuan-tuan.”

Selama makan malam berlangsung, Ashilla sama sekali tidak menyinggung tentang hasil
penyeleksian sesi kedua. Ia mengajak mereka membicarakan tentang semua hal terkecuali hasil penyeleksian.

Setelah pelayan membawa semua hidangan penutup, Ashilla berkata dengan senyuman manis yang tercetak dibibirnya.

“Dalam kesempatan kali ini saya akan mengumumkan nama-nama mereka yang telah lolos dalam pemilihan sesi kedua.”

“Ijinkan saya untuk menggantikan
Anda, Yang Mulia.” ucap Gabriel.

“Silahkan.” Ashilla kembali duduk dikursi kebesarannya.

Gabriel berdiri dan mulai menyebutkan satu-per-satu nama yang tertera dikertas.

Sesaat Ruang Makan menjadi ramai setelah Gabriel selesai membacakan nama-nama itu. Ashilla menunggu ruangan menjadi sepi sebelum ia mulai berkata.

“Selamat untuk kalian yang berhasil. Bagi kalian yang belum berhasil, jangan putus asa. Tetaplah berusaha. Dan bagi mereka yang namanya telah disebutkan oleh Gabriel, aku tunggu di Ruang Pertemuan besok pagi setelah kalian sarapan.”

Ashilla beranjak bangkit dari duduknya dan melanjutkan
perkataannya. “Selamat malam, Tuan-tuan.”

Gabriel dan Ray segera mengikuti langkah Ashilla dari belakang.

“Yang Mulia, apa Anda akan bekerja lagi setelah ini?” tanya Ray penasaran.

“Kalian tidak perlu mencemaskan aku." Ashilla menenangkan. “Aku ingin malam ini kalian menginap disini tetapi jika kalian merindukan keluarga kalian, aku tidak akan melarang. Selamat malam.”

Ashilla membuka pintu Ruang
Kerjanya dan menghilang di balik pintu.

Gabriel dan Ray hanya bisa saling
melirik satu sama lain sambil
mengangkat bahu dan menghela napas panjang melihat kegigihan Ratu mereka, Ashilla.

Ashilla memang sangat mirip dengan ayahnya jika sedang bekerja. Mereka akan bekerja siang malam tanpa henti dan
tanpa kenal lelah.

Mereka tidak tahu jika Ashilla
melakukan semua ini disamping untuk rakyatnya juga untuk mencegah dirinya memikirkan Cakka.

****

Ashilla sudah berada di Ruang Pertemuan, setelah makan pagi selesai. Tak lama menunggu, ke-36 ahli keuangan kerajaan itu mulai berdatangan satu-per-satu.

“Selamat pagi semua..” sapa Ashilla tidak ketinggalan dengan senyuman khasnya.

“Selamat pagi, Yang Mulia Ratu." balas mereka dengan serempak.

“Silahkan duduk. Kita akan segera
memulai rapat kecil kita ini.” ucap Ashilla.

Mereka lalu duduk mengitari meja
panjang di ruangan itu.

Ashilla menatap mereka semua
dan memulai rapat.

“Saya memilih kalian bukan tidak
berdasar. Saya percaya akan
kemampuan yang kalian miliki, itulah sebabnya saya memilih kalian. Kalian yang terpilih akan saya beri tugas. Dan asal kalian tahu, saat ini kalian bukan lagi sebagai saingan tetapi sebagai satu kelompok orang yang bekerja sama.”

“Tugas kalian adalah menghitung
jumlah pemasukan dan pengeluaran selama 20 tahun
terakhir ini. Dihadapan saya ini
telah tercantum macam-macam
pajak berikut besarnya dan jumlah
penduduk selama kurun waktu 20
tahun terakhir.”

“Untuk melakukan tugas ini, aku
ingin kalian tetap tinggal di Istana. Dan agar keluarga kalian tidak cemas, tulislah surat pada mereka dan berikan pada pelayan. Mereka
akan mengantarkan surat-surat
kalian.”

“Untuk kelancaran tugas ini, aku
mempersilakan kalian untuk menggunakan ruangan ini sebagai
tempat kerja kalian. Sebelum
kalian memulainya, aku ingin
menegaskan pada kalian bekerjalah sebagai satu tim. Sebuah tim pasti memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, aku menunjuk Bagas untuk
menjadi pemimpin kalian. Apa ada
yang tidak setuju?”

“Kami setuju, Yang Mulia.”

“Bagus!! Kalian bisa memulai tugas kalian sekarang. Bila kalian mengalami kesulitan, jangan ragu untuk bertanya padaku.”

“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla menganggukkan kepala tanda dia puas dengan jawaban mereka lalu meninggalkan Ruang
Pertemuan dan segera menuju
Ruang Kerjanya.

***

“Kalian berdua masuklah, aku
mempunyai tugas untuk kalian.” ucap Ashilla pada kedua prajurit yang menjaga ruang kerjanya.

Kedua prajurit itu pun mengikuti
Ashilla dari belakang.

Ashilla mengeluarkan dua tumpuk kertas dari lacinya.

“Masing-masing dari kalian aku perintahkan untuk menyebarkan sepuluh surat ini kepada para Menteri. Tunggulah sebentar sampai kalian mendapatkan jawaban dari para Menteri itu. Jika tugas ini sudah selesai, segeralah kembali.” ucap Ashilla dengan suara tegasnya.

Mereka berdua menerima surat-surat itu lalu berkata. “Hamba akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia.” Mereka pergi setelah membungkukkan kepala tanda hormat.

Setelah kepergian kedua prajurit itu, tiba-tiba muncul seorang pelayan.

“Lapor, Yang Mulia. Kepala Penjara Vandella datang untuk menghadap Anda.” lapor seorang pelayan.

“Suruh dia masuk.” ucap Ashilla tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas-kertas.

Kepala Penjara itu membungkuk
dan berkata. “Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Saya datang membawa nama-nama penghuni penjara diseluruh Vandella seperti yang Anda minta.”

Ashilla mendongakkan kepala untuk menatap kepala penjara itu.

Lalu pria yang berperawakan kurus ceking itu menyerahkan
berkas-berkas yang dibawanya.

“Duduklah..” kata Ashilla “Aku akan mempelajarinya sebentar.”

Ashilla membalik-balikan kertas itu.

“Saya sudah mengelompokkan.antara yang dipenjara karena
melanggar hukum dan yang
dipenjara karena tidak membayar
pajak maupun yang menentang
Yang Mulia Raja Sion.” ucap sang kepala penjara menjelaskan

Ashilla tidak terkejut sama sekali ketika melihat nama-nama yang dipenjara karena melanggar
hukum lebih sedikit daripada yang
tidak bersalah. Ia sudah bisa
menduganya bahkan sebelum menerima laporan ini.

Ashilla berterimakasih pada kepala penjara tersebut karena nama-nama itu sudah dipisahkan pada lembar yang berbeda-beda sehingga bisa menghemat waktunya. Ia segera membagi-bagi
berkas-berkas itu menjadi dua
kelompok, antara yang bersalah dan yang tidak bersalah.

“Nama-nama ini sudah kau kelompokkan berdasarkan tempat mereka dipenjara?” tanya Ashilla.

“Sudah, Yang Mulia. Setiap tahun
Yang Mulia Raja Sion meminta
laporan nama-nama penghuni penjara dari masing-masing tempat penjara yang sudah
dikelompokkan seperti itu. Saya
hanya perlu menyatukan mereka
dan menyerahkannya pada Anda.” jawab sang kepala penjara.

“Ternyata serigala itu baiknya juga.” Ashilla berkata pada dirinya sendiri.

“Aku menugaskanmu untuk berkeliling pada setiap penjara dan membacakan titahku ini.” Ashilla mengeluarkan selembar kertas dari lacinya yang sudah
ditanda tanganinya.

Kepala Penjara itu melihat isi titahnya yang berbunyi:

"Atas titah dari Ratu Kerajaan
Vandella, nama-nama yang telah disebutkan mulai saat ini dinyatakan tidak bersalah. Oleh
karena itu, mereka dibebaskan dari penjara dan semua yang menjadi milik mereka akan dikembalikan".

“Nama yang harus kau sebutkan
adalah nama yang ada dikertas
ini. Jika kau telah menyelesaikan tugasmu disatu penjara, segera
kirim daftar namanya kepadaku.” perintah Ashilla.

“Baik, Yang Mulia.”

“Satu hal yang tidak boleh kau lakukan adalah mewakilkan tugas ini pada orang lain. Aku percaya kau dapat melaksanakannya dengan baik.”

“Saya akan berusaha menjalankan
titah Anda dengan sebaik-baiknya,
Yang Mulia.” jawab sang kepala dengan penuh keyakinan dan pergi setelah membungkukkan kepala memberi hormat.

Ashilla tersenyum puas melihat
kepergian pria itu. Satu tugas lagi
telah dilakukannya. Sekarang ia
menanti kabar dari Menteri-
menterinya sebelum menjalankan
setumpuk keputusan yang sudah
dibuatnya.

Menjelang sore, kedua prajurit
yang diutus oleh Ashilla datang.
Mereka menyerahkan surat balasan dari para Menteri itu pada Ashilla.

Ashilla tersenyum puas ketika membaca surat-surat balasan itu.
Para Menterinya itu hampir
menyelesaikan tugas mereka dan
itu artinya Ashilla bisa segera
mengadakan rapat selanjutnya.

********************************

hay hay hay hihihii :D maaf yaa ngepostnya lama. sebenernya udah dari kemaren mau dipost tapi gara2 ada tante di rising star, seketika itu mood aku jadi hilang begitu saja, bukannya mau mengkambing hitam kan si tante loh yaa :)

oh ya aku mau minta maaf sekali lagi, kalau cerita repost ini ngga menjurus ke couple cakshill. Maka dari itu aku ubah  versinya menjadi versi icil, ngga papa yaa?? karena setelah dipikir2 repost ini ngga terlalu menjurus ke couple cakshill. :)

cerita copast ini sebenernya menceritakan perjuangan seorang ratu baru dalam merubah kehidupan rakyatnya, jadi jangan heran kalau peran seorang ratu (ashilla) lebih banyak muncul :)

tapi masih ada kok pov cakshill nya dipart2 selanjutnya. so.. tetap pantengin cerita copast ini yaa. makasihh... ;)

Jumat, 12 September 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 8

aku dataaang lagi kawaann hehe :-)

walaupun telat tapi aku tetap mau ngucapin Happy Shivers day buat kalian para shivers-shivers semua  :-) semoga kalian makin kompak, makin seru, makin dewasa dan nggak gampang terhasut oleh para shiters diluaran :-D

okeh lah langsung aja yee ...

*******************************

Seperti apa yang telah diperkirakan oleh Ashilla sendiri, hari-hari berikutnya akan menjadi hari yang panjang dan sangat melelahkan baginya.

Sepanjang hari ia akan duduk di meja kerjanya untuk mempelajari
laporan-laporan dari ke dua puluh menterinya. Laporan dari awal mereka menjabat sampai saat ini. Ternyata tebal dari laporan itu lebih tebal dari bayangan Ashilla. Tetapi ia tidak mengeluh.

Ashilla mensyukuri akan kesibukannya sekarang ini. Dengan kesibukannya itu, ia dapat
melupakan Cakka. Dan ketika malam hari menjelang ia sudah terlalu lelah untuk mengenang Cakka.

Seperti Ashilla, semua Menteri
juga sibuk dengan tugasnya. Kesibukan para Menteri yang luar biasa ini sudah menarik perhatian para kuli koran.

Siapa yang tidak tertarik dengan para Menteri yang tiba-tiba mengacak-acak kantor mereka untuk membuka undang-undang lama? Siapa yang tidak ingin tahu dengan kegiatan ke dua puluh kantor itu beserta karyawan-karyawannya yang melakukan persidangan terus menerus tanpa hentinya?

Tindakan Ashilla itu membuat warga Vandella bertanya-tanya terutama warga Perenolde. Seperti belum puas dengan membangkitkan keheranan
rakyatnya, Ashilla terus membuat
kejutan lagi dengan pengumuman yang dia berikan.

Semua koran memuat titah Ashilla dengan huruf besar-besar
dan diletakkan dihalaman paling depan. Dan bunyi titahnya yakni,

Yang Mulia Ratu Ashilla mengundang semua ahli keuangan
Kerajaan Vandella untuk datang ke
Istana Azzereath. Yang Mulia Ratu
akan mengadakan pemilihan untuk
memilih ahli keuangan terbaik yang akan menjadi penasehatnya. Para ahli keuangan yang berminat harap segera menuju Istana Azzereath untuk segera mendaftarkan diri. Yang Mulia Ratu hanya memberi waktu kurang
dari satu minggu untuk mereka
yang tinggal disekitar Perenolde
dan satu setengah minggu untuk
mereka yang tinggal diluar radius
400 mil dari Perenolde.

Semua orang sibuk membicarakan
kedua titah Ashilla di rapat pertamanya. Koran-koran menyoroti kedua titah itu.

Tanpa disadari, keingintahuan rakyat yang besar membuat mereka para penulis lebih berani menyeruakan pendapatnya daripada sebelumnya. Dan koran-koran mulai dapat menjawab keingintahuan rakyat.

Sebagai orang yang pertama
menyadarinya, Ashilla merasa sangat gembira. Ia senang melihat koran telah berani berpendapat. Mereka berani menulis apa yang
sebenarnya direncanakan oleh
Ratu mereka?

Ashilla yakin mereka tidak menyadari dengan kalimat-kalimat tersebut. Kalimat yang mereka keluarkan pada masa pemerintahan ayahnya dianggap tidak mempercayai adanya Raja. Tetapi setelah koran dicetak dan mereka membacanya, mereka baru menyadari bahwa kalimat yang mereka keluarkan akan menyebabkan hukuman pancung.

Sebelum ada yang menemuinya
untuk minta maaf, Ashilla segera
menyebarkan ucapan selamat untuk agensi koran-koran tersebut.

“Koran Anda bagus sekali isinya.
Saya senang atas kemajuan ini.
Teruslah berkembang dengan
bebas! Jadilah koran yang benar-
benar dapat memberi informasi
pada rakyat.”

Demikian kata-kata yang Ashilla
tulis pada surat-suratnya.

Menjelang siang hari, surat-surat yang penuh dukungan itu telah
tersebar disemua agensi koran. Kedatangan surat itu mula-mulanya menakutkan para pemilik penerbitan koran, tetapi mereka bersorak sorai setelah membaca isinya yang penuh dukungan dan kepuasan. Mereka merasa seperti mendapatkan angin segar dalam kerja mereka memberi informasi pada rakyat.

Dihari-hari selanjutnya, Ashilla
akhirnya bisa tersenyum puas ketika membaca koran. Ia tidak perlu lagi merasa muak untuk membaca koran yang isinya hanya omong kosong dan tidak berguna.

Ada beberapa keputusan-keputusan yang didapat dari hasil rapat pertama Ashilla dan para menteri-menterinya itu. Dan baru dua keputusan hasil dari rapat tersebut yang diketahui oleh rakyatnya. Tapi ada juga yang rakyat tidak mengetahuinya hasil rapat tersebut yang memutuskan bahwa Ashilla mengurung Menteri Keuangan di Istananya, jika rakyat tahu mereka pasti akan menjadi semakin ramai.

Hingga hari ketiga keberadaan Riko di Istana, tidak ada seorang pun yang tahu. Keluarga Riko
sendiripun tidak tahu apa-apa.

Untuk menenangkan keluarganya, Ashilla mengirim Kiki untuk ke rumah Riko. Melalui Kiki, Ashilla mengatakan saat ini Kiki sedang diperlukan di Istana dan untuk beberapa waktu ia tidak dapat menghubungi keluarganya.

Keluarga Riko mempercayainya.Dan tidak ambil pusing walau
sudah lama tidak ada kabar dari
Riko. Semuanya percaya bahwa Ratu mereka, Ashilla sedang
membutuhkan bantuan Riko
untuk menghitung kas negara.

Tidak ada seorang pun yang berada diluar Istana yang tahu bahwa Ashilla menghitung sendiri uang yang dimiliki oleh Vandella. Untuk melakukan pekerjaan itu, Ashilla meminta seluruh penghuni Istana menuliskan macam-macam pajak yang
dibebankan ayahnya berikut
jumlahnya.

Untuk menghilangkan kecurigaan
rakyat akibat hilangnya Riko,
Ashilla memerintahkan Lintar,
wakil Menteri Keuangan untuk
menggantikan tugas-tugas Riko. Dan kepadanya Ashilla tidak menjelaskan apa-apa tentang
keberadaan Riko di Azzereath. Ia hanya meminta Lintar untuk
melakukan pekerjaan yang sama
seperti menteri-menteri lainnya.

Begitu sibuknya Ashilla sehingga ia
sering melalaikan keadaan dirinya sendiri. Tidak ada lagi waktu istirahat untuknya.

Langkah besar yang diambil oleh Ashilla diawal pemerintahannya
ini sangat mengguncang warga Vandella. Mulai dari Perenolde hingga ke daerah perbatasan. Mereka yang dulu tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan Rajanya menjadi terbangkitkan untuk mengikuti perkembangan suasana ibukota.

Guncangan ini sampai pula di
tempat Cakka dan menjadi berita yang paling menghebohkan.

***

Suatu pagi yang cerah terdengar
suara kuda mendekat ke tempat Cakka yang disertai teriakan,“Pangeran!! Pangeran!!”

“Ada apa, Ozy?” tanya Cakka pada pengendara kuda setelah ia berhenti didepannya. “Apa kau sudah mengetahui bagaimana keadaannya?”

“Gawat, Pangeran!! Ini benar-benar gawat.” kata Ozy dengan nafas yang masih ngos-ngosan

Cakka segera menarik Ozy kedalam kamarnya.

Alvin yang mendengar pembicaraan singkat itu langsung mengikuti Cakka dari belakang.

Cakka langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu berkata, “Ceritakan apa yang kau dapatkan disana?”

“Gadis itu, Pangeran!!” Ozy berkata antara takjub dan takut,
“Gadis itu…”

“Cepat katakan, kenapa dengan dia??” Cakka sudah tidak sabar lagi.

“Ia adalah Ratu Vandella.” seru Ozy.

Baik Cakka maupun Alvin terhenyak kaget mendengarnya. Mereka menatap Ozy dengan pandangan tak percaya.

“Apa kau yakin?” tanya Cakka hati-hati.

"Sangat yakin Pangeran, karena ia adalah Yang Mulia Ratu Kerajaan Vandella, Pangeran!!” Ozy meyakinkan, “Hamba sendiri yang mendengar ia berkata seperti itu di Gedung Parlemen.”

Pada akhirnya Ozy segera menceritakan apa yang terjadi selama ia berada di Perenolde. Ia menceritakan bagaimana ia menyamar menjadi wartawan demi mendapatkan informasi untuk disampaikan ke Cakka.

“Saat itu saya berpikir Anda pasti
senang kalau saya memberi kan Anda informasi tentang apa yang dilakukan Raja Sion di Gedung Parlemen setelah sekian lama menghilang. Saya tidak menduga akan bertemu Shilla disana. Mulanya saya tidak percaya ia adalah Shilla tapi setelah saya mengamatinya ia benar sangat mirip dengan Shilla. Akhirnya saya bertanya padanya siapa dia sebenarnya. Dan dengan tegas ia menjawab, ‘ Saya adalah Ashilla, Ratu dari Kerajaan Vandella’. ”
tutur Ozy pada Cakka.

“Kurang ajar!!” geram Cakka. “Setan cilik itu ternyata telah menipuku.”

“Ashilla…” gumam Alvin pelan, “Aku merasa pernah mendengar nama itu.”

“Ia adalah putri Raja Sion yang
dibawa pergi oleh Ratu Zahra bertahun-tahun lalu.” Ozy
menjelaskan.

“Benar!!” seru Alvin. “Aku baru ingat, dulu Ratu Zahra membawa pergi putrinya yang baru lahir dan
membuat rakyat Vandella gempar kecuali Raja Sion sendiri. Rupanya ia telah mencari putrinya sebelum ia mati dan berjaga-jaga agar tidak terjadi perebutan tahta. Cukup beralasan mengapa ia tidak pernah mengumumkan Febby sebagai pewaris tahtanya.”

“Saya rasa tidak. Menurut isu yang
beredar di Perenolde, hingga Raja
Sion meninggal pun ia tidak pernah memerintahkan untuk melakukan pencarian terhadap putrinya. Para menterilah yang mencari mereka sendiri.” jawab Ozy membenarkan.

“Menteri yang setia.” ejek Cakka.
“Aku heran mengapa mereka baru
mengumumkan hal ini setelah
sepuluh bulan serigala itu mati.”

“Karena mereka mengalami kesulitan dalam menemukan
tempat tinggal Ratu, Pangeran.
Ratu menghilang tanpa jejak.” timpal Ozy.

“Benar-benar budak yang setia.”
ejek Cakka. “Aku heran mengapa
mereka mau menahan berita
kematian serigala itu sampai sang
Putri kembali?”

“Saya tidak tahu tentang itu,
Pangeran.” jawab Ozy sambil menggelengkan kepala.

“Kejadian itu terjadi enam belas
tahun yang lalu, berarti…” Tiba-
tiba Alvin berseru takjub. “Gadis itu masih sangat muda!”

“Setan cilik itu masih anak-anak.”
Cakka membetulkan.

“Aku tidak percaya, sekarang kita
mempunyai Ratu semuda itu.” kata Alvin tak percaya.

“Ratu muda yang bodoh. Apa yang
bisa dilakukan oleh anak-anak
sepertinya?” ucap Cakka sarkatis.

“Banyak, Pangeran.” jawab Ozy.“Ketika saya hendak kembali ke
sini, terdengar kabar bahwa Ratu
memanggil semua menteri-menterinya. Saya pikir Anda akan tertarik untuk mengetahui apa rencana Ratu. Karena itu saya menunda kepulangan saya.”

“Ratu memanggil semua
menterinya untuk memerintahkan
mereka membongkar semua
peraturan lama. Ratu ingin membuat peraturan baru. Ratu
juga menyebarkan pengumuman
panggilan terhadap semua ahli
keuangan Vandella. Ratu meminta
mereka datang ke Azzereath karena ia akan memilih ahli keuangan terbaik.” lanjut Ozy.

“Gebrakan yang mengejutkan.” ejek Cakka.

“Benar, Pangeran” sahut Ozy. “Ratu membuat seluruh Perenolde
gempar. Koran-koranpun menjadi lebih berani untuk mengupasnya.
Lihatlah ini.”

Cakka membaca kalimat yang
ditunjuk oleh Ozy dan berkomentar. “Berani juga mereka meragukan kemampuan keturunan serigala itu.”

“Itu belum apa-apa dibandingkan
dengan koran-koran ini, Pangeran.
Saya dengar Ratu memberi.dukungan pada tiap agensi koran untuk terus berkembang.” ucap Ozy memberitahu.

“Rencana licik apalagi yang dibuatnya? Dia memang licik. Harus aku akui dia cukup cerdik dalam mendapatkan simpati rakyat.” kata Cakka sinis.

“Beristirahatlah dulu, Ozy. Lalu
kembalilah ke Perenolde dan terus kabari aku apa yang terjadi disana. Jangan katakan hal ini pada yang lain. Aku tak ingin mereka khawatir jika Ratu sial itu akan menyerbu kita sewaktu-waktu." ucap Cakka lagi.

“Saya kira dalam waktu dekat ini, hal itu tidak akan terjadi, Pangeran. Saat ini Ratu sedang sibuk dengan kas negara. Bahkan, ia meminta Riko untuk tinggal didalam Istana.” ucap Ozy lagi seakan tidak perduli dengan perintah Cakka yang memintanya untuk istarahat dan untuk tidak banyak bicara lagi.

“Aku tetap ingin kau tutup mulut, Ozy!!” kata Cakka tegas.

“Baik, Pangeran.” jawab Ozy mengerti.

“Beristirahatlah lalu segera kembali ke Perenolde.” perintah Cakka pada Ozy.

Kemudian Ozy segera meninggalkan kamar Cakka.

“Biacaramu terlalu sinis, Cakka.
Kenapa kau sangat mencurigai dia?
Belum tentu ia selicik dugaanmu.
Mungkin saja setelah melihat apa
yang terjadi di sini, ia ingin
memperbaiki pemerintahan
ayahnya.” seru Alvin tiba-tiba setelah kepergian Ozy dari kamar Cakka.

“Aku percaya pada diriku sendiri.
Aku tidak mungkin salah.” Ucap Cakka murka. “Dia pasti menyesal bila bertemu denganku. Dan aku akan membuatnya menyesal telah
menipuku dan rakyatku. Aku ingin
sekali membunuhnya.”

“Dia tidak sepenuhnya membohongi kita. Setidaknya ia masih memberikan nama aslinya.” bela Alvin.

Cakka tidak tertarik untuk mendengarkan pembelaan yang di ucapaka oleh Alvin, tapi Alvin tetap melanjutkannya. “Dia menyuruh kita untuk memanggilnya dengan panggilan
Shilla. Panggilan itu dari namanya Ashilla. Nama yang sangat menyenangkan untuk didengar
seperti mengandung sinar bintang
yang cerah.”

“Berhentilah untuk menyebut-nyebutnya namanya. Aku muak mendengarnya!” ucap Cakka tajam.

“Kau boleh marah, Cakka. Tapi
kau tidak bisa membohongiku.” lanjut Alvin.

“Cukup!!” bentak Cakka.

Alvin hanya mengangkat bahunya.
Ia tahu Cakka benar- benar sangat murka saat ini. Ia juga tahu takkan ada yang berani mengusiknya dalam hari-hari belakangan ini termasuk Pricilla.

Sejak Shilla kembali bersama para
pasukan itu, Cakka merasa sangat cemas. Ia bahkan mengirim pasukannya untuk mengintai pasukan kerajaan dan mencari kesempatan untuk menculik Shilla kembali.

Setelah tidak berhasil merebut Shilla, Cakka mengirim Ozy untuk mencari tahu keberadaan Shilla.

Orang yang paling bergembira dengan hilangnya Shilla adalah Pricilla. Wanita itu seperti mendapatkan kembali kesempatan untuk berdua dengan Cakka.

Pricilla semakin berani mendekati Cakka. Bahkan, ia meminta Cakka untuk mengajaknya tidur dikamarnya seperti yang ia lakukan pada Shilla. Tentu saja Cakka dengan dingin menolaknya.

Suasana di Vandella tengah berubah. Demikian pula dengan suasana hati Cakka. Tapi, tidak untuk suasana rakyat Lasdorf.

Meskipun mereka membaca koran
yang menyerukan perubahan yang
dilakukan Ashilla, mereka tidak
akan tahu bahwa Ashilla adalah gadis yang sama dengan Shilla.
Rakyat kecil ini baru akan gempar bila tahu gadis yang dulu mereka puja adalah Ratu Vandella.

Tujuh ratus mil dari tempat itu
Ashilla tetap dengan meneruskan kesibukannya. Siang malam ia
terus terlihat di Ruang Kerjanya
dengan tumpukan kertas yang
tinggi.

Terlalu banyak yang harus dilakukannya sehingga ia sering
melupakan waktu. Setiap kali hari mulai menjadi gelap, Ashilla selalu berkata, “Waktuku cepat berlalu.”

Waktu yang terus berganti dengan
cepat, mendorong Ashilla untuk
bekerja lebih cepat lagi. Lebih
banyak yang diselesaikan Ashilla,
semakin puas hatinya.

Kesibukan yang ada di Azzereath tidak hanya terjadi pada Ashilla saja. Seluruh pelayan Istana juga ikut disibukkan oleh kedatangan para ahli keuangan yang datang memenuhi panggilan Ashilla.

Orang yang pertama kali terkejut
dengan banyaknya ahli keuangan
yang datang adalah Kiki. Saat ia
mencatat nama ke lima puluh, ia
segera menemui Ashilla.

“Luar biasa, Yang Mulia” serunya tak percaya, “Lihatlah ini. Ini nama ke lima puluh yang saya catat.”

Ashilla tertawa geli. “Berilah dia
hadiah, Kiki, sebagai penghargaan
menjadi orang ke lima puluh.”

“Anda seperti akan mengadakan
perlombaan, Yang Mulia." ucap Kiki seraya tersenyum.

“Kaulah yang membuatnya seperti itu, Kiki.” Ashilla tersenyum geli. “Aku berjanji minggu depan kau akan lebih terkejut.”

“Anda benar, Yang Mulia, mereka jumlahnya masih banyak.”

“Aku sudah mengatakannya
padamu, bukan” Ashilla mengingatkan dengan lembut, “Lebih baik sekarang kau kembali kebawah. Aku yakin sudah banyak yang menanti kau memasukkan
nama mereka dalam daftar peserta lombamu.”

Melihat wajah Kiki yang seperti
anak kecil yang sedang marah, tak buatnya Ashilla tertawa geli.“Pergilah menemui para peserta lombamu sebelum mereka membatalkan niatnya untuk mengikuti lombamu itu.”

Kiki tersenyum seraya membungkuk hormat. Ia masih tersenyum ketika kembali ke Hall.

Ashilla tersenyum melihat
kepergian Kiki lalu kembali menekuni pekerjaannya yang tertunda. Membaca laporan telah ia selesaikan berhari-hari lalu. Sekarang yang menjadi pekerjaannya adalah menyusun hal-hal yang harus segera dilakukannya setelah membaca laporan kedua puluh menterinya serta membuat keputusan-keputusan baru.

Segala ide-ide bagus yang terlintas dalam pikirannya segera ia tulis dan dipisahkan-pisahkannya. Sangat banyak ide-ide yang terlintas dalam pikiran Ashilla sehingga ia bingung mana yang harus dilakukannya lebih dulu.

Di tengah-tengah kesibukannya,
Ashilla masih menyempatkan diri
untuk menyelesaikan masalah
Riko dan menerima menteri-
menterinya yang datang untuk
menanyakan sarannya.

Sejak mengurung Riko disalah
satu kamar di Istana, Ashilla tidak pernah bertemu dengannya lagi. Namun, dari prajurit yang menjaga
kamar tempat Riko berada, ia mengetahui bahwa Riko sangat gelisah menanti hasil pemeriksaan
dari Ashilla terhadap dirinya.

Ketika dihari terakhir yang ditentukannya tiba, Ashilla segera
memanggil Gabriel ke Istana. Dari
hasil pendataan yang dilakukan oleh Kiki, Ashilla mengetahui jumlah orang yang datang.

***

Pagi harinya setelah makan pagi,
Ashilla meminta Kiki untuk menyuruh pelayannya menyiapkan kertas dan pena di Ruang Rapat.

Pelayan-pelayan Istana segera
melaksanakan perintah dari Ashilla
itu. Mereka tidak mau kalah dengan Ashilla yang juga sibuk
menyiapkan segala-galanya untuk
pertemuannya yang pertama
dengan semua ahli keuangan
Vandella itu.

Kesibukan di dalam Istana yang
terjadi sejak pagi itu membuat
para tamu Ashilla tahu bahwa pemilihan telah tiba. Mereka pun
sibuk untuk mempersiapkan dirinya masing-masing.

Menjelang siang hari, para pelayan telah menyiapkan segalanya seperti perintah Ashilla.

Kiki memanggil seluruh tamu Istana itu menuju ke Ruang Rapat tempat Ashilla dan Gabriel telah menantinya.

Sambil menunggu mereka semua
berkumpul, Ashilla sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang disana. Ketika semuanya telah berkumpul, Ashilla tetap berbincang-bincang.

Gabriel juga menyibukkan diri
dengan bercakap-cakap bersama
mereka. Sebelumnya ia sudah diberitahu oleh Ashilla untuk membiarkan mereka menunggu.

“Aku ingin tahu sampai dimana
batas kesabaran mereka.” kata
Ashilla sebelum seorang pun memasuki Ruang Rapat.

Setelah hampir setengah jam
menanti, orang-orang itu mulai
gelisah. Mereka mulai mengkhawatirkan rencana Ratu
mereka.

“Di mana Yang Mulia Ratu, Gabriel? Sejak tadi kami menanti disini, tapi Yang Mulia Ratu belum hadir juga.” tanya seseorang.

“Beliau sudah ada disini sebelum
kalian datang.” Gabriel berkata
sambil melihat seorang gadis muda yang tengah berbicara dengan seorang pria tua.

“Dia!?” Mereka terkejut ketika
melihat Ashilla.

Setelah menyadari kekagetannya, kemudian mereka bersama-sama mulai mendekati Ashilla dan berlutut seraya berkata. “Maafkan kami, Yang Mulia Ratu. Kami tidak
menyapa Anda sebagaimana
mestinya.”

Dalam waktu singkat semua yang
hadir ikut berlutut dan memohon
maaf.

Ashilla tersenyum ramah dan
berkata. “Berdirilah kalian semua.
Masih banyak yang harus dilakukan
daripada mempermasalahkan
sopan santun.”

“Terimakasih Yang Mulia Ratu." kata mereka serempak. Dan Dengan hampir bersamaan mereka berdiri.

“Dari kalian yang ada disini, aku
ingin memilih beberapa orang yang benar-benar ahli dalam hal
pembukuan uang.” ucap Ashilla
menegaskan. “Sebagai pemilihan
pertama, aku akan memberi
pertanyaan yang mudah. Jawabannya tidak perlu dikatakan, tetapi tulis dikertas dan yang berikan oleh Gabriel nanti. Apa kalian mengerti?”

“Kami mengerti, Yang Mulia.” seru mereka kompak.

“Baik. Pertanyaannya adalah bila kalian mempunyai uang lebih banyak dari impian kalian, apa yang akan kalian lakukan dengan uang itu? Kutunggu jawabannya dalam lima menit dimulai dari sekarang.” kata Ashilla pada para peserta.

Kemudian Ashilla berbalik menuju kursi tingginya yang ada diujung meja rapat dan melihat
orang-orang yang mulai menulis
jawaban mereka.

Tak lama kemudian, Gabriel menyerahkan tumpukan kertas
jawaban itu pada Ashilla.

“Terima kasih, Gabriel.” ucap Ashilla tersenyum manis.

Ashilla mulai melihat lembar jawaban dari mereka. Gadis itu hanya melihat sebentar lalu menyingkirkannya. Ia mengambil lembar yang berikutnya dan segera menyingkirkannya juga.

Gabriel tidak terkejut maupun
heran dengan kerja Ashilla yang sangat cepat. Gadis itu memang tangkas. Jika Raja lain membutuhkan waktu sepuluh tahun dalam melakukan perubahan tetapi bagivAshilla hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.

Dalam waktu singkat saja dihadapan Ashilla sudah ada dua tumpuk kertas. Ashilla mendesah
panjang ketika menyerahkan
setumpuk kepada Gabriel.

“Mereka tidak berhasil.”

Ashilla kecewa melihat tumpukan
kertas itu.

Gabriel melihat jawaban itu lalu
dengan heran ia menatap Ashilla.

“Aku membutuhkan orang yang
selalu tanggap dengan perubahan
bukan yang mengikuti masa lalu.”
Ashilla menjelaskan. “Sungguh sangat disayangkan, beberapa dari mereka masih mengira aku sama dengan ayahku. Bukannya sudah banyak koran yang menuliskan keinginanku, tetapi mereka maaih saja tidak tahu. Aku sengaja tidak mengatakannya pada mereka
untuk melihat siapa yang selalu
mengikuti perubahan jaman.” lanjut Ashilla sambil menghela napas panjang.

Gabriel mengerti akan keinginan
Ashilla.

Tumpukan kertas yang diberikan
Ashilla itu pada intinya hanya mengatakan. “Aku akan memberikan uangku pada Raja
agar ia senang.” Atau “Aku akan
menggunakannya untuk
memperbaiki kehidupan rakyat.”

Akhirnya Gabriel mengumumkan hasil pemilihan pertama.

Setelah semua yang gagal keluar dari Ruangan tersebut, Ashilla berdiri dengan tumpukan kertas baru.

“Pertanyaan yang kedua adalah
kalian harus menyelesaikan
hitungan ini.” Ashilla berkata dengan tegas.

Gabriel mengambil kertas yang diberikan oleh Ashilla dan mulai membagikannya.

Selagi Gabriel membagikan soal
kedua, Ashilla berkata, “Silahkan
menggunakan meja rapat untuk mengerjakan soal itu. Aku hanya memberi waktu lima belas
menit untuk hitungan mudah itu. Dan jika sudah selesai, kumpulkan pada Deva.”

Gabriel mendekati Ashilla. “Soal
telah saya bagikan, Yang Mulia.”

“Sekarang ikutlah denganku, Gabriel. Masih banyak yang harus kita selesaikan.”

Ashilla menuju meja yang baru
dipindahkan ke sudut ruangan itu
pagi tadi. Di meja itu tampak
setumpuk kertas berisi hitungan-hitungan.

Kemudian Gabriel duduk didepan Ashilla.

“Periksalah ini. Apa benar ini semua pajak yang ditarik oleh ayahku selama ini?” tanya Ashilla.

Selagi Gabriel memeriksa, Ashilla
mengawasi orang-orang yang sibuk
menghitung itu.

Gabriel mengangkat kepala dari
kertas itu.

“Selain pajak tanah, pajak
pendapatan, apa ayahku juga menarik pajak hasil panen, pajak
barang, pajak rumah, pajak ternak,
pajak kendaraan, dan semua
macam pajak yang ada di situ?” tanya Ashilla kembali.

“Benar, Yang Mulia Ratu.” jawab Gabriel.

Beberapa orang telah selesai mengerjakannya dan memberikan hasil perhitungan mereka pada Kepala Keamanan Istana yang mengawasi mereka.

“Bolehkan saya mengajukan
pertanyaan, Yang Mulia?” tanya Gabriel tiba-tiba.

“Silahkan...”

“Mengapa Anda membuat soal
yang berbeda-beda?” tanya Gabriel menyeruakan keheranannya pada gadis itu.

“Aku ingin tahu kemampuan mereka yang sebenarnya. Aku
membutuhkan orang yang dapat
bekerja cepat dan teliti.” jawab Ashilla tegas.

“Waktu telah habis!!” Deva
mengumumkan. “Anda semua dipersilakan untuk beristirahat di kamar Anda masing-masing.”

Semuanya langsung berdiri. Beberapa dari mereka ada yang mengeluh panjang. Dan ada yang tersenyum senang. Ada juga yang berbisik-bisik. Seketika suasana yang awalnya sepi, kini menjadi sangat riuh.

“Seperti anak-anak sekolah yang
sedang ujian.” gumam Gabriel seraya terkekeh pelan.

“Aku memang sengaja membuatnya seperti itu.” sahut Ashilla dengan senyum
manisnya.

Tiba-tiba Deva mendekat. “Semua jawaban telah saya kumpulkan, Yang Mulia.”

“Terima kasih, Deva. Maukah kau membawakannya ke Ruang Kerjaku?” balas Ashilla.

“Dengan senang hati, Yang Mulia.” jawab Deva menyanggupi.

“Mari kita berangkat, Gabriel." Ashilla bangkit dan mengambil tumpukan tugasnya lalu membawanya pergi.

“Ijinkan saya membantu Anda,Yang Mulia.” Gabriel mengulurkan
tangannya.

“Terima kasih, Gabriel.” Ashilla
menyerahkan bawaannya.

Ashilla meninggalkan Ruang Rapat dengan dikawal oleh Gabriel dan Deva.

Penjaga pintu pun membukakan pintu untuk mereka bertiga.

Setelah samapai di Ruang Kerja Ashilla, Deva dan Gabriel segera meletakkan kertas-kertas itu diatas meja.

“Sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu, Deva, tapi aku ingin meja kecil di Ruang Rapat tadi dikembalikan ke tempat asalnya.” perintah Ashilla pada Deva.

“Keinginan Anda adalah tugas bagi
saya, Yang Mulia.” Deva membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan itu.

“Menteri Luar Negeri datang untuk
menghadap Anda, Yang Mulia.” Tiba-tiba penjaga berseru memberitahukan ada kunjungan bagi Ashilla.

“Suruh dia masuk.” jawab Ashilla lantang.

“Hamba datang memenuhi
panggilan Anda, Yang Mulia.” Ray
membungkuk hormat.

“Kau datang tepat waktu, Ray. Kemarilah dan bantu kami untuk
memeriksa jawaban-jawaban ini.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Ray lalu duduk disamping Gabriel.

Ashilla menyerahkan kepada mereka masing-masing selembar
kertas. “Ini adalah jawaban untuk semua soal ini. Perhatikan baik-
baik soalnya. Ada lima belas jenis
soal yang ada disini.”

“Kami akan berhati-hati, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.

Lalu ketiganya segera tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing. Diantara mereka bertiga, Ashilla lah yang paling cepat menyelesaikan tugasnya. Gadis itu yang membuat semua soal ini dan tentunya gadis itu pula yang membuat jawabannya. Ia masih ingat dengan semua jawaban-jawabannya yang semuanya berisi dengan angka-angka yang berderet-deret itu.

Selama hari-hari terakhir ini Ashilla terbiasa bekerja dengan cepat. Tak heran jika ia sangat tangkas dalam segala hal namun penuh perhitungan.

Dari 8.454 orang yang telah mengikuti, hanya 157 orang yang lolos dalam pemilihan pertama. Dan dari pemilihan kedua, yang lolos hanya 36 orang saja.

Ashilla memandang kertas yang
berisi jawaban yang benar itu.

“Biarkan mereka menantinya.” kata Ashilla. “Besok baru kita
umumkan siapa saja yang lolos. Sampai saat itu tiba, jangan mengatakan hasilnya pada siapa pun.”

“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.” jawab mereka berdua.

“Mendekatlah!” kata Ashilla pada Gabriel dan Ray.

Gabriel dan Ray berdiri disamping Ashilla.

“Ini adalah hasil perhitungan
kasarku.” Ashilla memberikan
selembar kertas pada mereka. “Aku ingin kalian memberitahu ku mana yang salah dan mana yang terlewat.”

“Ini, Yang Mulia” Gabriel menunjuk
sederet angka-angka itu. “Jumlah yang ditarik lebih besar dari ini.”

Ashilla menghitung kembali hasil
perhitungannya. Baik Gabriel
maupun Ray tidak henti-hentinya memberikan bantuan pada gadis itu. Tiap ada yang salah, mereka tak ragu untuk memberitahu. Mereka juga tidak segan memuji pekerjaan Ashilla.

Ashilla juga dengan senang hati
menerima pendapat dari kedua
menterinya itu.

“Sudah saatnya beristirahat, Yang Mulia Ratu!”

Ashilla terkejut mendengar pelayan tuanya yang setia itu masuk dan membawa nampan penuh yang berisi dengan berbagai macan makanan.

“Apa yang kaulakukan disini, Sivia?” ucap Ashilla pada Sivia lalu pandangannya beralih pada pelayan wanitanya, “Irva, bukankah
aku memberimu tugas untuk
mencegahnya bekerja?”

“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu, tapi saya pikir Sivia benar. Seharian ini Anda telah bekerja sangat keras bahkan Anda sampai melewatkan waktu makan siang Anda. Sekarang memang sudah terlambat untuk makan siang, tetapi tidak untuk waktu minum teh.” ucap Irva sependapat dengan Sivia.

Ashilla hanya bisa menghela nafas.
“Letakkan saja di meja lalu antar
Sivia kembali ke kamarnya.”

“Anda harus beristirahat, Yang Mulia.” Sivia mulai menasehati, “Sepanjang minggu ini saya melihat Anda bekerja terlalu keras. Kalau Anda jatuh sakit, siapa yang akan melakukan perbaikan hidup rakyat.” Sivia berhenti sejenak untuk menghela napas dan melanjutkan lagi perkataannya. “Selain itu, saya juga tidak suka berdiam diri didalam kamar tidak melakukan pekerjaan apa-apa.”

Ashilla diam mendengarkan nasihat dari pelayan setianya itu sambil memandangi wajah keriput pelayan tua itu. Dalam
benak gadis itu telah muncul gagasan baru.

Rakyat sangat membutuhkan bantuannya saat ini juga. Bukan nanti bukan juga esok, tapi sekarang. Segala perubahan yang dilakukannya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar berjalan. Saat ini, detik ini pula rakyat mengharapkan batuannya.

“Irva..” kata Ashilla tegas. “Panggil Deva, Kiki juga Bagas saat ini juga.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” Irva beranjak pergi setelah memberi hormat.

“Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?” tanya Sivia keheranan.

“Memberimu pekerjaan.” jawab
Ashilla tenang. “Sekarang kau
duduk saja dan menanti mereka.”
Ashilla berpaling pada kedua
menterinya yang ada dikanan-kirinya itu. “Mari kita lanjutkan,” katanya.

Tak lama kemudian Irva datang
dengan ketiga pria itu.

“Kami datang untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu.” mereka melapor.

“Bagas, Kiki dan Deva aku punya tugas untuk kalian bertiga.” Ashilla memulai. “Bagas, ajak pelayan-pelayan di Istana ini untuk membantu Sivia membongkar semua gaun-gaunku juga gaun ibuku. Pilihlah yang masih baik untuk diberikan pada rakyat.”

Sivia sangat terkejut mendengarnya tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk membantah.

“Sivia, pimpin pelayan-pelayan di
Istana itu untuk memilih gaun-gaunku itu lalu bawa ke Hall lantai pertama. Kiki, siapkan beberapa kereta kuda untuk membawa gaun-gaun itu. Dan kau Deva, bawa
prajuritmu untuk membagikan
gaun-gaun itu pada rakyat. Ajak
juga para pelayan jika kau masih
kekurangan orang. Untukmu Irva, bantu Sivia dan cegah dia bila dia ikut mengangkat kopor-kopor
itu.” lanjut Ashilla memberikan perintah pada masing-masing orang tersebut.

“Yang Mulia Ratu!” Sivia menyahut, “Saya tidak setuju! Gaun-gaun itu
menyimpan banyak kenangan. Kalau semuanya disumbangkan, terus apa yang tersisa?”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
Ashilla berkata lembut. “Mama
pasti mengerti akan keinginanku ini. Mama pastinya juga senang apabila gaun-gaunnya berguna untuk rakyatnya. Aku juga akan ikut senang sekali kalau milikku
dapat membantu rakyat yang
menderita. Ini adalah langkah kecil
yang dapat aku lakukan saat ini
selagi yang besar masih direncanakan.”

“Aku ingin bangsawan-bangsawan
lain dan mereka yang kaya dapat
membantu rakyat yang miskin. Tapi yang lebih dulu akan melakukannya aku, bukan? Mereka pastinya akan mengikutiku. Aku takkan melarang bila kalian ingin ikut membantu. Bantuan yang sangat
kecil tetapi penuh keikhlasan akan
sangat berarti daripada bantuan
besar yang hampa.” lanjut Ashilla.menjelaskan rencananya.

“Deva bila kau sudah sampai di
kota, umumkan pada rakyat yang
mampu untuk ikut menyumbang
dan untuk rakyat yang tidak mampu agar mau datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Dan untukmu Kiki, kalau kau sudah selesai menyiapkan kereta, aturlah Hall menjadi dua bagian. Satu bagian untuk penerimaan bantuan dan satunya lagi untuk pemberian bantuan. Mulai besok Hall dibuka untuk umum dan kalian tetap berkeliling menyalurkan bantuan, tetapi tidak disini melainkan di kota-kota lain. Mungkin di kota-kota lain juga perlu pengumuman, aku akan membuatnya.”

Ashilla mengambil secartik kertas
dan mulai menulis.

“Deva..” panggil Ashilla seusai
menandatangani pengumumannya itu. “Ini untuk dibacakan di ibukota dan ini di kota-kota lain. Ingat, aku hanya membuat dua. Bila ada pengumuman yang lain yang sam, cari dan periksa. Aku tidak mau hal ini digunakan oleh orang-orang tamak untuk mengumpulkan harta.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.

Melihat kelima orang itu masih
tidak bergerak, Ashilla kembali berkata. “Apa yang kalian tunggu?”

“Kami akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia Ratu.” kata mereka serempak sambil membungkuk memberi hormat.

Ashilla menghela napas dan tatapannya beralih untul melihat kedua menterinya dengan bergantian. “Sivia benar, kita
butuh istirahat.” Ashilla berdiri
dan menuju sofa di depan meja
kerjanya itu. Ashilla menuang
teh dan memberikannya pada
Gabriel dan Ray.

“Terimakasih, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.

Ashilla tersenyum, “Katakanlah
padaku bagaimana kehidupan
rakyat selama ini sejauh yang
kalian ketahui.”

“Rakyat hidup dengan sangat menderita, Yang Mulia. Raja menarik pajak terlalu banyak
dan terlalu besar untuk mereka. Sulit bagi rakyat yang miskin untuk bertahan hidup, banyak orang yang kelaparan di desa-desa. Dan di kota, hanya mereka yang kaya yang mampu bertahan hidup. Bangsawan tidak lagi mengalami masa kejayaan. Pajak yang ditentukan terlalu tinggi.” ucap Gabriel seraya menerawang membayangkan kehidupan rakyat Vandella yang sangat menderita.

“Sulit untuk menjadi kaya.” Ray
menambahkan. “Lebih mudah untuk jatuh miskin ketimbang menjadi kaya. Pajak perdagangan pun sangat tinggi.”

“Tak ada yang berani menentang keputusan Raja. Siapa yang tidak mau membayar pajak akan dipenjara. Raja juga tidak segan-segan akan membunuh orang yang tidak disukainya. Penjara dipenuhi orang-orang yang menangis menderita. Janda-janda meratapi anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami kelaparan.”

“Tapi kini semua itu sudah berakhir.” kata Ray bersemangat, “Anda hadir disini sebagai bidadari kami. Anda memberikan banyak kebahagiaan. Anda sudah menghidupkan kembali cahaya dari suasana yang suram dan kerajaan yang sangat menderita ini. Banyak anugerah yang Anda berikan tapi Anda.sendiri lah anugerah terbesar bagi kami semua.” lanjut Ray seraya tersenyum.

“Terimakasih, Ray. Aku senang
mendengarnya. Aku berharap
semua orang juga berpikiran
seperti itu. Tapi sayangnya, masih banyak yang takut dan membenciku.” ucap Ashilla pelan.

“Kami tidak membenci Anda, Yang Mulia.” hibur Gabriel. “Suatu saat nanti rakyat pasti akan mengetahui
ketulusan Anda dan mereka akan
mencintai Anda.”

Ashilla tersenyum lalu bangkit.
“Aku tidak bisa hanya duduk-duduk disini saja. Aku ingin membantu mereka. Kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat. Aku tidak mengharapkan kalian untuk ikut denganku.”

Gabriel dan Ray saling menatap.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Ray pada Gabriel.

“Bagaimana lagi, Ray? Yang Mulia adalah gadis yang tangkas. Ia bekerja tanpa henti tapi tak terlihat kelelahan. Apa kita harus kalah sama Yang Mulia Ratu.?” ucap Gabriel.

“Baiklah!! Kita akan ikut Yang Mulia Ratu Ashilla.” jawab Ray yang disertai anggukan dari Gabriel.

Mereka segera mengejar Ashilla
yang terlebih dulu telah berada di Hall dan bersiap-siap untuk naik wagon menuju ke kota.

*******************************

nahh itu chapter 8 nya hehe :-)
buat yang nunggu gimana reaksi Cakka? sudah terjawab bukan di chapter ini hihi hi ;-)