Kamis, 30 Oktober 2014

Anugerah Bidadari (versi IC) - Chapter 11

“Aku bosan, Cakka. Tidak bisakah
kau membiarkan aku membacanya
dengan tenang?” gerutu Alvin.“Setiap kali aku membaca koran,
kau selalu memulai ejekan-
ejekanmu itu. Kalau kau cemburu pada Ratu Ashilla, katakan saja. Kita harus mengakui sekarang ia lebih terkenal daripada kau.”

“Aku tidak akan cemburu padanya!” sangkal Cakka.

“Terserah kau sajalah.” Alvin tidak
peduli.

Keadaan telah berubah banyak
dalam hari-hari terakhir ini di
seluruh wilayah Vandella juga pada
diri Alvin dan Cakka.

Kalau dulu Cakka yang bosan
mendengar Alvin memuji Ashilla,
dan sekarang Alvin lah yang bosan
mendengar hinaan-hinaan Cakka yang dituju untuk Ashilla.

Keputusan-keputusan Ashilla untuk terus memperbaiki keadaan rakyat dan membuat rakyat mulai mempercayai serta mencintainya. Tetapi, kecurigaan Cakka tidak juga berkurang.

Alvin tidak tahu apa yang membuat pria itu sekeras ini. Biasanya, Cakka lah yang paling mudah berubah mengikuti keadaan. Sekarang ia tegar seperti batu dengan keputusannya.

“Kalau cinta sudah ditipu, beginilah akibatnya.” kata Alvin
pada dirinya sendiri dan terus dengan kegiatan membacanya.

Dalam pekan-pekan terakhir sejak
Ashilla memulai pemerintahan nya, koran-koran.terus menyoroti dirinya. Koran-koran tanpa ragu untuk mengupas semua tindakannya yang selalu mengejutkan rakyat.

Tidak ada lagi yang menyamakan
Ashilla dengan ayahnya. Semua
tahu bahwa Ashilla berbeda dengan ayahnya. Ia setegas ayahnya tetapi selembut bidadari.

Kedudukannya yang tinggi serta
paras wajahnya yang cantik dan
didukung dengan usianya yang masih muda, membuat para bangsawan pria berlomba-lomba untuk mendekatinya.

“Sebaiknya kau harus berhenti
membencinya atau kau akan
kehilangan dia selama-lamanya,
Cakka. Ketika aku pergi ke
Thamasha, aku mendengar orang-
orang berkata, ‘Ratu adalah gadis
yang sangat menarik. Andai dia
bukan seorang Ratu, aku pasti
melamarnya.’ Kau akan sangat
menyesal bila itu terjadi. Apalagi
bukan hanya rakyat Vandella yang
mengatakannya.” kata Alvin mengingatkan.

“Aku tidak akan menyesali
pernikahannya!” kata Cakka tegas.

“Sungguh?”

“Aku berbicara dengan seluruh
kemantapanku.” kata Cakka lagi.

“Aku lega mendengarnya. Aku juga
tertarik padanya. Sekarang aku
tidak perlu mengkhawatirkan apa-
apa untuk menikahinya.” jawab Alvin enteng.

“Kenapa harus khawatir?”

“Kau hampir saja menikahinya.” kata Alvin pasrah. Tiba-tiba Alvin itu melonjak kaget mengingat hal itu. “Kalau pernikahanmu tidak diganggu, kau telah menikah dengan Ratu! Dan, kau sekarang telah menjadi Raja Vandella!”

“Aku beruntung tidak menikahi
setan cilik itu!!” sahut Cakka dingin.

Alvin hanya bisa mengangkat bahunya. “Terserah padamu, tapi jangan marah kalau aku menikahinya.”

“Aku turut bahagia karenanya.”
kata Cakka dingin.

Alvin mengacuhkannya dan kembali berkutat dengan kegiatan membaca korannya. Setiap kali ia menemukan berita yang menarik, ia selalu berseru..

“Lihat ini!”

Dan Cakka hanya menyahutinya dengan seribu macam hinaan.

Sejak ditinggalkan Ashilla, keadaan di Lasdorf banyak berubah seperti keadaan Vandella
umumnya.

Berkat peninggalan Ashilla, kehidupan rakyat Lasdorf mengalami perubahan lebih makmur. Terlihat dengan semakin
besarnya penghasilan rakyat dalam
satu hari. Serta membaca bukan lagi hambatan bagi mereka.

Dengan berubahnya sistem
pemerintahan Vandella, untuk
sementara waktu Cakka hanya
menyibukkan diri dengan
melakukan apa yang harus
dilakukannya sejak dulu dan sudah
dimulai oleh Ashilla.

Cakka kini menjadi guru bagi rakyatnya. Setiap hari ia
meluangkan waktunya untuk mereka disamping mengolok Ashilla dihadapan Fred.

Sering kali Alvin berpikir apakah rakyat Lasdorf akan menyetujui sikap Cakka jika mereka tahu bahwa Ratu Ashilla adalah Cilla. Tetapi, berulang kali ia berpikir itu tidak mungkin terjadi. Karena Cakka takkan membiarkan rakyatnya tahu siapa Ratu mereka.

“Pangeran! Pangeran!”

Cakka langsung berdiri ketika mendengar seruan panik itu dan menuju jendela. Ia melihat ke bawah dengan perasaan cemas.

Seseorang berlari menuju
bangunan tempat Cakka berada dan beberapa meter di belakangnya ada seseorang yang duduk diatas kuda dan digiring mendekat oleh pasukannya.

Cakka segera menemui mereka.

“Pangeran!”

“Apa yang terjadi, Gilang?”

“Ada utusan dari Ratu Ashilla!” kata
Gilanh setengah tak percaya, “Ia
datang membawa bendera
perdamaian.”

Cakka melihat pria tua diatas
kuda yang dalam keadaan terikat.
Tangannya menggenggam bendera
putih, tanda menyerah itu.

“Hamba diutus oleh Yang Mulia Ratu Ashilla untuk menemui Anda, Pangeran.” ucap Gabriel menjelaskan kedatangannya ke Lasdorf.

Cakka mendengus puas. Akhirnya gadis itu akan melakukan sesuatu
terhadapnya. Dan ia ingin tahu
rencana licik apa yang sedang
direncanakan setan cilik itu.

“Bawa dia masuk!!” perintah Cakka.

“Tapi Pangeran!”seru Gilang cemas.

“Jangan khawatir.. Aku bisa menanganinya sendiri.” kata Cakka tegas.

Orang-orang yang mengawal Gabriel segera menurunkan pria itu dari atas kuda dan membawanya keruang utama.

“Tinggalkan kami berdua!” perintah Cakka pada prajuritnya.

“Baik, Pangeran.”

Sepeninggal mereka, Cakka
melepaskan ikatan Gabriel.

“Terimakasih, Pangeran.” kata Gabriel setelah tali itu lepas dari tubuhnya.

“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Cakka to the point.

Gabriel tidak terkejut menerima
sambutan dingin itu. Ashilla telah memperingatinya sebelum
melepas kepergiannya menemui Cakka.

“Ratu ingin mengundang Anda
untuk datang ke Istana Azzereath
untuk berdamai.”

Melihat pandangan Cakka tetap
sinis, Gabriel tetap melanjutkan perkataannya, “Ratu sangat menyesal tidak dapat datang sendiri kesini. Karena banyak hal
yang harus diselesaikannya. Hari
ini beliau membuka sidang untuk
Riko.”

“Riko?” tanya Cakka dengan mengangkat alisnya satu.

“Ratu sangat luar biasa! Dalam
waktu singkat, ia tahu Riko telah mencuri uang rakyat. Perhitungan Ratu sendiri dengan perhitungan para ahli keuangan tidak jauh berbeda. Hari ini Ratu menggelar persidangannya bersama para Menteri.”

Cakka memandang Gabriel dengan sinis.

“Khusus hamba, hamba mendapatkan tugas untuk menjemput Anda. Ratu berkata sayalah wakilnya yang paling tinggi didalam Kerajaan Vandella. Ratu sangat menghormati Anda namun ia tidak bisa menemui Anda sendiri.”

“Sebenarnya apa yang
direncanakan oleh Ratumu itu? Ingin menarik perhatian rakyat dengan menghukum menteri kesayangan ayahnya?” tanya Cakka dengan nada sarat penuh kesinisan.

