“Kami tidak setuju, Yang Mulia Ratu!!” seru mereka kompak.
Ashilla keheranan melihat orang-orang yang dengan tegasnya
menolak keinginannya. “Kenapa tidak?” tanyanya heran. “Tidak ada yang salahnya bukan, jika aku ikut kalian??”
“Tentu itu tidak benar Yang Mulia... Keselamatan Anda akan terancam, Yang Mulia.” ujar Deva. “Kita akan bertemu langsung dengan rakyat.Kemungkinan adanya para pemberontak diantara mereka sangatlah besar. Bila rakyat mengetahui Anda sedang bersama kami, kemungkinan mereka akan menjadi sulit untuk diatur. Saat itulah kami akan kesulitan melindungi Anda. Walaupun seluruh pasukan Istana dikerahkan untuk menjaga Anda, tapi kami tidak dapat melawan rakyat sebanyak itu. Selain itu, Anda pasti melarang kami untuk tidak melukai rakyat.”
Ashilla tersenyum lembut. “Aku mengerti kekhawatiranmu, Deva. Mereka tidak akan tahu aku ada diantara kalian. Mereka belum bertemu denganku dan hari ini adalah pertama kalinya kita akan
menyalurkan bantuan untuk mereka. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita, karena aku baru saja memutuskan perintah ini.”
“Yang dikatan Deva benar, Yang Mulia. Perhatian kami nanti akan lebih tertuju pada rakyat daripada untuk Anda.” sergah Gabriel.
“Aku tahu, Gabriel. Aku telah
memikirkannya matang-matang.” jawab Ashilla meyakinkan mereka.
“Biarkan kami sendiri yang melakukannya, Yang Mulia. Kami sangat khawatir dengan keselamatan Anda.” ucap Kiki ikut menyeruakan pendapat.
“Aku percaya padamu, Kiki.” lalu Ashilla diam berpikir merencanakan sesuatu dan tiba-tiba saja ia tersenyum. “Aku tahu caranya bagaimana agar kalian tidak khawatir lagi.Tunggulah aku disini.”
Kemudian Ashilla berlari kedalam.
Orang-orang yang ada disitu hanya bisa berpandangan dengan heran.
***
Sivia dan para pelayan wanita lainnya masih sibuk membongkar gaun-gaun milik Ashilla yang ada di ruang ganti kamar gadis itu. Saking sibuknya mereka, bahkan mereka tidak menyadari dengan kedatangan Ashilla di ruangan itu.
“Tunggu sebentar!!” cegah Ashilla tiba-tiba.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan raut wajah penuh keheranan.
“Tidak ada apa-apa, Sivia. Aku
hanya ingin mengambil gaun ibuku
yang kau pegang itu.” jawab Ashilla sambil tersenyum manis.
Sivia menyerahkan gaun itu dengan rasa keheranan. “Untuk apa gaun ini, Yang Mulia?”
Ashilla membentangkan gaun itu
didepannya. “Kau akan tahu nanti,
Sivia.” Lalu gadis itu menghilang masuk ke kamar tidurnya.
Ashilla tersenyum puas ketika
melihat bayangan dirinya didepan cermin. Gaun hijau tua itu sudah kuno dan membuatnya tampak puritan. Tidak akan ada yang mengenalinya sebagai Ratu Vandella dengan gaun seperti ini. Siapa yang akan menyangka bahwa gadis dalam balutan baju kuno seperti ini adalah seorang Ratu?
“Aku tak ingin menyia-nyiakan
pekerjaan kalian, tapi ini akan
membuatku semakin mirip gadis
desa yang kuno." gumam Ashill
ketika ia melepas gelungan
rambutnya yang berhiaskan
muntiara-muntiara murni yang
berkilauan.
Rambut keemasan yang panjang
itu tergerai hingga hampir
mencapai lutut Ashilla. Sejak
ibunya meninggal, Ashilla terus
memanjangkan rambutnya. Rambut kesayangannya itu banyak menyimpan kenangan-kenangan indah saat ibunya masih hidup.
Ketika sedang menyisir rambutnya, Ashilla teringat akan ibunya yang sangat suka membelai rambutnya dengan
penuh kasih sayang. Tanpa
disadarinya, Ashilla menitikkan
air mata kerinduan.
“Sekarang aku sudah menduduki tahta kerajaan ini, Mama. Aku berjanji akan memperbaiki semua
kesalahan yang dilakukan oleh serigala itu.” janji Ashilla.
Lalu dihapusnya air matanya dan
segera kembali ke Hall.
***
Semua orang yang sedang sibuk memindahkan semua barang ke wagon, heran melihat Ashilla.
“Apa aku sudah mirip dengan gadis desa?” tanya Ashilla sambil tersenyum.
Mereka menatap Ashilla lekat-lekat. Dengan gaun hijau tuanya yang sudah kusam itu, Ashilla tidak nampak seperti seorang Ratu. Gaun polos itu terbuat dari kain katun biasa dengan lengannya yang panjang dan kerahnya yang menutup rapat leher Ashilla yang indah. Dengan
rambut panjang yang tergerai,
Ashilla mirip seperti gadis perawan pada jaman kuno dulu.
“Nampaknya kita harus mengalah, Deva.” ucap Ray setelah terdiam cukup lama.
“Anda benar, Tuan Ray.” jawab Deva pasrah.
Ashilla tersenyum puas. "Kereta mana yang sudah siap berangkat?”
“Kereta ini yang hampir siap untuk
diberangkatkan, Yang Mulia” jawab
Kiki. “Kami menanti bingkisan yang
terakhir. Itu dia datang!!”
Pelayan datang dan segera memasukkan sebungkus gaun yang terakhir kedalam wagon.
“Ayo kita berangkat!” seru Ashilla pada Gabriel dan Ray. Lalu dia menerima uluran tangan dari dua prajurit yang ada didalam wagon tersebut.
Ray menatap Deva. “Kau yang kami andalkan, Deva”
“Jangan khawatir, Tuan. Saya tidak akan pergi dari sisi Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.
Kusir kuda segera membawa wagon mereka meninggalkan Istana Azzereath setelah semuanya naik.
Semua yang ada didalam kereta
sangat mencemaskan keselamatan
Ashilla. Hanya gadis itu sendiri
yang tidak nampak cemas. Gadis itu nampak sangat gembira, terbukti dengan senyum lebar yang tercetak dibibir gadis itu.
Senyum lebarnya seketika berubah menjadi senyum tipis ketika kereta berhenti di sebuah
pemukiman rakyat miskin.
Penduduk tempat itu terkejut
melihat kedatangn wagon besar itu
dan mereka lebih terkejut ketika seorang prajurit berseru.
“Kami datang membawa bantuan
untuk kalian. Bila kalian mau,
antrilah dengan tertib disini.”
Semua penduduk berbisik-bisik mendengar pengumuman tersebut.
Ashilla segera meloncat turun dari dalam kereta dan sebelum ada yang menyadari ia langsung bertindak. Gadis itu membawa sesuatu dalam keranjang dan mulai berjalan mendekati orang tua yang tengah berbaring lemah didepan rumah reyot.
Orang-orang yang didalam wagon
terkejut. Mereka berteriak.
“Yang...” seakan sadar apa yang akan diucapkan, mereka segera menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka sadar kata-kata yang biasa mereka gunakan untuk memanggil Ashilla, itu bisa membuat celaka gadis itu sendiri.
Deva melompat turun dan segera
mengejar Ashilla.
Ashilla berlutut disisi orangtua
tersebut. Ia mengeluarkan makanan yang ada didalam keranjang yang ia bawa dan memberikannya seraya berkata.
“Terimalah ini, Tuan. Saya membawanya untuk Anda. Jangan
biarkan Anda dan keluarga Anda kelaparan.”
Ashilla melihat anak-anak kecil
yang kurus kering disisi pria tua
itu. Ia tersenyum ramah pada
mereka dan berkata, “Apa kalian tidak mau mencoba kue-kue yang
lezat ini??”
Tak butuh waktu lama, anak-anak kecil tersebut tanpa ragu langsung
mengambil sendiri apa yang ada di
keranjang Ashilla. Mereka terlalu
lapar untuk memikirkan siapa
Ashilla dan mengapa ia datang
membawa makanan untuk mereka.
Pria tua itu tidak tahan melihat
anak-anaknya makan dengan lahap. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengambil roti yang ada ditangan Ashilla.
Melihat mereka makan dengan
lahap, tak ayalnya membuat Ashilla tersenyum senang. Penduduk lain yang juga sangat kelaparan tidak dapat menahan air liur mereka melihat pemandangan tersebut. Perut mereka yang merengek seakan-akan minta diisi oleh sang pemiliknya. Tak pikir panjang mereka segera menyerbu Ashilla.
Deva yang melihatnya, segera saja melindungi Ashilla dari kerumunan rakyat miskin tersebut. “Kalian bisa mengambil
makanan sebanyak-banyaknya di
kereta!!”
Orang-orang itu langsung beralih ke kereta setelah mendengar seruan tersebut.
“Yang Mulia telah membuktikan bahwa perbuatan lebih berguna daripada kata-kata.” ucap Gabriel lalu ia melompat turun diikuti oleh prajurit yang lain.
Dalam waktu singkat, mereka sangt sibuk menurunkan makanan dari kereta untuk diberikan pada warga. Mereka sibuk mengatasi tangan-tangan yang terulur meminta makanan. Beberapa
orang berusaha masuk kedalam kereta untuk mengambil sendiri makanan dan membuat prajurit sangat kewalahan menghadapi mereka.
“Tenang semua!! Tenang!! Kalian pasti mendapatkannya!!”
Teriakan-teriakan seperti itulah yang terdengar disekitar kereta.
Ashilla sendiri melihat kereta yang
dikerumuni oleh orang yang sedang berebutan itu lantas berdiri dan berjalan kesana untuk membantu mereka.
Deva segera menyusul gadis itu
untuk melindunginya dari
kerumunan orang banyak. Deva
turut membantu menurunkan
barang-barang dan membagikannya pada orang-orang.
Karena semua mencegah ia turun
tangan, Ashilla hanya bisa duduk
diantara orang-orang itu dan berbincang-bincang dengan
mereka. Sambil berbincang-
bincang, Ashilla memberikan obat-obatan kepada mereka yang
membutuhkan. Gadis itu juga tidak
segan untuk merawat mereka yang
terluka.
Deva yang sudah berjanji untuk terus berada disisi Ashilla, ia akan mengambilkan segala sesuatu yang
diperlukan oleh Ashilla sambil menjaganya.
“Apa Anda pusing, Tuan?” tanya Ashilla penuh perhatian “Sejak tadi saya melihat Anda terus memegang dahi.”
“Tidak, Nona.” jawab pria tua itu.
Ashilla tersenyum. “Deva, tolong kau carikan obat untuk Tuan ini.”
“Baik, Nona.” jawab Deva patuh.
Ashilla merasa bahwa pria tua ini terus menatapnya tetapi ia tidak
mempedulikannya. Dalam hari-hari terakhir ini, Ashilla sudah biasa menjadi pusat perhatian. Gadis itu meneruskan kesibukannya menjadi dokter untuk orang-orang miskin itu.
Tanpa gadis itu sadari, bahwa pria itu terus berusaha mengenali
Ashilla. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis ini. Tapi dimana dan kapan??? Ia terus berpikir dengan kerasa untuk bisa mengingatnya.
“Anda membuat saya khawatir, Tuan. Apa Anda sakit? Kalau Anda merasa tidak sehat, silahkan mengatakannya. Saya akan mencari dokter untuk Anda.” tanya Ashilla cemas.
Pria itu tidak memperdulikan perkataan Ashilla dan terus menatap gadis itu. Menatap mata biru yang penuh perhatian itu, mata yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dengan tegasnya berkata…
“Yang Mulia Ratu Ashilla!” seru pria itu tiba-tiba. “Tidak salah lagi. Anda pasti Yang Mulia Ratu. Saya pernah melihat Anda di Gedung Parlemen ketika Anda mengumumkan kematian Raja
Sion.”
Ashilla sangat terkejut dibuatnya. Apa mungkin pria itu adalah salah satu wartawan yang dulu mengikuti jalannya kegiatan di Gedung Parlemen??
Deva lebih terkejut lagi. Ia dengan segera menghampiri Ashilla dan membantu gadis itu untuk berdiri.
Orang-orang yang melihatnya tidak bisa mempercayai begitu saja.
“Anda pasti Yang Mulia Ratu Ashilla.” kata pria itu masih kekeh dengan pendapatnya.
“Sebaiknya kita segera kembali, Yang Mulia.” bisik Deva.
Ashilla tersenyum manis pada
pria itu lalu mengikuti Deva menuju ke kereta.
Melihat keributan itu, pasukan
segera bersiap-siap untuk kembali ke Istana Azzereath.
“Yang Mulia! Yang Mulia!”
Orang-orang itu berseru memanggil-manggil Ashilla dan berusaha untuk mendekati gadis itu. Namun, pasukan kerajaan segera menghadang mereka agar tidak mendekat.
“Yang Mulia! Yang Mulia!” Mereka terus meneriakan Ashilla dan melambai-lambaikan tangannya pada Ashilla. “Yang Mulia Ratu! terimakasih! Terima kasih atas kebaikan hati Anda!”
“Mari, Yang Mulia.” ucap Gabriel dan Ray berbarengan dan dengan tidak sabar merek mengulurkan tangannya dan mulai membantu Ashilla untuk naik kedalam kereta.
Pasukan kerajan yang sedikit itu sudah mulai tidak sanggup menghadapi rakyat yang terus memaksa untuk mendekati Ashilla.
“Kita segera kembali ke Istana Azzereath!” seru Deva pada pasukannya.
Segera pasukan itu melompat menaiki kereta. Dan dengan segera kusir kuda melajukan keretanya dengan kencang.
“Terimakasih, Yang Mulia Ratu! Terimakasih!” teriakan mereka mengiri kepergian Ashilla.
Dari dalam kereta, Ashilla melihat mereka berlutut ditanah dan menyembah-nyembah sambil
terus meneriakkan ucapan terima
kasih mereka kepadanya. Hingga mereka jauh pun suara-suara itu masih terdengar.
“Maafkan aku..” ucap Ashilla “Aku
tidak bermaksud untuk membuat kalian kewalahan.”
“Itu sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Anda, Yang Mulia.” jawab mereka hampir bersamaan.
“Aku senang mempunyai orang-
orang yang setia seperti kalian. Kalian selalu menjaga dan melindungiku. Aku takkan melupakan hal ini.” jawab Ashilla tulus.
“Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia. Tugas kami adalah terus menjaga dan melindungi Anda.” kata Deva.
Ashilla hanya tersenyum. Tak lama kemudian kereta memasuki halaman Istana dan berhenti didepan pintu Istana. Dua orang
prajurit sudah bersiap-siap untuk
membantu Ashilla turun.
“Bagaimana perjalanan Anda, Yang Mulia?” sambut Kiki setelah Ashilla sudah turun dari kereta.
“Baru kali ini aku harus lari dari
orang banyak karena ketahuan.”
kata Ashilla menahan geli. “Aku
merasa seperti pencuri.”
“Benarkah itu? Dan apa Anda terluka Yang Mulia??” tanya Kiki tidak percaya dan cemas.
“Benar, Kiki. Kami semua tidak menyangka bahwa ada yang mengenali Yang Mulia Ratu disana. Kami telah memilih tempat yang cukup jauh dari Istana.” Gabriel menerangkan. "Dan, Yang Mulia Ratu baik-baik saja tidak ada yang terluka secuil pun." lanjut Gabriel sambil tersenyum menenangkan.
“Saya sangat bersyukur Anda baik-baik saja, Yang Mulia.” ucap Kiki tersenyum lebar.
“Jangan beritahu Sivia tentang ini. Aku tidak ingin dia khawatir.” ucap Ashilla.
“Tentu, Yang Mulia. Ketika mengetahui Anda ikut pergi, ia sangat cemas.”
“Aku akan menemuinya agar ia
tidak merasa cemas lagi.”
Ashilla segera berlari menuju kamarnya.
***
“Yang Mulia! Kenapa Anda melakukan tindakan berbahaya seperti itu?”
Serbuan yang didapatnya ketika ia
tiba dikamarnya, membuat Ashilla tersenyum. “Aku harus melakukannya, Sivia. Kau tidak perlu cemas. Aku pergi dengan beberapa prajurit.”
Sivia tidak bisa berbuat apa-apa. “Irva, ambilkan baju ganti untuk Ashilla!” perintahnya.
Ashilla tidak membantah sedikitpun ketika para pelayan
sibuk membantunya mengganti
gaunnya. Mereka menyiapkan air yang hangat dan wangi untuk dirinya mandi. Dan mereka pula yang mengenakan gaun sutra yang indah pada dirinya dan menghiasi
rambut panjangnya dengan manik-
manik yang indah.
Hingga mereka selesai dengan
dirinya, Ashilla tetap diam berpikir.
“Terimakasih, Sivia.” Ashilla sudah
bersiap pergi lagi setelah rambutnya selesai disisir rapi.
“Anda mau kemana lagi, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan heran.
“Jangan khawatir. Aku hanya ingin
menemui Gabriel.”
“Anda harus beristirahat. Anda
sudah terlalu lama bekerja.” ucap Sivia membujuk Ashilla sambil berjalan mendekati.
Ashilla segera beranjak ke pintu
sebelum dicegah Sivia. “Selamat tinggal, Sivia.” katanya ketika membuka pintu.
“Jangan lupa untuk makan malam, Yang Mulia!” seru Sivia melihat kepergian Ashilla.
Ashilla hanya tersenyum mendengar seruan itu. “Kali ini aku takkan lupa, Sivia.” katanya pelan sambil berjalan menuju Hall.
***
Kiki masih sibuk mengatur Hall
ketika Ashilla datang.
“Dimana Gabriel dan Ray serta
Deva?” tanya Ashilla pada Kiki.
“Deva sedang pergi ke pusat kota untuk mengumumkan titah Anda, Yang Mulia. Sedangkan Tuan Gabriel dan Tuan Ray saya meminta mereka untuk beristirahat. Apakah Anda
memerlukan mereka, Yang Mulia? Saya akan memanggil mereka untuk Anda.” jawab Kiki.
“Tidak perlu, Kiki. Biarkan mereka
beristirahat. Suruhlah seorang
prajurit untuk menemuiku di
Ruang Kerjaku.”
“Baik, Yang Mulia.” jawab Kiki seraya membungkuk memberi hormat.
Kemudia Ashilla berbalik, kembali menuju ke Ruang Kerjanya dan menuliskan sesuatu pada secarik kertas.
“Hamba datang memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia.” seru seorang prajurit permintaan Ashilla.
Ashilla bangkit dan menghampiri prajurit itu. “Antarkan surat ini pada Menteri Keamanan.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.” kata Prajurit itu lalu pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.
Setelah kepergian prajurit itu, Ashilla menemui penjaga pintu Ruang Kerjanya. “Salah satu dari kalian, panggilkan Dayat untukku.”
“Baik, Yang Mulia Ratu.”
Sesaat kemudian Dayat sudah hadir menghadap Ashilla.
“Apa semua ahli keuangan itu masih ada disini?”
“Tidak, Yang Mulia. Siang tadi beberapa diantara mereka sudah
meninggalkan Istana.” jawab Dayat.
“Bila malam ini mereka makan di
Ruang Makan apa cukup?”
Dayat berpikir sebentar lalu berkata, “Cukup, Yang Mulia.”
“Bagus, siapkan makan malam disana. Aku akan makan bersama mereka.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Bila Gabriel dan Ray masih disini, aku ingin mereka turut ikut
bersamaku.” ucap Ashilla lagi.
“Saya akan memberitahu mereka,
Yang Mulia.” kata Dayat kemudian pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.
Setelah kepergian Dayat dari ruangannya, Ashilla kembali menekuni pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Ashilla sedang membuat keputusan
baru untuk memperbaiki kehidupan rakyat.
Ketika hari mulai gelap, seorang
pelayan datang untuk menutup
jendela-jendela dan mulai menghidupkan lilin-lilin. Mereka tahu akan kesibukan Ashilla, karena itu mereka tidak berani mengusik gadis itu.
Hingga hari menjadi gelap pun, Ashilla masih tetap sibuk diruangannya dengan tumpukan laporan para menterinya dan surat-surat keputusannya yang sangat tebal.
“Makan malam sudah disiapkan,
Yang Mulia.” ucap seorang pelayan tiba-tiba yang membuat Ashilla kaget dibuatnya.
Ashilla mengangkat kepalanya.
“Aku akan segera pergi kesana.”
Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan Ashilla.
Ashilla merapikan meja kerjanya.
Lalu meraih secarik kertas dan
pergi ke Ruang Makan.
***
“Selamat malam, Yang Mulia Ratu.” seru Gabriel dan Ray bersamaan.
“Selamat malam juga, Gabriel.. Ray.”
“Apa Anda akan mengumumkan nya sekarang, Yang Mulia?” tanya Ray ketika melihat Ashilla membawa secarik kertas yang ada ditanganya.
“Benar. Aku tidak bisa menunda hal ini lebih lama lagi, Ray. Aku
akan mengatakannya seusai acara makan malam.”
“Saya melihat Anda bekerja terlalu
keras, Yang Mulia. Beristirahatlah sebentar demi kesehatan Anda. Bila Anda sakit, siapa yang akan memperbaiki kehidupan rakyat?” seru Gabriel melihat ketekunan gadis itu.
Ashilla tersenyum. “Kau sangat mirip dengan Sivia, Gabriel.” Sebelum pria itu menanggapi ucapannya, Ashilla segera berkata lagi. “Bagaimana perkembangan tugas yang aku berikan pada kalian?”
“Saya hampir selesai, Yang Mulia. Kami telah menyusun semuanya.
Sekarang kami sedang memeriksa
ulang semuanya.”
“Karena undang-undang kami berhubungan dengan negara lain,
kami sedikit mengalami hambatan
karena hampir semua keputusan
itu masih dilaksanakan. Tetapi,
kami telah menghubungi negara-
negara tersebut dan meminta
mereka tetap mau bekerja sama
dengan kita bila keputusan baru
itu dilaksanakan. Mereka
mengetahui perubahan yang
terjadi di kerajaan kita dan mereka mendukung Anda dengan sepenuhnya. Kami sekarang sedang membuat laporannya.”
“Aku berharap menteri-menteri lain juga hampir selesai.” ucap Ashilla menimpali.
“Mereka juga hampir selesai, Yang Mulia.” kata Gabriel dengan tersenyum. “Kami terpengaruh oleh semangat Anda. Kami ingin
memberikan yang terbaik untuk
Anda.”
“Tidak, Gabriel. Kalian bisa
melakukan tugas besar ini dengan
cepat karena sejak dulu kalian
tahu mana yang salah dan mana
yang harus diubah. Sejak dulu
kalian telah mempunyai gambaran
tentang peraturan yang lebih baik,
tetapi kalian tidak berani
mengatakannya. Sekarang kalian
mengingatnya kembali dan
menyempurnakannya.” ucap Ashilla panjang lebar.
Tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa membantah ucapan Ashilla karena saat itu mereka sudah tiba di Ruang Makan. Prajurit membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Ashilla.
Mereka segera berdiri. “Selamat malam, Yang Mulia Ratu Ashilla.” ucap mereka serempak.
“Selamat malam..” balas Ashilla.
“Mari silahkan duduk, Tuan-tuan.”
Selama makan malam berlangsung, Ashilla sama sekali tidak menyinggung tentang hasil
penyeleksian sesi kedua. Ia mengajak mereka membicarakan tentang semua hal terkecuali hasil penyeleksian.
Setelah pelayan membawa semua hidangan penutup, Ashilla berkata dengan senyuman manis yang tercetak dibibirnya.
“Dalam kesempatan kali ini saya akan mengumumkan nama-nama mereka yang telah lolos dalam pemilihan sesi kedua.”
“Ijinkan saya untuk menggantikan
Anda, Yang Mulia.” ucap Gabriel.
“Silahkan.” Ashilla kembali duduk dikursi kebesarannya.
Gabriel berdiri dan mulai menyebutkan satu-per-satu nama yang tertera dikertas.
Sesaat Ruang Makan menjadi ramai setelah Gabriel selesai membacakan nama-nama itu. Ashilla menunggu ruangan menjadi sepi sebelum ia mulai berkata.
“Selamat untuk kalian yang berhasil. Bagi kalian yang belum berhasil, jangan putus asa. Tetaplah berusaha. Dan bagi mereka yang namanya telah disebutkan oleh Gabriel, aku tunggu di Ruang Pertemuan besok pagi setelah kalian sarapan.”
Ashilla beranjak bangkit dari duduknya dan melanjutkan
perkataannya. “Selamat malam, Tuan-tuan.”
Gabriel dan Ray segera mengikuti langkah Ashilla dari belakang.
“Yang Mulia, apa Anda akan bekerja lagi setelah ini?” tanya Ray penasaran.
“Kalian tidak perlu mencemaskan aku." Ashilla menenangkan. “Aku ingin malam ini kalian menginap disini tetapi jika kalian merindukan keluarga kalian, aku tidak akan melarang. Selamat malam.”
Ashilla membuka pintu Ruang
Kerjanya dan menghilang di balik pintu.
Gabriel dan Ray hanya bisa saling
melirik satu sama lain sambil
mengangkat bahu dan menghela napas panjang melihat kegigihan Ratu mereka, Ashilla.
Ashilla memang sangat mirip dengan ayahnya jika sedang bekerja. Mereka akan bekerja siang malam tanpa henti dan
tanpa kenal lelah.
Mereka tidak tahu jika Ashilla
melakukan semua ini disamping untuk rakyatnya juga untuk mencegah dirinya memikirkan Cakka.
****
Ashilla sudah berada di Ruang Pertemuan, setelah makan pagi selesai. Tak lama menunggu, ke-36 ahli keuangan kerajaan itu mulai berdatangan satu-per-satu.
“Selamat pagi semua..” sapa Ashilla tidak ketinggalan dengan senyuman khasnya.
“Selamat pagi, Yang Mulia Ratu." balas mereka dengan serempak.
“Silahkan duduk. Kita akan segera
memulai rapat kecil kita ini.” ucap Ashilla.
Mereka lalu duduk mengitari meja
panjang di ruangan itu.
Ashilla menatap mereka semua
dan memulai rapat.
“Saya memilih kalian bukan tidak
berdasar. Saya percaya akan
kemampuan yang kalian miliki, itulah sebabnya saya memilih kalian. Kalian yang terpilih akan saya beri tugas. Dan asal kalian tahu, saat ini kalian bukan lagi sebagai saingan tetapi sebagai satu kelompok orang yang bekerja sama.”
“Tugas kalian adalah menghitung
jumlah pemasukan dan pengeluaran selama 20 tahun
terakhir ini. Dihadapan saya ini
telah tercantum macam-macam
pajak berikut besarnya dan jumlah
penduduk selama kurun waktu 20
tahun terakhir.”
“Untuk melakukan tugas ini, aku
ingin kalian tetap tinggal di Istana. Dan agar keluarga kalian tidak cemas, tulislah surat pada mereka dan berikan pada pelayan. Mereka
akan mengantarkan surat-surat
kalian.”
“Untuk kelancaran tugas ini, aku
mempersilakan kalian untuk menggunakan ruangan ini sebagai
tempat kerja kalian. Sebelum
kalian memulainya, aku ingin
menegaskan pada kalian bekerjalah sebagai satu tim. Sebuah tim pasti memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, aku menunjuk Bagas untuk
menjadi pemimpin kalian. Apa ada
yang tidak setuju?”
“Kami setuju, Yang Mulia.”
“Bagus!! Kalian bisa memulai tugas kalian sekarang. Bila kalian mengalami kesulitan, jangan ragu untuk bertanya padaku.”
“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.”
Ashilla menganggukkan kepala tanda dia puas dengan jawaban mereka lalu meninggalkan Ruang
Pertemuan dan segera menuju
Ruang Kerjanya.
***
“Kalian berdua masuklah, aku
mempunyai tugas untuk kalian.” ucap Ashilla pada kedua prajurit yang menjaga ruang kerjanya.
Kedua prajurit itu pun mengikuti
Ashilla dari belakang.
Ashilla mengeluarkan dua tumpuk kertas dari lacinya.
“Masing-masing dari kalian aku perintahkan untuk menyebarkan sepuluh surat ini kepada para Menteri. Tunggulah sebentar sampai kalian mendapatkan jawaban dari para Menteri itu. Jika tugas ini sudah selesai, segeralah kembali.” ucap Ashilla dengan suara tegasnya.
Mereka berdua menerima surat-surat itu lalu berkata. “Hamba akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia.” Mereka pergi setelah membungkukkan kepala tanda hormat.
Setelah kepergian kedua prajurit itu, tiba-tiba muncul seorang pelayan.
“Lapor, Yang Mulia. Kepala Penjara Vandella datang untuk menghadap Anda.” lapor seorang pelayan.
“Suruh dia masuk.” ucap Ashilla tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas-kertas.
Kepala Penjara itu membungkuk
dan berkata. “Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Saya datang membawa nama-nama penghuni penjara diseluruh Vandella seperti yang Anda minta.”
Ashilla mendongakkan kepala untuk menatap kepala penjara itu.
Lalu pria yang berperawakan kurus ceking itu menyerahkan
berkas-berkas yang dibawanya.
“Duduklah..” kata Ashilla “Aku akan mempelajarinya sebentar.”
Ashilla membalik-balikan kertas itu.
“Saya sudah mengelompokkan.antara yang dipenjara karena
melanggar hukum dan yang
dipenjara karena tidak membayar
pajak maupun yang menentang
Yang Mulia Raja Sion.” ucap sang kepala penjara menjelaskan
Ashilla tidak terkejut sama sekali ketika melihat nama-nama yang dipenjara karena melanggar
hukum lebih sedikit daripada yang
tidak bersalah. Ia sudah bisa
menduganya bahkan sebelum menerima laporan ini.
Ashilla berterimakasih pada kepala penjara tersebut karena nama-nama itu sudah dipisahkan pada lembar yang berbeda-beda sehingga bisa menghemat waktunya. Ia segera membagi-bagi
berkas-berkas itu menjadi dua
kelompok, antara yang bersalah dan yang tidak bersalah.
“Nama-nama ini sudah kau kelompokkan berdasarkan tempat mereka dipenjara?” tanya Ashilla.
“Sudah, Yang Mulia. Setiap tahun
Yang Mulia Raja Sion meminta
laporan nama-nama penghuni penjara dari masing-masing tempat penjara yang sudah
dikelompokkan seperti itu. Saya
hanya perlu menyatukan mereka
dan menyerahkannya pada Anda.” jawab sang kepala penjara.
“Ternyata serigala itu baiknya juga.” Ashilla berkata pada dirinya sendiri.
“Aku menugaskanmu untuk berkeliling pada setiap penjara dan membacakan titahku ini.” Ashilla mengeluarkan selembar kertas dari lacinya yang sudah
ditanda tanganinya.
Kepala Penjara itu melihat isi titahnya yang berbunyi:
"Atas titah dari Ratu Kerajaan
Vandella, nama-nama yang telah disebutkan mulai saat ini dinyatakan tidak bersalah. Oleh
karena itu, mereka dibebaskan dari penjara dan semua yang menjadi milik mereka akan dikembalikan".
“Nama yang harus kau sebutkan
adalah nama yang ada dikertas
ini. Jika kau telah menyelesaikan tugasmu disatu penjara, segera
kirim daftar namanya kepadaku.” perintah Ashilla.
“Baik, Yang Mulia.”
“Satu hal yang tidak boleh kau lakukan adalah mewakilkan tugas ini pada orang lain. Aku percaya kau dapat melaksanakannya dengan baik.”
“Saya akan berusaha menjalankan
titah Anda dengan sebaik-baiknya,
Yang Mulia.” jawab sang kepala dengan penuh keyakinan dan pergi setelah membungkukkan kepala memberi hormat.
Ashilla tersenyum puas melihat
kepergian pria itu. Satu tugas lagi
telah dilakukannya. Sekarang ia
menanti kabar dari Menteri-
menterinya sebelum menjalankan
setumpuk keputusan yang sudah
dibuatnya.
Menjelang sore, kedua prajurit
yang diutus oleh Ashilla datang.
Mereka menyerahkan surat balasan dari para Menteri itu pada Ashilla.
Ashilla tersenyum puas ketika membaca surat-surat balasan itu.
Para Menterinya itu hampir
menyelesaikan tugas mereka dan
itu artinya Ashilla bisa segera
mengadakan rapat selanjutnya.
********************************
hay hay hay hihihii :D maaf yaa ngepostnya lama. sebenernya udah dari kemaren mau dipost tapi gara2 ada tante di rising star, seketika itu mood aku jadi hilang begitu saja, bukannya mau mengkambing hitam kan si tante loh yaa :)
oh ya aku mau minta maaf sekali lagi, kalau cerita repost ini ngga menjurus ke couple cakshill. Maka dari itu aku ubah versinya menjadi versi icil, ngga papa yaa?? karena setelah dipikir2 repost ini ngga terlalu menjurus ke couple cakshill. :)
cerita copast ini sebenernya menceritakan perjuangan seorang ratu baru dalam merubah kehidupan rakyatnya, jadi jangan heran kalau peran seorang ratu (ashilla) lebih banyak muncul :)
tapi masih ada kok pov cakshill nya dipart2 selanjutnya. so.. tetap pantengin cerita copast ini yaa. makasihh... ;)