assalamualaikum... maaf bangett yaa karena ke-ngaret-an saya.. saya juga ngga tahu kenapa akhir2 ini malesss bangett buat buka blog ini hehe :)
udah lah ngga usah lama2 mariiii :D
*********************************************************************************
Dua hari setelah pengumuman
titah dari Ashilla, Hall Istana mulai
ramai. Bangsawan-bangsawan
mulai berdatangan untuk menyerahkan bantuan mereka.
Orang-orang kaya pun tak mau
ketinggalan.
Ashilla menyadari ini semua
berkat pemberitaan yang ada dikoran yang dengan gencar
mengabarkan bahwa dirinya telah
menyamar menjadi gadis desa
hanya untuk memberi bantuan pada rakyat dengan tangannya sendiri. Tapi sangat disayangkan, menurut Ashilla, koran-koran itu terlalu berlebihan dalam memujinya. Karena dalam koran tesebut dikatakan bahwa ia mau melupakan kedudukannya demi menyuapkan nasi pada orang tua yang lumpuh.
Walaupun begitu, Ashilla tetap mengucapkan terima kasih pada mereka. Berkat mereka penyebaran berita kegiatan amalnya menjadi lebih cepat.
Bantuan sudah banyak yang
terkumpul di Hall Istana. Para prajurit Vandella terus mengantarkan bantuan ke kota-kota di seluruh pelosok Vandella. Bahkan, penduduk Perenolde pun turut membantu nengantarkan bantuan ke daerah-daerah di luar Perenolde.
“Ratu Ashilla telah Menggerakkan Mega Bantuan untuk Rakyat Vandella.” Demikian judul disalah satu koran.
Sekali lagi Ashilla berhasil membuat gempar rakyatnya. Tak seorang pun dari rakyat Vandella yang akan menduga bahwa Ratu mereka yang keturunan langsung dari Raja Sion yang terkenal dengan sifat kejamnya itu, ternyata mempunyai sifat yang baik. Ratu telah menunjukkan sikap ketulusannya dengan membuang harga dirinya sebagai Ratu Vandella saat dirinya mengunjungi pemukiman penduduk miskin pada hari
pertama Ia menyalurkan bantuan.
Rakyat juga mengetahui bahwa Ratu mereka telah mengeluarkan mereka yang tak bersalah dari balik jeruji besi. Banyak diantara mereka yang keheranan ketika dirinya dibebaskan. Ketika mereka bertanya pada prajurit kerajaan apa yang terjadi, dan prajurit kerajaan menjelaskan bahwa Ratu Ashilla memerintahkan untuk membebaskan mereka yang tidak bersalah. Mereka yang tahu bahwa ini adalah keputusan yang keluar dari Ratu Ashilla, mereka sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan Ratu sebaik Ashilla pada mereka.
Dalam waktu kurang dari dua
minggu dalam pemerintahannya, Ashilla telah membuat rakyat beranggapan bahwa dirinya sebagai anugerah yang luar biasa.
Ia yang semula ditakuti kini menjadi pujaan tiap orang. Rakyat memuja dan menyanjungnya.
Walaupun begitu Ashilla tidak begitu memikirkannya. Kini yang ada dibenak Ashilla adalah kenapa dirinya tidak melihat adanya rakyat yang datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Tempat penerimaan bantuan sangatlah ramai, berbeda dengan tempat pengambilan bantuan. Tempat itu sangat sepi, tidak ada satupun rakyat yang datang.
“Apa mereka tidak berani untuk masuk?” tanya Ashilla heran.
“Benar, Yang Mulia. Nampaknya mereka takut Anda mempunyai rencana tertentu dibalik kegiatan ini. Apa perlu kami membujuk mereka?” ucap seorang prajurit.
“Jangan, tidak perlu!” Ashilla cepat-cepat mencegah. “Aku khawatir mereka semakin curiga bila kalian melakukan itu.”