Gabriel menghela nafas. Ashilla juga telah memperingatinya
tentang pandangan sinis Cakka
terhadapnya.

“Ratu berencana untuk mengubah
kerajaan ini. Ia ingin membuang
semua peninggalan ayahnya dan
menggantinya dengan yang baik.
Termasuk memperbaiki hubungan
pemerintah dengan Anda.” ucap Gabriel berusaha tidak ikut terpancing.

“Katakan padanya aku menolak!!”

“Ratu telah menduganya.” kata
Gabriel.

Cakka membuang muka dengan
angkuh.

“Ia tidak memaksa Anda bila Anda
menolak..” kata Gabriel jujur. “Tetapi, saya memohon Anda sudi
datang ke Azzereath.”

“Anjing yang setia.” ejek Cakka.

Gabriel bersikap seperti tidak
mendengarnya.

“Saya minta maaf atas kejadian
beberapa bulan lalu. Ratu tidak
memerintahkan kami untuk
menyerang tempat ini. Bahkan Ratu tidak tahu penyerangan itu. Ratu hanya memerintahkan kami untuk.bertahan di Thamasha sampai beliau datang. Sayalah yang
memerintahkannya. Saya juga yang melakukan itu karena saya
menghawatirkan keselamatan Ratu. Ratu tidak berniat untuk
memperpanjang permusuhan dengan Anda.” jelas Gabriel.

Cakka tetap tidak menanggapi.

“Saya mohon, Pangeran. Ratu bisa
jatuh sakit bila ia memaksakan diri
untuk datang ke Lasdorf. Saat ini ia
sangat kelelahan karena setiap saat ia terus bekerja tanpa mau berhenti. Tidak seorangpun yang bisa menghentikannya.” ucap Gabriel dengan wajah memohon.

“Kau pikir aku bisa?”

“Saya tahu Anda juga tidak bisa, Pangeran.” Gabriel mengakui, “Tapi dengan Anda sudi untuk datang ke Azzereath, kami sangat
berterimakasih.”

“Sebagai gadis yang dibesarkan di
desa miskin, Ratu tahu bagaimana
kesulitan rakyat Vandella. Ia
berkeinginan untuk memperbaiki
semua itu. Dalam diri Ratu
terdapat sifat keras Raja Sion. Ia
selalu berkata, ‘Aku tidak akan
berhenti sebelum semuanya
selesai. Banyak yang harus
dilakukan.’ Ratu ingin segera
menyelesaikan segalanya dan tanpa ia sadari, ia telah merusak
tubuhnya sendiri. Ratu masih terlalu muda untuk mengerti hal itu.” kata Gabriel masih berusaha membujuk Cakka untuk datang ke Istana.

“Kami semua mengkhawatirkan
kesehatan Ratu bila ia harus
menempuh perjalanan panjang ini.
Ratu tidak ingin memaksa Anda
untuk datang ke Azzereath tapi
kami memohon pada Anda. Tak
seorang pun di Azzereath yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ratu tiba-tiba sakit. Saat ini adalah masa paling sulit dan Ratu sangat dibutuhkan di Vandella.” lanjut Gabriel.

“Betapa setianya kalian pada keturunan serigala itu!!” ejek Cakka.

Gabriel sama sekali tidak merasa tersinggung mendengar kata-kata sinis itu.

“Ratu Ashilla lebih menyerupai
ibunya daripada ayahnya. Anda
mungkin tidak percaya, tetapi ini
benar. Ratu Ashilla sangat
membenci ayahnya. Bahkan Ia tidak mau.memerintah Vandella yang merupakan warisan dari ayahnya. Tapi, ia tetap melakukannya hanya demi rakyat
Vandella. Kami tahu Ratu mencintai rakyat dan kami pun juga sama, mencintai Ratu kami.”

Cakka diam membisu.

Gabriel putus asa melihat pandangan angkuh pria itu.

"Yang Mulia Ratu benar, pangeran tidak bisa dipaksa begitu saja.” pikirnya sedih.

“Aku ikut!!” Cakka pada akhirnya
memutuskan, “Aku ingin tahu apa
yang akan direncanakan oleh setan cilik itu terhadapku.”

                   -----0-----

“Menteri Dalam Negeri sudah tiba,
Yang Mulia.” ucap sang prajurit pada Ashilla.

“Bawa dia menghadapku.” jawab Ashilla.

Prajurit itu kembali keluar. Tetapi,
Ashilla terus memandang
halaman Istana.

Akhir-akhir ini di Istana menjadi
semakin ramai karena kehadiran
para tunawisma itu. Setiap hari
selalu ada yang pulang dan pergi.
Yang menginap di Hall pun tidak
sedikit.

Mereka senang tinggal di Istana.
Orang-orang Istana pun selalu
menerima mereka dengan ramah.
Segala kebutuhan mereka tersedia
disini.

Ashilla telah membuat Istana Azzereath yang selama ini ditakuti,
menjadi tempat yang paling
menyenangkan untuk ditinggali.
Sebagai Ratupun, ia bertindak
sebagai tuan rumah yang ramah.

Halaman Istana kini tidak hanya
indah tetapi juga menawan dengan
banyaknya anak-anak yang bermain disana. Orang-orang pun dengan bebas bersenda gurau di halaman Istana.

Dulu Istana Azzereath yang terkenal dingin kini menjadi Istana yang selau ceria. Canda tawa kini selalu menghiasi kehidupan di Istana.

“Hamba datang menghadap, Yang Mulia.” kata Gabriel seraya
membungkuk, “Saya telah menjemput Pangeran Cakka sesuai dengan keinginan Anda. Saya mengaku bersalah, Yang Mulia, karena saya tidak berhasil
membujuk Pangeran untuk
beristirahat sebelum menemui
Anda.”

“Tidak apa-apa, Gabriel. Sekarang
kau bisa meninggalkan kami
berdua.”

Ashilla tetap tidak bergerak setelah kepergian Gabriel.Matanya terus menatap ke halaman Istana.

Cakka pun melakukan hal yang sama yaitu berdiam diri seraya memandangi rambut Ashilla. Rambut itu kini tampak lebih
bersinar keemasan. Rambut emas
itu tergerai menutupi pinggang
Ashilla yang kecil. Tubuhnya yang terbungkus gaun ungu cerah tampak ramping.

Gadis itu terus memandang ke
depan dengan menyilangkan
tangan di depan dadanya. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkannya.

Ashilla tahu sebelum menghadapi Cakka, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Pembicaraannya dengan Cakka takkan semudah rapat dengan para Menteri. Mengingat kejadian-kejadian di masa lalu,pembicaraan ini akan menjadi
semakin sulit.

Ashilla menguatkan dirinya sebelum akhirnya ia menatap
Cakka. Ashilla senang bisa bertemu dengan orang yang selalu
dipikirkannya itu. Tapi, ia
membuang jauh-jauh perasaan
rindunya itu.

“Terimakasih Anda sudi untuk datang ke tempat ini. Dalam kesempatan ini pula saya minta maaf karena telah.menipu Anda dan rakyat Lasdorf.” kata Ashilla sopan.

“Katakan apa yang sebenarnya
kau rencanakan?” balas Cakka
tajam.

“Saya berencana mengajak Anda
berdamai.” jawab Ashilla tenang.

“Berdamai??” cemooh Cakka.

“Saya tahu Anda tidak akan
mempercayainya tapi saya ingin
Anda tahu saya ingin memperbaiki
kehidupan rakyat Vandella. Untuk
itu, saya mempunyai dua tawaran
untuk Anda.” ucap Ashilla tanpa memperdulikan cemoohan yang terlontar dari mulut Cakka.

“Tawaran berdamai?”

Ashilla mengacuhkan kata-kata
yang penuh ejekan itu. “Anda
ingin meneruskan pernikahan kita
atau tidak?”

Cakka terdiam mendengar tawaran
yang tidak diduganya itu.

Ashilla sedih melihat raut wajah
dingin Cakka. Gadis itu segera
memunggungi Cakka untuk mencegah pria itu melihat
kesedihannya.

Ashilla menutup matanya ketika
berkata, “Semua telah diputuskan.”

Tanpa bertanya pada Cakka pun,
Ashilla sudah mengetahui jawaban yang keluar dari mulut Cakka. Cakka membenci ayahnya dan takkan sudi untuk menikah dengannya.

Kali ini Ashilla menatap Cakka dengan tenang.

“Tinggallah disini untuk beberapa
hari sampai semuanya selesai.
Sebelum Anda menduduki tahta,
saya akan merapikan Istana ini.
Saat ini Castil Quarlt'arth sedang
ditata ulang untuk tempat
penampungan para tunawisma.
Sebelum akhir minggu ini segala
kegiatan di Hall akan dipindahkan
kesana.” jelas Ashilla.

“Castil Quarlt'arth?” tanya Cakka
tak percaya.

Ashilla tidak ingin menjelaskan
banyak tentang rencananya dengan
kastil peristirahatan ayahnya yang
megah.

“Semuanya akan beres sebelum
penobatan Anda.”

Ashilla menepuk tangannya dua
kali lalu prajurit yang menjaga
pintu pun masuk.

“Tolong antarkan Pangeran Cakka
ke kamarnya.” kata Ashilla pada sang prajurit.

“Baik, Yang Mulia.” kata prajurit itu
lalu pada Cakka ia berkata, “Mari,
Pangeran.”

“Silahkan beristirahat. Anda pasti
lelah setelah menempuh
perjalanan jauh.” kata Ashilla
sebelum membalikkan badan.

Cakka melihat punggung Ashilla
dan pergi meninggalkan ruangan
itu.

Tidak banyak yang mereka
bicarakan. Mereka lebih banyak
bersikap seperti dua orang asing.

Cakka tak menduga semua kata-
kata Ashilla. Gadis itu benar-benar berbeda dengan gadis yang di Lasdorf dulu.

Ashilla kini lebih cantik dan juga
lebih anggun serta berwibawa. Ia
bukan lagi gadis yang selalu
mengajaknya bertengkar.

“Saya sangat senang dapat bertemu Anda, Pangeran. Saya
tidak pernah menyangka akan
bertemu Anda di Istana ini. Sudah
sejak dulu saya ingin bertemu
Anda.” ucap sang prajurit menyela lamunan Cakka tentang Ashilla.

“Apa aku setenar itu?” tanya Cakka dingin.

“Benar, Pangeran. Yang Mulia Ratu
sendiri sering mengatakan kekagumannya pada Anda. Ia merasa bangga bahwa Vandella mempunyai pahlawan seberani Anda.” jawab sang prajurit.

Cakka tidak mempercayai apa yang
didengarnya.

“Yang Mulia Ratu mengatakan ingin
mengajak Anda bekerja sama untuk membangun kembali Vandella. Beliau yakin Anda pasti tahu.segala hal yang baik untuk
Vandella. Tapi, kami berkata Ratu
juga pantas memimpin Vandella.
Anda berdua pantas untuk
menjadi pemimpin Vandella.”
Prajurit itu tiba-tiba menutup
mulutnya. “Maafkan saya,
Pangeran. Akhir-akhir ini kami
semua terbiasa bersikap terbuka.”

“Yang Mulia Ratu yang menyuruh kami untuk bersikap jujur. Ia selalu berkata kesopanan kami padanya hanya untuk menunjukkan hormat kami padanya. Dan, ia tidak berhak
mengurung kebebasan kami dalam
bentuk apa pun. Ratu selalu
menekankan hal itu pada kami. Ia
tidak ingin terlalu disanjung tetapi
kami selalu memujanya. Karena itu, disini kami bisa akrab dengan
Ratu dan pada saat yang.bersamaan kami juga menghormatinya.”

“Banyak yang dilakukan Ratu untuk
mengakrabkan diri dengan kami
semua. Setiap hari Ratu bekerja
tanpa henti terutama pada hari-
hari pertama dulu. Setelah Ratu
membuka Istana untuk umum,
setiap hari Minggu Ratu
menghentikan semua kegiatan di
Istana. Setiap hari Minggu kami juga mengadakan pesta sederhana di halaman. Saat itu Ratu tidak
menginginkan penghormatan
padanya dalam bentuk apapun.
Saat itu Ratu ingin dianggap
sebagai rakyat biasa.”

“Saya berharap Anda tinggal di sini
sampai hari Minggu. Kami akan
senang sekali bila Anda mau. Kami
semua selalu berharap dapat
bertemu Anda.” jelas sang prajurit panjang lebar.

Cakka tidak menanggapi.

Prajurit itu berhenti di sebuah
pintu dan membukanya. “Inilah
kamar Anda, Pangeran. Kamar
teman Anda tepat di sebelah
kamar ini. Selamat beristirahat,
Pangeran. Yang Mulia Ratu ingin Anda menganggap Istana sebagai rumah Anda sendiri.”

Prajurit itu membungkuk lalu pergi.

Cakka memasuki kamarnya dengan
enggan. Banyak hal yang menghantui pikirannya. Ia tidak ingin menemui Alvin seperti janjinya sebelum menemui Ashilla. Saat ini ia ingin menyendiri.

Cakka tidak heran Alvin tidak
mencarinya. Ia yakin pria itu
sedang tidur nyenyak di
sebelahnya. Sesaat setelah kereta
mereka memenuhi Istana, ia sudah menguap lebar-lebar.

Ashilla benar-benar berbeda.
Tapi gadis itu masih tetap penuh
misteri. Seperti dulu, di mata
birunya yang cerah, tersimpan
banyak rencana. Entah apa yang
direncanakannya kali ini tapi Cakka tetap akan mewaspadai
gadis itu.

Mungkin sekarang ia tidak
menunjukkannya, tapi Cakka yakin
suatu saat nanti gadis itu akan
menunjukkannya. Suatu saat nanti
pasti Ashilla akan menunjukkannya.

Teringat kembali akan Ashilla,
Cakka mengutuki dirinya. Ia tidak
dapat memungkiri keinginannya
untuk menarik gadis itu ke
pelukannya dan menciumnya
sampai ia puas. Cakka benci. Ia
masih merindukan gadis serigala
itu sedangkan itu adalah hal yang
paling ingin dibunuhnya.

Cakka mengutuki Ashilla karena yang menimbulkan kesan dingin di
antara mereka. Kalau gadis itu
menebarkan sikap permusuhannya, ia takkan seperti ini. Perasaannya tidak akan kacau oleh keinginan untuk menghancurkan sikap dingin dan menjaga jarak itu.

Rencana apa yang akan disusun oleh Ashilla untuknya? Apapun itu, ia tidak akan berhasil. Kalau Ashilla
mengira ia dapat memperalat
dirinya, ia salah. Terutama kalau ia
ingin mengangkatnya sebagai Raja
untuk menarik perhatian rakyat.

Timbul kembali keinginan Cakka
untuk mencekik gadis yang telah
menipunya itu.

Pada pertemuan mereka yang baru saja berlalu, Cakka telah melupakan keinginannya karena sikap Ashilla yang tidak diduganya.
Pada pertemuan kedua mereka,
Cakka yakin ia harus mengendalikan diri agar tidak
mencekik leher cantik itu.

Dan, saat itu juga Ashilla harus
berhati-hati padanya.

****

Sore hari seorang pelayan datang
menemui Cakka.

“Yang Mulia Ratu ingin Anda hadir
dalam pertemuan di Ruang Hijau.”
kata sang prajurit.

“Pertemuan apa?” tanya Cakka heran.

“Pertemuan dengan masyarakat.” jawab sang prajurit.

Cakka keheranan.

“Setiap sore selama satu jam,
Yang Mulia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan masyarakat. Dalam jamuan minum teh itu, Yang Mulia
mendengarkan masalah-masalah
rakyat. Banyak yang datang dari
jauh untuk mengeluh pada Yang Mulia Ratu. Sekarangpun Yang Mulia Ratu sudah berada di antara mereka.”

Pelayan pria itu membantu Cakka untuk mempersiapkan dirinya lalu
mengantarnya ke Ruang Hijau.

Ketika Cakka tiba disana, Ashilla sedang duduk di sebuah kursi tinggi sambil memangku kedua tangannya. Ia tampak sangat
cantik dengan senyum manis yang
tersungging di wajahnya yang
ceria. Rambutnya yang digelung
tinggi, membuat gadis itu tampak
lebih dewasa.

Cakka jengkel ketika ia menyadari
tidak ada gadis yang lebih anggun
daripada Ashilla saat ini.

Padahal gaun yang dikenakannya sangat sederhana. Gadis itu juga tidak mengenakan hiasan rambut.
Ashilla seperti ingin menyesuaikan diri dengan tamu-
tamunya.

Sikap ramah dan terbuka Ashilla lah yang.membuat suasana di dalam ruangan itu terasa hangat. Tidak ada kesan antara rakyat yang sedang menghadap Ratunya.Yang terkesan hanyalah suasana yang hangat yang penuh dengan kekeluargaan.

Sebagai tuan rumah, Ashilla sangatlah ramah. Tanpa mempedulikan kedudukannya, ia
mau melayani tamu-tamunya.

“Pangeran Cakak sudah datang, Yang Mulia.” ucap sang prajurit tiba-tiba.

Semua orang menoleh pada Cakka.

Ashilla tersenyum dan berkata,
“Selamat datang, Pangeran. Kami
tengah membicarakan Anda. Mari,
silahkan duduk.”

Ashilla berdiri dan memberi
tempat untuk Cakka. Ashilla
merasakan pandangan dingin
Cakka ketika ia menuangkan teh
untuknya.

“Silahkan duduk disini, Yang Mulia”
Mereka yang duduk di kursi.panjang saling berdempetan untuk
memberi Ashilla tempat duduk.

“Terima kasih.” ucap Ashilla tulus

Ashilla baru saja duduk berdesak-desakan ketika orang-orang itu mulai berbicara dengan Cakka.

Dalam pertemuan kali ini Ashilla
hanya menjadi pendengar. Ia tidak
mengatapan apa-apa tetapi
menyimpan banyak hal dalam
pikirannya.

Dalam hatinya, Ashilla tersenyum bahagia. Ia bahagia atas keputusannya yang baginya paling
baik.

Cakka tidak menyadari bahwa kursi yang sekarang didudukinya adalah kursi untuk Raja Vandella. Ashilla tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu bila ia mengetahuinya. Yang Ashilla ketahui saat ini adalah keputusannya tepat.

Dengan penuh perhatian Cakka
mendengarkan kata-kata rakyat dan menanggapinya dengan bijaksana. Pria itu selalu tahu apa yang harus dikatakannya atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

Ashilla tidak mau terlalu memperhatikan Cakka. Ia tidak
mau Cakka berpikiran buruk
tentangnya. Ashilla ingin semuanya berlangsung dengan
baik tanpa ganjalan di hati pada
saatnya.

Apapun alasan Cakka dulu.memaksa menikah dengannya,
Ashilla tidak mau.mempedulikannya lagi.
Memikirkannya hanya membuat
hatinya terasa makin sakit.

Dulu Cakka ingin memanfaatkannya untuk
menggalang kekuatan melawan
ayahnya. Sekarang Ashilla senang. Tidak perlu ada perang untuk mengganti pemerintahan otoriter ayahnya.

Aneh!

Semua ini aneh!

Ketika berada di Lasdorf, Ashilla
merasa gila karena kebenciannya
yang mendalam pada Cakka. Kini
Ashilla merasa gila karena
cintanya yang mendalam pada Cakka.

Apa yang dikatakan orang-orang
memang benar. Batas antara benci
dan cinta tidak sampai setipis
kertas.

Tapi apa yang bisa dilakukan oleh
Ashilla terhadap perasannya itu?
Ashilla tahu sejak awal Cakka.ingin memanfaatkannya. Dan, setelah tahu ia adalah putri orang yang telah membunuh orang tuanya, ia takkan memaafkannya. Ashilla tahu bahwa Cakka membenci dirinya.

Kebencian yang dirasakan Cakka pada Ashilla berbeda dengan kebencian yang dirasakan oleh Ashilla pada Cakka. Ashilla.tahu pria itu benar-benar membencinya hingga terasa pada
seluruh cara dia ketika melihat dan berbicara dengannya.

Tidak ada gunanya mempertahankan permusuhan ini.

Tepat satu jam Ashilla berada di
Ruang Hijau, gadis itu lalu berdiri.

“Maafkan saya. Saya tidak bisa
menemani Anda lebih lama lagi. Jika kalian ingin, silahkan melanjutkan tanpa saya.” ucap Ashilla tiba-tiba.

Cakka mengawasi kepergian Ashilla tanpa berbicara apa-apa.

Dari pelayan yang melayaninya
tadi, Cakka tahu bahwa Ashilla selalu.l sibuk. Tiada hentinya ia berada di Ruang Kerja.

Di malam hari pun saat semua orang terlelap, Ashilla masih terjaga. Lewat tengah malam gadis itu baru akan beranjak dari meja kerjanya. Sebelum memasuki ruang tidurnya, Ashilla masih menyempatkan untuk mengelilingi Hall untuk memeriksa keadaan rakyatnya yang tidur disana.

Pelayan itu berkata, “Kami sering
menyebut Ratu sebagai Bidadari
Malam. Tiap malam Anda akan
melihat Ratu membawa lilin kecil
dan berkeliling Hall.”

Cakka tidak mengerti kenapa
malam ini ia tidak bisa tidur.
Pikirannya melayang-layang dan
matanya sukar tertutup.

Samar-samar Cakka mendengar
langkah-langkah ringan.

Cakka mencari mantel di lemari
dan pergi menuju Hall.

Di ujung lorong, Cakka melihat
Ashilla yang tengah menyelimuti
seseorang. Hampir tiap langkah,
gadis itu berhenti untuk
membenahi selimut banyak orang
itu.

Tanpa disadarinya, Cakka.tersenyum melihat pemandangan
itu.

Seorang Ratu yang kedudukannya
sangat tinggi dan penuh dengan
gemerlapan, turun tangan hanya untuk memberikan kasihnya pada rakyat.

Cakka terus berdiri di ujung
lorong sampai Ashilla menuju ke
arahnya.

“Anda belum tidur?” tanya
Ashilla keheranan.

“Aku tidak bisa tidur.” jawab Cakka, "Kenapa kau belum juga tidur?”

“Banyak yang harus saya selesaikan.”

“Sudah banyak yang kau selesaikan. Apa yang kurang?”

Ashillaa tersenyum.

“Rencanamu itu…” tanya Cakka setelah tidak mendengar jawaban dari Ashilla

“Kita telah sepakat dalam hal itu,”
potong Ashilla. “Saya akan
menyerahkan tahta pada Anda.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Cakka kurang setuju.

“Jangan mengkhawatirkan saya.
Masih banyak yang dapat saya
lakukan.”

“Bagaimana dengan pernikahan
kita?” tanya Cakka lagi sepertinya belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Ashilla.

Ashilla menghela napas dan
terus berjalan. “Pernikahan kita
hanya hampir resmi secara agama.
Andaikan kita menyelesaikan
pemberkatan pernikahan dan
mengakhirinya dengan
penandatanganan surat
pernikahan…”

“Tapi itu juga tidak akan membuat
pernikahan kita resmi secara
hukum. Nama yang ada bukan
nama saya. Tak ada yang
mengetahui pernikahan itu selain
kita, Alvin serta Ify. Saya yakin
hanya Alvin yang tahu saya adalah
Chilla.”

“Apa kau mencintaiku?” tanya Cakka tiba-tiba.

Seketika Ashila berhenti dan menatap Cakka lekat-lekat setelah mendengar pertanyaan yang membuat diriny kaget.

Cakka tidak tahu bagaimana kata-kata itu yang terucap. Ia sendiri juga terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu.

“Saat ini yang paling saya cintai
adalah rakyat.” Ashilla
melangkahkan kakinya.

Cakka segera mengikuti  langkah Ashilla. “Kalau aku menjadi Raja,
bagaimana denganmu?”

“Saya rasa kita telah membicarakan hal itu,” jawab Ashilla.

“Bagaimana dengan rakyat?”

“Rakyat mencintai Anda. Mereka
pasti senang bila Anda yang memerintah mereka. Saya telah
membuka jalan bagi Anda untuk
memulai pemerintahan. Anda tidak perlu mencemaskan apa pun.” jawab Ashilla berusa tenang.

“Kau telah membuka jalan tetapi apa yang aku lakukan akan sama dengan yang kau rencanakan?” tanya Cakka lagi.

“Para Menteri akan membantu
Anda. Mereka tahu apa yang saya
inginkan. Mereka telah bersumpah
pada saya akan terus memberikan
yang terbaik bagi Vandella.”

Cakka terdiam.

Semua telah diatur oleh Ashilla
sedemikian rapi hingga tidak
mungkin dibatalkan lagi. Ashilla
telah memperhitungkan segalanya. Segala kekurangan rencananya telah ditutupnya dengan rapat hingga tak ada yang bisa merusaknya.

Ashilla berhenti dan membuka
pintu.

“Selamat malam, Pangeran.”

Cakka kebingungan.

“Ini kamar Anda, Pangeran.” Ashilla mengingatkan dengan
tersenyum geli.

“Semoga Anda bisa tidur dengan
nyenyak.” Ashilla berbalik dan
melangkah pergi.

“Ashilla!” Seru Cakka tiba-tiba dan menarik tangan gadis itu. Cakka menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.

Tindakannya itu membuat Ashilla cemas. Ia takut api lilin yang ada ditangannya mengenai baju Cakka.

Lalu Cakka melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Ashilla. Ia tidak akan menemukan wajah secantik dan semanis ini di manapun. Dengan lembut, ia mencium bibir Ashilla, bukan hanya menempelkan bibirnya tapi Cakka sedikit melumat bibir manis itu yang menjadi candu baginya, kemudian menghilang dibalik pintu tanpa berbicara apapun.

Ashilla terpaku.

Jantungnya berdebar sangat
kencang. Seluruh darah ditubuhnya seperti menggelegar.
Wajahnya terasa panas.

Ashilla merasa seperti demam.
Berminggu-minggu ia merindukan
kehangatan dan rasa aman di
dalam pelukan Cakka. Tetapi, ia
tidak berani memimpikannya.

Ashilla tahu jika Cakka memeluk
atau menciumnya, ia akan semakin
sukar meninggalkan pria itu.
Sedangkan demi rakyat Vandella, ia harus menjauh dari Cakka.

Ashilla tahu apa yang harus segera dilakukannya. Ia akan meminta Gabriel untuk membantunya.

Hari-hari berikutnya akan menjadi
saat yang paling sulit bagi Ashilla.

*******************************

aaaaaaaaa akhirnya Cakka ketemu sama Ashilla juga hihihii :D noh yang kangen sama cakshill di part ini mereka bertemu.
gimana gimana??? udah puas belom?? :) kalau belom ditungguin terus yaa :D *modus*

Rabu, 01 Oktober 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 10

assalamualaikum... maaf bangett yaa karena ke-ngaret-an saya.. saya juga ngga tahu kenapa akhir2 ini malesss bangett buat buka blog ini hehe :)

udah lah ngga usah lama2 mariiii :D

*********************************************************************************

Dua hari setelah pengumuman
titah dari Ashilla, Hall Istana mulai
ramai. Bangsawan-bangsawan
mulai berdatangan untuk menyerahkan bantuan mereka.
Orang-orang kaya pun tak mau
ketinggalan.

Ashilla menyadari ini semua
berkat pemberitaan yang ada dikoran yang dengan gencar
mengabarkan bahwa dirinya telah
menyamar menjadi gadis desa
hanya untuk memberi bantuan pada rakyat dengan tangannya sendiri. Tapi sangat disayangkan, menurut Ashilla, koran-koran itu terlalu berlebihan dalam memujinya. Karena dalam koran tesebut dikatakan bahwa ia mau melupakan kedudukannya demi menyuapkan nasi pada orang tua yang lumpuh.

Walaupun begitu, Ashilla tetap mengucapkan terima kasih pada mereka. Berkat mereka penyebaran berita kegiatan amalnya menjadi lebih cepat.

Bantuan sudah banyak yang
terkumpul di Hall Istana. Para prajurit Vandella terus mengantarkan bantuan ke kota-kota di seluruh pelosok Vandella. Bahkan, penduduk Perenolde pun turut membantu nengantarkan bantuan ke daerah-daerah di luar Perenolde.

“Ratu Ashilla telah Menggerakkan Mega Bantuan untuk Rakyat Vandella.” Demikian judul disalah satu koran.

Sekali lagi Ashilla berhasil membuat gempar rakyatnya. Tak seorang pun dari rakyat Vandella yang akan menduga bahwa Ratu mereka yang keturunan langsung dari Raja Sion yang terkenal dengan sifat kejamnya itu, ternyata mempunyai sifat yang baik. Ratu telah menunjukkan sikap ketulusannya dengan membuang harga dirinya sebagai Ratu Vandella saat dirinya mengunjungi pemukiman penduduk miskin pada hari
pertama Ia menyalurkan bantuan.

Rakyat juga mengetahui bahwa Ratu mereka telah mengeluarkan mereka yang tak bersalah dari balik jeruji besi. Banyak diantara mereka yang keheranan ketika dirinya dibebaskan. Ketika mereka bertanya pada prajurit kerajaan apa yang terjadi, dan prajurit kerajaan menjelaskan bahwa Ratu Ashilla memerintahkan untuk membebaskan mereka yang tidak bersalah. Mereka yang tahu bahwa ini adalah keputusan yang keluar dari Ratu Ashilla, mereka sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan Ratu sebaik Ashilla pada mereka.

Dalam waktu kurang dari dua
minggu dalam pemerintahannya, Ashilla telah membuat rakyat beranggapan bahwa dirinya sebagai anugerah yang luar biasa.
Ia yang semula ditakuti kini menjadi pujaan tiap orang. Rakyat memuja dan menyanjungnya.

Walaupun begitu Ashilla tidak begitu memikirkannya. Kini yang ada dibenak Ashilla adalah kenapa dirinya tidak melihat adanya rakyat yang datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Tempat penerimaan bantuan sangatlah ramai, berbeda dengan tempat pengambilan bantuan. Tempat itu sangat sepi, tidak ada satupun rakyat yang datang.

“Apa mereka tidak berani untuk masuk?” tanya Ashilla heran.

“Benar, Yang Mulia. Nampaknya mereka takut Anda mempunyai rencana tertentu dibalik kegiatan ini. Apa perlu kami membujuk mereka?” ucap seorang prajurit.

“Jangan, tidak perlu!” Ashilla cepat-cepat mencegah. “Aku khawatir mereka semakin curiga bila kalian melakukan itu.”

“Apa yang harus kami perbuat,Yang Mulia?”

Ashilla terus mengawasi kerumunan orang-orang yang ada didepan gerbang Istana. Mereka sejak tadi hanya menggerombol disana. Tidak maju dan juga tidak mundur. Padahal jumlah mereka terus bertambah dengan seiring.berjalannya, tapi tidak ada keberanian dari mereka.

“Baiklah.. ” kata Ashilla tiba-tiba.
“Aku yang akan menanganinya
sendiri, kalian tinggal tunggu disini saja.”

“Jangan, Yang Mulia. Biar kami saja yang melakukannya.” cegah Deva.

“Percayakan padaku, Deva. Sekarang perintahkan prajurit untuk membuka gerbang belakang. Aku akan tiba disana dalam waktu lima menit.”

                  -----0-----

“Kenapa kalian hanya berkumpul disini? Kenapa tidak masuk kedalam?” tanya Ashilla pada salah satu orang yang ada digerombolan tersebut.

“Sebenarnya kami ingin masuk kesana, tapi kami tidak berani.” jawabnya.

“Ya, aku mengerti perasaan kalian.
Aku pun demikian ketika pertama
kali diundang oleh Ratu. Tapi ternyata disana aku disambut dengan baik oleh para prajurit yang menjaganya.”

“Tapi Anda lebih kaya dari kami, Nona.” seseorang dari mereka menyelentuk. “Yang Mulia Raja sangat membenci pada kami orang miskin, karena kami tidak pernah mampu membayar pajak yang ditentukan oleh Raja sendiri. Apalagi kini ada Puterinya yang menggantikan beliau. Siapa tahu ia
mengundang kami semua untuk
dibunuh?”

Ashilla tidak menanggapi ucapan itu. Ia malah berjalan menuju ke tempat ia tadi menyembunyikan bola. Disana, ia pura-pura tersandung bola itu.

“Bola sialan!” umpat Ashilla dengan wajah pura-pura kesal. “Siapa yang meletakannya disini?”

Beberapa anak yang mendengar
umpatan itu mulai mendekati Ashilla. Dalam hati Ashilla tersenyum senang melihatnya tapi ia tidak menunjukannya, ia masih tetap dengan wajah menahan amarah. Lalu Ashilla mengambil bola itu dan melemparkannya sekuat tenaga kearah gerbang masuk Istana seraya berkata. “Pergi jauh dan jangan kembali lagi !!”

Dalam hati Ashilla tersenyum senang karena rencananya berhasil. Anak-anak itu berlari mengejar bola yang terus menggelinding ke gerbang masuk Istana. Ashilla pura-pura terkejut
melihatnya.

“Gawat!” seru Ashilla pura-pura khawatir padahal dalam hatinya ia bersorak gembira.

“Lihatlah! Ini semua karena kesalahanmu. Apa yang harus kita lakukan kalau mereka dibunuh?” Orang-orang itu mulai menyalahkan Ashilla.

“Tenang..” kata Ashilla berusaha menenangkan mereka. “Aku yang akan menolong mereka, jika mereka akan dibunuh. Para prajurit itu patuh padaku.”

Ashilla mulai berjalan ke gerbang masuk Istana. Sementara itu orang-orang dibelakangnya mulai mengikutinya walau dari jarak
yang cukup jauh.

Bola itu terus menggelinding hingga memasuki halaman Istana. Anak-anak kecil itu terus mengejar tapi tiba-tiba mereka dihadang oleh para penjaga pintu gerbang. Langsung saja Orangtua dari mereka berteriak panik dibelakang Ashilla.

“Biarkan saja mereka masuk!” seru
Ashilla langsung.

Penjaga pintu gerbang itu pun mengijinkan mereka untuk masuk.

“Kenapa kau membiarkan mereka masuk?” Orang-orang itu menuntut Ashilla.

“Jangan khawatir, aku yakin mereka akan baik-baik saja.”

“Kalau terjadi sesuatu pada
mereka, kau harus bertanggung
jawab!” tuntut salah satu orangtua.

“Tentu saja!” jawab Ashilla tenang.

Saat itu pula anak-anak tadi muncul kehadapan mereka. Mereka kelihatan tampak senang. Mulut mereka pun penuh dengan berbagai macam makanan. Teman-teman mereka yang melihat hal itu langsung mendekati. Mereka bercakap-cakap lalu bersama-sama masuk ke Istana.

Para orangtua yang melihat itu langsung panik dan segera berlari mencegah anak mereka hingga tanpa sadar mereka juga telah memasuki Istana.

Ashilla masuk dengan wajah tersenyum. “Anak-anak saja berani memasuki Istana, kenapa kita tidak?”

Orang-orang itu terkejut saat
menyadari mereka telah berada di
halaman Istana. Mereka hendak
keluar tapi saat itu pula muncul
pelayan-pelayan Istana dari segala
penjuru.

“Jangan takut..” kata Ashilla lembut, “Aku akan melindungi
kalian. Aku akan menjamin keselamatan kalian.”

Ashilla tetap tersenyum lembut
ketika melihat wajah ketakutan mereka. Ia terus berjalan memasuki Istana.

“Selamat datang..” sambut penjaga
pintu sambil membuka pintu
utama lebar-lebar.

Orang-orang itu terheran-heran
melihat di Hall telah disiapkan
berbagai macam makanan yang
lezat-lezat.

Anak-anak yang tidak punya
kekhawatiran apa-apa langsung saja melesat ke meja makan dan menyantap semua makanan yang ada.

Sekelompok orang mendekati anak-anak itu dan mencegah mereka untuk tidak makan lebih banyak lagi. “Jangan dimakan! Siapa tahu ini beracun!” kata mereka.

Ashilla berjalan mendekati sebuah meja yang tersedia makanan dan mengambil sepotong biskuit. Lalu ia memakannya seraya berkata, “Ini
enak sekali. Tidak mungkin ada
racunnya.”

Melihat itu, beberapa orang mulai terpengaruh akan tindakan Ashilla. Mereka mulai mengambil makanan walau dengan takut-takut. Melihat teman-teman mereka makan dengan lahap, yang
lain ikut menyusul. Orang-orang miskin yang selalu kelaparan itu
melupakan segalanya. Saat itu
yang penting bagi mereka adalah
mengisi perut mereka yang
berbunyi.

Makanan terus berpindah dengan
cepat, tapi yang ada dihadapan
mereka tidak kunjung habis.

Pelayan-pelayan Istana terus
membawakan makanan dan
sesekali berkata sopan. “Silahkan
dimakan.”

Ashilla senang melihat pemandangan yang ada di depannya. Akhirnya para fakir miskin itu dapat mengenyangkan perut mereka.

“Anda tidak makan, Nona?”

“Tidak, Tuan. Silahkan Anda
melanjutkan makannya, saya sudah kenyang. Ini semua disiapkan khusus untuk kalian.”

“Tidak apa-apa, Nona. Makanan ini
masih banyak. Ia terus mengalir
seperti sungai.” celetuk yang lain.

“Sungai yang nikmat dan
mengenyangkan.” timpal yang lain.

Ashilla tersenyum mendengar celetukan-celetukan itu.

“Yang Mulia!”

“Ada apa, Deva?”

“Para menteri sudah tiba, Yang Mulia.” ucap Deva.

“Baiklah, aku mengerti. Tolong
temani para tamu kita sementara
aku menemui mereka.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva.

“Maafkan saya, saudara-saudara.
Saya tidak bisa menemani kalian
lebih lama lagi. Ada yang harus
saya lakukan.” ucap Ashilla seraya tersenyum minta maaf.

Orang-orang itu menatap Ashilla
lekat-lekat.

Ashilla tersenyum dan sambil
mengangguk kecil, ia berlalu meninggalkan Hall.

“D… dia…”

“Gadis itu Ratu Ashilla.” ucap Deva enteng.

“Ap..apaa!! Aku tidak percaya!!”

“Ratu sendiri yang mengajak kita untuk masuk! Aku tidak percaya!”

“Aku merasa bersalah telah
mencurigainya.”

“Ia sama sekali tidak marah sudah
kita tuduh seperti itu. Itu artinya
ia benar-benar bermaksud baik.”

Seketika suasana Hall menjadi ramai dengan celotehan-celotehan mereka.

Deva tersenyum geli mendengar
apa yang dibicarakan mereka.

“Memang tak seorang pun yang
menduga bahwa ia adalah Ratu.”
gumamnya.

Bukan karena Ashilla yang tidak pantas untuk menjadi Ratu, orang-orang sukar mengenalinya sebagai Ratu. Ashilla mewarisi ketegasan dan wibawa ayahnya. Tetapi, ia juga mewarisi sifat lembut dari sang ibunya. Sifat lembut itu lebih nampak pada dirinya dan dengan raut wajahnya yang masih sangat muda, semua orang mengira ia adalah gadis cantik yang lembut seperti seorang bidadari.

Kedudukannya di Kerajaan Vandella ini sangat tinggi. Ia adalah
pemimpin dari kerajaan ini dan
demi dia, semua orang mau
melakukan apa saja. Kepadanya
semua nasib rakyat ini terletak.

Tetapi, tingkahnya tidak
menunjukkan kedudukannya. Ia
lebih banyak berkelakuan seperti
gadis pada seusianya yang selalu
gembira. Di balik itu semua, Ashilla menyimpan kekuatan
yang luar biasa.

Kekuatan menentukan yang baik
dan yang salah.

Kekuatan mengambil keputusan
yang tepat.

Kekuatan memberi perintah.

Kekuatan bertindak tegas.

Kekuatan yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang Ratu yang tegas dan penuh wibawa serta bijaksana.

Kekuatan itulah yang selalu dia
tampakkan saat memberi titah
pada orang lain.

Kekuatan itu pula yang membuat
semua orang mau memberi lebih
dari yang diminta gadis itu.

***

“Selamat pagi, Tuan-tuan.” kata
Ashilla sambil tersenyum ramah,
“Maaf saya membuat Anda semua menunggu.”

Menteri-menteri itu pun berdiri.
“Selamat pagi Yang Mulia Ratu Ashilla.” balas mereka.

Ashilla duduk di kursinya dan berkata,

“Aku senang kalian bisa menyelesaikan tugas yang
kuberikan dua minggu lebih cepat
dari waktu yang kuberikan. Hari ini
aku meminta kalian datang untuk
melaporkan hasil kerja kalian dan
untuk membicarakan beberapa
hal."

“Agar segalanya lebih cepat, aku
meminta kalian menyerahkan
laporan kalian padaku sekarang
juga. Tidak perlu berdiri, berikan
saja pada orang disamping kalian.”

Dalam waktu singkat berkas-berkas laporan itu berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga tiba di tangan Ashilla.

Ashilla menumpuk laporan- laporan yang masing-masing
tebalnya hampir tiga sentimeter
itu. Kemudian ia berkata,

“Aku akan mempelajari laporan-
laporan ini sebelum.membicarakannya dengan kalian.
Sekarang yang akan kita bicarakan
adalah keputusan-keputusan yang
telah aku buat tapi belum aku laksanakan. Aku ingin meminta
pendapat kalian tentang hal ini.”

Ashilla mengambil lembar teratas dari kertas-kertas yang dibawanya ketika memasuki Ruang Rapat tadi.

“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Yang
pertama adalah mengenai Riko.”

Ashilla melihat Goldi.

“Sudah saatnya kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada atasanmu itu, Goldi. Sebelumnya aku memintamu untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun termasuk keluarga Riko.”

“Hamba mengerti, Yang Mulia.” jawab Goldi patuh.

Ashilla tersenyum puas sebelum
melanjutkan, “Riko tidak pernah membantuku seperti apa yang dikatakan dikoran-koran. Ia aku tahan disini atas tindakannya yang
melanggar hukum. Kecurigaanku padanya telah terbukti. Aku telah
menghitung kekayaannya yang
seharusnya dan membandingkan nya dengan kekayaan yang dimilikinya. Hasilnya adalah sangat berbeda jauh, jadu ia telah mencuri uang negara selama ia menjabat sebagai Menteri Keuangan.”

Menteri-menteri berbisik membicarakan pengumuman
Ashilla.

Siapa yang menyangka bahwa Menteri kesayangan Raja Sion itu ternyata mencuri uang negara? Selama pemerintahan Raja Sion, Riko selalu membuat Raja senang. Ia selalu tepat waktu menyetor pajak. Ia adalah tangan kanan Raja yang sekejam Raja Sion sendiri dalam menarik pajak.

“Aku tidak akan membuka sidang
sebelum para ahli keuangan
membuktikannya. Dalam waktu
dekat ini Bagas akan memberikan
hasil perhitungannya. Saat itu
akan terbukti jumlah uang yang
selama ini telah dicuri Riko.
Sampai saat itu tiba, aku tetap
ingin kalian merahasiakan hal ini.”

“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.

“Masalah lain yang ingin aku bicarakan adalah mengenai
keputusan-keputusanku. Aku telah
mengelompokannya sesuai dengan
bidang kalian masing-masing.”

Ashilla berdiri untuk membagikan surat-surat keputusannya.

“Bacalah dan beritahu aku bila ada
yang tidak kalian setujui.”

Sementara mereka membacanya,
Ashilla kembali ke kursinya dan
berkata, “Keputusan-keputusanku
ini sangat erat dengan bidang
kalian masing-masing dan undang-
undang yang kalian perbaharui itu.
Aku sengaja menunda pelaksanannya untuk disesuaikan
dengan Undang-undang yang baru.
Bila kalian telah setuju dan merasa
tidak ada yang perlu diperbaiki,
segera lakukan hal itu.”

“Maaf, Yang Mulia. Ada yang ingin
saya tanyakan.” ucap Goldi setelah beberapa menit terdiam.

“Silahkan, Goldi.”

“Anda menurunkan pajak hingga
tingkat terendah. Apakah hal ini
tidak akan mengurangi pendapatan
kita?” tanya Goldi setelah membaca kertas itu.

“Pasti akan mengurangi pemasukan kita. Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, aku telah menghitung semuanya. Uang yang kita miliki saat ini sangat cukup untuk membiayai segala pengeluaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Ingatlah, Goldi, ayahku menarik
pajak yang sangat tinggi selama
53 tahun ia memerintah dan ia sangat kikir dalam membelanjakannya.”

“Anda mengatakan uang negara
dicuri Riko. Bukankah itu…” tanya Goldi lagi.

“Aku akan membuat Riko mengembalikan sebesar yang ia
curi pada rakyat. Kalian tidak perlu
merisaukan hal ini. Riko cukup
pintar untuk mengetahui ketelitian
ayahku. Ia tidak mencuri apa yang
harus dia berikan pada ayahku tapi
ia mencuri dari rakyat sendiri.
Dengan kekuasaannya sebagai
Menteri Keuangan yang
bertanggung jawab atas segala
penarikan pajak, Riko meminta
sedikit lebih banyak dari yang
ditetapkan ayahku, yaitu sekitar
seperdua puluh bagian.Kelebihannya itu adalah untuknya
dan agar ayahku tidak marah bila
mengetahuinya, ia memberikan
sebagian kecil dari kelebihan itu.”

“Apakah uang yang kita miliki
cukup untuk membeli bahan baku
dari luar negeri dan memberi
bantuan pada rakyat untuk
mengembangkan industri?” tanya
Difa khawatir.

Ashilla menatap Menteri Ekonominya itu.

“Sebelum aku memutuskan hal itu,
Difa, aku telah memperhitungkan
segalanya. Aku telah membuat
perhitungan kasar atas uang yang
kita miliki. Aku juga telah membuat uraian pengeluaran yang akan timbul karena keputusan-keputusanku itu.”

Ashilla mengangkat seberkas dokumen. “Inilah perhitungan
kasarku. Kepastian yang lebih
tepat akan keluar setelah Bagas dan para ahli keuangan lainnya selesai dengan tugas mereka. Kalian hanya perlu melakukan tugas di tangan kalian itu. Jangan
mengkhawatirkan dananya.
Kekayaan kita cukup untuk semua
itu.”

“Sungguh sangat disayangkan Raja
saja yang semakin kaya di negeri
ini sedangkan rakyat semakin
miskin. Aku akan merubah semua
itu. Aku, dengan dukungan kalian
akan memperbaiki keadaan ini.”
kata Ashilla bersungguh-sungguh.

“Setelah semua pembaharuan ini
dilaksanakan, aku yakin lima tahun
lagi rakyat sudah makmur. Saat itu
kita secara bertahap akan menaikkan pajak untuk
memperbesar pemasukan kita.
Jangan membebani rakyat dengan
pajak-pajak yang tinggi selama
masa perbaikan ini. Kita harus
menyesuaikan pajak dengan
keadaan rakyat. Pajak bukan untuk
Raja tapi untuk rakyat.” Ashilla
menegaskan.

“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan segera mengumumkan keputusan Anda tentang perpajakan ini.”

Ashilla mengangguk puas. “Untuk kedamaian rakyat ini pula aku akan memperbaiki hubungan dengan para pemberontak itu.”

Semua Menteri terlonjak kaget
tapi Ashilla tidak peduli dan tetap melanjutkannya,

“Setelah masalah-masalah
pembaharuan ini selesai, aku akan
mengundang pemimpinnya kesini.
Dan hingga saat itu tiba, aku ingin peperangan dengan mereka
dihentikan. Aku harap minggu depan aku telah menyelesaikan
pekerjaanku mempelajari Undang-
undang yang kalian buat ini dan
mengesahkannya.”

“Saya tidak setuju, Yang Mulia!”
Rio mengangkat tangannya, “Para pemberontak itu tidak menyukai Raja Sion. Saya khawatir mereka juga tidak menyukai Anda.Pemimpin mereka mungkin akan menggunakan undangan itu untuk membunuh Anda.”

Dalam hati Ashilla percaya hal
itu bisa terjadi tapi ia tetap dengan pendiriannga, “Aku berada diantara mereka hampir dua bulan, Rio. Aku tahu mereka berjuang demi kemakmuran rakyat. Mereka memang pantas membenci ayahku atas kekejamannya. Bila mereka juga
membenciku itu adalah hal wajar. Aku adalah putri dari serigala yang mereka benci. Tetapi, pemimpin mereka sangat pandai. Dia pasti tahu apa dampaknya bila dia membunuhku. Dia pasti mengerti hal itu.”

“Rio benar, Yang Mulia. Bila kekhawatiran itu terjadi, bagaimana nasib kami rakyat
Vandella? Siapa yang akan
melanjutkan perbaikan ini?” kata
yang lain hampir bersamaan.

“Bila kita memutuskan terus
berperang dengan mereka, apa
kata rakyat?” tanya Ashilla tegas.

Semua terdiam.

“Dalam masa-masa pembaharuan
ini, jangan mengeluarkan biaya
yang tidak berguna seperti untuk
perang. Apa yang kita dapatkan
dengan perang? Tujuan kita dan
pemberontak itu sama,
menciptakan kehidupan yang adil
dan makmur. Aku tidak akan
mengorbankan rakyat untuk perang bodoh ini.”

“Yang Mulia Ratu…”

“Aku mengerti akan kekhawatiran kalian. Tapi, untuk kali ini aku tidak ingin dibantah.” ucap Ashilla tegas. “Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan aku juga tahu mereka pasti tahu apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang kacau ini. Pemimpin mereka juga tidak akan membunuhku tanpa alasan yang kuat.”

“Anda harus memperhitungkan
semuanya masak-masak, Yang Mulia.” kata Rio mengingatkan.

“Itu sudah aku lakukan, Rio. Aku
tidak akan menarik keputusanku ini walau kalian tidak setuju. Bila
memang mereka membunuhku,
biarlah itu terjadi. Apa artinya
sebuah nyawa ini dibandingkan
mereka yang menderita?”

Sebelum ada yang membantahnya
lagi, Ashilla cepat-cepat melanjutkan ucapannya. “Jika tidak ada lagi pertanyaan, kalian bisa.mengatakan segala yang
terlupakan olehku dalam keputusan itu.”

Para menteri itupun mendesah panjang. Dalam hal ketegasan, Ashilla memang seperti ayahnya, membuat orang lain tahu bahwa ia bersungguh-sungguh.

“Satu tugas lagi untuk kalian
semua, aku ingin kita membina
hubungan baik dengan semua
negara lain. Kita membutuhkan
dukungan luar negeri dalam masa-
masa ini.” ucap Ashilla menambahkan.

“Kami mengerti, Yang Mulia.” jawab mereka semua dengan kompak.

“Silahkan katakan apa saja yang
terlupakan olehku.”

Semua termenung melihat kertas-
kertas di hadapan mereka. Ashilla pun tidak mau duduk berdiam diri. Gadis itu mengambil seberkas laporan dan mempelajarinya.

Lama ia menanti, tapi tidak ada
yang mengangkat tangan untuk
melaporkan apa yang terlupakan
olehnya.

“Kenapa kalian diam saja?” tanya
Ashilla heran.

“Saya rasa tidak ada yang perlu
diperbaiki maupun ditambahkan,
Yang mulia.” kata Gabriel jujur. “Menurut saya semuanya telah Anda putuskan tanpa ada yang terlewat.”

“Saya pun merasa seperti itu, Yang Mulia.” kata Rio ikut menimpali.

“Yang lain?”

“Tidak ada, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.

“Baiklah, rapat kita hari ini selesai.
Aku akan membutuhkan kalian bila
aku telah membaca semua laporan
kalian. Aku akan selalu terbuka
untuk menerima pertanyaan
kalian.”

Ashilla lalu berdiri dan diikuti menteri-menterinya.

“Selamat siang.”

“Selamat siang, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla meninggalkan ruangan
itu dan diikuti para menteri. Kepada prajurit yang menjaga pintu, Ashilla berkata, “Tolong kalian letakkan tumpukan berkas itu di Ruang Kerja.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla kembali ke Hall. Ia melihat orang banyak itu tampak gembira. Mereka mendapatkan makanan dan barang-barang lain yang selama ini tidak pernah mereka mimpikan.

Terlihat kerumunan wanita yang
sibuk memilih gaun dan
kerumunan anak-anak yang
memilih mainan.

Perbedaan hidup Raja Sion dan
rakyat Vandella benar-benar
tampak jelas.

Badan mereka yang kotor dan
kebersihan Istana Azzereath yang
selalu gemerlap. Baju mereka yang compang-camping dengan benda-benda Istana yang mewah.

Semuanya menggambarkan dengan jelas ketimpangan yang ada.

Diam-diam Ashilla meninggalkan
Hall. Ia merasa tindakannya tepat.
Ia tidak bisa menyerahkan tahta
pada orang lain sebelum ia
memperbaiki kesalahan yang dilakukan ayahnya. Tetapi ia juga tidak bisa bersantai-santai dalam hal ini.

                   -----0-----

“Lihat ini!”

Cakka hanya membuang wajah. Ia
sudah tahu apa yang akan dikatakan Alvin.

“Ratu Ashilla rela turun dari tempatnya yang tinggi hanya untuk
mengusap wajah rakyatnya. Ini judul berita utama koran lima hari yang lalu. Lihatlah ini juga, Ratu mengumumkan pada rakyat untuk mau mengambil sendiri bantuan di Istana Azzereath dan untuk mereka yang kaya, Ratu meminta mereka untuk turut menyumbang.” ucap Alvin menggebu-gebu.

Cakka tetap mengacuhkannya.

Alvin meneruskan membaca koran.

Letak Lasdorf yang tersembunyi membuat daerah ini selalu ketinggalan berita. Koran yang datang selalu koran beberapa hari yang lalu.

Seluruh rakyatnya Cakka sudah tahu apa saja yang dilakukan oleh Ashilla dan mereka sukar mempercayainya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa Ashilla adalah Cilla.

Sejak Ozy melaporkan hasil
pengintaiannya, Alvin selalu
memuji-muji Ashilla dihadapan
Cakka. Berbeda dengan Cakka,Alvin mempercayai segala maksud
baik Ashilla. Ia menyukai semua
yang dilakukan gadis itu untuk Kerajaannya.

“Lihat ini!” lagi-lagi Alvin berseru
tak percaya. “Ratu dengan cuma-cuma menyumbangkan gaun-gaunnya! Aku tak percaya Ratu sekaya dia rela memberikan gaun-
gaun terbaiknya untuk rakyat.”

Cakka bosan, sangat bosan. Dalam hari-hari terakhir ini Alvin benar-benar membuatnya muak dan bosan.

“Tindakannya ini menunjukkan
niatnya yang benar-benar tulus.”
komentar Alvin. “Aku ingin tahu apa yang disidangkannya dengan para Menteri hari ini. Ozy mengabarkan mereka bersidang
hari ini, bukan?”

Cakka mengangguk malas.

“Dia gadis yang luar biasa, bukan? Ia pasti akan membawa kita pada
kemakmuran.” Alvin berkata
mantap.

“Cakka, apa kau akan meneruskan
pemberontakanmu ini?” tanya Alvin tiba-tiba.

“Sementara ini aku akan diam dulu
melihat keadaan. Aku yakin tak
lama lagi ia akan menunjukkan
taringnya yang sesungguhnya.” ucap Cakka tajam.

“Dan kau akan mulai peperangan lagi??" tebak Alvin.

“Tepat!” sahut Cakka tegas.

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Cakka. Kenapa kau tidak bisa mempercayainya? Yang Mulia Ratu telah menunjukkan niat baiknya dan kau tetap tidak
mempercayainya.” tanya Alvin heran.

“Yang Mulia Ratu?” kata Cakka mengejek. “Sejak kapan kau
menghormatinya sebagai Ratu?”

“Sejak aku mempercayainya." jawab Alvin dengan tersenyum.

Cakka mendengus kesal. “Dia tidak pantas untuk kau hormati setinggi itu. Percayalah padaku, ia adalah serigala berbulu domba.”

“Ia memperbaiki pemerintahan
ayahnya. Apakah ia akan
memperbaiki hubungan
pemerintah denganmu?” Alvin
bertanya-tanya pada dirinya
sendiri. “Kalau ia mengajakmu
berdamai, apa kau akan mau
menerimanya?”

“Aku akan membunuhnya!” geram
Cakka. “Sekarang hentikan omong
kosongmu itu. Aku benar-benar
muak mendengarnya!”

Alvin mengangkat bahunya dengan
pasrah.


******************************************************