Rabu, 17 September 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 9

“Kami tidak setuju, Yang Mulia Ratu!!” seru mereka kompak.

Ashilla keheranan melihat orang-orang yang dengan tegasnya
menolak keinginannya. “Kenapa tidak?” tanyanya heran. “Tidak ada yang salahnya bukan, jika aku ikut kalian??”

“Tentu itu tidak benar Yang Mulia... Keselamatan Anda akan terancam, Yang Mulia.” ujar Deva. “Kita akan bertemu langsung dengan rakyat.Kemungkinan adanya para pemberontak diantara mereka sangatlah besar. Bila rakyat mengetahui Anda sedang bersama kami, kemungkinan mereka akan menjadi sulit untuk diatur. Saat itulah kami akan kesulitan melindungi Anda. Walaupun seluruh pasukan Istana dikerahkan untuk menjaga Anda, tapi kami tidak dapat melawan rakyat sebanyak itu. Selain itu, Anda pasti melarang kami untuk tidak melukai rakyat.”

Ashilla tersenyum lembut. “Aku mengerti kekhawatiranmu, Deva. Mereka tidak akan tahu aku ada diantara kalian. Mereka belum bertemu denganku dan hari ini adalah pertama kalinya kita akan
menyalurkan bantuan untuk mereka. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita, karena aku baru saja memutuskan perintah ini.”

“Yang dikatan Deva benar, Yang Mulia. Perhatian kami nanti akan lebih tertuju pada rakyat daripada untuk Anda.” sergah Gabriel.

“Aku tahu, Gabriel. Aku telah
memikirkannya matang-matang.” jawab Ashilla meyakinkan mereka.

“Biarkan kami sendiri yang melakukannya, Yang Mulia. Kami sangat khawatir dengan keselamatan Anda.” ucap Kiki ikut menyeruakan pendapat.

“Aku percaya padamu, Kiki.” lalu Ashilla diam berpikir merencanakan sesuatu dan tiba-tiba saja ia tersenyum. “Aku tahu caranya bagaimana agar kalian tidak khawatir lagi.Tunggulah aku disini.”

Kemudian Ashilla berlari kedalam.

Orang-orang yang ada disitu hanya bisa berpandangan dengan heran.

***

Sivia dan para pelayan wanita lainnya masih sibuk membongkar gaun-gaun milik Ashilla yang ada di ruang ganti kamar gadis itu. Saking sibuknya mereka, bahkan mereka tidak menyadari dengan kedatangan Ashilla di ruangan itu.

“Tunggu sebentar!!” cegah Ashilla tiba-tiba.

“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan raut wajah penuh keheranan.

“Tidak ada apa-apa, Sivia. Aku
hanya ingin mengambil gaun ibuku
yang kau pegang itu.” jawab Ashilla sambil tersenyum manis.

Sivia menyerahkan gaun itu dengan rasa keheranan. “Untuk apa gaun ini, Yang Mulia?”

Ashilla membentangkan gaun itu
didepannya. “Kau akan tahu nanti,
Sivia.” Lalu gadis itu menghilang masuk ke kamar tidurnya.

Ashilla tersenyum puas ketika
melihat bayangan dirinya didepan cermin. Gaun hijau tua itu sudah kuno dan membuatnya tampak puritan. Tidak akan ada yang mengenalinya sebagai Ratu Vandella dengan gaun seperti ini. Siapa yang akan menyangka bahwa gadis dalam balutan baju kuno seperti ini adalah seorang Ratu?

“Aku tak ingin menyia-nyiakan
pekerjaan kalian, tapi ini akan
membuatku semakin mirip gadis
desa yang kuno." gumam Ashill
ketika ia melepas gelungan
rambutnya yang berhiaskan
muntiara-muntiara murni yang
berkilauan.

Rambut keemasan yang panjang
itu tergerai hingga hampir
mencapai lutut Ashilla. Sejak
ibunya meninggal, Ashilla terus
memanjangkan rambutnya. Rambut kesayangannya itu banyak menyimpan kenangan-kenangan indah saat ibunya masih hidup.

Ketika sedang menyisir rambutnya, Ashilla teringat akan ibunya yang sangat suka membelai rambutnya dengan
penuh kasih sayang. Tanpa
disadarinya, Ashilla menitikkan
air mata kerinduan.

“Sekarang aku sudah menduduki tahta kerajaan ini, Mama. Aku berjanji akan memperbaiki semua
kesalahan yang dilakukan oleh serigala itu.” janji Ashilla.

Lalu dihapusnya air matanya dan
segera kembali ke Hall.

***

Semua orang yang sedang sibuk memindahkan semua barang ke wagon, heran melihat Ashilla.

“Apa aku sudah mirip dengan gadis desa?” tanya Ashilla sambil tersenyum.

Mereka menatap Ashilla lekat-lekat. Dengan gaun hijau tuanya yang sudah kusam itu, Ashilla tidak nampak seperti seorang Ratu. Gaun polos itu terbuat dari kain katun biasa dengan lengannya yang panjang dan kerahnya yang menutup rapat leher Ashilla yang indah. Dengan
rambut panjang yang tergerai,
Ashilla mirip seperti gadis perawan pada jaman kuno dulu.

“Nampaknya kita harus mengalah, Deva.” ucap Ray setelah terdiam cukup lama.

“Anda benar, Tuan Ray.” jawab Deva pasrah.

Ashilla tersenyum puas. "Kereta mana yang sudah siap berangkat?”

“Kereta ini yang hampir siap untuk
diberangkatkan, Yang Mulia” jawab
Kiki. “Kami menanti bingkisan yang
terakhir. Itu dia datang!!”

Pelayan datang dan segera memasukkan sebungkus gaun yang terakhir kedalam wagon.

“Ayo kita berangkat!” seru Ashilla pada Gabriel dan Ray. Lalu dia menerima uluran tangan dari dua prajurit yang ada didalam wagon tersebut.

Ray menatap Deva. “Kau yang kami andalkan, Deva”

“Jangan khawatir, Tuan. Saya tidak akan pergi dari sisi Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.

Kusir kuda segera membawa wagon mereka meninggalkan Istana Azzereath setelah semuanya naik.

Semua yang ada didalam kereta
sangat mencemaskan keselamatan
Ashilla. Hanya gadis itu sendiri
yang tidak nampak cemas. Gadis itu nampak sangat gembira, terbukti dengan senyum lebar yang tercetak dibibir gadis itu.

Senyum lebarnya seketika berubah menjadi senyum tipis ketika kereta berhenti di sebuah
pemukiman rakyat miskin.

Penduduk tempat itu terkejut
melihat kedatangn wagon besar itu
dan mereka lebih terkejut ketika seorang prajurit berseru.

“Kami datang membawa bantuan
untuk kalian. Bila kalian mau,
antrilah dengan tertib disini.”

Semua penduduk berbisik-bisik mendengar pengumuman tersebut.

Ashilla segera meloncat turun dari dalam kereta dan sebelum ada yang menyadari ia langsung bertindak. Gadis itu membawa sesuatu dalam keranjang dan mulai berjalan mendekati orang tua yang tengah berbaring lemah didepan rumah reyot.

Orang-orang yang didalam wagon
terkejut. Mereka berteriak.
“Yang...” seakan sadar apa yang akan diucapkan, mereka segera menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka sadar kata-kata yang biasa mereka gunakan untuk memanggil Ashilla, itu bisa membuat celaka gadis itu sendiri.

Deva melompat turun dan segera
mengejar Ashilla.

Ashilla berlutut disisi orangtua
tersebut. Ia mengeluarkan makanan yang ada didalam keranjang yang ia bawa dan memberikannya seraya berkata.
“Terimalah ini, Tuan. Saya membawanya untuk Anda. Jangan
biarkan Anda dan keluarga Anda kelaparan.”

Ashilla melihat anak-anak kecil
yang kurus kering disisi pria tua
itu. Ia tersenyum ramah pada
mereka dan berkata, “Apa kalian tidak mau mencoba kue-kue yang
lezat ini??”

Tak butuh waktu lama, anak-anak kecil tersebut tanpa ragu langsung
mengambil sendiri apa yang ada di
keranjang Ashilla. Mereka terlalu
lapar untuk memikirkan siapa
Ashilla dan mengapa ia datang
membawa makanan untuk mereka.

Pria tua itu tidak tahan melihat
anak-anaknya makan dengan lahap. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengambil roti yang ada ditangan Ashilla.

Melihat mereka makan dengan
lahap, tak ayalnya membuat Ashilla tersenyum senang. Penduduk lain yang juga sangat kelaparan tidak dapat menahan air liur mereka melihat pemandangan tersebut. Perut mereka yang merengek seakan-akan minta diisi oleh sang pemiliknya. Tak pikir panjang mereka segera menyerbu Ashilla.

Deva yang melihatnya, segera saja melindungi Ashilla dari kerumunan rakyat miskin tersebut. “Kalian bisa mengambil
makanan sebanyak-banyaknya di
kereta!!”

Orang-orang itu langsung beralih ke kereta setelah mendengar seruan tersebut.

“Yang Mulia telah membuktikan bahwa perbuatan lebih berguna daripada kata-kata.” ucap Gabriel lalu ia melompat turun diikuti oleh prajurit yang lain.

Dalam waktu singkat, mereka sangt sibuk menurunkan makanan dari kereta untuk diberikan pada warga. Mereka sibuk mengatasi tangan-tangan yang terulur meminta makanan. Beberapa
orang berusaha masuk kedalam kereta untuk mengambil sendiri makanan dan membuat prajurit sangat kewalahan menghadapi mereka.

“Tenang semua!! Tenang!! Kalian pasti mendapatkannya!!”

Teriakan-teriakan seperti itulah yang terdengar disekitar kereta.

Ashilla sendiri melihat kereta yang
dikerumuni oleh orang yang sedang berebutan itu lantas berdiri dan berjalan kesana untuk membantu mereka.

Deva segera menyusul gadis itu
untuk melindunginya dari
kerumunan orang banyak. Deva
turut membantu menurunkan
barang-barang dan membagikannya pada orang-orang.

Karena semua mencegah ia turun
tangan, Ashilla hanya bisa duduk
diantara orang-orang itu dan berbincang-bincang dengan
mereka. Sambil berbincang-
bincang, Ashilla memberikan obat-obatan kepada mereka yang
membutuhkan. Gadis itu juga tidak
segan untuk merawat mereka yang
terluka.

Deva yang sudah berjanji untuk terus berada disisi Ashilla, ia akan mengambilkan segala sesuatu yang
diperlukan oleh Ashilla sambil menjaganya.

“Apa Anda pusing, Tuan?” tanya Ashilla penuh perhatian “Sejak tadi saya melihat Anda terus memegang dahi.”

“Tidak, Nona.” jawab pria tua itu.

Ashilla tersenyum. “Deva, tolong kau carikan obat untuk Tuan ini.”

“Baik, Nona.” jawab Deva patuh.

Ashilla merasa bahwa pria tua ini terus menatapnya tetapi ia tidak
mempedulikannya. Dalam hari-hari terakhir ini, Ashilla sudah biasa menjadi pusat perhatian. Gadis itu meneruskan kesibukannya menjadi dokter untuk orang-orang miskin itu.

Tanpa gadis itu sadari, bahwa pria itu terus berusaha mengenali
Ashilla. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis ini. Tapi dimana dan kapan???  Ia terus berpikir dengan kerasa untuk bisa mengingatnya.

“Anda membuat saya khawatir, Tuan. Apa Anda sakit? Kalau Anda merasa tidak sehat, silahkan mengatakannya. Saya akan mencari dokter untuk Anda.” tanya Ashilla cemas.

Pria itu tidak memperdulikan perkataan Ashilla dan terus menatap gadis itu. Menatap mata biru yang penuh perhatian itu, mata yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dengan tegasnya berkata…

“Yang Mulia Ratu Ashilla!” seru pria itu tiba-tiba. “Tidak salah lagi. Anda pasti Yang Mulia Ratu. Saya pernah melihat Anda di Gedung Parlemen ketika Anda mengumumkan kematian Raja
Sion.”

Ashilla sangat terkejut dibuatnya. Apa mungkin pria itu adalah salah satu wartawan yang dulu mengikuti jalannya kegiatan di Gedung Parlemen??

Deva lebih terkejut lagi. Ia dengan segera menghampiri Ashilla dan membantu gadis itu untuk berdiri.

Orang-orang yang melihatnya tidak bisa mempercayai begitu saja.

“Anda pasti Yang Mulia Ratu Ashilla.” kata pria itu masih kekeh dengan pendapatnya.

“Sebaiknya kita segera kembali, Yang Mulia.” bisik Deva.

Ashilla tersenyum manis pada
pria itu lalu mengikuti Deva menuju ke kereta.

Melihat keributan itu, pasukan
segera bersiap-siap untuk kembali ke Istana Azzereath.

“Yang Mulia! Yang Mulia!”

Orang-orang itu berseru memanggil-manggil Ashilla dan berusaha untuk mendekati gadis itu. Namun, pasukan kerajaan segera menghadang mereka agar tidak mendekat.

“Yang Mulia! Yang Mulia!” Mereka terus meneriakan Ashilla dan melambai-lambaikan tangannya pada Ashilla. “Yang Mulia Ratu! terimakasih! Terima kasih atas kebaikan hati Anda!”

“Mari, Yang Mulia.” ucap Gabriel dan Ray berbarengan dan dengan tidak sabar merek mengulurkan tangannya dan mulai membantu Ashilla untuk naik kedalam kereta.

Pasukan kerajan yang sedikit itu sudah mulai tidak sanggup menghadapi rakyat yang terus memaksa untuk mendekati Ashilla.

“Kita segera kembali ke Istana Azzereath!” seru Deva pada pasukannya.

Segera pasukan itu melompat menaiki kereta. Dan dengan segera kusir kuda melajukan keretanya dengan kencang.

“Terimakasih, Yang Mulia Ratu! Terimakasih!” teriakan mereka mengiri kepergian Ashilla.

Dari dalam kereta, Ashilla melihat mereka berlutut ditanah dan menyembah-nyembah sambil
terus meneriakkan ucapan terima
kasih mereka kepadanya. Hingga mereka jauh pun suara-suara itu masih terdengar.

“Maafkan aku..” ucap Ashilla “Aku
tidak bermaksud untuk membuat kalian kewalahan.”

“Itu sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Anda, Yang Mulia.” jawab mereka hampir bersamaan.

“Aku senang mempunyai orang-
orang yang setia seperti kalian. Kalian selalu menjaga dan melindungiku. Aku takkan melupakan hal ini.” jawab Ashilla tulus.

“Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia. Tugas kami adalah terus menjaga dan melindungi Anda.” kata Deva.

Ashilla hanya tersenyum. Tak lama kemudian kereta memasuki halaman Istana dan berhenti didepan pintu Istana. Dua orang
prajurit sudah bersiap-siap untuk
membantu Ashilla turun.

“Bagaimana perjalanan Anda, Yang Mulia?” sambut Kiki setelah Ashilla sudah turun dari kereta.

“Baru kali ini aku harus lari dari
orang banyak karena ketahuan.”
kata Ashilla menahan geli. “Aku
merasa seperti pencuri.”

“Benarkah itu? Dan apa Anda terluka Yang Mulia??” tanya Kiki tidak percaya dan cemas.

“Benar, Kiki. Kami semua tidak menyangka bahwa ada yang mengenali Yang Mulia Ratu disana. Kami telah memilih tempat yang cukup jauh dari Istana.” Gabriel menerangkan. "Dan, Yang Mulia Ratu baik-baik saja tidak ada yang terluka secuil pun." lanjut Gabriel sambil tersenyum menenangkan.

“Saya sangat bersyukur Anda baik-baik saja, Yang Mulia.” ucap Kiki tersenyum lebar.

“Jangan beritahu Sivia tentang ini. Aku tidak ingin dia khawatir.” ucap Ashilla.

“Tentu, Yang Mulia. Ketika mengetahui Anda ikut pergi, ia sangat cemas.”

“Aku akan menemuinya agar ia
tidak merasa cemas lagi.”

Ashilla segera berlari menuju kamarnya.

***

“Yang Mulia! Kenapa Anda melakukan tindakan berbahaya seperti itu?”

Serbuan yang didapatnya ketika ia
tiba dikamarnya, membuat Ashilla tersenyum. “Aku harus melakukannya, Sivia. Kau tidak perlu cemas. Aku pergi dengan beberapa prajurit.”

Sivia tidak bisa berbuat apa-apa. “Irva, ambilkan baju ganti untuk Ashilla!” perintahnya.

Ashilla tidak membantah sedikitpun ketika para pelayan
sibuk membantunya mengganti
gaunnya. Mereka menyiapkan air yang hangat dan wangi untuk dirinya mandi. Dan mereka pula yang mengenakan gaun sutra yang indah pada dirinya dan menghiasi
rambut panjangnya dengan manik-
manik yang indah.

Hingga mereka selesai dengan
dirinya, Ashilla tetap diam berpikir.

“Terimakasih, Sivia.” Ashilla sudah
bersiap pergi lagi setelah rambutnya selesai disisir rapi.

“Anda mau kemana lagi, Yang Mulia?” tanya Sivia dengan heran.

“Jangan khawatir. Aku hanya ingin
menemui Gabriel.”

“Anda harus beristirahat. Anda
sudah terlalu lama bekerja.” ucap Sivia membujuk Ashilla sambil berjalan mendekati.

Ashilla segera beranjak ke pintu
sebelum dicegah Sivia. “Selamat tinggal, Sivia.” katanya ketika membuka pintu.

“Jangan lupa untuk makan malam, Yang Mulia!” seru Sivia melihat kepergian Ashilla.

Ashilla hanya tersenyum mendengar seruan itu. “Kali ini aku takkan lupa, Sivia.” katanya pelan sambil berjalan menuju Hall.

***

Kiki masih sibuk mengatur Hall
ketika Ashilla datang.

“Dimana Gabriel dan Ray serta
Deva?” tanya Ashilla pada Kiki.

“Deva sedang pergi ke pusat kota untuk mengumumkan titah Anda, Yang Mulia. Sedangkan Tuan Gabriel dan Tuan Ray saya meminta mereka untuk beristirahat. Apakah Anda
memerlukan mereka, Yang Mulia? Saya akan memanggil mereka untuk Anda.” jawab Kiki.

“Tidak perlu, Kiki. Biarkan mereka
beristirahat. Suruhlah seorang
prajurit untuk menemuiku di
Ruang Kerjaku.”

“Baik, Yang Mulia.” jawab Kiki seraya membungkuk memberi hormat.

Kemudia Ashilla berbalik, kembali menuju ke Ruang Kerjanya dan menuliskan sesuatu pada secarik kertas.

“Hamba datang memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia.” seru seorang prajurit permintaan Ashilla.

Ashilla bangkit dan menghampiri prajurit itu. “Antarkan surat ini pada Menteri Keamanan.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” kata Prajurit itu lalu pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.

Setelah kepergian prajurit itu, Ashilla menemui penjaga pintu Ruang Kerjanya. “Salah satu dari kalian, panggilkan Dayat untukku.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.”

Sesaat kemudian Dayat sudah hadir menghadap Ashilla.

“Apa semua ahli keuangan itu masih ada disini?”

“Tidak, Yang Mulia. Siang tadi beberapa diantara mereka sudah
meninggalkan Istana.” jawab Dayat.

“Bila malam ini mereka makan di
Ruang Makan apa cukup?”

Dayat berpikir sebentar lalu berkata, “Cukup, Yang Mulia.”

“Bagus, siapkan makan malam disana. Aku akan makan bersama mereka.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Bila Gabriel dan Ray masih disini, aku ingin mereka turut ikut
bersamaku.” ucap Ashilla lagi.

“Saya akan memberitahu mereka,
Yang Mulia.” kata Dayat kemudian pergi setelah menundukkan kepala memberi hormat.

Setelah kepergian Dayat dari ruangannya, Ashilla kembali menekuni pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Ashilla sedang membuat keputusan
baru untuk memperbaiki kehidupan rakyat.

Ketika hari mulai gelap, seorang
pelayan datang untuk menutup
jendela-jendela dan mulai menghidupkan lilin-lilin. Mereka tahu akan kesibukan Ashilla, karena itu mereka tidak berani mengusik gadis itu.

Hingga hari menjadi gelap pun, Ashilla masih tetap sibuk diruangannya dengan tumpukan laporan para menterinya dan surat-surat keputusannya yang sangat tebal.

“Makan malam sudah disiapkan,
Yang Mulia.” ucap seorang pelayan tiba-tiba yang membuat Ashilla kaget dibuatnya.

Ashilla mengangkat kepalanya.
“Aku akan segera pergi kesana.”

Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan Ashilla.

Ashilla merapikan meja kerjanya.
Lalu meraih secarik kertas dan
pergi ke Ruang Makan.

***

“Selamat malam, Yang Mulia Ratu.” seru Gabriel dan Ray bersamaan.

“Selamat malam juga, Gabriel.. Ray.”

“Apa Anda akan mengumumkan nya sekarang, Yang Mulia?” tanya Ray ketika melihat Ashilla membawa secarik kertas yang ada ditanganya.

“Benar. Aku tidak bisa menunda hal ini lebih lama lagi, Ray. Aku
akan mengatakannya seusai acara makan malam.”

“Saya melihat Anda bekerja terlalu
keras, Yang Mulia. Beristirahatlah sebentar demi kesehatan Anda. Bila Anda sakit, siapa yang akan memperbaiki kehidupan rakyat?” seru Gabriel melihat ketekunan gadis itu.

Ashilla tersenyum. “Kau sangat mirip dengan Sivia, Gabriel.” Sebelum pria itu menanggapi ucapannya, Ashilla segera berkata lagi. “Bagaimana perkembangan tugas yang aku berikan pada kalian?”

“Saya hampir selesai, Yang Mulia. Kami telah menyusun semuanya.
Sekarang kami sedang memeriksa
ulang semuanya.”

“Karena undang-undang kami berhubungan dengan negara lain,
kami sedikit mengalami hambatan
karena hampir semua keputusan
itu masih dilaksanakan. Tetapi,
kami telah menghubungi negara-
negara tersebut dan meminta
mereka tetap mau bekerja sama
dengan kita bila keputusan baru
itu dilaksanakan. Mereka
mengetahui perubahan yang
terjadi di kerajaan kita dan mereka mendukung Anda dengan sepenuhnya. Kami sekarang sedang membuat laporannya.”

“Aku berharap menteri-menteri lain juga hampir selesai.” ucap Ashilla menimpali.

“Mereka juga hampir selesai, Yang Mulia.” kata Gabriel dengan tersenyum. “Kami terpengaruh oleh semangat Anda. Kami ingin
memberikan yang terbaik untuk
Anda.”

“Tidak, Gabriel. Kalian bisa
melakukan tugas besar ini dengan
cepat karena sejak dulu kalian
tahu mana yang salah dan mana
yang harus diubah. Sejak dulu
kalian telah mempunyai gambaran
tentang peraturan yang lebih baik,
tetapi kalian tidak berani
mengatakannya. Sekarang kalian
mengingatnya kembali dan
menyempurnakannya.” ucap Ashilla panjang lebar.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa membantah ucapan Ashilla karena saat itu mereka sudah tiba di Ruang Makan. Prajurit membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Ashilla.

Mereka segera berdiri. “Selamat malam, Yang Mulia Ratu Ashilla.” ucap mereka serempak.

“Selamat malam..” balas Ashilla.
“Mari silahkan duduk, Tuan-tuan.”

Selama makan malam berlangsung, Ashilla sama sekali tidak menyinggung tentang hasil
penyeleksian sesi kedua. Ia mengajak mereka membicarakan tentang semua hal terkecuali hasil penyeleksian.

Setelah pelayan membawa semua hidangan penutup, Ashilla berkata dengan senyuman manis yang tercetak dibibirnya.

“Dalam kesempatan kali ini saya akan mengumumkan nama-nama mereka yang telah lolos dalam pemilihan sesi kedua.”

“Ijinkan saya untuk menggantikan
Anda, Yang Mulia.” ucap Gabriel.

“Silahkan.” Ashilla kembali duduk dikursi kebesarannya.

Gabriel berdiri dan mulai menyebutkan satu-per-satu nama yang tertera dikertas.

Sesaat Ruang Makan menjadi ramai setelah Gabriel selesai membacakan nama-nama itu. Ashilla menunggu ruangan menjadi sepi sebelum ia mulai berkata.

“Selamat untuk kalian yang berhasil. Bagi kalian yang belum berhasil, jangan putus asa. Tetaplah berusaha. Dan bagi mereka yang namanya telah disebutkan oleh Gabriel, aku tunggu di Ruang Pertemuan besok pagi setelah kalian sarapan.”

Ashilla beranjak bangkit dari duduknya dan melanjutkan
perkataannya. “Selamat malam, Tuan-tuan.”

Gabriel dan Ray segera mengikuti langkah Ashilla dari belakang.

“Yang Mulia, apa Anda akan bekerja lagi setelah ini?” tanya Ray penasaran.

“Kalian tidak perlu mencemaskan aku." Ashilla menenangkan. “Aku ingin malam ini kalian menginap disini tetapi jika kalian merindukan keluarga kalian, aku tidak akan melarang. Selamat malam.”

Ashilla membuka pintu Ruang
Kerjanya dan menghilang di balik pintu.

Gabriel dan Ray hanya bisa saling
melirik satu sama lain sambil
mengangkat bahu dan menghela napas panjang melihat kegigihan Ratu mereka, Ashilla.

Ashilla memang sangat mirip dengan ayahnya jika sedang bekerja. Mereka akan bekerja siang malam tanpa henti dan
tanpa kenal lelah.

Mereka tidak tahu jika Ashilla
melakukan semua ini disamping untuk rakyatnya juga untuk mencegah dirinya memikirkan Cakka.

****

Ashilla sudah berada di Ruang Pertemuan, setelah makan pagi selesai. Tak lama menunggu, ke-36 ahli keuangan kerajaan itu mulai berdatangan satu-per-satu.

“Selamat pagi semua..” sapa Ashilla tidak ketinggalan dengan senyuman khasnya.

“Selamat pagi, Yang Mulia Ratu." balas mereka dengan serempak.

“Silahkan duduk. Kita akan segera
memulai rapat kecil kita ini.” ucap Ashilla.

Mereka lalu duduk mengitari meja
panjang di ruangan itu.

Ashilla menatap mereka semua
dan memulai rapat.

“Saya memilih kalian bukan tidak
berdasar. Saya percaya akan
kemampuan yang kalian miliki, itulah sebabnya saya memilih kalian. Kalian yang terpilih akan saya beri tugas. Dan asal kalian tahu, saat ini kalian bukan lagi sebagai saingan tetapi sebagai satu kelompok orang yang bekerja sama.”

“Tugas kalian adalah menghitung
jumlah pemasukan dan pengeluaran selama 20 tahun
terakhir ini. Dihadapan saya ini
telah tercantum macam-macam
pajak berikut besarnya dan jumlah
penduduk selama kurun waktu 20
tahun terakhir.”

“Untuk melakukan tugas ini, aku
ingin kalian tetap tinggal di Istana. Dan agar keluarga kalian tidak cemas, tulislah surat pada mereka dan berikan pada pelayan. Mereka
akan mengantarkan surat-surat
kalian.”

“Untuk kelancaran tugas ini, aku
mempersilakan kalian untuk menggunakan ruangan ini sebagai
tempat kerja kalian. Sebelum
kalian memulainya, aku ingin
menegaskan pada kalian bekerjalah sebagai satu tim. Sebuah tim pasti memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, aku menunjuk Bagas untuk
menjadi pemimpin kalian. Apa ada
yang tidak setuju?”

“Kami setuju, Yang Mulia.”

“Bagus!! Kalian bisa memulai tugas kalian sekarang. Bila kalian mengalami kesulitan, jangan ragu untuk bertanya padaku.”

“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla menganggukkan kepala tanda dia puas dengan jawaban mereka lalu meninggalkan Ruang
Pertemuan dan segera menuju
Ruang Kerjanya.

***

“Kalian berdua masuklah, aku
mempunyai tugas untuk kalian.” ucap Ashilla pada kedua prajurit yang menjaga ruang kerjanya.

Kedua prajurit itu pun mengikuti
Ashilla dari belakang.

Ashilla mengeluarkan dua tumpuk kertas dari lacinya.

“Masing-masing dari kalian aku perintahkan untuk menyebarkan sepuluh surat ini kepada para Menteri. Tunggulah sebentar sampai kalian mendapatkan jawaban dari para Menteri itu. Jika tugas ini sudah selesai, segeralah kembali.” ucap Ashilla dengan suara tegasnya.

Mereka berdua menerima surat-surat itu lalu berkata. “Hamba akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia.” Mereka pergi setelah membungkukkan kepala tanda hormat.

Setelah kepergian kedua prajurit itu, tiba-tiba muncul seorang pelayan.

“Lapor, Yang Mulia. Kepala Penjara Vandella datang untuk menghadap Anda.” lapor seorang pelayan.

“Suruh dia masuk.” ucap Ashilla tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas-kertas.

Kepala Penjara itu membungkuk
dan berkata. “Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Saya datang membawa nama-nama penghuni penjara diseluruh Vandella seperti yang Anda minta.”

Ashilla mendongakkan kepala untuk menatap kepala penjara itu.

Lalu pria yang berperawakan kurus ceking itu menyerahkan
berkas-berkas yang dibawanya.

“Duduklah..” kata Ashilla “Aku akan mempelajarinya sebentar.”

Ashilla membalik-balikan kertas itu.

“Saya sudah mengelompokkan.antara yang dipenjara karena
melanggar hukum dan yang
dipenjara karena tidak membayar
pajak maupun yang menentang
Yang Mulia Raja Sion.” ucap sang kepala penjara menjelaskan

Ashilla tidak terkejut sama sekali ketika melihat nama-nama yang dipenjara karena melanggar
hukum lebih sedikit daripada yang
tidak bersalah. Ia sudah bisa
menduganya bahkan sebelum menerima laporan ini.

Ashilla berterimakasih pada kepala penjara tersebut karena nama-nama itu sudah dipisahkan pada lembar yang berbeda-beda sehingga bisa menghemat waktunya. Ia segera membagi-bagi
berkas-berkas itu menjadi dua
kelompok, antara yang bersalah dan yang tidak bersalah.

“Nama-nama ini sudah kau kelompokkan berdasarkan tempat mereka dipenjara?” tanya Ashilla.

“Sudah, Yang Mulia. Setiap tahun
Yang Mulia Raja Sion meminta
laporan nama-nama penghuni penjara dari masing-masing tempat penjara yang sudah
dikelompokkan seperti itu. Saya
hanya perlu menyatukan mereka
dan menyerahkannya pada Anda.” jawab sang kepala penjara.

“Ternyata serigala itu baiknya juga.” Ashilla berkata pada dirinya sendiri.

“Aku menugaskanmu untuk berkeliling pada setiap penjara dan membacakan titahku ini.” Ashilla mengeluarkan selembar kertas dari lacinya yang sudah
ditanda tanganinya.

Kepala Penjara itu melihat isi titahnya yang berbunyi:

"Atas titah dari Ratu Kerajaan
Vandella, nama-nama yang telah disebutkan mulai saat ini dinyatakan tidak bersalah. Oleh
karena itu, mereka dibebaskan dari penjara dan semua yang menjadi milik mereka akan dikembalikan".

“Nama yang harus kau sebutkan
adalah nama yang ada dikertas
ini. Jika kau telah menyelesaikan tugasmu disatu penjara, segera
kirim daftar namanya kepadaku.” perintah Ashilla.

“Baik, Yang Mulia.”

“Satu hal yang tidak boleh kau lakukan adalah mewakilkan tugas ini pada orang lain. Aku percaya kau dapat melaksanakannya dengan baik.”

“Saya akan berusaha menjalankan
titah Anda dengan sebaik-baiknya,
Yang Mulia.” jawab sang kepala dengan penuh keyakinan dan pergi setelah membungkukkan kepala memberi hormat.

Ashilla tersenyum puas melihat
kepergian pria itu. Satu tugas lagi
telah dilakukannya. Sekarang ia
menanti kabar dari Menteri-
menterinya sebelum menjalankan
setumpuk keputusan yang sudah
dibuatnya.

Menjelang sore, kedua prajurit
yang diutus oleh Ashilla datang.
Mereka menyerahkan surat balasan dari para Menteri itu pada Ashilla.

Ashilla tersenyum puas ketika membaca surat-surat balasan itu.
Para Menterinya itu hampir
menyelesaikan tugas mereka dan
itu artinya Ashilla bisa segera
mengadakan rapat selanjutnya.

********************************

hay hay hay hihihii :D maaf yaa ngepostnya lama. sebenernya udah dari kemaren mau dipost tapi gara2 ada tante di rising star, seketika itu mood aku jadi hilang begitu saja, bukannya mau mengkambing hitam kan si tante loh yaa :)

oh ya aku mau minta maaf sekali lagi, kalau cerita repost ini ngga menjurus ke couple cakshill. Maka dari itu aku ubah  versinya menjadi versi icil, ngga papa yaa?? karena setelah dipikir2 repost ini ngga terlalu menjurus ke couple cakshill. :)

cerita copast ini sebenernya menceritakan perjuangan seorang ratu baru dalam merubah kehidupan rakyatnya, jadi jangan heran kalau peran seorang ratu (ashilla) lebih banyak muncul :)

tapi masih ada kok pov cakshill nya dipart2 selanjutnya. so.. tetap pantengin cerita copast ini yaa. makasihh... ;)

Jumat, 12 September 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 8

aku dataaang lagi kawaann hehe :-)

walaupun telat tapi aku tetap mau ngucapin Happy Shivers day buat kalian para shivers-shivers semua  :-) semoga kalian makin kompak, makin seru, makin dewasa dan nggak gampang terhasut oleh para shiters diluaran :-D

okeh lah langsung aja yee ...

*******************************

Seperti apa yang telah diperkirakan oleh Ashilla sendiri, hari-hari berikutnya akan menjadi hari yang panjang dan sangat melelahkan baginya.

Sepanjang hari ia akan duduk di meja kerjanya untuk mempelajari
laporan-laporan dari ke dua puluh menterinya. Laporan dari awal mereka menjabat sampai saat ini. Ternyata tebal dari laporan itu lebih tebal dari bayangan Ashilla. Tetapi ia tidak mengeluh.

Ashilla mensyukuri akan kesibukannya sekarang ini. Dengan kesibukannya itu, ia dapat
melupakan Cakka. Dan ketika malam hari menjelang ia sudah terlalu lelah untuk mengenang Cakka.

Seperti Ashilla, semua Menteri
juga sibuk dengan tugasnya. Kesibukan para Menteri yang luar biasa ini sudah menarik perhatian para kuli koran.

Siapa yang tidak tertarik dengan para Menteri yang tiba-tiba mengacak-acak kantor mereka untuk membuka undang-undang lama? Siapa yang tidak ingin tahu dengan kegiatan ke dua puluh kantor itu beserta karyawan-karyawannya yang melakukan persidangan terus menerus tanpa hentinya?

Tindakan Ashilla itu membuat warga Vandella bertanya-tanya terutama warga Perenolde. Seperti belum puas dengan membangkitkan keheranan
rakyatnya, Ashilla terus membuat
kejutan lagi dengan pengumuman yang dia berikan.

Semua koran memuat titah Ashilla dengan huruf besar-besar
dan diletakkan dihalaman paling depan. Dan bunyi titahnya yakni,

Yang Mulia Ratu Ashilla mengundang semua ahli keuangan
Kerajaan Vandella untuk datang ke
Istana Azzereath. Yang Mulia Ratu
akan mengadakan pemilihan untuk
memilih ahli keuangan terbaik yang akan menjadi penasehatnya. Para ahli keuangan yang berminat harap segera menuju Istana Azzereath untuk segera mendaftarkan diri. Yang Mulia Ratu hanya memberi waktu kurang
dari satu minggu untuk mereka
yang tinggal disekitar Perenolde
dan satu setengah minggu untuk
mereka yang tinggal diluar radius
400 mil dari Perenolde.

Semua orang sibuk membicarakan
kedua titah Ashilla di rapat pertamanya. Koran-koran menyoroti kedua titah itu.

Tanpa disadari, keingintahuan rakyat yang besar membuat mereka para penulis lebih berani menyeruakan pendapatnya daripada sebelumnya. Dan koran-koran mulai dapat menjawab keingintahuan rakyat.

Sebagai orang yang pertama
menyadarinya, Ashilla merasa sangat gembira. Ia senang melihat koran telah berani berpendapat. Mereka berani menulis apa yang
sebenarnya direncanakan oleh
Ratu mereka?

Ashilla yakin mereka tidak menyadari dengan kalimat-kalimat tersebut. Kalimat yang mereka keluarkan pada masa pemerintahan ayahnya dianggap tidak mempercayai adanya Raja. Tetapi setelah koran dicetak dan mereka membacanya, mereka baru menyadari bahwa kalimat yang mereka keluarkan akan menyebabkan hukuman pancung.

Sebelum ada yang menemuinya
untuk minta maaf, Ashilla segera
menyebarkan ucapan selamat untuk agensi koran-koran tersebut.

“Koran Anda bagus sekali isinya.
Saya senang atas kemajuan ini.
Teruslah berkembang dengan
bebas! Jadilah koran yang benar-
benar dapat memberi informasi
pada rakyat.”

Demikian kata-kata yang Ashilla
tulis pada surat-suratnya.

Menjelang siang hari, surat-surat yang penuh dukungan itu telah
tersebar disemua agensi koran. Kedatangan surat itu mula-mulanya menakutkan para pemilik penerbitan koran, tetapi mereka bersorak sorai setelah membaca isinya yang penuh dukungan dan kepuasan. Mereka merasa seperti mendapatkan angin segar dalam kerja mereka memberi informasi pada rakyat.

Dihari-hari selanjutnya, Ashilla
akhirnya bisa tersenyum puas ketika membaca koran. Ia tidak perlu lagi merasa muak untuk membaca koran yang isinya hanya omong kosong dan tidak berguna.

Ada beberapa keputusan-keputusan yang didapat dari hasil rapat pertama Ashilla dan para menteri-menterinya itu. Dan baru dua keputusan hasil dari rapat tersebut yang diketahui oleh rakyatnya. Tapi ada juga yang rakyat tidak mengetahuinya hasil rapat tersebut yang memutuskan bahwa Ashilla mengurung Menteri Keuangan di Istananya, jika rakyat tahu mereka pasti akan menjadi semakin ramai.

Hingga hari ketiga keberadaan Riko di Istana, tidak ada seorang pun yang tahu. Keluarga Riko
sendiripun tidak tahu apa-apa.

Untuk menenangkan keluarganya, Ashilla mengirim Kiki untuk ke rumah Riko. Melalui Kiki, Ashilla mengatakan saat ini Kiki sedang diperlukan di Istana dan untuk beberapa waktu ia tidak dapat menghubungi keluarganya.

Keluarga Riko mempercayainya.Dan tidak ambil pusing walau
sudah lama tidak ada kabar dari
Riko. Semuanya percaya bahwa Ratu mereka, Ashilla sedang
membutuhkan bantuan Riko
untuk menghitung kas negara.

Tidak ada seorang pun yang berada diluar Istana yang tahu bahwa Ashilla menghitung sendiri uang yang dimiliki oleh Vandella. Untuk melakukan pekerjaan itu, Ashilla meminta seluruh penghuni Istana menuliskan macam-macam pajak yang
dibebankan ayahnya berikut
jumlahnya.

Untuk menghilangkan kecurigaan
rakyat akibat hilangnya Riko,
Ashilla memerintahkan Lintar,
wakil Menteri Keuangan untuk
menggantikan tugas-tugas Riko. Dan kepadanya Ashilla tidak menjelaskan apa-apa tentang
keberadaan Riko di Azzereath. Ia hanya meminta Lintar untuk
melakukan pekerjaan yang sama
seperti menteri-menteri lainnya.

Begitu sibuknya Ashilla sehingga ia
sering melalaikan keadaan dirinya sendiri. Tidak ada lagi waktu istirahat untuknya.

Langkah besar yang diambil oleh Ashilla diawal pemerintahannya
ini sangat mengguncang warga Vandella. Mulai dari Perenolde hingga ke daerah perbatasan. Mereka yang dulu tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan Rajanya menjadi terbangkitkan untuk mengikuti perkembangan suasana ibukota.

Guncangan ini sampai pula di
tempat Cakka dan menjadi berita yang paling menghebohkan.

***

Suatu pagi yang cerah terdengar
suara kuda mendekat ke tempat Cakka yang disertai teriakan,“Pangeran!! Pangeran!!”

“Ada apa, Ozy?” tanya Cakka pada pengendara kuda setelah ia berhenti didepannya. “Apa kau sudah mengetahui bagaimana keadaannya?”

“Gawat, Pangeran!! Ini benar-benar gawat.” kata Ozy dengan nafas yang masih ngos-ngosan

Cakka segera menarik Ozy kedalam kamarnya.

Alvin yang mendengar pembicaraan singkat itu langsung mengikuti Cakka dari belakang.

Cakka langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu berkata, “Ceritakan apa yang kau dapatkan disana?”

“Gadis itu, Pangeran!!” Ozy berkata antara takjub dan takut,
“Gadis itu…”

“Cepat katakan, kenapa dengan dia??” Cakka sudah tidak sabar lagi.

“Ia adalah Ratu Vandella.” seru Ozy.

Baik Cakka maupun Alvin terhenyak kaget mendengarnya. Mereka menatap Ozy dengan pandangan tak percaya.

“Apa kau yakin?” tanya Cakka hati-hati.

"Sangat yakin Pangeran, karena ia adalah Yang Mulia Ratu Kerajaan Vandella, Pangeran!!” Ozy meyakinkan, “Hamba sendiri yang mendengar ia berkata seperti itu di Gedung Parlemen.”

Pada akhirnya Ozy segera menceritakan apa yang terjadi selama ia berada di Perenolde. Ia menceritakan bagaimana ia menyamar menjadi wartawan demi mendapatkan informasi untuk disampaikan ke Cakka.

“Saat itu saya berpikir Anda pasti
senang kalau saya memberi kan Anda informasi tentang apa yang dilakukan Raja Sion di Gedung Parlemen setelah sekian lama menghilang. Saya tidak menduga akan bertemu Shilla disana. Mulanya saya tidak percaya ia adalah Shilla tapi setelah saya mengamatinya ia benar sangat mirip dengan Shilla. Akhirnya saya bertanya padanya siapa dia sebenarnya. Dan dengan tegas ia menjawab, ‘ Saya adalah Ashilla, Ratu dari Kerajaan Vandella’. ”
tutur Ozy pada Cakka.

“Kurang ajar!!” geram Cakka. “Setan cilik itu ternyata telah menipuku.”

“Ashilla…” gumam Alvin pelan, “Aku merasa pernah mendengar nama itu.”

“Ia adalah putri Raja Sion yang
dibawa pergi oleh Ratu Zahra bertahun-tahun lalu.” Ozy
menjelaskan.

“Benar!!” seru Alvin. “Aku baru ingat, dulu Ratu Zahra membawa pergi putrinya yang baru lahir dan
membuat rakyat Vandella gempar kecuali Raja Sion sendiri. Rupanya ia telah mencari putrinya sebelum ia mati dan berjaga-jaga agar tidak terjadi perebutan tahta. Cukup beralasan mengapa ia tidak pernah mengumumkan Febby sebagai pewaris tahtanya.”

“Saya rasa tidak. Menurut isu yang
beredar di Perenolde, hingga Raja
Sion meninggal pun ia tidak pernah memerintahkan untuk melakukan pencarian terhadap putrinya. Para menterilah yang mencari mereka sendiri.” jawab Ozy membenarkan.

“Menteri yang setia.” ejek Cakka.
“Aku heran mengapa mereka baru
mengumumkan hal ini setelah
sepuluh bulan serigala itu mati.”

“Karena mereka mengalami kesulitan dalam menemukan
tempat tinggal Ratu, Pangeran.
Ratu menghilang tanpa jejak.” timpal Ozy.

“Benar-benar budak yang setia.”
ejek Cakka. “Aku heran mengapa
mereka mau menahan berita
kematian serigala itu sampai sang
Putri kembali?”

“Saya tidak tahu tentang itu,
Pangeran.” jawab Ozy sambil menggelengkan kepala.

“Kejadian itu terjadi enam belas
tahun yang lalu, berarti…” Tiba-
tiba Alvin berseru takjub. “Gadis itu masih sangat muda!”

“Setan cilik itu masih anak-anak.”
Cakka membetulkan.

“Aku tidak percaya, sekarang kita
mempunyai Ratu semuda itu.” kata Alvin tak percaya.

“Ratu muda yang bodoh. Apa yang
bisa dilakukan oleh anak-anak
sepertinya?” ucap Cakka sarkatis.

“Banyak, Pangeran.” jawab Ozy.“Ketika saya hendak kembali ke
sini, terdengar kabar bahwa Ratu
memanggil semua menteri-menterinya. Saya pikir Anda akan tertarik untuk mengetahui apa rencana Ratu. Karena itu saya menunda kepulangan saya.”

“Ratu memanggil semua
menterinya untuk memerintahkan
mereka membongkar semua
peraturan lama. Ratu ingin membuat peraturan baru. Ratu
juga menyebarkan pengumuman
panggilan terhadap semua ahli
keuangan Vandella. Ratu meminta
mereka datang ke Azzereath karena ia akan memilih ahli keuangan terbaik.” lanjut Ozy.

“Gebrakan yang mengejutkan.” ejek Cakka.

“Benar, Pangeran” sahut Ozy. “Ratu membuat seluruh Perenolde
gempar. Koran-koranpun menjadi lebih berani untuk mengupasnya.
Lihatlah ini.”

Cakka membaca kalimat yang
ditunjuk oleh Ozy dan berkomentar. “Berani juga mereka meragukan kemampuan keturunan serigala itu.”

“Itu belum apa-apa dibandingkan
dengan koran-koran ini, Pangeran.
Saya dengar Ratu memberi.dukungan pada tiap agensi koran untuk terus berkembang.” ucap Ozy memberitahu.

“Rencana licik apalagi yang dibuatnya? Dia memang licik. Harus aku akui dia cukup cerdik dalam mendapatkan simpati rakyat.” kata Cakka sinis.

“Beristirahatlah dulu, Ozy. Lalu
kembalilah ke Perenolde dan terus kabari aku apa yang terjadi disana. Jangan katakan hal ini pada yang lain. Aku tak ingin mereka khawatir jika Ratu sial itu akan menyerbu kita sewaktu-waktu." ucap Cakka lagi.

“Saya kira dalam waktu dekat ini, hal itu tidak akan terjadi, Pangeran. Saat ini Ratu sedang sibuk dengan kas negara. Bahkan, ia meminta Riko untuk tinggal didalam Istana.” ucap Ozy lagi seakan tidak perduli dengan perintah Cakka yang memintanya untuk istarahat dan untuk tidak banyak bicara lagi.

“Aku tetap ingin kau tutup mulut, Ozy!!” kata Cakka tegas.

“Baik, Pangeran.” jawab Ozy mengerti.

“Beristirahatlah lalu segera kembali ke Perenolde.” perintah Cakka pada Ozy.

Kemudian Ozy segera meninggalkan kamar Cakka.

“Biacaramu terlalu sinis, Cakka.
Kenapa kau sangat mencurigai dia?
Belum tentu ia selicik dugaanmu.
Mungkin saja setelah melihat apa
yang terjadi di sini, ia ingin
memperbaiki pemerintahan
ayahnya.” seru Alvin tiba-tiba setelah kepergian Ozy dari kamar Cakka.

“Aku percaya pada diriku sendiri.
Aku tidak mungkin salah.” Ucap Cakka murka. “Dia pasti menyesal bila bertemu denganku. Dan aku akan membuatnya menyesal telah
menipuku dan rakyatku. Aku ingin
sekali membunuhnya.”

“Dia tidak sepenuhnya membohongi kita. Setidaknya ia masih memberikan nama aslinya.” bela Alvin.

Cakka tidak tertarik untuk mendengarkan pembelaan yang di ucapaka oleh Alvin, tapi Alvin tetap melanjutkannya. “Dia menyuruh kita untuk memanggilnya dengan panggilan
Shilla. Panggilan itu dari namanya Ashilla. Nama yang sangat menyenangkan untuk didengar
seperti mengandung sinar bintang
yang cerah.”

“Berhentilah untuk menyebut-nyebutnya namanya. Aku muak mendengarnya!” ucap Cakka tajam.

“Kau boleh marah, Cakka. Tapi
kau tidak bisa membohongiku.” lanjut Alvin.

“Cukup!!” bentak Cakka.

Alvin hanya mengangkat bahunya.
Ia tahu Cakka benar- benar sangat murka saat ini. Ia juga tahu takkan ada yang berani mengusiknya dalam hari-hari belakangan ini termasuk Pricilla.

Sejak Shilla kembali bersama para
pasukan itu, Cakka merasa sangat cemas. Ia bahkan mengirim pasukannya untuk mengintai pasukan kerajaan dan mencari kesempatan untuk menculik Shilla kembali.

Setelah tidak berhasil merebut Shilla, Cakka mengirim Ozy untuk mencari tahu keberadaan Shilla.

Orang yang paling bergembira dengan hilangnya Shilla adalah Pricilla. Wanita itu seperti mendapatkan kembali kesempatan untuk berdua dengan Cakka.

Pricilla semakin berani mendekati Cakka. Bahkan, ia meminta Cakka untuk mengajaknya tidur dikamarnya seperti yang ia lakukan pada Shilla. Tentu saja Cakka dengan dingin menolaknya.

Suasana di Vandella tengah berubah. Demikian pula dengan suasana hati Cakka. Tapi, tidak untuk suasana rakyat Lasdorf.

Meskipun mereka membaca koran
yang menyerukan perubahan yang
dilakukan Ashilla, mereka tidak
akan tahu bahwa Ashilla adalah gadis yang sama dengan Shilla.
Rakyat kecil ini baru akan gempar bila tahu gadis yang dulu mereka puja adalah Ratu Vandella.

Tujuh ratus mil dari tempat itu
Ashilla tetap dengan meneruskan kesibukannya. Siang malam ia
terus terlihat di Ruang Kerjanya
dengan tumpukan kertas yang
tinggi.

Terlalu banyak yang harus dilakukannya sehingga ia sering
melupakan waktu. Setiap kali hari mulai menjadi gelap, Ashilla selalu berkata, “Waktuku cepat berlalu.”

Waktu yang terus berganti dengan
cepat, mendorong Ashilla untuk
bekerja lebih cepat lagi. Lebih
banyak yang diselesaikan Ashilla,
semakin puas hatinya.

Kesibukan yang ada di Azzereath tidak hanya terjadi pada Ashilla saja. Seluruh pelayan Istana juga ikut disibukkan oleh kedatangan para ahli keuangan yang datang memenuhi panggilan Ashilla.

Orang yang pertama kali terkejut
dengan banyaknya ahli keuangan
yang datang adalah Kiki. Saat ia
mencatat nama ke lima puluh, ia
segera menemui Ashilla.

“Luar biasa, Yang Mulia” serunya tak percaya, “Lihatlah ini. Ini nama ke lima puluh yang saya catat.”

Ashilla tertawa geli. “Berilah dia
hadiah, Kiki, sebagai penghargaan
menjadi orang ke lima puluh.”

“Anda seperti akan mengadakan
perlombaan, Yang Mulia." ucap Kiki seraya tersenyum.

“Kaulah yang membuatnya seperti itu, Kiki.” Ashilla tersenyum geli. “Aku berjanji minggu depan kau akan lebih terkejut.”

“Anda benar, Yang Mulia, mereka jumlahnya masih banyak.”

“Aku sudah mengatakannya
padamu, bukan” Ashilla mengingatkan dengan lembut, “Lebih baik sekarang kau kembali kebawah. Aku yakin sudah banyak yang menanti kau memasukkan
nama mereka dalam daftar peserta lombamu.”

Melihat wajah Kiki yang seperti
anak kecil yang sedang marah, tak buatnya Ashilla tertawa geli.“Pergilah menemui para peserta lombamu sebelum mereka membatalkan niatnya untuk mengikuti lombamu itu.”

Kiki tersenyum seraya membungkuk hormat. Ia masih tersenyum ketika kembali ke Hall.

Ashilla tersenyum melihat
kepergian Kiki lalu kembali menekuni pekerjaannya yang tertunda. Membaca laporan telah ia selesaikan berhari-hari lalu. Sekarang yang menjadi pekerjaannya adalah menyusun hal-hal yang harus segera dilakukannya setelah membaca laporan kedua puluh menterinya serta membuat keputusan-keputusan baru.

Segala ide-ide bagus yang terlintas dalam pikirannya segera ia tulis dan dipisahkan-pisahkannya. Sangat banyak ide-ide yang terlintas dalam pikiran Ashilla sehingga ia bingung mana yang harus dilakukannya lebih dulu.

Di tengah-tengah kesibukannya,
Ashilla masih menyempatkan diri
untuk menyelesaikan masalah
Riko dan menerima menteri-
menterinya yang datang untuk
menanyakan sarannya.

Sejak mengurung Riko disalah
satu kamar di Istana, Ashilla tidak pernah bertemu dengannya lagi. Namun, dari prajurit yang menjaga
kamar tempat Riko berada, ia mengetahui bahwa Riko sangat gelisah menanti hasil pemeriksaan
dari Ashilla terhadap dirinya.

Ketika dihari terakhir yang ditentukannya tiba, Ashilla segera
memanggil Gabriel ke Istana. Dari
hasil pendataan yang dilakukan oleh Kiki, Ashilla mengetahui jumlah orang yang datang.

***

Pagi harinya setelah makan pagi,
Ashilla meminta Kiki untuk menyuruh pelayannya menyiapkan kertas dan pena di Ruang Rapat.

Pelayan-pelayan Istana segera
melaksanakan perintah dari Ashilla
itu. Mereka tidak mau kalah dengan Ashilla yang juga sibuk
menyiapkan segala-galanya untuk
pertemuannya yang pertama
dengan semua ahli keuangan
Vandella itu.

Kesibukan di dalam Istana yang
terjadi sejak pagi itu membuat
para tamu Ashilla tahu bahwa pemilihan telah tiba. Mereka pun
sibuk untuk mempersiapkan dirinya masing-masing.

Menjelang siang hari, para pelayan telah menyiapkan segalanya seperti perintah Ashilla.

Kiki memanggil seluruh tamu Istana itu menuju ke Ruang Rapat tempat Ashilla dan Gabriel telah menantinya.

Sambil menunggu mereka semua
berkumpul, Ashilla sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang disana. Ketika semuanya telah berkumpul, Ashilla tetap berbincang-bincang.

Gabriel juga menyibukkan diri
dengan bercakap-cakap bersama
mereka. Sebelumnya ia sudah diberitahu oleh Ashilla untuk membiarkan mereka menunggu.

“Aku ingin tahu sampai dimana
batas kesabaran mereka.” kata
Ashilla sebelum seorang pun memasuki Ruang Rapat.

Setelah hampir setengah jam
menanti, orang-orang itu mulai
gelisah. Mereka mulai mengkhawatirkan rencana Ratu
mereka.

“Di mana Yang Mulia Ratu, Gabriel? Sejak tadi kami menanti disini, tapi Yang Mulia Ratu belum hadir juga.” tanya seseorang.

“Beliau sudah ada disini sebelum
kalian datang.” Gabriel berkata
sambil melihat seorang gadis muda yang tengah berbicara dengan seorang pria tua.

“Dia!?” Mereka terkejut ketika
melihat Ashilla.

Setelah menyadari kekagetannya, kemudian mereka bersama-sama mulai mendekati Ashilla dan berlutut seraya berkata. “Maafkan kami, Yang Mulia Ratu. Kami tidak
menyapa Anda sebagaimana
mestinya.”

Dalam waktu singkat semua yang
hadir ikut berlutut dan memohon
maaf.

Ashilla tersenyum ramah dan
berkata. “Berdirilah kalian semua.
Masih banyak yang harus dilakukan
daripada mempermasalahkan
sopan santun.”

“Terimakasih Yang Mulia Ratu." kata mereka serempak. Dan Dengan hampir bersamaan mereka berdiri.

“Dari kalian yang ada disini, aku
ingin memilih beberapa orang yang benar-benar ahli dalam hal
pembukuan uang.” ucap Ashilla
menegaskan. “Sebagai pemilihan
pertama, aku akan memberi
pertanyaan yang mudah. Jawabannya tidak perlu dikatakan, tetapi tulis dikertas dan yang berikan oleh Gabriel nanti. Apa kalian mengerti?”

“Kami mengerti, Yang Mulia.” seru mereka kompak.

“Baik. Pertanyaannya adalah bila kalian mempunyai uang lebih banyak dari impian kalian, apa yang akan kalian lakukan dengan uang itu? Kutunggu jawabannya dalam lima menit dimulai dari sekarang.” kata Ashilla pada para peserta.

Kemudian Ashilla berbalik menuju kursi tingginya yang ada diujung meja rapat dan melihat
orang-orang yang mulai menulis
jawaban mereka.

Tak lama kemudian, Gabriel menyerahkan tumpukan kertas
jawaban itu pada Ashilla.

“Terima kasih, Gabriel.” ucap Ashilla tersenyum manis.

Ashilla mulai melihat lembar jawaban dari mereka. Gadis itu hanya melihat sebentar lalu menyingkirkannya. Ia mengambil lembar yang berikutnya dan segera menyingkirkannya juga.

Gabriel tidak terkejut maupun
heran dengan kerja Ashilla yang sangat cepat. Gadis itu memang tangkas. Jika Raja lain membutuhkan waktu sepuluh tahun dalam melakukan perubahan tetapi bagivAshilla hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.

Dalam waktu singkat saja dihadapan Ashilla sudah ada dua tumpuk kertas. Ashilla mendesah
panjang ketika menyerahkan
setumpuk kepada Gabriel.

“Mereka tidak berhasil.”

Ashilla kecewa melihat tumpukan
kertas itu.

Gabriel melihat jawaban itu lalu
dengan heran ia menatap Ashilla.

“Aku membutuhkan orang yang
selalu tanggap dengan perubahan
bukan yang mengikuti masa lalu.”
Ashilla menjelaskan. “Sungguh sangat disayangkan, beberapa dari mereka masih mengira aku sama dengan ayahku. Bukannya sudah banyak koran yang menuliskan keinginanku, tetapi mereka maaih saja tidak tahu. Aku sengaja tidak mengatakannya pada mereka
untuk melihat siapa yang selalu
mengikuti perubahan jaman.” lanjut Ashilla sambil menghela napas panjang.

Gabriel mengerti akan keinginan
Ashilla.

Tumpukan kertas yang diberikan
Ashilla itu pada intinya hanya mengatakan. “Aku akan memberikan uangku pada Raja
agar ia senang.” Atau “Aku akan
menggunakannya untuk
memperbaiki kehidupan rakyat.”

Akhirnya Gabriel mengumumkan hasil pemilihan pertama.

Setelah semua yang gagal keluar dari Ruangan tersebut, Ashilla berdiri dengan tumpukan kertas baru.

“Pertanyaan yang kedua adalah
kalian harus menyelesaikan
hitungan ini.” Ashilla berkata dengan tegas.

Gabriel mengambil kertas yang diberikan oleh Ashilla dan mulai membagikannya.

Selagi Gabriel membagikan soal
kedua, Ashilla berkata, “Silahkan
menggunakan meja rapat untuk mengerjakan soal itu. Aku hanya memberi waktu lima belas
menit untuk hitungan mudah itu. Dan jika sudah selesai, kumpulkan pada Deva.”

Gabriel mendekati Ashilla. “Soal
telah saya bagikan, Yang Mulia.”

“Sekarang ikutlah denganku, Gabriel. Masih banyak yang harus kita selesaikan.”

Ashilla menuju meja yang baru
dipindahkan ke sudut ruangan itu
pagi tadi. Di meja itu tampak
setumpuk kertas berisi hitungan-hitungan.

Kemudian Gabriel duduk didepan Ashilla.

“Periksalah ini. Apa benar ini semua pajak yang ditarik oleh ayahku selama ini?” tanya Ashilla.

Selagi Gabriel memeriksa, Ashilla
mengawasi orang-orang yang sibuk
menghitung itu.

Gabriel mengangkat kepala dari
kertas itu.

“Selain pajak tanah, pajak
pendapatan, apa ayahku juga menarik pajak hasil panen, pajak
barang, pajak rumah, pajak ternak,
pajak kendaraan, dan semua
macam pajak yang ada di situ?” tanya Ashilla kembali.

“Benar, Yang Mulia Ratu.” jawab Gabriel.

Beberapa orang telah selesai mengerjakannya dan memberikan hasil perhitungan mereka pada Kepala Keamanan Istana yang mengawasi mereka.

“Bolehkan saya mengajukan
pertanyaan, Yang Mulia?” tanya Gabriel tiba-tiba.

“Silahkan...”

“Mengapa Anda membuat soal
yang berbeda-beda?” tanya Gabriel menyeruakan keheranannya pada gadis itu.

“Aku ingin tahu kemampuan mereka yang sebenarnya. Aku
membutuhkan orang yang dapat
bekerja cepat dan teliti.” jawab Ashilla tegas.

“Waktu telah habis!!” Deva
mengumumkan. “Anda semua dipersilakan untuk beristirahat di kamar Anda masing-masing.”

Semuanya langsung berdiri. Beberapa dari mereka ada yang mengeluh panjang. Dan ada yang tersenyum senang. Ada juga yang berbisik-bisik. Seketika suasana yang awalnya sepi, kini menjadi sangat riuh.

“Seperti anak-anak sekolah yang
sedang ujian.” gumam Gabriel seraya terkekeh pelan.

“Aku memang sengaja membuatnya seperti itu.” sahut Ashilla dengan senyum
manisnya.

Tiba-tiba Deva mendekat. “Semua jawaban telah saya kumpulkan, Yang Mulia.”

“Terima kasih, Deva. Maukah kau membawakannya ke Ruang Kerjaku?” balas Ashilla.

“Dengan senang hati, Yang Mulia.” jawab Deva menyanggupi.

“Mari kita berangkat, Gabriel." Ashilla bangkit dan mengambil tumpukan tugasnya lalu membawanya pergi.

“Ijinkan saya membantu Anda,Yang Mulia.” Gabriel mengulurkan
tangannya.

“Terima kasih, Gabriel.” Ashilla
menyerahkan bawaannya.

Ashilla meninggalkan Ruang Rapat dengan dikawal oleh Gabriel dan Deva.

Penjaga pintu pun membukakan pintu untuk mereka bertiga.

Setelah samapai di Ruang Kerja Ashilla, Deva dan Gabriel segera meletakkan kertas-kertas itu diatas meja.

“Sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu, Deva, tapi aku ingin meja kecil di Ruang Rapat tadi dikembalikan ke tempat asalnya.” perintah Ashilla pada Deva.

“Keinginan Anda adalah tugas bagi
saya, Yang Mulia.” Deva membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan itu.

“Menteri Luar Negeri datang untuk
menghadap Anda, Yang Mulia.” Tiba-tiba penjaga berseru memberitahukan ada kunjungan bagi Ashilla.

“Suruh dia masuk.” jawab Ashilla lantang.

“Hamba datang memenuhi
panggilan Anda, Yang Mulia.” Ray
membungkuk hormat.

“Kau datang tepat waktu, Ray. Kemarilah dan bantu kami untuk
memeriksa jawaban-jawaban ini.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Ray lalu duduk disamping Gabriel.

Ashilla menyerahkan kepada mereka masing-masing selembar
kertas. “Ini adalah jawaban untuk semua soal ini. Perhatikan baik-
baik soalnya. Ada lima belas jenis
soal yang ada disini.”

“Kami akan berhati-hati, Yang Mulia.” jawab mereka serempak.

Lalu ketiganya segera tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing. Diantara mereka bertiga, Ashilla lah yang paling cepat menyelesaikan tugasnya. Gadis itu yang membuat semua soal ini dan tentunya gadis itu pula yang membuat jawabannya. Ia masih ingat dengan semua jawaban-jawabannya yang semuanya berisi dengan angka-angka yang berderet-deret itu.

Selama hari-hari terakhir ini Ashilla terbiasa bekerja dengan cepat. Tak heran jika ia sangat tangkas dalam segala hal namun penuh perhitungan.

Dari 8.454 orang yang telah mengikuti, hanya 157 orang yang lolos dalam pemilihan pertama. Dan dari pemilihan kedua, yang lolos hanya 36 orang saja.

Ashilla memandang kertas yang
berisi jawaban yang benar itu.

“Biarkan mereka menantinya.” kata Ashilla. “Besok baru kita
umumkan siapa saja yang lolos. Sampai saat itu tiba, jangan mengatakan hasilnya pada siapa pun.”

“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.” jawab mereka berdua.

“Mendekatlah!” kata Ashilla pada Gabriel dan Ray.

Gabriel dan Ray berdiri disamping Ashilla.

“Ini adalah hasil perhitungan
kasarku.” Ashilla memberikan
selembar kertas pada mereka. “Aku ingin kalian memberitahu ku mana yang salah dan mana yang terlewat.”

“Ini, Yang Mulia” Gabriel menunjuk
sederet angka-angka itu. “Jumlah yang ditarik lebih besar dari ini.”

Ashilla menghitung kembali hasil
perhitungannya. Baik Gabriel
maupun Ray tidak henti-hentinya memberikan bantuan pada gadis itu. Tiap ada yang salah, mereka tak ragu untuk memberitahu. Mereka juga tidak segan memuji pekerjaan Ashilla.

Ashilla juga dengan senang hati
menerima pendapat dari kedua
menterinya itu.

“Sudah saatnya beristirahat, Yang Mulia Ratu!”

Ashilla terkejut mendengar pelayan tuanya yang setia itu masuk dan membawa nampan penuh yang berisi dengan berbagai macan makanan.

“Apa yang kaulakukan disini, Sivia?” ucap Ashilla pada Sivia lalu pandangannya beralih pada pelayan wanitanya, “Irva, bukankah
aku memberimu tugas untuk
mencegahnya bekerja?”

“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu, tapi saya pikir Sivia benar. Seharian ini Anda telah bekerja sangat keras bahkan Anda sampai melewatkan waktu makan siang Anda. Sekarang memang sudah terlambat untuk makan siang, tetapi tidak untuk waktu minum teh.” ucap Irva sependapat dengan Sivia.

Ashilla hanya bisa menghela nafas.
“Letakkan saja di meja lalu antar
Sivia kembali ke kamarnya.”

“Anda harus beristirahat, Yang Mulia.” Sivia mulai menasehati, “Sepanjang minggu ini saya melihat Anda bekerja terlalu keras. Kalau Anda jatuh sakit, siapa yang akan melakukan perbaikan hidup rakyat.” Sivia berhenti sejenak untuk menghela napas dan melanjutkan lagi perkataannya. “Selain itu, saya juga tidak suka berdiam diri didalam kamar tidak melakukan pekerjaan apa-apa.”

Ashilla diam mendengarkan nasihat dari pelayan setianya itu sambil memandangi wajah keriput pelayan tua itu. Dalam
benak gadis itu telah muncul gagasan baru.

Rakyat sangat membutuhkan bantuannya saat ini juga. Bukan nanti bukan juga esok, tapi sekarang. Segala perubahan yang dilakukannya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar berjalan. Saat ini, detik ini pula rakyat mengharapkan batuannya.

“Irva..” kata Ashilla tegas. “Panggil Deva, Kiki juga Bagas saat ini juga.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” Irva beranjak pergi setelah memberi hormat.

“Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?” tanya Sivia keheranan.

“Memberimu pekerjaan.” jawab
Ashilla tenang. “Sekarang kau
duduk saja dan menanti mereka.”
Ashilla berpaling pada kedua
menterinya yang ada dikanan-kirinya itu. “Mari kita lanjutkan,” katanya.

Tak lama kemudian Irva datang
dengan ketiga pria itu.

“Kami datang untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu.” mereka melapor.

“Bagas, Kiki dan Deva aku punya tugas untuk kalian bertiga.” Ashilla memulai. “Bagas, ajak pelayan-pelayan di Istana ini untuk membantu Sivia membongkar semua gaun-gaunku juga gaun ibuku. Pilihlah yang masih baik untuk diberikan pada rakyat.”

Sivia sangat terkejut mendengarnya tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk membantah.

“Sivia, pimpin pelayan-pelayan di
Istana itu untuk memilih gaun-gaunku itu lalu bawa ke Hall lantai pertama. Kiki, siapkan beberapa kereta kuda untuk membawa gaun-gaun itu. Dan kau Deva, bawa
prajuritmu untuk membagikan
gaun-gaun itu pada rakyat. Ajak
juga para pelayan jika kau masih
kekurangan orang. Untukmu Irva, bantu Sivia dan cegah dia bila dia ikut mengangkat kopor-kopor
itu.” lanjut Ashilla memberikan perintah pada masing-masing orang tersebut.

“Yang Mulia Ratu!” Sivia menyahut, “Saya tidak setuju! Gaun-gaun itu
menyimpan banyak kenangan. Kalau semuanya disumbangkan, terus apa yang tersisa?”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
Ashilla berkata lembut. “Mama
pasti mengerti akan keinginanku ini. Mama pastinya juga senang apabila gaun-gaunnya berguna untuk rakyatnya. Aku juga akan ikut senang sekali kalau milikku
dapat membantu rakyat yang
menderita. Ini adalah langkah kecil
yang dapat aku lakukan saat ini
selagi yang besar masih direncanakan.”

“Aku ingin bangsawan-bangsawan
lain dan mereka yang kaya dapat
membantu rakyat yang miskin. Tapi yang lebih dulu akan melakukannya aku, bukan? Mereka pastinya akan mengikutiku. Aku takkan melarang bila kalian ingin ikut membantu. Bantuan yang sangat
kecil tetapi penuh keikhlasan akan
sangat berarti daripada bantuan
besar yang hampa.” lanjut Ashilla.menjelaskan rencananya.

“Deva bila kau sudah sampai di
kota, umumkan pada rakyat yang
mampu untuk ikut menyumbang
dan untuk rakyat yang tidak mampu agar mau datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Dan untukmu Kiki, kalau kau sudah selesai menyiapkan kereta, aturlah Hall menjadi dua bagian. Satu bagian untuk penerimaan bantuan dan satunya lagi untuk pemberian bantuan. Mulai besok Hall dibuka untuk umum dan kalian tetap berkeliling menyalurkan bantuan, tetapi tidak disini melainkan di kota-kota lain. Mungkin di kota-kota lain juga perlu pengumuman, aku akan membuatnya.”

Ashilla mengambil secartik kertas
dan mulai menulis.

“Deva..” panggil Ashilla seusai
menandatangani pengumumannya itu. “Ini untuk dibacakan di ibukota dan ini di kota-kota lain. Ingat, aku hanya membuat dua. Bila ada pengumuman yang lain yang sam, cari dan periksa. Aku tidak mau hal ini digunakan oleh orang-orang tamak untuk mengumpulkan harta.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Deva tegas.

Melihat kelima orang itu masih
tidak bergerak, Ashilla kembali berkata. “Apa yang kalian tunggu?”

“Kami akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia Ratu.” kata mereka serempak sambil membungkuk memberi hormat.

Ashilla menghela napas dan tatapannya beralih untul melihat kedua menterinya dengan bergantian. “Sivia benar, kita
butuh istirahat.” Ashilla berdiri
dan menuju sofa di depan meja
kerjanya itu. Ashilla menuang
teh dan memberikannya pada
Gabriel dan Ray.

“Terimakasih, Yang Mulia.” jawab mereka kompak.

Ashilla tersenyum, “Katakanlah
padaku bagaimana kehidupan
rakyat selama ini sejauh yang
kalian ketahui.”

“Rakyat hidup dengan sangat menderita, Yang Mulia. Raja menarik pajak terlalu banyak
dan terlalu besar untuk mereka. Sulit bagi rakyat yang miskin untuk bertahan hidup, banyak orang yang kelaparan di desa-desa. Dan di kota, hanya mereka yang kaya yang mampu bertahan hidup. Bangsawan tidak lagi mengalami masa kejayaan. Pajak yang ditentukan terlalu tinggi.” ucap Gabriel seraya menerawang membayangkan kehidupan rakyat Vandella yang sangat menderita.

“Sulit untuk menjadi kaya.” Ray
menambahkan. “Lebih mudah untuk jatuh miskin ketimbang menjadi kaya. Pajak perdagangan pun sangat tinggi.”

“Tak ada yang berani menentang keputusan Raja. Siapa yang tidak mau membayar pajak akan dipenjara. Raja juga tidak segan-segan akan membunuh orang yang tidak disukainya. Penjara dipenuhi orang-orang yang menangis menderita. Janda-janda meratapi anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami kelaparan.”

“Tapi kini semua itu sudah berakhir.” kata Ray bersemangat, “Anda hadir disini sebagai bidadari kami. Anda memberikan banyak kebahagiaan. Anda sudah menghidupkan kembali cahaya dari suasana yang suram dan kerajaan yang sangat menderita ini. Banyak anugerah yang Anda berikan tapi Anda.sendiri lah anugerah terbesar bagi kami semua.” lanjut Ray seraya tersenyum.

“Terimakasih, Ray. Aku senang
mendengarnya. Aku berharap
semua orang juga berpikiran
seperti itu. Tapi sayangnya, masih banyak yang takut dan membenciku.” ucap Ashilla pelan.

“Kami tidak membenci Anda, Yang Mulia.” hibur Gabriel. “Suatu saat nanti rakyat pasti akan mengetahui
ketulusan Anda dan mereka akan
mencintai Anda.”

Ashilla tersenyum lalu bangkit.
“Aku tidak bisa hanya duduk-duduk disini saja. Aku ingin membantu mereka. Kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat. Aku tidak mengharapkan kalian untuk ikut denganku.”

Gabriel dan Ray saling menatap.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Ray pada Gabriel.

“Bagaimana lagi, Ray? Yang Mulia adalah gadis yang tangkas. Ia bekerja tanpa henti tapi tak terlihat kelelahan. Apa kita harus kalah sama Yang Mulia Ratu.?” ucap Gabriel.

“Baiklah!! Kita akan ikut Yang Mulia Ratu Ashilla.” jawab Ray yang disertai anggukan dari Gabriel.

Mereka segera mengejar Ashilla
yang terlebih dulu telah berada di Hall dan bersiap-siap untuk naik wagon menuju ke kota.

*******************************

nahh itu chapter 8 nya hehe :-)
buat yang nunggu gimana reaksi Cakka? sudah terjawab bukan di chapter ini hihi hi ;-)

Sabtu, 06 September 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 7

Suasana didalam Gedung Parlemen sangatlah ramai.

Di dalam sana orang-orang sedang sibuk membicarakan kejadian yang tak terduga seperti saat ini.

Di luar pun para wartawan sudah bersiap-siap untuk meliput kejadian ini dari awal sampai akhir.

Semua orang ingin tahu mengapa
Raja Sion tiba-tiba ingin menampakan dirinya setelah sekian lama tak pernah muncul. Apalagi Raja Sion akan muncul di Gedung Parlemen yang sangat
dibencinya dan akan mengadakan acara makan malam bersama orang-orang yang selalu direndahkannya itu.

Hal luar biasa ini segera tersebar
sangat cepat di seluruh pelosok Perenolde dan memancing keingintahuan para warga.

Semua orang ingin tahu, untuk apa Raja Sion muncul di Gedung Parlemen. Bukankah selama ini Raja sangat membenci dengan tempat itu.

Ada yang menduga Raja datang untuk membubarkan anggota Parlemen. Ada pula yang menduga bahwa Raja akan mengumumkan Puteri Febby sebagai pewaris tahtanya.

Para anggota dewan banyak yang berdiri didepan Gedung Parlemen menanti kedatangan Raja Sion. Mereka menanti dengan perasaan cemas.

Dari kejauhan nampak rombongan kereta emas sudah mulai mendekat. Kereta itupun akhirnya berhenti tepat didepan pintu Gedung.

Prajurit-prajurit pengawal Raja
segera turun dari kudanya. Seorang diantara prajurit kerajaan membukakan pintu dan seorang lainnya lagi mengulurkan tangannya untuk membantu sang Raja turun.

Sebuah tangan kecil yang
terbungkus kain sutra putih terulur dari dalam kereta emas. Tangan mungil itulah yang menyambut uluran tangan dari prajurit tersebut. Kemudian dari dalam kereta tersebut munculah seorang gadis.

Semua orang yang ada di tempat itu berbisik-bisik melihat kedatangan gadis itu. Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan gadis tersebut dan kenapa Raja Sion membawanya??

Pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak semua orang itu seketika hilang begitu saja ketika sang gadis tersebut berdiri di samping kereta emas itu menggunakan Makhota Raja dan jubah kebesaran sang Raja.

Semua yang ada disana menatap
gadis itu dengan penuh rasa keingintahuan. Mereka semua tidak mengenal dengan gadis itu tetapi mereka mengenali mahkota yang dikenakan gadis itu.
Mereka juga mengenali jubah kebesaran Raja yang dikenakan gadis itu.

Ashilla tersenyum ramah pada
orang-orang yang ada dihadapannya lalu melangkah masuk.

Para Anggota Dewan pun sampai lupa untuk menyambut kedatangan Ashilla.

Merasakan suasana sekitarnya,
Ashilla tersenyum. Ia telah
memutuskan akan mengatakan
segalanya pada saat didalam nanti.

“Selamat datang, Yang Mulia Ratu” ucap Gabriel yang telah lama menanti kedatangan Ashilla.

“Apa semua sudah siap??” tanya Ashilla.

“Sesuai dengan perintah Anda, Yang Mulia. Semua anggota dewan telah hadir disini.” jawab Gabriel lalu mengantarkan Ashilla ketempat yang telah disiapkan untuk gadis itu.

“Yang Mulia.. apakah Anda akan terus membiarkan mereka dalam keadaan kebingungan seperti ini?”

“Tidak, Gabriel.. Tetapi aku akan
membiarkan mereka untuk berpikir terlebih dahulu.” jawab Ashilla dengan tenang.

Gabriel menganggukan kepala tanda mengerti kemudian menarik kursi untuk Ashilla duduki.

“Terima kasih, Gabriel..”

Seperti apa yang dikatakannya, Ashilla membiarkan semua orang
bertanya-tanya selama makan
malam itu berlangsung. Ia mengajak bicara pada orang-orang yang disekitarnya tetapi tidak menyebutkam siapa dirinya sebenarnya.

Walau dalam kebingungan, tetapi mereka tetap menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Ashilla. Ashilla tidak menanyakan masalah kerajaan ataupun rakyat Vandella. Ia malahan bertanya tentang kehidupan mereka sendiri, tentang keluarga mereka.

Ashilla ingin menjalin hubungan
baik dengan mereka sebelum ia
mengumumkan siapa dirinya sebenarnya.

Sikap Ashilla tersebut telah menimbulkan suasana yang aneh didalam gedung tersebut. Orang-orang terus bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya?? Tetapi dengan keramahan yang dimiliki Ashilla telah membuat mereka ikut terbawa dalam suasana hangat dan sementara melupakan pertanyaan yang ada dibenak mereka masing-masing.

Ashilla berbicara dengan santainya seperti mereka semua
adalah temannya. Bahkan, Ashilla sesekali mengajak mereka untuk bergurau.

Keramahan Ashilla lambat laun
mencairkan suasana keheranan
orang-orang itu. Ia telah berhasil membuat mereka melupakan keingintahuan mereka dengan pesona yang dimilikinya.

Gabriel tersenyum melihat suasana hangat yang diciptakan.oleh Ratu barunya itu. “Nampaknya Vandella akan mengalami masa kecerahan.” katanya pada dirinya sendiri.

Sebagai keturunan langsung dari Raja yang teramat kejam, sifat keramahan yang dimiliki Ashilla sangat mengejutkan baginya. Sedikit pun tidak nampak bahwa ia
adalah putri dari seorang Raja Sion yang selama ini ditakuti oleh rakyat dan keluarganya sendiri.

Sebagai orang yang dibesarkan di
pedesaan pun, Ashilla tetap
mengejutkan. Gadis itu seperti
terbiasa dengan kerumunan orang
banyak seperti ini. Kalau orang lain
melihatnya yang penuh wibawa
seperti ini, takkan ada yang percaya bahwa ia dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran kota.

Hingga makan malam usai pun
Ashilla tetap tidak menyebutkan apa-apa tentang dirinya. Lalu Gabriel bergegas bangkit untuk membantu Ashilla berdiri dan mengantarkan gadis itu hingga didepan pintu masuk kereta.

Seorang prajurit telah membukakan pintu kereta dan bersiap-siap untuk membantu Ashilla.

Tiba-tiba Ashilla berhenti dan
berbalik.

“Maafkan saya..." katanya menyesal, “Saya lupa untuk memberitahukan kepada Anda
semua tentang berita duka yang sangat penting. Raja Sion telah meninggal dunia sepuluh bulan yang lalu dan ia secara diam-diam telah dimakamkan.”

Seketika suasana menjadi sangat ramai karena pemberitahuan yang disampaikan oleh Ashilla itu.

“Sebagai wakilnya, saya meminta maaf pada semua orang atas semua yang dilakukan oleh Raja semasa hidupnya.” lanjut Ashilla.

“Siapakah Anda sebenarnya, Nona?” seru seorang pria bertanya pada Ashilla.

Ashilla mengenali pria itu. Ia
pernah melihatnya ketika dibenteng Cakka.

“Nama saya adalah Ashilla Zahrantiara, anak kedua sekaligus putri tunggal dari Yang Mulia Raja Sion dan Yang Mulia Ratu Zahra. Ratu dari Kerajaan Vandella yang baru.” jawab Ashilla tegas,
“Penobatan saya sudah dilaksanakan oleh Uskup Vandella sendiri serta disaksikan oleh Gabriel dan Obiet sebagai wakil dari seluruh masyarakat Vandella dan diluar kerajaan.”

Ashilla merasakan suasana yang sangat tegang disekitarnya. Ia tersenyum lembut dan berkata, “Terimakasih atas makan malam yang menyenangkan ini. Saya berharap kita akan mempunyai kesempatan lagi dilain waktu.”

Seorang prajurit membantu
Ashilla untuk naik ke kereta emas. Kemudian kereta tersebut melaju kembali ke Istana Azzereath yang sangat megah.

Ashilla tahu ia telah membuat
mereka semua terkejut. Tetapi ia lega karena telah mengumumkan kabar kematian ayahnya keseluruh rakyatnya dan menyatakan diri sebagai Ratu Vandella.

Dulu kedua orangtuanya hidup
terpisah. Dan sekarang setelah mereka meninggal pun, mereka tetap terpisah.

***

Pagi tadi sebelum hadir di Gedung Parlemen Ashilla yang ditemani dengan Sivia dan dikawal oleh beberapa prajurit kerajaan telah mengunjungi makam sang ayah dan kakanya Patton, untuk menunjukkan baktinya pada keluarganya.

Ashilla beruntung bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka pada saat itu, karena mereka belum tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Tetapi setelah malam ini berlalu, dirinya akan menjadi pusat perhatian. Dan Ashilla menyadari akan hal itu.

Kemudian kereta berhenti didepan tangga masuk.

Lagi-lagi seorang pengawal datang
mengulurkan tangannya untuk membantu Ashilla turun dari kereta. Dalam seharian ini Ashilla sudah terbiasa dengan hal seperti itu dan ia tidak banyak mengomentarinya.

Lalu Ashilla memasuki Istana yang
selalu cemerlang setiap saat.

“Anda sudah datang, Yang Mulia Ratu?” ucap Sivia seraya menunduk memberi hormat.

Ashilla hanya berpaling sebentar
lalu kembali menatap lukisan yang ada didepannya saat ini.

“Siapa yang Anda pandangi, Yang Mulia?” ucap Sivia lagi setelah tidak mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ashilla.

“Patton, Sivia..” jawab Ashilla pelan.

“Pangeran Patton sangatlah tampan, bukan Yang Mulia?? Saya sangat kagum dan ingin terus memandangnya.” ucap Sivia dengan rasa kekagumannya.

“Kau benar, Sivia. Tetapi ia juga sangat menderita.” kata Ashilla sedih.

“Bagaimana dengan perjamuannya, Yang Mulia?”
tanya Sivia berusaha mengalihkan pembicaraan ketika melihat wajah murung Ashilla.

“Lancar seperti apa yang aku harapkan.” jawab Ashilla tersenyum tipis.

“Besok pasti mereka terkejut, Yang Mulia..”

“Tidak perlu menunggu besok
untuk membuat setiap orang tahu
akan berita besar ini. Aku yakin
tengah malam nanti hampir semua orang tahu apa yang telah terjadi.” jawab Ashilla yakin.

“Anda terlalu melebih-lebihkan,
Yang Mulia Ratu.”

“Tidak, Sivia... Percayalah padaku.” Ashilla meyakinkan, “Peristiwa seperti ini akan menjadi berita
besar dikoran.”

Kemudian Ashilla melanjutkan
perjalanannya menuju kekamar tidur.

Kamar tidur utama yang ditempati
Ashilla sangatlah megah. Tempat
tidurnya luas dan sangat empuk. Langit-langitnya tinggi dengan jendela-jendela yang tinggi dan pintu besar. Permadani merah terhampar diseluruh ruangan itu dan bisa menimbulkan suara bergemerisik setiap kali Ashilla melangkah.

Sepuluh pelayan yang khusus untuk sang Ratu telah bersiap-siap
didalam kamar untuk melayani
Ashilla.

Melihat kedatangan Ashilla,mereka langsung mendatangi gadis itu dan segera melayaninya. Ada yang khusus menyiapkan gaun
tidur untuk Ashilla kenakan. Ada juga yang membantu Ashilla untuk melepaskan jubahnya. Ada pula yang mengambil mahkota dari kepala Ashilla. Mereka semua dipersiapkan untuk membantu Ashilla dalam hal pelayanan.

Saat ini Ashilla benar-benar menjadi seorang Ratu. Cukup dengan mengucapkan keinginannya, semuanya bisa terkabulkan.

Usai melayani Ashilla, pelayan-
pelayan tersebut meninggalkan kamar sang Ratu.

Ashilla memandangi langit-langit dikamarnya dan membayangkan
reaksi rakyatnya esok hari. Ashilla dapat membayangkan wajah-wajah
terkejut dari rakyatnya tetapi ia tidak dapat membayangkan reaksi Cakka pada saat ia mengetahui hal ini.

Ashilla tahu, Cakka tidak hanya terkejut tetapi ia juga murka. Ashilla telah menipu dirinya dan Cakka paling tidak suka apabila dirinya ditipu.

Setelah selama satu bulan lebih ia
tidur sekamar dengan Cakka,
Ashilla merasa kesepian pada saat ia tidur sendirian dikamar yang besar ini. Ia sudah terbiasa dengan tidur bersama Cakka dan mendapatkan ucapan 'selamat tidur' darinya.

Ashilla segera menghapus segala kenangan itu dari benaknya.
Sekarang bukan saatnya ia
memikirkan dirinya sendiri. Banyak yang harus dilakukannya untuk esok hari. Tugas-tugas telah menantinya.

*****

“Tidak buruk..” gumam Ashilla.
Gadis itu tersenyum ketika melihat sederet tulisan besar yang ada dihalaman pertama koran tersebut.Sang Puteri Kerajaan telah kembali. Aku suka judul ini.”

“Anda telah berhasil membuat setiap orang terkejut, Yang Mulia.”

“Aku sependapat denganmu, Angel. Sayangnya, mereka terlalu
menyanjungku. Lihatlah apa yang
mereka tulis.”

Lalu Ashilla membaca surat kabar itu dengan suara yang keras.

SANG PUTERI KERAJAAN TELAH KEMBALI

Puteri Ashilla yang menghilang
bertahun-tahun lalu kini telah kembali. Untuk pertama kalinya beliau menyatakan diri di Gedung
Parlemen setelah sebelumnya
membuat para anggota dewan
bertanya-tanya. Dalam kesempatan itu pula lah Puteri Ashilla mengumumkan kematian sang Ayahnya, Raja Sion. Puteri juga menyatakan diri sebagai Ratu Vandella yang baru, menggantikan ayahnya.

Warga Vandella berduka cita atas
kepergian Raja Sion yang arif.
Segenap warga Vandella turut serta berdoa untuknya. Dalam kesempatan ini pula warga.mengucapkan selamat kepada Puteri Ashilla atas penobatan dirinya sebagai Ratu Vandella yang baru. Semoga Yang Mulia Ratu
Ashilla dianugerahi umur yang
panjang supaya dapat menjalankan roda pemerintahan di negeri ini.

Ratu Ashilla yang tampil dengan
pesonanya, telah memikat setiap anggota dewan dan semua orang yang hadir di Gedung Parlemen. Dengan keanggunan dan wibawanya, Ratu membuat semua orang mengagumi dirinya.

Suasana hangat yang tercipta didalam Gedung Parlemen menunjukkan keramahan yang dimiliki oleh Yang Mulia Ratu Ashilla. Ratu yang cantik dan memikat ini nampaknya akan
membawa rakyat Vandella pada
kemakmuran.

Dengan pendidikan yang diperolehnya di kota suci Vatikan,
Ratu akan membawa rakyat pada
kehidupan yang lebih baik. Kepandaian Ratu Ashilla tidak dapat diragukan lagi.

Sangat disayangkan sekali bahwa Yang Mulia Ratu Zahra, ibunda dari Ratu Ashilla telah meninggal dunia di kota suci Vatikan. Ratu yang setia itu kini telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Tetapi, kita yakin Raja dan Ratu Vandella akan senantiasa melindungi kerajaan Vandella. Dengan putri mereka yang sangat cantik sebagai Ratu Vandella yang baru, Vandella akan mengalami masa-masa kejayaan.

Ashilla tertawa geli membacanya. “Tidakkah itu berlebihan, Angel? Mereka memujaku seperti aku ini adalah dewi.”

“Mereka tidak berlebihan, Yang Mulia. Anda memang cantik seperti apa yang dikatakan dalam koran tersebut.” ucap Angel setuju dengan pemberitaan itu.

“Kau jangan terbawa mereka, Angel.” kata Ashilla berusaha membantah.

“Saya bersungguh-sungguh, Yang Mulia.” Angel meyakinkan, “Tak ada seorangpun di kerajaan ini yang mempunyai mata biru secerah mata Anda ataupun rambut yang bersinar keemasan seperti milik Anda.”

“Tapi sayangnya, Angel..” Ashilla
menyesali, “Kalian ini terlalu memujaku. Lihat saja koran ini,
bagiku ini bukan berita tetapi
acara penyanjungan. Koran ini
sama sekali tidak mencerminkan
apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak menyebutkan
bagaimana aku membuat tiap
orang kebingungan, ketakutan, dan
perasaan lain karena sikapku.
Mereka terus menyanjungku dan
ayahku.”

Ashilla mendesah panjang.

“Kalian benar-benar tidak bebas
selama pemerintahan ayahku.Tidak hanya rakyat saja yang tertindas, tetapi juga koran. Koran yang seharusnya mengatakan yang
sebenarnya, jadi tidak berguna.
Koran-koran hanya bisa memuat
berita-berita palsu dan sanjungan-
sanjungan terhadap Rajanya saja.
Sebenarnya kalian ini bersorak atas kematian serigala itu, tetapi kalian juga mengatakan berduka. Aku tahu kalian semua was-was terhadapku dan takut aku sama seperti serigala itu, tetapi kalian mengatakan Vandella akan mengalami kejayaan dibawah
pemerintahanku.”

“Kalian semua benar-benar takut kepadaku.” Ashilla berkata dengan sedih. “Kalian memutuskan segalanya dengan cepat hanya untuk menyanjungku saja dan membuatku gembira. Kalian tidak akan pernah percaya kalau aku juga membenci serigala itu dari lubuk hatiku yang terdalam.”

“Kami percaya pada Anda, Yang Mulia” kata Angel. “Sebelum Anda tiba disini, Sivia telah bercerita banyak tentang Anda. Ia menceritakan bagaimana Anda dengan tegas menolak kembali ke Kerajaan Ayah Anda ini. Anda tidak mau kembali kedalam kekuasaan orang yang dibenci Anda, sekalipun orang itu telah meninggal dunia. Tetapi demi kami, rakyat Vandella Anda bersedia untuk kembali.”

Ashilla tersenyum tetapi matanya bersinar sedih. Gadis itu berjalan
ke jendela dan memandang
seluruh wilayah kerajaannya yang
terhampar didepannya.

“Andaikan kalian semua percaya
padaku.” ucap Ashilla sedih seraya melihat pemandangan yang ada didepannya.

“Kami semua mempercayai Anda, Yang Mulia Ratu.” jawab Angel meyakinkan.

Ashilla tiba-tiba berbalik. “Aku
tahu, Angel. Kalau tidak, mana mungkin kau berani menyanggahku.”

Angel tersenyum. “Kami tahu Anda
tidak sama dengan ayah Anda, Yang Mulia.”

“Serigala itu...” gumam Ashilla “Ia
telah menjadi lembaran hitam di Kerajaan Vandella ini.”

Tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang. Kemudia Angel segera membukakan pintunya.

“Lapor Yang Mulia Ratu...” kata seorang prajurit pada Ashilla. “Duta Apaleah datang menemui Anda untuk mengucapkan selamat atas pengangkatan diri Anda menjadi Ratu Vandella.”

Ashilla menatap kedua orang yang ada dihadapannya kini dan berkata, “Pagi ini akan menjadi pagi yang sangat melelahkan bagiku.”

“Saya akan meminta Tuan Duta untuk kembali apabila Anda keberatan, Yang Mulia.” kata prajurit itu.

“Tidak, jangan.. kurasa aku harus menemuinya. Katakan padaku dimana ia dan puterinya berada?”

“Bagaimana Anda tahu, Yang Mulia. Bahwa Tuan Duta datang bersama Puterinya?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut sang prajurit yang merasa keheranan. Saat itu juga ia menyadari atas kelancangannya, ia segera berkata, “Maafkan ke…”

“Tidak apa-apa.. Puterinya adalah mantan pewaris tahta...” sergah Ashilla tersenyum memaklumi, “Tetapi itu kalau aku tidak ada. Mereka tentu datang berdua untuk mendapatkan perhatian dariku.” lanjut Ashilla.

Ashilla segera berlalu sebelum
prajurit itu melanjutkan kata-
katanya yang sengaja dipotong oleh Ashilla.

Prajurit itu menatap Angel dengan
kebingungan.

“Pergilah!” kata Angel, “Antar Yang Mulia Ratu."

"Baik!!" seru kedua prajurit tersebut kemudian mereka bergegas menyusul Ashilla.

“Jangan pernah mudah merasa bersalah hanya karena tidak sengaja bertanya tanpa disuruh.” Ashilla memberi nasehat dengan lembut, “Bertanya bukanlah hal yang patut dimasukkan dalam daftar kesalahan. Mengerti?”

“Hamba mengerti, Yang Mulia Ratu.” jawab mereka berdua kompak.

****

diruang tamu...

Ashilla tersenyum kepada prajurit yang menjaga ruang tamu itu. Kemudian sang Prajurit segera membukakan pintunya..

Dua orang yang sedang duduk didalam ruangan itu segera saja berdiri untuk menyambut kedatangan Ashilla.

“Selamat pagi Duta Apaleah dan Lady Febby. Apa yang membuat kalian datang sepagi ini.” sapa Ashilla ramah.

“Kami datang untuk mengucapkan
selamat atas pengangkatan diri
Anda, Yang Mulia.” jawan Duta seraya menunduk memberi hormat.

“Terima kasih, Duta. Anda telah
bersedia datang sepagi ini hanya
untuk mengatakan hal sekecil ini.” Ashilla tersenyum tipis.

“Kami merasa sudah menjadi
kewajiban kami untuk
mengucapkan selamat pada Anda,
Yang Mulia.” kata Febby.

Ashilla sangatlah tahu bahwa sesungguhnya Febby merasa enggan untuk menemuinya. Febby merasa bahwa Ashilla telah merebut tahtanya.

“Aku merasa tersanjung, Lady Febby. Aku juga telah menyesal
telah merebut tahtamu.” ucap Ashilla santai tetapi berhasil menohok hati Febby.

Febby sangatlah terkejut, ia tidak mengira bahwa Ashilla akan berkata seperti itu. Ia segera berkata, “Anda sama sekali…”

“Tidak, Febby.” potong Ashilla cepat. “Semua orang tahu bahwa kau lah yang akan naik tahta apabila Raja Sion meninggal dunia. Tentu sudah banyak yang kalian korbankan untuk mempersiapkan hal ini.”

Duta tiba-tiba tertawa sambil berkata. “Anda sangatlah terbuka, Yang Mulia Ratu.”

“Aku sangat menyukai kejujuran, Duta. Bagiku kejujuran lebih berharga daripada pujian yang tinggi.” Ashilla menegaskan.

“Tentu, Yang Mulia. Di dunia ini apa yang dapat mengalahkan
kejujuran?” ucap Duta sesopan mungkin.

“Tidak ada, Duta. Kita semua telah
mengetahuinya.” kata Ashilla.
“Sangat disayangkan kerajaan ini
sudah lama terpuruk dalam keadaan kepura-puraan.”

“Anda terlalu melebihkan-lebihkan, Yang Mulia.”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang
kerajaan ini, tetapi aku tidak buta
untuk tidak mengetahuinya segalanya." Ashilla mengingatkan dengan lembut.

“Ayah saya benar, Yang Mulia. Anda terlalu melebih-lebihkan.” timpal Febby membenarkan ucapan sang ayah.

Ashilla menatap lekat-lekat kedua orang itu lalu tersenyum.“Seharusnya aku menyadarinya sejak dari tadi. Sebagai ayah dan anak kalian sangatlah mirip, membuatku merasa iri.”

Pandangan Ashilla menembus
mata hijau kedua orang itu. Raut
wajah mereka tidak terlalu
menyenangkan untuk dipandang.
Mata mereka bersinar licik dan
seperti ingin selalu berpura-pura.

Keduanya terdiam.

“Bagi kalian, aku adalah orang
asing di tempat ini. Tetapi, jangan
melupakan siapa aku. Aku lahir disini sebagai keturunan asli dari serigala yang kalian takuti itu. Mungkin aku buta tentang kerajaan ini, tetapi aku bisa menjadi seperti ayahku. Dalam tubuhku mengalir darahnya, jangan lupakan itu.” lanjut Ashilla dengan suara tegasnya.

“Tentu tidak, Yang Mulia Ratu” sahut Febby ketakutan. “Anda tidak
buta sama sekali tentang Vandella.
Saya yakin Anda akan membawa
Vandella pada kejayaannya.”

Ashilla menatap Febby lekat-lekat. Ia tahu wanita itu lebih tua darinya tetapi tidak lebih tegas
darinya. Kalau Ashilla menjadi
Febby, ia pasti tidak akan
ketakutan hanya karena sedikit
diperingati oleh gadis yang umurnya jauh lebih muda darinya.

Tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang kemudian seorang prajurit muncul.

“Maaf menganggu Anda, Yang Mulia” kata prajurit itu, “Saya hendak melaporkan bahwa para Menteri telah tiba.”

“Terima kasih. Tolong katakan pada
mereka, aku akan segera datang.” ucap Ashilla sambil tersenyum.

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab Prajurit itu lalu menunduk memberi hormat.

“Maafkan saya Duta Apaleah dan Lady Febby. Saya tidak bisa menemani Anda lebih lama lagi.” ucap Ashilla meminta maaf.

“Kami mengerti, Yang Mulia. Lagipula kami juga hendak pamit.”

“Saya berharap kita mempunyai
kesempatan untuk bertemu lagi,
Duta.” kata Ashilla berbasa-basi.

“Saya juga berharap begitu, Yang Mulia.” ucap Duta sambil menunduk memberi hormat kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Ashilla tersenyum melihat kepergian mereka berdua lalu ia meninggalkan Ruang Tamu dan
bergegas menemui para Menterinya.

Semua menteri telah duduk di
meja perundingan. Mereka
berbincang-bincang sambil
menanti kedatangan Ashilla.
Mereka semua terdiam ketika
Ashilla memasuki Ruang Rapat
dan cepat-cepat bangkit.

"Selamat datang, Yang Mulia Ratu Ashilla!!" seru mereka kompak sambil menundukan kepala memberi hormat.

Ashilla menuju kursi tingginya disalah satu ujung meja kotak itu.

“Selamat pagi, Tuan-tuan.” sapa
Ashilla “Maafkan atas  keterlambatan saya.”

“Selamat pagi, Yang Mulia Ratu.” seru mereka kompak.

“Silahkan duduk.” kata Ashilla mempersilahkan. “Kita akan segera memulai rapat pertama kita ini. Aku takkan memperkenalkan siapa aku dan bagaimana asal usulku. Aku yakin
kalian telah mengetahuinya. Aku
hanya akan mengatakan rencana-
rencanaku diawal pemerintahanku
ini.”

“Seperti yang kita ketahui, kehidupan rakyat sekarang ini sangatlah menderita. Itulah yang pertama-tama akan kita ubah. Aku ingin memajukan kemakmuran rakyat sebelum melangkah lebih jauh. Untuk itu aku ingin membeli
bahan-bahan kebutuhan hidup
sebanyak-banyaknya untuk dibagikan kepada rakyat. Apa ada yang tidak setuju dengan pendapatku?” tanya Ashilla pada para menterinya.

“Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia Ratu. Menurut perhitungan
saya, kas kerajaan kita tidaklah cukup untuk melakukan itu.”

“Tidak, Riko. Lihatlah Istana ini... Apa yang ada didalamnya lebih dari cukup untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat." jawab Ashilla santai.

“Tapi Yang Mulia, Penduduk Vandella sangatlah banyak. Kas kita terus menipis karena kurangnya pajak yang masuk. Apabila ditambah dengan beban pembelian itu, saya khawatir kas
kita akan kosong. Anda harus
memperhitungkan hal itu, Yang Mulia Ratu.” Riko bersikeras membantah. “Dana kita tidak cukup untuk membeli barang-barang kebutuhan untuk dibagikan pada rakyat, Yang Mulia. Kita bisa jatuh miskin karenanya.”

“Tidak mungkin!! Kemarin aku telah menghitung jumlah uang yang kita miliki dan itu cukup untuk membiayai hidup rakyat. Bahkan, lebih dari yang kuminta!” ujar Ratu tegas.

“Tapi…”

“Cukup!!” potong Ashilla tajam,
“Jangan pernah mencoba untuk membantahku, Riko! Aku tahu, ayahku tidak mungkin menghamburkan uangnya. Ia lebih
suka menimbun kekayaan daripada untuk berfoya-foya.”

“Daulat, Yang Mulia Ratu.” Menteri
Keuangan itu membela pendapatnya.

“Penjaga!!” Ashilla sudah tidak bisa menahan dirinya, “Jaga dia! Tanpa ijin dariku, ia tidak boleh meninggalkan istana ini!”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” Dua prajurit yang berjaga-jaga didalam Ruang Rapat segera memegang erat-erat tangan Riko. Riko berusaha untuk melawan. Akhirnya kedua prajurit itu terpaksa memunting tangan Riko kebelakang punggungnya.

“Jangan karena aku tidak dibesarkan di sini, kau menyangka bahwa aku tidak tahu apa-apa
tentang ayahku. Ayahku orang yang sangat kikir,” Ratu mengingatkan. Lalu dengan lembut ia berkata, “Siapkan
kamar untuk Riko. Dia akan menginap disini untuk waktu yang lama.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.”

Riko pucat pasi mendengarnya, ia sangat ketakutan.

“Anda tidak boleh melakukan itu,
Yang Mulia Ratu.” sanggah Gabriel.

“Simpan pendapatmu itu, Gabriel.
Sekarang lebih baik kau mengumpulkan semua ahli
keuangan di kerajaan ini.”

Gabrie memandang dengan penuh keheranan, namun ia tetap berkata, “Baik, Yang Mulia Ratu.”

“Aku harap sebelum dua minggu yang akan datang semuanya telah berkumpul disini.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” ucap Gabriel sambil membungkuk hormat lalu pergi.

Setelah kepergian Gabriel, Ashilla
berkata kepada para penjag , “Bawa Riko kedalam kamarnya. Aku rasa ia butuh banyak istirahat sampai aku selesai dengannya.”

“Dan untukmu, Riko!!" Ashilla melangkah mendekatinya dan melanjutkan perkataannya. Pelan tapi tajam. "Aku peringatkan untuk tidak mengirim kabar apapun pada keluargamu disana. Aku ingin mereka semua ada ketika hartamu aku periksa. Aku ingin tahu seberapa besar uang negara yang sudah kau curi
selama dua puluh satu tahun kau menjabat jadi Menteri Keuangan,”

Prajurit-prajurit itu memberi hormat pada Ashilla sebelum
meninggalkan ruangan luas yang
dipenuhi oleh seluruh menteri.

Ashilla lalu berbalik menghadap menteri-menterinya yang lain. “Maafkan atas gangguan tadi. Aku harap kalian mengerti, aku tidak akan menjelaskan apapun sampai
kecurigaanku terbukti. Aku sarankan pada kalian agar tidak memikirkannya sebab aku akan memberikan kalian tugas yang berat. Sebelum aku melanjutkannya, aku perlu menegaskan pada kalian agar tidak merasa khawatir atas tindakan ku tadi ketika kalian menyelesaikan tugasku.”

“Jangan khawatir aku tidak akan menahan kalian.” kata Ashilla tegas, “Dan sampai semuanya terbukti, aku ingin kalian merahasiakan hal ini dari orang lain.”

Ashilla tersenyum manis dan
berkata dengan lembut, “Apa kalian semua mengerti?”

Mereka membalas senyuman itu
dengan tulus tanpa rasa takut
sedikitpun. “Kami mengerti, Yang
Mulia Ratu Ashilla.” kata mereka serempak.

Ashilla kembali duduk dikursinya yang tinggi menghadap para menteri-menteri yang melihatnya.

Ashilla menegakkan punggungnya
dan berkata tegas. “Kalian tahu, aku berniat untuk merubah pemerintahan otokrasi ayahku.
Sebagai langkah awal, aku ingin
merubah semua peraturan yang
dibuat semasa pemerintahan
ayahku. Masing-masing dari kalian
aku perintahkan untuk membentuk sebuah badan dengan kalian sebagai
kepalanya. Badan ini bertugas
menuliskan semua peraturan yang
ada dalam lembaga kalian masing-
masing dan merubah semua
peraturan yang membebankan
rakyat. Dalam hal ini aku
menegaskan bahwa aku berbeda dengan ayahku.”

Ratu tersenyum lembut. “Kalian
tidak perlu khawatir aku tidak akan
menghukum kalian. Aku tahu
kalian tidak mengenal dan tidak
mempercayaiku. Tapi aku meyakinkan kalian untuk memegang kata-kataku ini.”

“Kami percaya pada Anda, Yang Mulia Ratu.” kata mereka hampir bersamaan.

“Terimakasih,” Ashilla tersenyum
manis, “Aku percaya kalian juga
menginginkan perbaikan bagi
kerajaan ini. Aku percaya kalian juga akan memilih orang-orang yang benar-benar sesuai dengan bidang yang kalian tangani dan benar-benar ingin memperbaiki negara ini. Tanpa perlu melaporkan siapa saja yang kalian masukkan dalam badan-badan itu, aku percaya kalian dapat menyelesaikan tugas ini kurang dari satu bulan.”

“Kami akan berusaha sebaik-
baiknya, Yang Mulia Ratu.”

Ashilla mengangguk. “Aku ingin
laporan terperinci mulai dari
peraturan lama hingga peraturan
baru yang kalian buat.”

“Baik, Yang Mulia Ratu, akan kami lakukan.” seru mereka bersamaan.

Ashilla lalu bangkit dari kursinya dan diikuti oleh para menteri itu. “Sebelum kalian mulai mengerjakan perintahku, aku ingin
berpesan pada kalian agar tidak perlu ragu untuk menemuiku bila kalian mengalami kesulitan.”

“Kami mengerti, Yang Mulia Ratu.” seru senteri-menteri itu lalu membungkuk hormat sebelum meninggalkan Ruang Rapat.

Ashilla mengawasi kepergian para menterinya hingga orang terakhir.
Ashilla melangkah menuju ke jendela yang menghadap ke gerbang keluar Istana. Bukan, bukan kereta-kereta yang membawa pergi para menterinya yang ia lihat. Melainkan melihat wilayah kerajaannya yang sangat luas yang perlu pertolongannya.

Gadis itu menghela nafas panjang
membayangkan orang-orang yang
menderita diluar sana karena
kekejaman ayahnya. Ia sendiri
telah melihatnya dengan kedua mata kepalanya, melihat anak-anak yang kurus, orang tua yang sakit-sakitan, kaum pria yang kelelahan bekerja, dan kaum wanita yang menangis pilu. Mereka semua merintih sedih dan kelaparan.

Banyak yang harus dilakukannya
untuk memperbaiki semua ini.

Ashilla kembali duduk dikursinya. Dan dibukanya sebuah laporan kerja yang dihadapannya.

Ashilla mendesah panjang melihat laporan yang dibuat dengan rasa ketakutan itu. Tiap tulisannya menyiratkan perasaan takut akan kesalahan.

Mereka semua takut padanya. Takut bahwa ia akan sama seperti ayahnya.

“Yang Mulia Ratu Ashilla!”

Tiba-tiba ada suara yang menyeruakan namanya. Ashilla mengangkat kepala dari pekerjaannya.

Gabriel masuk kedalam dan memandang ruangan kosong itu dengan heran.

“Mereka telah pergi menjalankan
tugas mereka.” kata Ashilla. “Aku
juga akan memberimu tugas yang
sama dengan mereka. Aku ingin kau membentuk sebuah badan. Pimpin badan itu untuk memeriksa semua peraturan lama dan merubah peraturan itu yang membebani rakyat. Kalau diperlukan peraturan baru, buatlah. Aku ingin laporan terinci paling lambat satu bulan
mendatang.”

“Hamba mengerti, Yang Mulia.”

“Sebelum kau pergi, aku ingin
memberimu tambahan tugas, Gabriel.”

“Hamba siap melaksanakannya,
Yang Mulia.” jawab Gabriel menunduk hormat.

Ashilla tersenyum. “Aku ingin semua ahli keuangan itu tinggal disini.”

“Hamba mengerti, Yang Mulia.” ucap Gabriel sambil membungkuk hormat lalu pergi.

Lalu Ashilla menumpuk laporan-laporan yang ada dihadapannya menjadi satu. Dan dibawanya meninggalkan Ruang Rapat.

Prajurit yang ada diluar terkejut melihat kehadirannya.

“Ijinkan saya untuk membantu
Anda, Yang Mulia Ratu.” seorang dari mereka berkata.

“Terimakasih.” ucap Ashilla seraya tersenyum lembut.

Prajurit itu lalu mengambil alih
tumpukan kertas yang hampir
menutupi wajah Ashilla.

Ashilla berkata lembut tapi tegas pada prajurit yang lainnya. “Tolong
kau panggilkan Kiki Kepala Rumah Tangga Istana untukku. Aku menunggu di Ruang Kerja.”

“Baik, Yang Mulia Ratu.” jawab sang prajurit sambil membungkukkan badan lalu pergi.

Setelah prajurit itu pergi, Ashilla pun pergi menuju ke Ruang Kerjanya.

Ditengah-tengah kesibukannya memeriksa lembaran-lembaran tugasnya, tiba-tiba Kiki datang menghadap.

“Hamba datang untuk menghadap,
Yang Mulia Ratu.”

“Duduklah, Kiki.”

Setelah Kiki duduk dihadapannya, Ashilla baru berkata, “Mulai hari ini, di Istana akan dipenuhi banyak orang. Semua ahli keuangan di negeri ini akan aku kumpulkan disini. Aku ingin kau mengatur tempat untuk mereka. Tempatkan mereka hanya di lantai dua. Bila perlu satu kamar untuk dua orang. Aku yakin kamar-kamar yang ada disini cukup untuk lebih dari satu orang.”

“Anda benar, Yang Mulia. Kamar-kamar di Istana sangat ini sangat luas. Demikian pula dengan tempat tidurnya. Takkan ada
masalah bila dua orang tinggal di
satu kamar.” ucap Kiki membenarkan.

“Mengenai teman sekamar, aku
ingin orang yang berasal dari tempat yang sama ditempatkan dalam satu kamar. Aku tidak mau tamu-tamuku merasa tidak nyaman berada disini.” Ashilla menegaskan.

“Baik, Yang Mulia Ratu.” kata Kiki sambil mengangguk.

“Kalau memang sudah tidak cukup,
tempatkan mereka di lantai
empat.” kata Ashilla memberi saran

“Di lantai empat, Yang Mulia?” tanya Kiki heran. “Bukankah itu berarti mereka akan terpencar?”

“Aku ingin lantai satu dan lantai
tiga dibiarkan seperti itu. Lantai
dua dengan jumlah kamar yang
mencapai dua ratus akan cukup untuk mereka.”

Kiki berpikir keras.

“Untuk sementara waktu ini biarkan mereka makan di Ruang
Makan. Selanjutnya, apabila jumlah mereka sudah banyak, siapkan di Hall lantai dua.” lanjut Ashilla lagi.

Kiki hanya memandangi wajah
cantik Ratunya itu. “Apa mungkin akan cukup mengenai jumlah mereka yang mencapai empat ratus orang itu?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Ashilla mengerti apa yang ada di
pikiran pria tua itu. Ayahnya
adalah seorang Raja yang curang.
Ia selalu melebih-lebihkan jumlah
pajak yang harus dibayarkan oleh
rakyatnya. Agar tidak ada yang tahu bahwa ia melakukan kecurangan, ia menghancurkan masa depan ahli keuangan yang ada di negeri ini dan membuat semua orang tidak ada yang mau menjadi ahli keuangan.

Tapi Ashilla juga tahu masih
banyak ahli keuangan di kerajaan
ini.

“Bila sudah ada yang datang, jangan lupa untuk mendatanya,”
Ashilla melanjutkan, “Satu tambahan lagi tugas untuk mu, Kiki. Tempatkan Riko disalah satu kamar yang ada di lantai tiga dan aku ingin penjagaannya lebih diperketat.”

“Hamba akan melaksanakan tugas
dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia. Permisi..” ucap Kiki seraya menunduk memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Ashilla tersenyum puas mendengarnya.


*******************************