“Apa yang harus kami perbuat,Yang Mulia?”
Ashilla terus mengawasi kerumunan orang-orang yang ada didepan gerbang Istana. Mereka sejak tadi hanya menggerombol disana. Tidak maju dan juga tidak mundur. Padahal jumlah mereka terus bertambah dengan seiring.berjalannya, tapi tidak ada keberanian dari mereka.
“Baiklah.. ” kata Ashilla tiba-tiba.
“Aku yang akan menanganinya
sendiri, kalian tinggal tunggu disini saja.”
“Jangan, Yang Mulia. Biar kami saja yang melakukannya.” cegah Deva.
“Percayakan padaku, Deva. Sekarang perintahkan prajurit untuk membuka gerbang belakang. Aku akan tiba disana dalam waktu lima menit.”
-----0-----
“Kenapa kalian hanya berkumpul disini? Kenapa tidak masuk kedalam?” tanya Ashilla pada salah satu orang yang ada digerombolan tersebut.
“Sebenarnya kami ingin masuk kesana, tapi kami tidak berani.” jawabnya.
“Ya, aku mengerti perasaan kalian.
Aku pun demikian ketika pertama
kali diundang oleh Ratu. Tapi ternyata disana aku disambut dengan baik oleh para prajurit yang menjaganya.”
“Tapi Anda lebih kaya dari kami, Nona.” seseorang dari mereka menyelentuk. “Yang Mulia Raja sangat membenci pada kami orang miskin, karena kami tidak pernah mampu membayar pajak yang ditentukan oleh Raja sendiri. Apalagi kini ada Puterinya yang menggantikan beliau. Siapa tahu ia
mengundang kami semua untuk
dibunuh?”
Ashilla tidak menanggapi ucapan itu. Ia malah berjalan menuju ke tempat ia tadi menyembunyikan bola. Disana, ia pura-pura tersandung bola itu.
“Bola sialan!” umpat Ashilla dengan wajah pura-pura kesal. “Siapa yang meletakannya disini?”
Beberapa anak yang mendengar
umpatan itu mulai mendekati Ashilla. Dalam hati Ashilla tersenyum senang melihatnya tapi ia tidak menunjukannya, ia masih tetap dengan wajah menahan amarah. Lalu Ashilla mengambil bola itu dan melemparkannya sekuat tenaga kearah gerbang masuk Istana seraya berkata. “Pergi jauh dan jangan kembali lagi !!”
Dalam hati Ashilla tersenyum senang karena rencananya berhasil. Anak-anak itu berlari mengejar bola yang terus menggelinding ke gerbang masuk Istana. Ashilla pura-pura terkejut
melihatnya.
“Gawat!” seru Ashilla pura-pura khawatir padahal dalam hatinya ia bersorak gembira.
“Lihatlah! Ini semua karena kesalahanmu. Apa yang harus kita lakukan kalau mereka dibunuh?” Orang-orang itu mulai menyalahkan Ashilla.
“Tenang..” kata Ashilla berusaha menenangkan mereka. “Aku yang akan menolong mereka, jika mereka akan dibunuh. Para prajurit itu patuh padaku.”
Ashilla mulai berjalan ke gerbang masuk Istana. Sementara itu orang-orang dibelakangnya mulai mengikutinya walau dari jarak
yang cukup jauh.
Bola itu terus menggelinding hingga memasuki halaman Istana. Anak-anak kecil itu terus mengejar tapi tiba-tiba mereka dihadang oleh para penjaga pintu gerbang. Langsung saja Orangtua dari mereka berteriak panik dibelakang Ashilla.
“Biarkan saja mereka masuk!” seru
Ashilla langsung.
Penjaga pintu gerbang itu pun mengijinkan mereka untuk masuk.
“Kenapa kau membiarkan mereka masuk?” Orang-orang itu menuntut Ashilla.
“Jangan khawatir, aku yakin mereka akan baik-baik saja.”
“Kalau terjadi sesuatu pada
mereka, kau harus bertanggung
jawab!” tuntut salah satu orangtua.
“Tentu saja!” jawab Ashilla tenang.
Saat itu pula anak-anak tadi muncul kehadapan mereka. Mereka kelihatan tampak senang. Mulut mereka pun penuh dengan berbagai macam makanan. Teman-teman mereka yang melihat hal itu langsung mendekati. Mereka bercakap-cakap lalu bersama-sama masuk ke Istana.
Para orangtua yang melihat itu langsung panik dan segera berlari mencegah anak mereka hingga tanpa sadar mereka juga telah memasuki Istana.
Ashilla masuk dengan wajah tersenyum. “Anak-anak saja berani memasuki Istana, kenapa kita tidak?”
Orang-orang itu terkejut saat
menyadari mereka telah berada di
halaman Istana. Mereka hendak
keluar tapi saat itu pula muncul
pelayan-pelayan Istana dari segala
penjuru.
“Jangan takut..” kata Ashilla lembut, “Aku akan melindungi
kalian. Aku akan menjamin keselamatan kalian.”
Ashilla tetap tersenyum lembut
ketika melihat wajah ketakutan mereka. Ia terus berjalan memasuki Istana.
“Selamat datang..” sambut penjaga
pintu sambil membuka pintu
utama lebar-lebar.
Orang-orang itu terheran-heran
melihat di Hall telah disiapkan
berbagai macam makanan yang
lezat-lezat.
Anak-anak yang tidak punya
kekhawatiran apa-apa langsung saja melesat ke meja makan dan menyantap semua makanan yang ada.
Sekelompok orang mendekati anak-anak itu dan mencegah mereka untuk tidak makan lebih banyak lagi. “Jangan dimakan! Siapa tahu ini beracun!” kata mereka.
Ashilla berjalan mendekati sebuah meja yang tersedia makanan dan mengambil sepotong biskuit. Lalu ia memakannya seraya berkata, “Ini
enak sekali. Tidak mungkin ada
racunnya.”
Melihat itu, beberapa orang mulai terpengaruh akan tindakan Ashilla. Mereka mulai mengambil makanan walau dengan takut-takut. Melihat teman-teman mereka makan dengan lahap, yang
lain ikut menyusul. Orang-orang miskin yang selalu kelaparan itu
melupakan segalanya. Saat itu
yang penting bagi mereka adalah
mengisi perut mereka yang
berbunyi.
Makanan terus berpindah dengan
cepat, tapi yang ada dihadapan
mereka tidak kunjung habis.
Pelayan-pelayan Istana terus
membawakan makanan dan
sesekali berkata sopan. “Silahkan
dimakan.”
Ashilla senang melihat pemandangan yang ada di depannya. Akhirnya para fakir miskin itu dapat mengenyangkan perut mereka.
“Anda tidak makan, Nona?”
“Tidak, Tuan. Silahkan Anda
melanjutkan makannya, saya sudah kenyang. Ini semua disiapkan khusus untuk kalian.”
“Tidak apa-apa, Nona. Makanan ini
masih banyak. Ia terus mengalir
seperti sungai.” celetuk yang lain.
“Sungai yang nikmat dan
mengenyangkan.” timpal yang lain.
Ashilla tersenyum mendengar celetukan-celetukan itu.
“Yang Mulia!”
“Ada apa, Deva?”
“Para menteri sudah tiba, Yang Mulia.” ucap Deva.
“Baiklah, aku mengerti. Tolong
temani para tamu kita sementara
aku menemui mereka.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva.
“Maafkan saya, saudara-saudara.
Saya tidak bisa menemani kalian
lebih lama lagi. Ada yang harus
saya lakukan.” ucap Ashilla seraya tersenyum minta maaf.
Orang-orang itu menatap Ashilla
lekat-lekat.
Ashilla tersenyum dan sambil
mengangguk kecil, ia berlalu meninggalkan Hall.
“D… dia…”
“Gadis itu Ratu Ashilla.” ucap Deva enteng.
“Ap..apaa!! Aku tidak percaya!!”
“Ratu sendiri yang mengajak kita untuk masuk! Aku tidak percaya!”
“Aku merasa bersalah telah
mencurigainya.”
“Ia sama sekali tidak marah sudah
kita tuduh seperti itu. Itu artinya
ia benar-benar bermaksud baik.”
Seketika suasana Hall menjadi ramai dengan celotehan-celotehan mereka.
Deva tersenyum geli mendengar
apa yang dibicarakan mereka.
“Memang tak seorang pun yang
menduga bahwa ia adalah Ratu.”
gumamnya.
Bukan karena Ashilla yang tidak pantas untuk menjadi Ratu, orang-orang sukar mengenalinya sebagai Ratu. Ashilla mewarisi ketegasan dan wibawa ayahnya. Tetapi, ia juga mewarisi sifat lembut dari sang ibunya. Sifat lembut itu lebih nampak pada dirinya dan dengan raut wajahnya yang masih sangat muda, semua orang mengira ia adalah gadis cantik yang lembut seperti seorang bidadari.
Kedudukannya di Kerajaan Vandella ini sangat tinggi. Ia adalah
pemimpin dari kerajaan ini dan
demi dia, semua orang mau
melakukan apa saja. Kepadanya
semua nasib rakyat ini terletak.
Tetapi, tingkahnya tidak
menunjukkan kedudukannya. Ia
lebih banyak berkelakuan seperti
gadis pada seusianya yang selalu
gembira. Di balik itu semua, Ashilla menyimpan kekuatan
yang luar biasa.
Kekuatan menentukan yang baik
dan yang salah.
Kekuatan mengambil keputusan
yang tepat.
Kekuatan memberi perintah.
Kekuatan bertindak tegas.
Kekuatan yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang Ratu yang tegas dan penuh wibawa serta bijaksana.
Kekuatan itulah yang selalu dia
tampakkan saat memberi titah
pada orang lain.
Kekuatan itu pula yang membuat
semua orang mau memberi lebih
dari yang diminta gadis itu.
***
“Selamat pagi, Tuan-tuan.” kata
Ashilla sambil tersenyum ramah,
“Maaf saya membuat Anda semua menunggu.”
Menteri-menteri itu pun berdiri.
“Selamat pagi Yang Mulia Ratu Ashilla.” balas mereka.
Ashilla duduk di kursinya dan berkata,
“Aku senang kalian bisa menyelesaikan tugas yang
kuberikan dua minggu lebih cepat
dari waktu yang kuberikan. Hari ini
aku meminta kalian datang untuk
melaporkan hasil kerja kalian dan
untuk membicarakan beberapa
hal."
“Agar segalanya lebih cepat, aku
meminta kalian menyerahkan
laporan kalian padaku sekarang
juga. Tidak perlu berdiri, berikan
saja pada orang disamping kalian.”
Dalam waktu singkat berkas-berkas laporan itu berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga tiba di tangan Ashilla.
Ashilla menumpuk laporan- laporan yang masing-masing
tebalnya hampir tiga sentimeter
itu. Kemudian ia berkata,
“Aku akan mempelajari laporan-
laporan ini sebelum.membicarakannya dengan kalian.
Sekarang yang akan kita bicarakan
adalah keputusan-keputusan yang
telah aku buat tapi belum aku laksanakan. Aku ingin meminta
pendapat kalian tentang hal ini.”
Ashilla mengambil lembar teratas dari kertas-kertas yang dibawanya ketika memasuki Ruang Rapat tadi.
“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Yang
pertama adalah mengenai Riko.”
Ashilla melihat Goldi.
“Sudah saatnya kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada atasanmu itu, Goldi. Sebelumnya aku memintamu untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun termasuk keluarga Riko.”
“Hamba mengerti, Yang Mulia.” jawab Goldi patuh.
Ashilla tersenyum puas sebelum
melanjutkan, “Riko tidak pernah membantuku seperti apa yang dikatakan dikoran-koran. Ia aku tahan disini atas tindakannya yang
melanggar hukum. Kecurigaanku padanya telah terbukti. Aku telah
menghitung kekayaannya yang
seharusnya dan membandingkan nya dengan kekayaan yang dimilikinya. Hasilnya adalah sangat berbeda jauh, jadu ia telah mencuri uang negara selama ia menjabat sebagai Menteri Keuangan.”
Menteri-menteri berbisik membicarakan pengumuman
Ashilla.
Siapa yang menyangka bahwa Menteri kesayangan Raja Sion itu ternyata mencuri uang negara? Selama pemerintahan Raja Sion, Riko selalu membuat Raja senang. Ia selalu tepat waktu menyetor pajak. Ia adalah tangan kanan Raja yang sekejam Raja Sion sendiri dalam menarik pajak.
“Aku tidak akan membuka sidang
sebelum para ahli keuangan
membuktikannya. Dalam waktu
dekat ini Bagas akan memberikan
hasil perhitungannya. Saat itu
akan terbukti jumlah uang yang
selama ini telah dicuri Riko.
Sampai saat itu tiba, aku tetap
ingin kalian merahasiakan hal ini.”
“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.
“Masalah lain yang ingin aku bicarakan adalah mengenai
keputusan-keputusanku. Aku telah
mengelompokannya sesuai dengan
bidang kalian masing-masing.”
Ashilla berdiri untuk membagikan surat-surat keputusannya.
“Bacalah dan beritahu aku bila ada
yang tidak kalian setujui.”
Sementara mereka membacanya,
Ashilla kembali ke kursinya dan
berkata, “Keputusan-keputusanku
ini sangat erat dengan bidang
kalian masing-masing dan undang-
undang yang kalian perbaharui itu.
Aku sengaja menunda pelaksanannya untuk disesuaikan
dengan Undang-undang yang baru.
Bila kalian telah setuju dan merasa
tidak ada yang perlu diperbaiki,
segera lakukan hal itu.”
“Maaf, Yang Mulia. Ada yang ingin
saya tanyakan.” ucap Goldi setelah beberapa menit terdiam.
“Silahkan, Goldi.”
“Anda menurunkan pajak hingga
tingkat terendah. Apakah hal ini
tidak akan mengurangi pendapatan
kita?” tanya Goldi setelah membaca kertas itu.
“Pasti akan mengurangi pemasukan kita. Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, aku telah menghitung semuanya. Uang yang kita miliki saat ini sangat cukup untuk membiayai segala pengeluaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Ingatlah, Goldi, ayahku menarik
pajak yang sangat tinggi selama
53 tahun ia memerintah dan ia sangat kikir dalam membelanjakannya.”
“Anda mengatakan uang negara
dicuri Riko. Bukankah itu…” tanya Goldi lagi.
“Aku akan membuat Riko mengembalikan sebesar yang ia
curi pada rakyat. Kalian tidak perlu
merisaukan hal ini. Riko cukup
pintar untuk mengetahui ketelitian
ayahku. Ia tidak mencuri apa yang
harus dia berikan pada ayahku tapi
ia mencuri dari rakyat sendiri.
Dengan kekuasaannya sebagai
Menteri Keuangan yang
bertanggung jawab atas segala
penarikan pajak, Riko meminta
sedikit lebih banyak dari yang
ditetapkan ayahku, yaitu sekitar
seperdua puluh bagian.Kelebihannya itu adalah untuknya
dan agar ayahku tidak marah bila
mengetahuinya, ia memberikan
sebagian kecil dari kelebihan itu.”
“Apakah uang yang kita miliki
cukup untuk membeli bahan baku
dari luar negeri dan memberi
bantuan pada rakyat untuk
mengembangkan industri?” tanya
Difa khawatir.
Ashilla menatap Menteri Ekonominya itu.
“Sebelum aku memutuskan hal itu,
Difa, aku telah memperhitungkan
segalanya. Aku telah membuat
perhitungan kasar atas uang yang
kita miliki. Aku juga telah membuat uraian pengeluaran yang akan timbul karena keputusan-keputusanku itu.”
Ashilla mengangkat seberkas dokumen. “Inilah perhitungan
kasarku. Kepastian yang lebih
tepat akan keluar setelah Bagas dan para ahli keuangan lainnya selesai dengan tugas mereka. Kalian hanya perlu melakukan tugas di tangan kalian itu. Jangan
mengkhawatirkan dananya.
Kekayaan kita cukup untuk semua
itu.”
“Sungguh sangat disayangkan Raja
saja yang semakin kaya di negeri
ini sedangkan rakyat semakin
miskin. Aku akan merubah semua
itu. Aku, dengan dukungan kalian
akan memperbaiki keadaan ini.”
kata Ashilla bersungguh-sungguh.
“Setelah semua pembaharuan ini
dilaksanakan, aku yakin lima tahun
lagi rakyat sudah makmur. Saat itu
kita secara bertahap akan menaikkan pajak untuk
memperbesar pemasukan kita.
Jangan membebani rakyat dengan
pajak-pajak yang tinggi selama
masa perbaikan ini. Kita harus
menyesuaikan pajak dengan
keadaan rakyat. Pajak bukan untuk
Raja tapi untuk rakyat.” Ashilla
menegaskan.
“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan segera mengumumkan keputusan Anda tentang perpajakan ini.”
Ashilla mengangguk puas. “Untuk kedamaian rakyat ini pula aku akan memperbaiki hubungan dengan para pemberontak itu.”
Semua Menteri terlonjak kaget
tapi Ashilla tidak peduli dan tetap melanjutkannya,
“Setelah masalah-masalah
pembaharuan ini selesai, aku akan
mengundang pemimpinnya kesini.
Dan hingga saat itu tiba, aku ingin peperangan dengan mereka
dihentikan. Aku harap minggu depan aku telah menyelesaikan
pekerjaanku mempelajari Undang-
undang yang kalian buat ini dan
mengesahkannya.”
“Saya tidak setuju, Yang Mulia!”
Rio mengangkat tangannya, “Para pemberontak itu tidak menyukai Raja Sion. Saya khawatir mereka juga tidak menyukai Anda.Pemimpin mereka mungkin akan menggunakan undangan itu untuk membunuh Anda.”
Dalam hati Ashilla percaya hal
itu bisa terjadi tapi ia tetap dengan pendiriannga, “Aku berada diantara mereka hampir dua bulan, Rio. Aku tahu mereka berjuang demi kemakmuran rakyat. Mereka memang pantas membenci ayahku atas kekejamannya. Bila mereka juga
membenciku itu adalah hal wajar. Aku adalah putri dari serigala yang mereka benci. Tetapi, pemimpin mereka sangat pandai. Dia pasti tahu apa dampaknya bila dia membunuhku. Dia pasti mengerti hal itu.”
“Rio benar, Yang Mulia. Bila kekhawatiran itu terjadi, bagaimana nasib kami rakyat
Vandella? Siapa yang akan
melanjutkan perbaikan ini?” kata
yang lain hampir bersamaan.
“Bila kita memutuskan terus
berperang dengan mereka, apa
kata rakyat?” tanya Ashilla tegas.
Semua terdiam.
“Dalam masa-masa pembaharuan
ini, jangan mengeluarkan biaya
yang tidak berguna seperti untuk
perang. Apa yang kita dapatkan
dengan perang? Tujuan kita dan
pemberontak itu sama,
menciptakan kehidupan yang adil
dan makmur. Aku tidak akan
mengorbankan rakyat untuk perang bodoh ini.”
“Yang Mulia Ratu…”
“Aku mengerti akan kekhawatiran kalian. Tapi, untuk kali ini aku tidak ingin dibantah.” ucap Ashilla tegas. “Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan aku juga tahu mereka pasti tahu apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang kacau ini. Pemimpin mereka juga tidak akan membunuhku tanpa alasan yang kuat.”
“Anda harus memperhitungkan
semuanya masak-masak, Yang Mulia.” kata Rio mengingatkan.
“Itu sudah aku lakukan, Rio. Aku
tidak akan menarik keputusanku ini walau kalian tidak setuju. Bila
memang mereka membunuhku,
biarlah itu terjadi. Apa artinya
sebuah nyawa ini dibandingkan
mereka yang menderita?”
Sebelum ada yang membantahnya
lagi, Ashilla cepat-cepat melanjutkan ucapannya. “Jika tidak ada lagi pertanyaan, kalian bisa.mengatakan segala yang
terlupakan olehku dalam keputusan itu.”
Para menteri itupun mendesah panjang. Dalam hal ketegasan, Ashilla memang seperti ayahnya, membuat orang lain tahu bahwa ia bersungguh-sungguh.
“Satu tugas lagi untuk kalian
semua, aku ingin kita membina
hubungan baik dengan semua
negara lain. Kita membutuhkan
dukungan luar negeri dalam masa-
masa ini.” ucap Ashilla menambahkan.
“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka semua dengan kompak.
“Silahkan katakan apa saja yang
terlupakan olehku.”
Semua termenung melihat kertas-
kertas di hadapan mereka. Ashilla pun tidak mau duduk berdiam diri. Gadis itu mengambil seberkas laporan dan mempelajarinya.
Lama ia menanti, tapi tidak ada
yang mengangkat tangan untuk
melaporkan apa yang terlupakan
olehnya.
“Kenapa kalian diam saja?” tanya
Ashilla heran.
“Saya rasa tidak ada yang perlu
diperbaiki maupun ditambahkan,
Yang mulia.” kata Gabriel jujur. “Menurut saya semuanya telah Anda putuskan tanpa ada yang terlewat.”
“Saya pun merasa seperti itu, Yang Mulia.” kata Rio ikut menimpali.
“Yang lain?”
“Tidak ada, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.
“Baiklah, rapat kita hari ini selesai.
Aku akan membutuhkan kalian bila
aku telah membaca semua laporan
kalian. Aku akan selalu terbuka
untuk menerima pertanyaan
kalian.”
Ashilla lalu berdiri dan diikuti menteri-menterinya.
“Selamat siang.”
“Selamat siang, Yang Mulia Ratu.”
Ashilla meninggalkan ruangan
itu dan diikuti para menteri. Kepada prajurit yang menjaga pintu, Ashilla berkata, “Tolong kalian letakkan tumpukan berkas itu di Ruang Kerja.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.”
Ashilla kembali ke Hall. Ia melihat orang banyak itu tampak gembira. Mereka mendapatkan makanan dan barang-barang lain yang selama ini tidak pernah mereka mimpikan.
Terlihat kerumunan wanita yang
sibuk memilih gaun dan
kerumunan anak-anak yang
memilih mainan.
Perbedaan hidup Raja Sion dan
rakyat Vandella benar-benar
tampak jelas.
Badan mereka yang kotor dan
kebersihan Istana Azzereath yang
selalu gemerlap. Baju mereka yang compang-camping dengan benda-benda Istana yang mewah.
Semuanya menggambarkan dengan jelas ketimpangan yang ada.
Diam-diam Ashilla meninggalkan
Hall. Ia merasa tindakannya tepat.
Ia tidak bisa menyerahkan tahta
pada orang lain sebelum ia
memperbaiki kesalahan yang dilakukan ayahnya. Tetapi ia juga tidak bisa bersantai-santai dalam hal ini.
-----0-----
“Lihat ini!”
Cakka hanya membuang wajah. Ia
sudah tahu apa yang akan dikatakan Alvin.
“Ratu Ashilla rela turun dari tempatnya yang tinggi hanya untuk
mengusap wajah rakyatnya. Ini judul berita utama koran lima hari yang lalu. Lihatlah ini juga, Ratu mengumumkan pada rakyat untuk mau mengambil sendiri bantuan di Istana Azzereath dan untuk mereka yang kaya, Ratu meminta mereka untuk turut menyumbang.” ucap Alvin menggebu-gebu.
Cakka tetap mengacuhkannya.
Alvin meneruskan membaca koran.
Letak Lasdorf yang tersembunyi membuat daerah ini selalu ketinggalan berita. Koran yang datang selalu koran beberapa hari yang lalu.
Seluruh rakyatnya Cakka sudah tahu apa saja yang dilakukan oleh Ashilla dan mereka sukar mempercayainya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa Ashilla adalah Cilla.
Sejak Ozy melaporkan hasil
pengintaiannya, Alvin selalu
memuji-muji Ashilla dihadapan
Cakka. Berbeda dengan Cakka,Alvin mempercayai segala maksud
baik Ashilla. Ia menyukai semua
yang dilakukan gadis itu untuk Kerajaannya.
“Lihat ini!” lagi-lagi Alvin berseru
tak percaya. “Ratu dengan cuma-cuma menyumbangkan gaun-gaunnya! Aku tak percaya Ratu sekaya dia rela memberikan gaun-
gaun terbaiknya untuk rakyat.”
Cakka bosan, sangat bosan. Dalam hari-hari terakhir ini Alvin benar-benar membuatnya muak dan bosan.
“Tindakannya ini menunjukkan
niatnya yang benar-benar tulus.”
komentar Alvin. “Aku ingin tahu apa yang disidangkannya dengan para Menteri hari ini. Ozy mengabarkan mereka bersidang
hari ini, bukan?”
Cakka mengangguk malas.
“Dia gadis yang luar biasa, bukan? Ia pasti akan membawa kita pada
kemakmuran.” Alvin berkata
mantap.
“Cakka, apa kau akan meneruskan
pemberontakanmu ini?” tanya Alvin tiba-tiba.
“Sementara ini aku akan diam dulu
melihat keadaan. Aku yakin tak
lama lagi ia akan menunjukkan
taringnya yang sesungguhnya.” ucap Cakka tajam.
“Dan kau akan mulai peperangan lagi??" tebak Alvin.
“Tepat!” sahut Cakka tegas.
“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Cakka. Kenapa kau tidak bisa mempercayainya? Yang Mulia Ratu telah menunjukkan niat baiknya dan kau tetap tidak
mempercayainya.” tanya Alvin heran.
“Yang Mulia Ratu?” kata Cakka mengejek. “Sejak kapan kau
menghormatinya sebagai Ratu?”
“Sejak aku mempercayainya." jawab Alvin dengan tersenyum.
Cakka mendengus kesal. “Dia tidak pantas untuk kau hormati setinggi itu. Percayalah padaku, ia adalah serigala berbulu domba.”
“Ia memperbaiki pemerintahan
ayahnya. Apakah ia akan
memperbaiki hubungan
pemerintah denganmu?” Alvin
bertanya-tanya pada dirinya
sendiri. “Kalau ia mengajakmu
berdamai, apa kau akan mau
menerimanya?”
“Aku akan membunuhnya!” geram
Cakka. “Sekarang hentikan omong
kosongmu itu. Aku benar-benar
muak mendengarnya!”
Alvin mengangkat bahunya dengan
pasrah.
******************************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar