“Aku bosan, Cakka. Tidak bisakah
kau membiarkan aku membacanya
dengan tenang?” gerutu Alvin.“Setiap kali aku membaca koran,
kau selalu memulai ejekan-
ejekanmu itu. Kalau kau cemburu pada Ratu Ashilla, katakan saja. Kita harus mengakui sekarang ia lebih terkenal daripada kau.”
“Aku tidak akan cemburu padanya!” sangkal Cakka.
“Terserah kau sajalah.” Alvin tidak
peduli.
Keadaan telah berubah banyak
dalam hari-hari terakhir ini di
seluruh wilayah Vandella juga pada
diri Alvin dan Cakka.
Kalau dulu Cakka yang bosan
mendengar Alvin memuji Ashilla,
dan sekarang Alvin lah yang bosan
mendengar hinaan-hinaan Cakka yang dituju untuk Ashilla.
Keputusan-keputusan Ashilla untuk terus memperbaiki keadaan rakyat dan membuat rakyat mulai mempercayai serta mencintainya. Tetapi, kecurigaan Cakka tidak juga berkurang.
Alvin tidak tahu apa yang membuat pria itu sekeras ini. Biasanya, Cakka lah yang paling mudah berubah mengikuti keadaan. Sekarang ia tegar seperti batu dengan keputusannya.
“Kalau cinta sudah ditipu, beginilah akibatnya.” kata Alvin
pada dirinya sendiri dan terus dengan kegiatan membacanya.
Dalam pekan-pekan terakhir sejak
Ashilla memulai pemerintahan nya, koran-koran.terus menyoroti dirinya. Koran-koran tanpa ragu untuk mengupas semua tindakannya yang selalu mengejutkan rakyat.
Tidak ada lagi yang menyamakan
Ashilla dengan ayahnya. Semua
tahu bahwa Ashilla berbeda dengan ayahnya. Ia setegas ayahnya tetapi selembut bidadari.
Kedudukannya yang tinggi serta
paras wajahnya yang cantik dan
didukung dengan usianya yang masih muda, membuat para bangsawan pria berlomba-lomba untuk mendekatinya.
“Sebaiknya kau harus berhenti
membencinya atau kau akan
kehilangan dia selama-lamanya,
Cakka. Ketika aku pergi ke
Thamasha, aku mendengar orang-
orang berkata, ‘Ratu adalah gadis
yang sangat menarik. Andai dia
bukan seorang Ratu, aku pasti
melamarnya.’ Kau akan sangat
menyesal bila itu terjadi. Apalagi
bukan hanya rakyat Vandella yang
mengatakannya.” kata Alvin mengingatkan.
“Aku tidak akan menyesali
pernikahannya!” kata Cakka tegas.
“Sungguh?”
“Aku berbicara dengan seluruh
kemantapanku.” kata Cakka lagi.
“Aku lega mendengarnya. Aku juga
tertarik padanya. Sekarang aku
tidak perlu mengkhawatirkan apa-
apa untuk menikahinya.” jawab Alvin enteng.
“Kenapa harus khawatir?”
“Kau hampir saja menikahinya.” kata Alvin pasrah. Tiba-tiba Alvin itu melonjak kaget mengingat hal itu. “Kalau pernikahanmu tidak diganggu, kau telah menikah dengan Ratu! Dan, kau sekarang telah menjadi Raja Vandella!”
“Aku beruntung tidak menikahi
setan cilik itu!!” sahut Cakka dingin.
Alvin hanya bisa mengangkat bahunya. “Terserah padamu, tapi jangan marah kalau aku menikahinya.”
“Aku turut bahagia karenanya.”
kata Cakka dingin.
Alvin mengacuhkannya dan kembali berkutat dengan kegiatan membaca korannya. Setiap kali ia menemukan berita yang menarik, ia selalu berseru..
“Lihat ini!”
Dan Cakka hanya menyahutinya dengan seribu macam hinaan.
Sejak ditinggalkan Ashilla, keadaan di Lasdorf banyak berubah seperti keadaan Vandella
umumnya.
Berkat peninggalan Ashilla, kehidupan rakyat Lasdorf mengalami perubahan lebih makmur. Terlihat dengan semakin
besarnya penghasilan rakyat dalam
satu hari. Serta membaca bukan lagi hambatan bagi mereka.
Dengan berubahnya sistem
pemerintahan Vandella, untuk
sementara waktu Cakka hanya
menyibukkan diri dengan
melakukan apa yang harus
dilakukannya sejak dulu dan sudah
dimulai oleh Ashilla.
Cakka kini menjadi guru bagi rakyatnya. Setiap hari ia
meluangkan waktunya untuk mereka disamping mengolok Ashilla dihadapan Fred.
Sering kali Alvin berpikir apakah rakyat Lasdorf akan menyetujui sikap Cakka jika mereka tahu bahwa Ratu Ashilla adalah Cilla. Tetapi, berulang kali ia berpikir itu tidak mungkin terjadi. Karena Cakka takkan membiarkan rakyatnya tahu siapa Ratu mereka.
“Pangeran! Pangeran!”
Cakka langsung berdiri ketika mendengar seruan panik itu dan menuju jendela. Ia melihat ke bawah dengan perasaan cemas.
Seseorang berlari menuju
bangunan tempat Cakka berada dan beberapa meter di belakangnya ada seseorang yang duduk diatas kuda dan digiring mendekat oleh pasukannya.
Cakka segera menemui mereka.
“Pangeran!”
“Apa yang terjadi, Gilang?”
“Ada utusan dari Ratu Ashilla!” kata
Gilanh setengah tak percaya, “Ia
datang membawa bendera
perdamaian.”
Cakka melihat pria tua diatas
kuda yang dalam keadaan terikat.
Tangannya menggenggam bendera
putih, tanda menyerah itu.
“Hamba diutus oleh Yang Mulia Ratu Ashilla untuk menemui Anda, Pangeran.” ucap Gabriel menjelaskan kedatangannya ke Lasdorf.
Cakka mendengus puas. Akhirnya gadis itu akan melakukan sesuatu
terhadapnya. Dan ia ingin tahu
rencana licik apa yang sedang
direncanakan setan cilik itu.
“Bawa dia masuk!!” perintah Cakka.
“Tapi Pangeran!”seru Gilang cemas.
“Jangan khawatir.. Aku bisa menanganinya sendiri.” kata Cakka tegas.
Orang-orang yang mengawal Gabriel segera menurunkan pria itu dari atas kuda dan membawanya keruang utama.
“Tinggalkan kami berdua!” perintah Cakka pada prajuritnya.
“Baik, Pangeran.”
Sepeninggal mereka, Cakka
melepaskan ikatan Gabriel.
“Terimakasih, Pangeran.” kata Gabriel setelah tali itu lepas dari tubuhnya.
“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Cakka to the point.
Gabriel tidak terkejut menerima
sambutan dingin itu. Ashilla telah memperingatinya sebelum
melepas kepergiannya menemui Cakka.
“Ratu ingin mengundang Anda
untuk datang ke Istana Azzereath
untuk berdamai.”
Melihat pandangan Cakka tetap
sinis, Gabriel tetap melanjutkan perkataannya, “Ratu sangat menyesal tidak dapat datang sendiri kesini. Karena banyak hal
yang harus diselesaikannya. Hari
ini beliau membuka sidang untuk
Riko.”
“Riko?” tanya Cakka dengan mengangkat alisnya satu.
“Ratu sangat luar biasa! Dalam
waktu singkat, ia tahu Riko telah mencuri uang rakyat. Perhitungan Ratu sendiri dengan perhitungan para ahli keuangan tidak jauh berbeda. Hari ini Ratu menggelar persidangannya bersama para Menteri.”
Cakka memandang Gabriel dengan sinis.
“Khusus hamba, hamba mendapatkan tugas untuk menjemput Anda. Ratu berkata sayalah wakilnya yang paling tinggi didalam Kerajaan Vandella. Ratu sangat menghormati Anda namun ia tidak bisa menemui Anda sendiri.”
“Sebenarnya apa yang
direncanakan oleh Ratumu itu? Ingin menarik perhatian rakyat dengan menghukum menteri kesayangan ayahnya?” tanya Cakka dengan nada sarat penuh kesinisan.
Gabriel menghela nafas. Ashilla juga telah memperingatinya
tentang pandangan sinis Cakka
terhadapnya.
“Ratu berencana untuk mengubah
kerajaan ini. Ia ingin membuang
semua peninggalan ayahnya dan
menggantinya dengan yang baik.
Termasuk memperbaiki hubungan
pemerintah dengan Anda.” ucap Gabriel berusaha tidak ikut terpancing.
“Katakan padanya aku menolak!!”
“Ratu telah menduganya.” kata
Gabriel.
Cakka membuang muka dengan
angkuh.
“Ia tidak memaksa Anda bila Anda
menolak..” kata Gabriel jujur. “Tetapi, saya memohon Anda sudi
datang ke Azzereath.”
“Anjing yang setia.” ejek Cakka.
Gabriel bersikap seperti tidak
mendengarnya.
“Saya minta maaf atas kejadian
beberapa bulan lalu. Ratu tidak
memerintahkan kami untuk
menyerang tempat ini. Bahkan Ratu tidak tahu penyerangan itu. Ratu hanya memerintahkan kami untuk.bertahan di Thamasha sampai beliau datang. Sayalah yang
memerintahkannya. Saya juga yang melakukan itu karena saya
menghawatirkan keselamatan Ratu. Ratu tidak berniat untuk
memperpanjang permusuhan dengan Anda.” jelas Gabriel.
Cakka tetap tidak menanggapi.
“Saya mohon, Pangeran. Ratu bisa
jatuh sakit bila ia memaksakan diri
untuk datang ke Lasdorf. Saat ini ia
sangat kelelahan karena setiap saat ia terus bekerja tanpa mau berhenti. Tidak seorangpun yang bisa menghentikannya.” ucap Gabriel dengan wajah memohon.
“Kau pikir aku bisa?”
“Saya tahu Anda juga tidak bisa, Pangeran.” Gabriel mengakui, “Tapi dengan Anda sudi untuk datang ke Azzereath, kami sangat
berterimakasih.”
“Sebagai gadis yang dibesarkan di
desa miskin, Ratu tahu bagaimana
kesulitan rakyat Vandella. Ia
berkeinginan untuk memperbaiki
semua itu. Dalam diri Ratu
terdapat sifat keras Raja Sion. Ia
selalu berkata, ‘Aku tidak akan
berhenti sebelum semuanya
selesai. Banyak yang harus
dilakukan.’ Ratu ingin segera
menyelesaikan segalanya dan tanpa ia sadari, ia telah merusak
tubuhnya sendiri. Ratu masih terlalu muda untuk mengerti hal itu.” kata Gabriel masih berusaha membujuk Cakka untuk datang ke Istana.
“Kami semua mengkhawatirkan
kesehatan Ratu bila ia harus
menempuh perjalanan panjang ini.
Ratu tidak ingin memaksa Anda
untuk datang ke Azzereath tapi
kami memohon pada Anda. Tak
seorang pun di Azzereath yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ratu tiba-tiba sakit. Saat ini adalah masa paling sulit dan Ratu sangat dibutuhkan di Vandella.” lanjut Gabriel.
“Betapa setianya kalian pada keturunan serigala itu!!” ejek Cakka.
Gabriel sama sekali tidak merasa tersinggung mendengar kata-kata sinis itu.
“Ratu Ashilla lebih menyerupai
ibunya daripada ayahnya. Anda
mungkin tidak percaya, tetapi ini
benar. Ratu Ashilla sangat
membenci ayahnya. Bahkan Ia tidak mau.memerintah Vandella yang merupakan warisan dari ayahnya. Tapi, ia tetap melakukannya hanya demi rakyat
Vandella. Kami tahu Ratu mencintai rakyat dan kami pun juga sama, mencintai Ratu kami.”
Cakka diam membisu.
Gabriel putus asa melihat pandangan angkuh pria itu.
"Yang Mulia Ratu benar, pangeran tidak bisa dipaksa begitu saja.” pikirnya sedih.
“Aku ikut!!” Cakka pada akhirnya
memutuskan, “Aku ingin tahu apa
yang akan direncanakan oleh setan cilik itu terhadapku.”
-----0-----
“Menteri Dalam Negeri sudah tiba,
Yang Mulia.” ucap sang prajurit pada Ashilla.
“Bawa dia menghadapku.” jawab Ashilla.
Prajurit itu kembali keluar. Tetapi,
Ashilla terus memandang
halaman Istana.
Akhir-akhir ini di Istana menjadi
semakin ramai karena kehadiran
para tunawisma itu. Setiap hari
selalu ada yang pulang dan pergi.
Yang menginap di Hall pun tidak
sedikit.
Mereka senang tinggal di Istana.
Orang-orang Istana pun selalu
menerima mereka dengan ramah.
Segala kebutuhan mereka tersedia
disini.
Ashilla telah membuat Istana Azzereath yang selama ini ditakuti,
menjadi tempat yang paling
menyenangkan untuk ditinggali.
Sebagai Ratupun, ia bertindak
sebagai tuan rumah yang ramah.
Halaman Istana kini tidak hanya
indah tetapi juga menawan dengan
banyaknya anak-anak yang bermain disana. Orang-orang pun dengan bebas bersenda gurau di halaman Istana.
Dulu Istana Azzereath yang terkenal dingin kini menjadi Istana yang selau ceria. Canda tawa kini selalu menghiasi kehidupan di Istana.
“Hamba datang menghadap, Yang Mulia.” kata Gabriel seraya
membungkuk, “Saya telah menjemput Pangeran Cakka sesuai dengan keinginan Anda. Saya mengaku bersalah, Yang Mulia, karena saya tidak berhasil
membujuk Pangeran untuk
beristirahat sebelum menemui
Anda.”
“Tidak apa-apa, Gabriel. Sekarang
kau bisa meninggalkan kami
berdua.”
Ashilla tetap tidak bergerak setelah kepergian Gabriel.Matanya terus menatap ke halaman Istana.
Cakka pun melakukan hal yang sama yaitu berdiam diri seraya memandangi rambut Ashilla. Rambut itu kini tampak lebih
bersinar keemasan. Rambut emas
itu tergerai menutupi pinggang
Ashilla yang kecil. Tubuhnya yang terbungkus gaun ungu cerah tampak ramping.
Gadis itu terus memandang ke
depan dengan menyilangkan
tangan di depan dadanya. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkannya.
Ashilla tahu sebelum menghadapi Cakka, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Pembicaraannya dengan Cakka takkan semudah rapat dengan para Menteri. Mengingat kejadian-kejadian di masa lalu,pembicaraan ini akan menjadi
semakin sulit.
Ashilla menguatkan dirinya sebelum akhirnya ia menatap
Cakka. Ashilla senang bisa bertemu dengan orang yang selalu
dipikirkannya itu. Tapi, ia
membuang jauh-jauh perasaan
rindunya itu.
“Terimakasih Anda sudi untuk datang ke tempat ini. Dalam kesempatan ini pula saya minta maaf karena telah.menipu Anda dan rakyat Lasdorf.” kata Ashilla sopan.
“Katakan apa yang sebenarnya
kau rencanakan?” balas Cakka
tajam.
“Saya berencana mengajak Anda
berdamai.” jawab Ashilla tenang.
“Berdamai??” cemooh Cakka.
“Saya tahu Anda tidak akan
mempercayainya tapi saya ingin
Anda tahu saya ingin memperbaiki
kehidupan rakyat Vandella. Untuk
itu, saya mempunyai dua tawaran
untuk Anda.” ucap Ashilla tanpa memperdulikan cemoohan yang terlontar dari mulut Cakka.
“Tawaran berdamai?”
Ashilla mengacuhkan kata-kata
yang penuh ejekan itu. “Anda
ingin meneruskan pernikahan kita
atau tidak?”
Cakka terdiam mendengar tawaran
yang tidak diduganya itu.
Ashilla sedih melihat raut wajah
dingin Cakka. Gadis itu segera
memunggungi Cakka untuk mencegah pria itu melihat
kesedihannya.
Ashilla menutup matanya ketika
berkata, “Semua telah diputuskan.”
Tanpa bertanya pada Cakka pun,
Ashilla sudah mengetahui jawaban yang keluar dari mulut Cakka. Cakka membenci ayahnya dan takkan sudi untuk menikah dengannya.
Kali ini Ashilla menatap Cakka dengan tenang.
“Tinggallah disini untuk beberapa
hari sampai semuanya selesai.
Sebelum Anda menduduki tahta,
saya akan merapikan Istana ini.
Saat ini Castil Quarlt'arth sedang
ditata ulang untuk tempat
penampungan para tunawisma.
Sebelum akhir minggu ini segala
kegiatan di Hall akan dipindahkan
kesana.” jelas Ashilla.
“Castil Quarlt'arth?” tanya Cakka
tak percaya.
Ashilla tidak ingin menjelaskan
banyak tentang rencananya dengan
kastil peristirahatan ayahnya yang
megah.
“Semuanya akan beres sebelum
penobatan Anda.”
Ashilla menepuk tangannya dua
kali lalu prajurit yang menjaga
pintu pun masuk.
“Tolong antarkan Pangeran Cakka
ke kamarnya.” kata Ashilla pada sang prajurit.
“Baik, Yang Mulia.” kata prajurit itu
lalu pada Cakka ia berkata, “Mari,
Pangeran.”
“Silahkan beristirahat. Anda pasti
lelah setelah menempuh
perjalanan jauh.” kata Ashilla
sebelum membalikkan badan.
Cakka melihat punggung Ashilla
dan pergi meninggalkan ruangan
itu.
Tidak banyak yang mereka
bicarakan. Mereka lebih banyak
bersikap seperti dua orang asing.
Cakka tak menduga semua kata-
kata Ashilla. Gadis itu benar-benar berbeda dengan gadis yang di Lasdorf dulu.
Ashilla kini lebih cantik dan juga
lebih anggun serta berwibawa. Ia
bukan lagi gadis yang selalu
mengajaknya bertengkar.
“Saya sangat senang dapat bertemu Anda, Pangeran. Saya
tidak pernah menyangka akan
bertemu Anda di Istana ini. Sudah
sejak dulu saya ingin bertemu
Anda.” ucap sang prajurit menyela lamunan Cakka tentang Ashilla.
“Apa aku setenar itu?” tanya Cakka dingin.
“Benar, Pangeran. Yang Mulia Ratu
sendiri sering mengatakan kekagumannya pada Anda. Ia merasa bangga bahwa Vandella mempunyai pahlawan seberani Anda.” jawab sang prajurit.
Cakka tidak mempercayai apa yang
didengarnya.
“Yang Mulia Ratu mengatakan ingin
mengajak Anda bekerja sama untuk membangun kembali Vandella. Beliau yakin Anda pasti tahu.segala hal yang baik untuk
Vandella. Tapi, kami berkata Ratu
juga pantas memimpin Vandella.
Anda berdua pantas untuk
menjadi pemimpin Vandella.”
Prajurit itu tiba-tiba menutup
mulutnya. “Maafkan saya,
Pangeran. Akhir-akhir ini kami
semua terbiasa bersikap terbuka.”
“Yang Mulia Ratu yang menyuruh kami untuk bersikap jujur. Ia selalu berkata kesopanan kami padanya hanya untuk menunjukkan hormat kami padanya. Dan, ia tidak berhak
mengurung kebebasan kami dalam
bentuk apa pun. Ratu selalu
menekankan hal itu pada kami. Ia
tidak ingin terlalu disanjung tetapi
kami selalu memujanya. Karena itu, disini kami bisa akrab dengan
Ratu dan pada saat yang.bersamaan kami juga menghormatinya.”
“Banyak yang dilakukan Ratu untuk
mengakrabkan diri dengan kami
semua. Setiap hari Ratu bekerja
tanpa henti terutama pada hari-
hari pertama dulu. Setelah Ratu
membuka Istana untuk umum,
setiap hari Minggu Ratu
menghentikan semua kegiatan di
Istana. Setiap hari Minggu kami juga mengadakan pesta sederhana di halaman. Saat itu Ratu tidak
menginginkan penghormatan
padanya dalam bentuk apapun.
Saat itu Ratu ingin dianggap
sebagai rakyat biasa.”
“Saya berharap Anda tinggal di sini
sampai hari Minggu. Kami akan
senang sekali bila Anda mau. Kami
semua selalu berharap dapat
bertemu Anda.” jelas sang prajurit panjang lebar.
Cakka tidak menanggapi.
Prajurit itu berhenti di sebuah
pintu dan membukanya. “Inilah
kamar Anda, Pangeran. Kamar
teman Anda tepat di sebelah
kamar ini. Selamat beristirahat,
Pangeran. Yang Mulia Ratu ingin Anda menganggap Istana sebagai rumah Anda sendiri.”
Prajurit itu membungkuk lalu pergi.
Cakka memasuki kamarnya dengan
enggan. Banyak hal yang menghantui pikirannya. Ia tidak ingin menemui Alvin seperti janjinya sebelum menemui Ashilla. Saat ini ia ingin menyendiri.
Cakka tidak heran Alvin tidak
mencarinya. Ia yakin pria itu
sedang tidur nyenyak di
sebelahnya. Sesaat setelah kereta
mereka memenuhi Istana, ia sudah menguap lebar-lebar.
Ashilla benar-benar berbeda.
Tapi gadis itu masih tetap penuh
misteri. Seperti dulu, di mata
birunya yang cerah, tersimpan
banyak rencana. Entah apa yang
direncanakannya kali ini tapi Cakka tetap akan mewaspadai
gadis itu.
Mungkin sekarang ia tidak
menunjukkannya, tapi Cakka yakin
suatu saat nanti gadis itu akan
menunjukkannya. Suatu saat nanti
pasti Ashilla akan menunjukkannya.
Teringat kembali akan Ashilla,
Cakka mengutuki dirinya. Ia tidak
dapat memungkiri keinginannya
untuk menarik gadis itu ke
pelukannya dan menciumnya
sampai ia puas. Cakka benci. Ia
masih merindukan gadis serigala
itu sedangkan itu adalah hal yang
paling ingin dibunuhnya.
Cakka mengutuki Ashilla karena yang menimbulkan kesan dingin di
antara mereka. Kalau gadis itu
menebarkan sikap permusuhannya, ia takkan seperti ini. Perasaannya tidak akan kacau oleh keinginan untuk menghancurkan sikap dingin dan menjaga jarak itu.
Rencana apa yang akan disusun oleh Ashilla untuknya? Apapun itu, ia tidak akan berhasil. Kalau Ashilla
mengira ia dapat memperalat
dirinya, ia salah. Terutama kalau ia
ingin mengangkatnya sebagai Raja
untuk menarik perhatian rakyat.
Timbul kembali keinginan Cakka
untuk mencekik gadis yang telah
menipunya itu.
Pada pertemuan mereka yang baru saja berlalu, Cakka telah melupakan keinginannya karena sikap Ashilla yang tidak diduganya.
Pada pertemuan kedua mereka,
Cakka yakin ia harus mengendalikan diri agar tidak
mencekik leher cantik itu.
Dan, saat itu juga Ashilla harus
berhati-hati padanya.
****
Sore hari seorang pelayan datang
menemui Cakka.
“Yang Mulia Ratu ingin Anda hadir
dalam pertemuan di Ruang Hijau.”
kata sang prajurit.
“Pertemuan apa?” tanya Cakka heran.
“Pertemuan dengan masyarakat.” jawab sang prajurit.
Cakka keheranan.
“Setiap sore selama satu jam,
Yang Mulia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan masyarakat. Dalam jamuan minum teh itu, Yang Mulia
mendengarkan masalah-masalah
rakyat. Banyak yang datang dari
jauh untuk mengeluh pada Yang Mulia Ratu. Sekarangpun Yang Mulia Ratu sudah berada di antara mereka.”
Pelayan pria itu membantu Cakka untuk mempersiapkan dirinya lalu
mengantarnya ke Ruang Hijau.
Ketika Cakka tiba disana, Ashilla sedang duduk di sebuah kursi tinggi sambil memangku kedua tangannya. Ia tampak sangat
cantik dengan senyum manis yang
tersungging di wajahnya yang
ceria. Rambutnya yang digelung
tinggi, membuat gadis itu tampak
lebih dewasa.
Cakka jengkel ketika ia menyadari
tidak ada gadis yang lebih anggun
daripada Ashilla saat ini.
Padahal gaun yang dikenakannya sangat sederhana. Gadis itu juga tidak mengenakan hiasan rambut.
Ashilla seperti ingin menyesuaikan diri dengan tamu-
tamunya.
Sikap ramah dan terbuka Ashilla lah yang.membuat suasana di dalam ruangan itu terasa hangat. Tidak ada kesan antara rakyat yang sedang menghadap Ratunya.Yang terkesan hanyalah suasana yang hangat yang penuh dengan kekeluargaan.
Sebagai tuan rumah, Ashilla sangatlah ramah. Tanpa mempedulikan kedudukannya, ia
mau melayani tamu-tamunya.
“Pangeran Cakak sudah datang, Yang Mulia.” ucap sang prajurit tiba-tiba.
Semua orang menoleh pada Cakka.
Ashilla tersenyum dan berkata,
“Selamat datang, Pangeran. Kami
tengah membicarakan Anda. Mari,
silahkan duduk.”
Ashilla berdiri dan memberi
tempat untuk Cakka. Ashilla
merasakan pandangan dingin
Cakka ketika ia menuangkan teh
untuknya.
“Silahkan duduk disini, Yang Mulia”
Mereka yang duduk di kursi.panjang saling berdempetan untuk
memberi Ashilla tempat duduk.
“Terima kasih.” ucap Ashilla tulus
Ashilla baru saja duduk berdesak-desakan ketika orang-orang itu mulai berbicara dengan Cakka.
Dalam pertemuan kali ini Ashilla
hanya menjadi pendengar. Ia tidak
mengatapan apa-apa tetapi
menyimpan banyak hal dalam
pikirannya.
Dalam hatinya, Ashilla tersenyum bahagia. Ia bahagia atas keputusannya yang baginya paling
baik.
Cakka tidak menyadari bahwa kursi yang sekarang didudukinya adalah kursi untuk Raja Vandella. Ashilla tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu bila ia mengetahuinya. Yang Ashilla ketahui saat ini adalah keputusannya tepat.
Dengan penuh perhatian Cakka
mendengarkan kata-kata rakyat dan menanggapinya dengan bijaksana. Pria itu selalu tahu apa yang harus dikatakannya atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
Ashilla tidak mau terlalu memperhatikan Cakka. Ia tidak
mau Cakka berpikiran buruk
tentangnya. Ashilla ingin semuanya berlangsung dengan
baik tanpa ganjalan di hati pada
saatnya.
Apapun alasan Cakka dulu.memaksa menikah dengannya,
Ashilla tidak mau.mempedulikannya lagi.
Memikirkannya hanya membuat
hatinya terasa makin sakit.
Dulu Cakka ingin memanfaatkannya untuk
menggalang kekuatan melawan
ayahnya. Sekarang Ashilla senang. Tidak perlu ada perang untuk mengganti pemerintahan otoriter ayahnya.
Aneh!
Semua ini aneh!
Ketika berada di Lasdorf, Ashilla
merasa gila karena kebenciannya
yang mendalam pada Cakka. Kini
Ashilla merasa gila karena
cintanya yang mendalam pada Cakka.
Apa yang dikatakan orang-orang
memang benar. Batas antara benci
dan cinta tidak sampai setipis
kertas.
Tapi apa yang bisa dilakukan oleh
Ashilla terhadap perasannya itu?
Ashilla tahu sejak awal Cakka.ingin memanfaatkannya. Dan, setelah tahu ia adalah putri orang yang telah membunuh orang tuanya, ia takkan memaafkannya. Ashilla tahu bahwa Cakka membenci dirinya.
Kebencian yang dirasakan Cakka pada Ashilla berbeda dengan kebencian yang dirasakan oleh Ashilla pada Cakka. Ashilla.tahu pria itu benar-benar membencinya hingga terasa pada
seluruh cara dia ketika melihat dan berbicara dengannya.
Tidak ada gunanya mempertahankan permusuhan ini.
Tepat satu jam Ashilla berada di
Ruang Hijau, gadis itu lalu berdiri.
“Maafkan saya. Saya tidak bisa
menemani Anda lebih lama lagi. Jika kalian ingin, silahkan melanjutkan tanpa saya.” ucap Ashilla tiba-tiba.
Cakka mengawasi kepergian Ashilla tanpa berbicara apa-apa.
Dari pelayan yang melayaninya
tadi, Cakka tahu bahwa Ashilla selalu.l sibuk. Tiada hentinya ia berada di Ruang Kerja.
Di malam hari pun saat semua orang terlelap, Ashilla masih terjaga. Lewat tengah malam gadis itu baru akan beranjak dari meja kerjanya. Sebelum memasuki ruang tidurnya, Ashilla masih menyempatkan untuk mengelilingi Hall untuk memeriksa keadaan rakyatnya yang tidur disana.
Pelayan itu berkata, “Kami sering
menyebut Ratu sebagai Bidadari
Malam. Tiap malam Anda akan
melihat Ratu membawa lilin kecil
dan berkeliling Hall.”
Cakka tidak mengerti kenapa
malam ini ia tidak bisa tidur.
Pikirannya melayang-layang dan
matanya sukar tertutup.
Samar-samar Cakka mendengar
langkah-langkah ringan.
Cakka mencari mantel di lemari
dan pergi menuju Hall.
Di ujung lorong, Cakka melihat
Ashilla yang tengah menyelimuti
seseorang. Hampir tiap langkah,
gadis itu berhenti untuk
membenahi selimut banyak orang
itu.
Tanpa disadarinya, Cakka.tersenyum melihat pemandangan
itu.
Seorang Ratu yang kedudukannya
sangat tinggi dan penuh dengan
gemerlapan, turun tangan hanya untuk memberikan kasihnya pada rakyat.
Cakka terus berdiri di ujung
lorong sampai Ashilla menuju ke
arahnya.
“Anda belum tidur?” tanya
Ashilla keheranan.
“Aku tidak bisa tidur.” jawab Cakka, "Kenapa kau belum juga tidur?”
“Banyak yang harus saya selesaikan.”
“Sudah banyak yang kau selesaikan. Apa yang kurang?”
Ashillaa tersenyum.
“Rencanamu itu…” tanya Cakka setelah tidak mendengar jawaban dari Ashilla
“Kita telah sepakat dalam hal itu,”
potong Ashilla. “Saya akan
menyerahkan tahta pada Anda.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Cakka kurang setuju.
“Jangan mengkhawatirkan saya.
Masih banyak yang dapat saya
lakukan.”
“Bagaimana dengan pernikahan
kita?” tanya Cakka lagi sepertinya belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Ashilla.
Ashilla menghela napas dan
terus berjalan. “Pernikahan kita
hanya hampir resmi secara agama.
Andaikan kita menyelesaikan
pemberkatan pernikahan dan
mengakhirinya dengan
penandatanganan surat
pernikahan…”
“Tapi itu juga tidak akan membuat
pernikahan kita resmi secara
hukum. Nama yang ada bukan
nama saya. Tak ada yang
mengetahui pernikahan itu selain
kita, Alvin serta Ify. Saya yakin
hanya Alvin yang tahu saya adalah
Chilla.”
“Apa kau mencintaiku?” tanya Cakka tiba-tiba.
Seketika Ashila berhenti dan menatap Cakka lekat-lekat setelah mendengar pertanyaan yang membuat diriny kaget.
Cakka tidak tahu bagaimana kata-kata itu yang terucap. Ia sendiri juga terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu.
“Saat ini yang paling saya cintai
adalah rakyat.” Ashilla
melangkahkan kakinya.
Cakka segera mengikuti langkah Ashilla. “Kalau aku menjadi Raja,
bagaimana denganmu?”
“Saya rasa kita telah membicarakan hal itu,” jawab Ashilla.
“Bagaimana dengan rakyat?”
“Rakyat mencintai Anda. Mereka
pasti senang bila Anda yang memerintah mereka. Saya telah
membuka jalan bagi Anda untuk
memulai pemerintahan. Anda tidak perlu mencemaskan apa pun.” jawab Ashilla berusa tenang.
“Kau telah membuka jalan tetapi apa yang aku lakukan akan sama dengan yang kau rencanakan?” tanya Cakka lagi.
“Para Menteri akan membantu
Anda. Mereka tahu apa yang saya
inginkan. Mereka telah bersumpah
pada saya akan terus memberikan
yang terbaik bagi Vandella.”
Cakka terdiam.
Semua telah diatur oleh Ashilla
sedemikian rapi hingga tidak
mungkin dibatalkan lagi. Ashilla
telah memperhitungkan segalanya. Segala kekurangan rencananya telah ditutupnya dengan rapat hingga tak ada yang bisa merusaknya.
Ashilla berhenti dan membuka
pintu.
“Selamat malam, Pangeran.”
Cakka kebingungan.
“Ini kamar Anda, Pangeran.” Ashilla mengingatkan dengan
tersenyum geli.
“Semoga Anda bisa tidur dengan
nyenyak.” Ashilla berbalik dan
melangkah pergi.
“Ashilla!” Seru Cakka tiba-tiba dan menarik tangan gadis itu. Cakka menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Tindakannya itu membuat Ashilla cemas. Ia takut api lilin yang ada ditangannya mengenai baju Cakka.
Lalu Cakka melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Ashilla. Ia tidak akan menemukan wajah secantik dan semanis ini di manapun. Dengan lembut, ia mencium bibir Ashilla, bukan hanya menempelkan bibirnya tapi Cakka sedikit melumat bibir manis itu yang menjadi candu baginya, kemudian menghilang dibalik pintu tanpa berbicara apapun.
Ashilla terpaku.
Jantungnya berdebar sangat
kencang. Seluruh darah ditubuhnya seperti menggelegar.
Wajahnya terasa panas.
Ashilla merasa seperti demam.
Berminggu-minggu ia merindukan
kehangatan dan rasa aman di
dalam pelukan Cakka. Tetapi, ia
tidak berani memimpikannya.
Ashilla tahu jika Cakka memeluk
atau menciumnya, ia akan semakin
sukar meninggalkan pria itu.
Sedangkan demi rakyat Vandella, ia harus menjauh dari Cakka.
Ashilla tahu apa yang harus segera dilakukannya. Ia akan meminta Gabriel untuk membantunya.
Hari-hari berikutnya akan menjadi
saat yang paling sulit bagi Ashilla.
*******************************
aaaaaaaaa akhirnya Cakka ketemu sama Ashilla juga hihihii :D noh yang kangen sama cakshill di part ini mereka bertemu.
gimana gimana??? udah puas belom?? :) kalau belom ditungguin terus yaa :D *modus*