aku dataaang lagi kawaann hehe :-)
walaupun telat tapi aku tetap mau ngucapin Happy Shivers day buat kalian para shivers-shivers semua :-) semoga kalian makin kompak, makin seru, makin dewasa dan nggak gampang terhasut oleh para shiters diluaran :-D
okeh lah langsung aja yee ...
*******************************
Seperti apa yang telah diperkirakan oleh Ashilla sendiri, hari-hari berikutnya akan menjadi hari yang panjang dan sangat melelahkan baginya.
Sepanjang hari ia akan duduk di meja kerjanya untuk mempelajari
laporan-laporan dari ke dua puluh menterinya. Laporan dari awal mereka menjabat sampai saat ini. Ternyata tebal dari laporan itu lebih tebal dari bayangan Ashilla. Tetapi ia tidak mengeluh.
Ashilla mensyukuri akan kesibukannya sekarang ini. Dengan kesibukannya itu, ia dapat
melupakan Cakka. Dan ketika malam hari menjelang ia sudah terlalu lelah untuk mengenang Cakka.
Seperti Ashilla, semua Menteri
juga sibuk dengan tugasnya. Kesibukan para Menteri yang luar biasa ini sudah menarik perhatian para kuli koran.
Siapa yang tidak tertarik dengan para Menteri yang tiba-tiba mengacak-acak kantor mereka untuk membuka undang-undang lama? Siapa yang tidak ingin tahu dengan kegiatan ke dua puluh kantor itu beserta karyawan-karyawannya yang melakukan persidangan terus menerus tanpa hentinya?
Tindakan Ashilla itu membuat warga Vandella bertanya-tanya terutama warga Perenolde. Seperti belum puas dengan membangkitkan keheranan
rakyatnya, Ashilla terus membuat
kejutan lagi dengan pengumuman yang dia berikan.
Semua koran memuat titah Ashilla dengan huruf besar-besar
dan diletakkan dihalaman paling depan. Dan bunyi titahnya yakni,
Yang Mulia Ratu Ashilla mengundang semua ahli keuangan
Kerajaan Vandella untuk datang ke
Istana Azzereath. Yang Mulia Ratu
akan mengadakan pemilihan untuk
memilih ahli keuangan terbaik yang akan menjadi penasehatnya. Para ahli keuangan yang berminat harap segera menuju Istana Azzereath untuk segera mendaftarkan diri. Yang Mulia Ratu hanya memberi waktu kurang
dari satu minggu untuk mereka
yang tinggal disekitar Perenolde
dan satu setengah minggu untuk
mereka yang tinggal diluar radius
400 mil dari Perenolde.
Semua orang sibuk membicarakan
kedua titah Ashilla di rapat pertamanya. Koran-koran menyoroti kedua titah itu.
Tanpa disadari, keingintahuan rakyat yang besar membuat mereka para penulis lebih berani menyeruakan pendapatnya daripada sebelumnya. Dan koran-koran mulai dapat menjawab keingintahuan rakyat.
Sebagai orang yang pertama
menyadarinya, Ashilla merasa sangat gembira. Ia senang melihat koran telah berani berpendapat. Mereka berani menulis apa yang
sebenarnya direncanakan oleh
Ratu mereka?
Ashilla yakin mereka tidak menyadari dengan kalimat-kalimat tersebut. Kalimat yang mereka keluarkan pada masa pemerintahan ayahnya dianggap tidak mempercayai adanya Raja. Tetapi setelah koran dicetak dan mereka membacanya, mereka baru menyadari bahwa kalimat yang mereka keluarkan akan menyebabkan hukuman pancung.
Sebelum ada yang menemuinya
untuk minta maaf, Ashilla segera
menyebarkan ucapan selamat untuk agensi koran-koran tersebut.
“Koran Anda bagus sekali isinya.
Saya senang atas kemajuan ini.
Teruslah berkembang dengan
bebas! Jadilah koran yang benar-
benar dapat memberi informasi
pada rakyat.”
Demikian kata-kata yang Ashilla
tulis pada surat-suratnya.
Menjelang siang hari, surat-surat yang penuh dukungan itu telah
tersebar disemua agensi koran. Kedatangan surat itu mula-mulanya menakutkan para pemilik penerbitan koran, tetapi mereka bersorak sorai setelah membaca isinya yang penuh dukungan dan kepuasan. Mereka merasa seperti mendapatkan angin segar dalam kerja mereka memberi informasi pada rakyat.
Dihari-hari selanjutnya, Ashilla
akhirnya bisa tersenyum puas ketika membaca koran. Ia tidak perlu lagi merasa muak untuk membaca koran yang isinya hanya omong kosong dan tidak berguna.
Ada beberapa keputusan-keputusan yang didapat dari hasil rapat pertama Ashilla dan para menteri-menterinya itu. Dan baru dua keputusan hasil dari rapat tersebut yang diketahui oleh rakyatnya. Tapi ada juga yang rakyat tidak mengetahuinya hasil rapat tersebut yang memutuskan bahwa Ashilla mengurung Menteri Keuangan di Istananya, jika rakyat tahu mereka pasti akan menjadi semakin ramai.
Hingga hari ketiga keberadaan Riko di Istana, tidak ada seorang pun yang tahu. Keluarga Riko
sendiripun tidak tahu apa-apa.
Untuk menenangkan keluarganya, Ashilla mengirim Kiki untuk ke rumah Riko. Melalui Kiki, Ashilla mengatakan saat ini Kiki sedang diperlukan di Istana dan untuk beberapa waktu ia tidak dapat menghubungi keluarganya.
Keluarga Riko mempercayainya.Dan tidak ambil pusing walau
sudah lama tidak ada kabar dari
Riko. Semuanya percaya bahwa Ratu mereka, Ashilla sedang
membutuhkan bantuan Riko
untuk menghitung kas negara.
Tidak ada seorang pun yang berada diluar Istana yang tahu bahwa Ashilla menghitung sendiri uang yang dimiliki oleh Vandella. Untuk melakukan pekerjaan itu, Ashilla meminta seluruh penghuni Istana menuliskan macam-macam pajak yang
dibebankan ayahnya berikut
jumlahnya.
Untuk menghilangkan kecurigaan
rakyat akibat hilangnya Riko,
Ashilla memerintahkan Lintar,
wakil Menteri Keuangan untuk
menggantikan tugas-tugas Riko. Dan kepadanya Ashilla tidak menjelaskan apa-apa tentang
keberadaan Riko di Azzereath. Ia hanya meminta Lintar untuk
melakukan pekerjaan yang sama
seperti menteri-menteri lainnya.
Begitu sibuknya Ashilla sehingga ia
sering melalaikan keadaan dirinya sendiri. Tidak ada lagi waktu istirahat untuknya.
Langkah besar yang diambil oleh Ashilla diawal pemerintahannya
ini sangat mengguncang warga Vandella. Mulai dari Perenolde hingga ke daerah perbatasan. Mereka yang dulu tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan Rajanya menjadi terbangkitkan untuk mengikuti perkembangan suasana ibukota.
Guncangan ini sampai pula di
tempat Cakka dan menjadi berita yang paling menghebohkan.
***
Suatu pagi yang cerah terdengar
suara kuda mendekat ke tempat Cakka yang disertai teriakan,“Pangeran!! Pangeran!!”
“Ada apa, Ozy?” tanya Cakka pada pengendara kuda setelah ia berhenti didepannya. “Apa kau sudah mengetahui bagaimana keadaannya?”
“Gawat, Pangeran!! Ini benar-benar gawat.” kata Ozy dengan nafas yang masih ngos-ngosan
Cakka segera menarik Ozy kedalam kamarnya.
Alvin yang mendengar pembicaraan singkat itu langsung mengikuti Cakka dari belakang.
Cakka langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu berkata, “Ceritakan apa yang kau dapatkan disana?”
“Gadis itu, Pangeran!!” Ozy berkata antara takjub dan takut,
“Gadis itu…”
“Cepat katakan, kenapa dengan dia??” Cakka sudah tidak sabar lagi.
“Ia adalah Ratu Vandella.” seru Ozy.
Baik Cakka maupun Alvin terhenyak kaget mendengarnya. Mereka menatap Ozy dengan pandangan tak percaya.
“Apa kau yakin?” tanya Cakka hati-hati.
"Sangat yakin Pangeran, karena ia adalah Yang Mulia Ratu Kerajaan Vandella, Pangeran!!” Ozy meyakinkan, “Hamba sendiri yang mendengar ia berkata seperti itu di Gedung Parlemen.”
Pada akhirnya Ozy segera menceritakan apa yang terjadi selama ia berada di Perenolde. Ia menceritakan bagaimana ia menyamar menjadi wartawan demi mendapatkan informasi untuk disampaikan ke Cakka.
“Saat itu saya berpikir Anda pasti
senang kalau saya memberi kan Anda informasi tentang apa yang dilakukan Raja Sion di Gedung Parlemen setelah sekian lama menghilang. Saya tidak menduga akan bertemu Shilla disana. Mulanya saya tidak percaya ia adalah Shilla tapi setelah saya mengamatinya ia benar sangat mirip dengan Shilla. Akhirnya saya bertanya padanya siapa dia sebenarnya. Dan dengan tegas ia menjawab, ‘ Saya adalah Ashilla, Ratu dari Kerajaan Vandella’. ”
tutur Ozy pada Cakka.
“Kurang ajar!!” geram Cakka. “Setan cilik itu ternyata telah menipuku.”
“Ashilla…” gumam Alvin pelan, “Aku merasa pernah mendengar nama itu.”
“Ia adalah putri Raja Sion yang
dibawa pergi oleh Ratu Zahra bertahun-tahun lalu.” Ozy
menjelaskan.
“Benar!!” seru Alvin. “Aku baru ingat, dulu Ratu Zahra membawa pergi putrinya yang baru lahir dan
membuat rakyat Vandella gempar kecuali Raja Sion sendiri. Rupanya ia telah mencari putrinya sebelum ia mati dan berjaga-jaga agar tidak terjadi perebutan tahta. Cukup beralasan mengapa ia tidak pernah mengumumkan Febby sebagai pewaris tahtanya.”
“Saya rasa tidak. Menurut isu yang
beredar di Perenolde, hingga Raja
Sion meninggal pun ia tidak pernah memerintahkan untuk melakukan pencarian terhadap putrinya. Para menterilah yang mencari mereka sendiri.” jawab Ozy membenarkan.
“Menteri yang setia.” ejek Cakka.
“Aku heran mengapa mereka baru
mengumumkan hal ini setelah
sepuluh bulan serigala itu mati.”
“Karena mereka mengalami kesulitan dalam menemukan
tempat tinggal Ratu, Pangeran.
Ratu menghilang tanpa jejak.” timpal Ozy.
“Benar-benar budak yang setia.”
ejek Cakka. “Aku heran mengapa
mereka mau menahan berita
kematian serigala itu sampai sang
Putri kembali?”
“Saya tidak tahu tentang itu,
Pangeran.” jawab Ozy sambil menggelengkan kepala.
“Kejadian itu terjadi enam belas
tahun yang lalu, berarti…” Tiba-
tiba Alvin berseru takjub. “Gadis itu masih sangat muda!”
“Setan cilik itu masih anak-anak.”
Cakka membetulkan.
“Aku tidak percaya, sekarang kita
mempunyai Ratu semuda itu.” kata Alvin tak percaya.
“Ratu muda yang bodoh. Apa yang
bisa dilakukan oleh anak-anak
sepertinya?” ucap Cakka sarkatis.
“Banyak, Pangeran.” jawab Ozy.“Ketika saya hendak kembali ke
sini, terdengar kabar bahwa Ratu
memanggil semua menteri-menterinya. Saya pikir Anda akan tertarik untuk mengetahui apa rencana Ratu. Karena itu saya menunda kepulangan saya.”
“Ratu memanggil semua
menterinya untuk memerintahkan
mereka membongkar semua
peraturan lama. Ratu ingin membuat peraturan baru. Ratu
juga menyebarkan pengumuman
panggilan terhadap semua ahli
keuangan Vandella. Ratu meminta
mereka datang ke Azzereath karena ia akan memilih ahli keuangan terbaik.” lanjut Ozy.
“Gebrakan yang mengejutkan.” ejek Cakka.
“Benar, Pangeran” sahut Ozy. “Ratu membuat seluruh Perenolde
gempar. Koran-koranpun menjadi lebih berani untuk mengupasnya.
Lihatlah ini.”
Cakka membaca kalimat yang
ditunjuk oleh Ozy dan berkomentar. “Berani juga mereka meragukan kemampuan keturunan serigala itu.”
“Itu belum apa-apa dibandingkan
dengan koran-koran ini, Pangeran.
Saya dengar Ratu memberi.dukungan pada tiap agensi koran untuk terus berkembang.” ucap Ozy memberitahu.
“Rencana licik apalagi yang dibuatnya? Dia memang licik. Harus aku akui dia cukup cerdik dalam mendapatkan simpati rakyat.” kata Cakka sinis.
“Beristirahatlah dulu, Ozy. Lalu
kembalilah ke Perenolde dan terus kabari aku apa yang terjadi disana. Jangan katakan hal ini pada yang lain. Aku tak ingin mereka khawatir jika Ratu sial itu akan menyerbu kita sewaktu-waktu." ucap Cakka lagi.
“Saya kira dalam waktu dekat ini, hal itu tidak akan terjadi, Pangeran. Saat ini Ratu sedang sibuk dengan kas negara. Bahkan, ia meminta Riko untuk tinggal didalam Istana.” ucap Ozy lagi seakan tidak perduli dengan perintah Cakka yang memintanya untuk istarahat dan untuk tidak banyak bicara lagi.
“Aku tetap ingin kau tutup mulut, Ozy!!” kata Cakka tegas.
“Baik, Pangeran.” jawab Ozy mengerti.
“Beristirahatlah lalu segera kembali ke Perenolde.” perintah Cakka pada Ozy.
Kemudian Ozy segera meninggalkan kamar Cakka.
“Biacaramu terlalu sinis, Cakka.
Kenapa kau sangat mencurigai dia?
Belum tentu ia selicik dugaanmu.
Mungkin saja setelah melihat apa
yang terjadi di sini, ia ingin
memperbaiki pemerintahan
ayahnya.” seru Alvin tiba-tiba setelah kepergian Ozy dari kamar Cakka.
“Aku percaya pada diriku sendiri.
Aku tidak mungkin salah.” Ucap Cakka murka. “Dia pasti menyesal bila bertemu denganku. Dan aku akan membuatnya menyesal telah
menipuku dan rakyatku. Aku ingin
sekali membunuhnya.”
“Dia tidak sepenuhnya membohongi kita. Setidaknya ia masih memberikan nama aslinya.” bela Alvin.
Cakka tidak tertarik untuk mendengarkan pembelaan yang di ucapaka oleh Alvin, tapi Alvin tetap melanjutkannya. “Dia menyuruh kita untuk memanggilnya dengan panggilan
Shilla. Panggilan itu dari namanya Ashilla. Nama yang sangat menyenangkan untuk didengar
seperti mengandung sinar bintang
yang cerah.”
“Berhentilah untuk menyebut-nyebutnya namanya. Aku muak mendengarnya!” ucap Cakka tajam.
“Kau boleh marah, Cakka. Tapi
kau tidak bisa membohongiku.” lanjut Alvin.
“Cukup!!” bentak Cakka.
Alvin hanya mengangkat bahunya.
Ia tahu Cakka benar- benar sangat murka saat ini. Ia juga tahu takkan ada yang berani mengusiknya dalam hari-hari belakangan ini termasuk Pricilla.
Sejak Shilla kembali bersama para
pasukan itu, Cakka merasa sangat cemas. Ia bahkan mengirim pasukannya untuk mengintai pasukan kerajaan dan mencari kesempatan untuk menculik Shilla kembali.
Setelah tidak berhasil merebut Shilla, Cakka mengirim Ozy untuk mencari tahu keberadaan Shilla.
Orang yang paling bergembira dengan hilangnya Shilla adalah Pricilla. Wanita itu seperti mendapatkan kembali kesempatan untuk berdua dengan Cakka.
Pricilla semakin berani mendekati Cakka. Bahkan, ia meminta Cakka untuk mengajaknya tidur dikamarnya seperti yang ia lakukan pada Shilla. Tentu saja Cakka dengan dingin menolaknya.
Suasana di Vandella tengah berubah. Demikian pula dengan suasana hati Cakka. Tapi, tidak untuk suasana rakyat Lasdorf.
Meskipun mereka membaca koran
yang menyerukan perubahan yang
dilakukan Ashilla, mereka tidak
akan tahu bahwa Ashilla adalah gadis yang sama dengan Shilla.
Rakyat kecil ini baru akan gempar bila tahu gadis yang dulu mereka puja adalah Ratu Vandella.
Tujuh ratus mil dari tempat itu
Ashilla tetap dengan meneruskan kesibukannya. Siang malam ia
terus terlihat di Ruang Kerjanya
dengan tumpukan kertas yang
tinggi.
Terlalu banyak yang harus dilakukannya sehingga ia sering
melupakan waktu. Setiap kali hari mulai menjadi gelap, Ashilla selalu berkata, “Waktuku cepat berlalu.”
Waktu yang terus berganti dengan
cepat, mendorong Ashilla untuk
bekerja lebih cepat lagi. Lebih
banyak yang diselesaikan Ashilla,
semakin puas hatinya.
Kesibukan yang ada di Azzereath tidak hanya terjadi pada Ashilla saja. Seluruh pelayan Istana juga ikut disibukkan oleh kedatangan para ahli keuangan yang datang memenuhi panggilan Ashilla.
Orang yang pertama kali terkejut
dengan banyaknya ahli keuangan
yang datang adalah Kiki. Saat ia
mencatat nama ke lima puluh, ia
segera menemui Ashilla.
“Luar biasa, Yang Mulia” serunya tak percaya, “Lihatlah ini. Ini nama ke lima puluh yang saya catat.”
Ashilla tertawa geli. “Berilah dia
hadiah, Kiki, sebagai penghargaan
menjadi orang ke lima puluh.”
“Anda seperti akan mengadakan
perlombaan, Yang Mulia." ucap Kiki seraya tersenyum.
“Kaulah yang membuatnya seperti itu, Kiki.” Ashilla tersenyum geli. “Aku berjanji minggu depan kau akan lebih terkejut.”
“Anda benar, Yang Mulia, mereka jumlahnya masih banyak.”
“Aku sudah mengatakannya
padamu, bukan” Ashilla mengingatkan dengan lembut, “Lebih baik sekarang kau kembali kebawah. Aku yakin sudah banyak yang menanti kau memasukkan
nama mereka dalam daftar peserta lombamu.”
Melihat wajah Kiki yang seperti
anak kecil yang sedang marah, tak buatnya Ashilla tertawa geli.“Pergilah menemui para peserta lombamu sebelum mereka membatalkan niatnya untuk mengikuti lombamu itu.”
Kiki tersenyum seraya membungkuk hormat. Ia masih tersenyum ketika kembali ke Hall.
Ashilla tersenyum melihat
kepergian Kiki lalu kembali menekuni pekerjaannya yang tertunda. Membaca laporan telah ia selesaikan berhari-hari lalu. Sekarang yang menjadi pekerjaannya adalah menyusun hal-hal yang harus segera dilakukannya setelah membaca laporan kedua puluh menterinya serta membuat keputusan-keputusan baru.
Segala ide-ide bagus yang terlintas dalam pikirannya segera ia tulis dan dipisahkan-pisahkannya. Sangat banyak ide-ide yang terlintas dalam pikiran Ashilla sehingga ia bingung mana yang harus dilakukannya lebih dulu.
Di tengah-tengah kesibukannya,
Ashilla masih menyempatkan diri
untuk menyelesaikan masalah
Riko dan menerima menteri-
menterinya yang datang untuk
menanyakan sarannya.
Sejak mengurung Riko disalah
satu kamar di Istana, Ashilla tidak pernah bertemu dengannya lagi. Namun, dari prajurit yang menjaga
kamar tempat Riko berada, ia mengetahui bahwa Riko sangat gelisah menanti hasil pemeriksaan
dari Ashilla terhadap dirinya.
Ketika dihari terakhir yang ditentukannya tiba, Ashilla segera
memanggil Gabriel ke Istana. Dari
hasil pendataan yang dilakukan oleh Kiki, Ashilla mengetahui jumlah orang yang datang.
***
Pagi harinya setelah makan pagi,
Ashilla meminta Kiki untuk menyuruh pelayannya menyiapkan kertas dan pena di Ruang Rapat.
Pelayan-pelayan Istana segera
melaksanakan perintah dari Ashilla
itu. Mereka tidak mau kalah dengan Ashilla yang juga sibuk
menyiapkan segala-galanya untuk
pertemuannya yang pertama
dengan semua ahli keuangan
Vandella itu.
Kesibukan di dalam Istana yang
terjadi sejak pagi itu membuat
para tamu Ashilla tahu bahwa pemilihan telah tiba. Mereka pun
sibuk untuk mempersiapkan dirinya masing-masing.
Menjelang siang hari, para pelayan telah menyiapkan segalanya seperti perintah Ashilla.
Kiki memanggil seluruh tamu Istana itu menuju ke Ruang Rapat tempat Ashilla dan Gabriel telah menantinya.
Sambil menunggu mereka semua
berkumpul, Ashilla sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang disana. Ketika semuanya telah berkumpul, Ashilla tetap berbincang-bincang.
Gabriel juga menyibukkan diri
dengan bercakap-cakap bersama
mereka. Sebelumnya ia sudah diberitahu oleh Ashilla untuk membiarkan mereka menunggu.
“Aku ingin tahu sampai dimana
batas kesabaran mereka.” kata
Ashilla sebelum seorang pun memasuki Ruang Rapat.
Setelah hampir setengah jam
menanti, orang-orang itu mulai
gelisah. Mereka mulai mengkhawatirkan rencana Ratu
mereka.
“Di mana Yang Mulia Ratu, Gabriel? Sejak tadi kami menanti disini, tapi Yang Mulia Ratu belum hadir juga.” tanya seseorang.
“Beliau sudah ada disini sebelum
kalian datang.” Gabriel berkata
sambil melihat seorang gadis muda yang tengah berbicara dengan seorang pria tua.
“Dia!?” Mereka terkejut ketika
melihat Ashilla.
Setelah menyadari kekagetannya, kemudian mereka bersama-sama mulai mendekati Ashilla dan berlutut seraya berkata. “Maafkan kami, Yang Mulia Ratu. Kami tidak
menyapa Anda sebagaimana
mestinya.”
Dalam waktu singkat semua yang
hadir ikut berlutut dan memohon
maaf.
Ashilla tersenyum ramah dan
berkata. “Berdirilah kalian semua.
Masih banyak yang harus dilakukan
daripada mempermasalahkan
sopan santun.”
“Terimakasih Yang Mulia Ratu." kata mereka serempak. Dan Dengan hampir bersamaan mereka berdiri.
“Dari kalian yang ada disini, aku
ingin memilih beberapa orang yang benar-benar ahli dalam hal
pembukuan uang.” ucap Ashilla
menegaskan. “Sebagai pemilihan
pertama, aku akan memberi
pertanyaan yang mudah. Jawabannya tidak perlu dikatakan, tetapi tulis dikertas dan yang berikan oleh Gabriel nanti. Apa kalian mengerti?”
“Kami mengerti, Yang Mulia.” seru mereka kompak.
“Baik. Pertanyaannya adalah bila kalian mempunyai uang lebih banyak dari impian kalian, apa yang akan kalian lakukan dengan uang itu? Kutunggu jawabannya dalam lima menit dimulai dari sekarang.” kata Ashilla pada para peserta.
Kemudian Ashilla berbalik menuju kursi tingginya yang ada diujung meja rapat dan melihat
orang-orang yang mulai menulis
jawaban mereka.
Tak lama kemudian, Gabriel menyerahkan tumpukan kertas
jawaban itu pada Ashilla.
“Terima kasih, Gabriel.” ucap Ashilla tersenyum manis.
Ashilla mulai melihat lembar jawaban dari mereka. Gadis itu hanya melihat sebentar lalu menyingkirkannya. Ia mengambil lembar yang berikutnya dan segera menyingkirkannya juga.
Gabriel tidak terkejut maupun
heran dengan kerja Ashilla yang sangat cepat. Gadis itu memang tangkas. Jika Raja lain membutuhkan waktu sepuluh tahun dalam melakukan perubahan tetapi bagivAshilla hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.
Dalam waktu singkat saja dihadapan Ashilla sudah ada dua tumpuk kertas. Ashilla mendesah
panjang ketika menyerahkan
setumpuk kepada Gabriel.
“Mereka tidak berhasil.”
Ashilla kecewa melihat tumpukan
kertas itu.
Gabriel melihat jawaban itu lalu
dengan heran ia menatap Ashilla.
“Aku membutuhkan orang yang
selalu tanggap dengan perubahan
bukan yang mengikuti masa lalu.”
Ashilla menjelaskan. “Sungguh sangat disayangkan, beberapa dari mereka masih mengira aku sama dengan ayahku. Bukannya sudah banyak koran yang menuliskan keinginanku, tetapi mereka maaih saja tidak tahu. Aku sengaja tidak mengatakannya pada mereka
untuk melihat siapa yang selalu
mengikuti perubahan jaman.” lanjut Ashilla sambil menghela napas panjang.
Gabriel mengerti akan keinginan
Ashilla.
Tumpukan kertas yang diberikan
Ashilla itu pada intinya hanya mengatakan. “Aku akan memberikan uangku pada Raja
agar ia senang.” Atau “Aku akan
menggunakannya untuk
memperbaiki kehidupan rakyat.”
Akhirnya Gabriel mengumumkan hasil pemilihan pertama.
Setelah semua yang gagal keluar dari Ruangan tersebut, Ashilla berdiri dengan tumpukan kertas baru.
“Pertanyaan yang kedua adalah
kalian harus menyelesaikan
hitungan ini.” Ashilla berkata dengan tegas.
Gabriel mengambil kertas yang diberikan oleh Ashilla dan mulai membagikannya.
Selagi Gabriel membagikan soal
kedua, Ashilla berkata, “Silahkan
menggunakan meja rapat untuk mengerjakan soal itu. Aku hanya memberi waktu lima belas
menit untuk hitungan mudah itu. Dan jika sudah selesai, kumpulkan pada Deva.”
Gabriel mendekati Ashilla. “Soal
telah saya bagikan, Yang Mulia.”
“Sekarang ikutlah denganku, Gabriel. Masih banyak yang harus kita selesaikan.”
Ashilla menuju meja yang baru
dipindahkan ke sudut ruangan itu
pagi tadi. Di meja itu tampak
setumpuk kertas berisi hitungan-hitungan.
Kemudian Gabriel duduk didepan Ashilla.
“Periksalah ini. Apa benar ini semua pajak yang ditarik oleh ayahku selama ini?” tanya Ashilla.
Selagi Gabriel memeriksa, Ashilla
mengawasi orang-orang yang sibuk
menghitung itu.
Gabriel mengangkat kepala dari
kertas itu.
“Selain pajak tanah, pajak
pendapatan, apa ayahku juga menarik pajak hasil panen, pajak
barang, pajak rumah, pajak ternak,
pajak kendaraan, dan semua
macam pajak yang ada di situ?” tanya Ashilla kembali.
“Benar, Yang Mulia Ratu.” jawab Gabriel.
Beberapa orang telah selesai mengerjakannya dan memberikan hasil perhitungan mereka pada Kepala Keamanan Istana yang mengawasi mereka.
“Bolehkan saya mengajukan
pertanyaan, Yang Mulia?” tanya Gabriel tiba-tiba.
“Silahkan...”
“Mengapa Anda membuat soal
yang berbeda-beda?” tanya Gabriel menyeruakan keheranannya pada gadis itu.
“Aku ingin tahu kemampuan mereka yang sebenarnya. Aku
membutuhkan orang yang dapat
bekerja cepat dan teliti.” jawab Ashilla tegas.
“Waktu telah habis!!” Deva
mengumumkan. “Anda semua dipersilakan untuk beristirahat di kamar Anda masing-masing.”
Semuanya langsung berdiri. Beberapa dari mereka ada yang mengeluh panjang. Dan ada yang tersenyum senang. Ada juga yang berbisik-bisik. Seketika suasana yang awalnya sepi, kini menjadi sangat riuh.
“Seperti anak-anak sekolah yang
sedang ujian.” gumam Gabriel seraya terkekeh pelan.
“Aku memang sengaja membuatnya seperti itu.” sahut Ashilla dengan senyum
manisnya.
Tiba-tiba Deva mendekat. “Semua jawaban telah saya kumpulkan, Yang Mulia.”
“Terima kasih, Deva. Maukah kau membawakannya ke Ruang Kerjaku?” balas Ashilla.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.” jawab Deva menyanggupi.
“Mari kita berangkat, Gabriel." Ashilla bangkit dan mengambil tumpukan tugasnya lalu membawanya pergi.
“Ijinkan saya membantu Anda,Yang Mulia.” Gabriel mengulurkan
tangannya.
“Terima kasih, Gabriel.” Ashilla
menyerahkan bawaannya.
Ashilla meninggalkan Ruang Rapat dengan dikawal oleh Gabriel dan Deva.
Penjaga pintu pun membukakan pintu untuk mereka bertiga.
Setelah samapai di Ruang Kerja Ashilla, Deva dan Gabriel segera meletakkan kertas-kertas itu diatas meja.
“Sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu, Deva, tapi aku ingin meja kecil di Ruang Rapat tadi dikembalikan ke tempat asalnya.” perintah Ashilla pada Deva.
“Keinginan Anda adalah tugas bagi
saya, Yang Mulia.” Deva membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan itu.
“Menteri Luar Negeri datang untuk
menghadap Anda, Yang Mulia.” Tiba-tiba penjaga berseru memberitahukan ada kunjungan bagi Ashilla.
“Suruh dia masuk.” jawab Ashilla lantang.
“Hamba datang memenuhi
panggilan Anda, Yang Mulia.” Ray
membungkuk hormat.
“Kau datang tepat waktu, Ray. Kemarilah dan bantu kami untuk
memeriksa jawaban-jawaban ini.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Ray lalu duduk disamping Gabriel.
Ashilla menyerahkan kepada mereka masing-masing selembar
kertas. “Ini adalah jawaban untuk semua soal ini. Perhatikan baik-
baik soalnya. Ada lima belas jenis
soal yang ada disini.”
“Kami akan berhati-hati, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.
Lalu ketiganya segera tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing. Diantara mereka bertiga, Ashilla lah yang paling cepat menyelesaikan tugasnya. Gadis itu yang membuat semua soal ini dan tentunya gadis itu pula yang membuat jawabannya. Ia masih ingat dengan semua jawaban-jawabannya yang semuanya berisi dengan angka-angka yang berderet-deret itu.
Selama hari-hari terakhir ini Ashilla terbiasa bekerja dengan cepat. Tak heran jika ia sangat tangkas dalam segala hal namun penuh perhitungan.
Dari 8.454 orang yang telah mengikuti, hanya 157 orang yang lolos dalam pemilihan pertama. Dan dari pemilihan kedua, yang lolos hanya 36 orang saja.
Ashilla memandang kertas yang
berisi jawaban yang benar itu.
“Biarkan mereka menantinya.” kata Ashilla. “Besok baru kita
umumkan siapa saja yang lolos. Sampai saat itu tiba, jangan mengatakan hasilnya pada siapa pun.”
“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.” jawab mereka berdua.
“Mendekatlah!” kata Ashilla pada Gabriel dan Ray.
Gabriel dan Ray berdiri disamping Ashilla.
“Ini adalah hasil perhitungan
kasarku.” Ashilla memberikan
selembar kertas pada mereka. “Aku ingin kalian memberitahu ku mana yang salah dan mana yang terlewat.”
“Ini, Yang Mulia” Gabriel menunjuk
sederet angka-angka itu. “Jumlah yang ditarik lebih besar dari ini.”
Ashilla menghitung kembali hasil
perhitungannya. Baik Gabriel
maupun Ray tidak henti-hentinya memberikan bantuan pada gadis itu. Tiap ada yang salah, mereka tak ragu untuk memberitahu. Mereka juga tidak segan memuji pekerjaan Ashilla.
Ashilla juga dengan senang hati
menerima pendapat dari kedua
menterinya itu.
“Sudah saatnya beristirahat, Yang Mulia Ratu!”
Ashilla terkejut mendengar pelayan tuanya yang setia itu masuk dan membawa nampan penuh yang berisi dengan berbagai macan makanan.
“Apa yang kaulakukan disini, Sivia?” ucap Ashilla pada Sivia lalu pandangannya beralih pada pelayan wanitanya, “Irva, bukankah
aku memberimu tugas untuk
mencegahnya bekerja?”
“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu, tapi saya pikir Sivia benar. Seharian ini Anda telah bekerja sangat keras bahkan Anda sampai melewatkan waktu makan siang Anda. Sekarang memang sudah terlambat untuk makan siang, tetapi tidak untuk waktu minum teh.” ucap Irva sependapat dengan Sivia.
Ashilla hanya bisa menghela nafas.
“Letakkan saja di meja lalu antar
Sivia kembali ke kamarnya.”
“Anda harus beristirahat, Yang Mulia.” Sivia mulai menasehati, “Sepanjang minggu ini saya melihat Anda bekerja terlalu keras. Kalau Anda jatuh sakit, siapa yang akan melakukan perbaikan hidup rakyat.” Sivia berhenti sejenak untuk menghela napas dan melanjutkan lagi perkataannya. “Selain itu, saya juga tidak suka berdiam diri didalam kamar tidak melakukan pekerjaan apa-apa.”
Ashilla diam mendengarkan nasihat dari pelayan setianya itu sambil memandangi wajah keriput pelayan tua itu. Dalam
benak gadis itu telah muncul gagasan baru.
Rakyat sangat membutuhkan bantuannya saat ini juga. Bukan nanti bukan juga esok, tapi sekarang. Segala perubahan yang dilakukannya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar berjalan. Saat ini, detik ini pula rakyat mengharapkan batuannya.
“Irva..” kata Ashilla tegas. “Panggil Deva, Kiki juga Bagas saat ini juga.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.” Irva beranjak pergi setelah memberi hormat.
“Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?” tanya Sivia keheranan.
“Memberimu pekerjaan.” jawab
Ashilla tenang. “Sekarang kau
duduk saja dan menanti mereka.”
Ashilla berpaling pada kedua
menterinya yang ada dikanan-kirinya itu. “Mari kita lanjutkan,” katanya.
Tak lama kemudian Irva datang
dengan ketiga pria itu.
“Kami datang untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu.” mereka melapor.
“Bagas, Kiki dan Deva aku punya tugas untuk kalian bertiga.” Ashilla memulai. “Bagas, ajak pelayan-pelayan di Istana ini untuk membantu Sivia membongkar semua gaun-gaunku juga gaun ibuku. Pilihlah yang masih baik untuk diberikan pada rakyat.”
Sivia sangat terkejut mendengarnya tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk membantah.
“Sivia, pimpin pelayan-pelayan di
Istana itu untuk memilih gaun-gaunku itu lalu bawa ke Hall lantai pertama. Kiki, siapkan beberapa kereta kuda untuk membawa gaun-gaun itu. Dan kau Deva, bawa
prajuritmu untuk membagikan
gaun-gaun itu pada rakyat. Ajak
juga para pelayan jika kau masih
kekurangan orang. Untukmu Irva, bantu Sivia dan cegah dia bila dia ikut mengangkat kopor-kopor
itu.” lanjut Ashilla memberikan perintah pada masing-masing orang tersebut.
“Yang Mulia Ratu!” Sivia menyahut, “Saya tidak setuju! Gaun-gaun itu
menyimpan banyak kenangan. Kalau semuanya disumbangkan, terus apa yang tersisa?”
“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
Ashilla berkata lembut. “Mama
pasti mengerti akan keinginanku ini. Mama pastinya juga senang apabila gaun-gaunnya berguna untuk rakyatnya. Aku juga akan ikut senang sekali kalau milikku
dapat membantu rakyat yang
menderita. Ini adalah langkah kecil
yang dapat aku lakukan saat ini
selagi yang besar masih direncanakan.”
“Aku ingin bangsawan-bangsawan
lain dan mereka yang kaya dapat
membantu rakyat yang miskin. Tapi yang lebih dulu akan melakukannya aku, bukan? Mereka pastinya akan mengikutiku. Aku takkan melarang bila kalian ingin ikut membantu. Bantuan yang sangat
kecil tetapi penuh keikhlasan akan
sangat berarti daripada bantuan
besar yang hampa.” lanjut Ashilla.menjelaskan rencananya.
“Deva bila kau sudah sampai di
kota, umumkan pada rakyat yang
mampu untuk ikut menyumbang
dan untuk rakyat yang tidak mampu agar mau datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Dan untukmu Kiki, kalau kau sudah selesai menyiapkan kereta, aturlah Hall menjadi dua bagian. Satu bagian untuk penerimaan bantuan dan satunya lagi untuk pemberian bantuan. Mulai besok Hall dibuka untuk umum dan kalian tetap berkeliling menyalurkan bantuan, tetapi tidak disini melainkan di kota-kota lain. Mungkin di kota-kota lain juga perlu pengumuman, aku akan membuatnya.”
Ashilla mengambil secartik kertas
dan mulai menulis.
“Deva..” panggil Ashilla seusai
menandatangani pengumumannya itu. “Ini untuk dibacakan di ibukota dan ini di kota-kota lain. Ingat, aku hanya membuat dua. Bila ada pengumuman yang lain yang sam, cari dan periksa. Aku tidak mau hal ini digunakan oleh orang-orang tamak untuk mengumpulkan harta.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.
Melihat kelima orang itu masih
tidak bergerak, Ashilla kembali berkata. “Apa yang kalian tunggu?”
“Kami akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia Ratu.” kata mereka serempak sambil membungkuk memberi hormat.
Ashilla menghela napas dan tatapannya beralih untul melihat kedua menterinya dengan bergantian. “Sivia benar, kita
butuh istirahat.” Ashilla berdiri
dan menuju sofa di depan meja
kerjanya itu. Ashilla menuang
teh dan memberikannya pada
Gabriel dan Ray.
“Terimakasih, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.
Ashilla tersenyum, “Katakanlah
padaku bagaimana kehidupan
rakyat selama ini sejauh yang
kalian ketahui.”
“Rakyat hidup dengan sangat menderita, Yang Mulia. Raja menarik pajak terlalu banyak
dan terlalu besar untuk mereka. Sulit bagi rakyat yang miskin untuk bertahan hidup, banyak orang yang kelaparan di desa-desa. Dan di kota, hanya mereka yang kaya yang mampu bertahan hidup. Bangsawan tidak lagi mengalami masa kejayaan. Pajak yang ditentukan terlalu tinggi.” ucap Gabriel seraya menerawang membayangkan kehidupan rakyat Vandella yang sangat menderita.
“Sulit untuk menjadi kaya.” Ray
menambahkan. “Lebih mudah untuk jatuh miskin ketimbang menjadi kaya. Pajak perdagangan pun sangat tinggi.”
“Tak ada yang berani menentang keputusan Raja. Siapa yang tidak mau membayar pajak akan dipenjara. Raja juga tidak segan-segan akan membunuh orang yang tidak disukainya. Penjara dipenuhi orang-orang yang menangis menderita. Janda-janda meratapi anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami kelaparan.”
“Tapi kini semua itu sudah berakhir.” kata Ray bersemangat, “Anda hadir disini sebagai bidadari kami. Anda memberikan banyak kebahagiaan. Anda sudah menghidupkan kembali cahaya dari suasana yang suram dan kerajaan yang sangat menderita ini. Banyak anugerah yang Anda berikan tapi Anda.sendiri lah anugerah terbesar bagi kami semua.” lanjut Ray seraya tersenyum.
“Terimakasih, Ray. Aku senang
mendengarnya. Aku berharap
semua orang juga berpikiran
seperti itu. Tapi sayangnya, masih banyak yang takut dan membenciku.” ucap Ashilla pelan.
“Kami tidak membenci Anda, Yang Mulia.” hibur Gabriel. “Suatu saat nanti rakyat pasti akan mengetahui
ketulusan Anda dan mereka akan
mencintai Anda.”
Ashilla tersenyum lalu bangkit.
“Aku tidak bisa hanya duduk-duduk disini saja. Aku ingin membantu mereka. Kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat. Aku tidak mengharapkan kalian untuk ikut denganku.”
Gabriel dan Ray saling menatap.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Ray pada Gabriel.
“Bagaimana lagi, Ray? Yang Mulia adalah gadis yang tangkas. Ia bekerja tanpa henti tapi tak terlihat kelelahan. Apa kita harus kalah sama Yang Mulia Ratu.?” ucap Gabriel.
“Baiklah!! Kita akan ikut Yang Mulia Ratu Ashilla.” jawab Ray yang disertai anggukan dari Gabriel.
Mereka segera mengejar Ashilla
yang terlebih dulu telah berada di Hall dan bersiap-siap untuk naik wagon menuju ke kota.
*******************************
nahh itu chapter 8 nya hehe :-)
buat yang nunggu gimana reaksi Cakka? sudah terjawab bukan di chapter ini hihi hi ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar