Jumat, 29 Agustus 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 6

hayy...hayy.. :-D

aku balik lagi bawa cerita repost hehe :-)
makasih yang udah setia nungguin, semoga kalian ngga pada bosen :-)

oke langsung saja !!

C
E
K
I
D
O
T

!!

****

“Sekarang semuanya telah
berubah.”

Kalimat itulah yang diucapkan Ashilla pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya didepan cermin.

Sementara ia duduk berdiam diri, para pelayannya sedang sibuk menata rambutnya.

Ada yang khusus dibagian
menggelung, ada yang khusus dibagian memberi hiasan-hiasan rambut, ada pula yang khusus menyisiri rambutnya. Sungguh Ashilla dibuat pusing karenanya.

Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah duduk diam sambil mengamati dirinya dan pelayannya dari depan cermin sampai mereka selesai mendandaninya.

Ashilla benar-benar lega ketika akhirnya mereka selesai juga. Dia tidak tahu apa jadinya kalau kegiatan ini lebih lama lagi, mungkin dia bisa mati kebosanan.

“Bawa masuk makan siang untuk
Yang Mulia Ratu.” Angel memberi perintah pada pelayan-pelayan lainnya.

"Baik !!" seru para pelayan tersebut.

“Kurasa saat ini aku tidak akan makan siang, Angel.” ucap Ashilla yang membuat Angel menghentikan pekerjaannya.

"Tapi Yang Mulia... Anda pasti sangat lelah dan pastinya juga lapar. Apa tidak sebaiknya Anda makan dulu, Yang Mulia" jawab Angel memohon.

"Tidak Angel !!" ucap Ashilla tegas.

“Baik Yang Mulia seperti keinginan Anda akan saya lakukan. Kalau begitu saya mohon undur diri, Yang Mulia Ratu.” ucap Angel seraya menunduk memberi hormat.

Ketika Angel sang pelayannya mohon ijin untuk keluar, pada saat itu Ashilla menangkap kekecewaan yang ada diwajah Angel. Ashilla ingat Sivia pelayan setianya. Sivia selalu kecewa apabila ia menolak untuk makan apa yang ia telah siapkan untuknya. Hal itu yang membuat Ashilla pada akhirnya menerima permintaan Angel yang menyuruhnya untuk makan siang.

“Tunggu!!” teriak Ashilla mencegah. Dengan tersenyum, ia melanjutkan perkataannya, “Aku tidak akan membuat usaha kalian sia-sia. Jadi, aku akan makan. Tetapi, aku tidak ingin makan sendirian. Tolong panggilkan
Gabriel dan Rio untuk menemaniku makan siang.”

Walau ia tidak menampakkannya, tapi Ashilla tahu bahwa Angel sangat senang ketia ia menerima permintaannya. Terlihat dari nada
suaranya ketika ia menjawab,

“Baik, Yang Mulia Ratu!!”

Angel segera menyuruh pelayan-pelayan itu untuk berangkat menyiapkan makan siang untuk Yang Mulia Ratu Ashilla dan ia sendiri bertugas untuk memanggil kedua Menteri itu.

Ashilla mendesah pelan. Tenda yang disiapkan untuknya benar-benar sangatlah besar. Mungkin kalau seratus orang masuk semua kedalam tenda ini, takkan membuat suasana didalam tenda penuh sesak. Karena daya tampungnya yang sangat besar bagi sebuah tenda.

Benar-benar tenda seorang Raja, pikir Ashilla.

Ashilla duduk dikursi ditengah
tenda. Ia diam merenung sambil menunggu kedua Menteri itu datang kesini. Sampai ada suara yang menginterupsi dirinya dari kegiatan merenungnya. Ternyata itu suara milik Angel yang datang untuk melapor,

“Yang Mulia Ratu saya Angel. Saya datang bersama Tuan Gabriel dan Tuan Rio untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu..” teriak Angel dari luar tenda.

“Persilakan mereka untuk masuk.” jawab Ashilla.

"Baik, Yang Mulia Ratu!" ucap Angel setelah mendapatkan ijin untuk memasuki tenda sang Ratu.

“Hamba datang untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu ” kata kedua Menteri itu sambil membungkuk hormat.

“Duduklah,” kata Ashilla. “Dan temani aku makan siang.”

Lalu mereka duduk dan para pelayan mulai berdatangan dengan membawa bermacam-macam makanan yang lezat.

Selama kegiatan makan siang, Ashilla tidak banyak berbicara. Ia terus memusatkan perhatiannya pada pikirannya. Sikapnya itu membuat Gabriel dan Rio was-was. Memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Ashilla menyadari sikap canggung dan waspada dari kedua Menterinya itu. “Ada apa?” tanyanya, “Apa kalian sudah makan
siang?”

“Belum, Yang Mulia Ratu” jawab mereka berdua sambil menunduk ketakutan.

Ashilla tersenyum memaklumi. Mungkin mereka kira mereka akan mendapatkan hukuman darinya. “Aku meminta kalian untuk menemaniku makan siang bukan untuk memberikan hukuman pada kalian. Aku selalu merasa harus menghabiskan semua makanan ini bila aku
makan sendirian. Apa Ayahku tidak
pernah mengajak kalian untuk makan bersama. Benar begitu?”

Mereka berdua diam, tidak ada yang berani untuk membuka mulutnya hanya untuk menjawab 'Iya' atau 'Tidak'.

“Hanya satu yang dapat aku katakan kepada kalian,” Ashilla melanjutkan dengan tegas, “Aku
bukan Ayahku dan aku membenci
segala sikapnya.”

Selang beberap menit pelayan masuk membawakan hidangan penutup untuk mereka bertiga.

Ashilla menggerakkan tangannya untuk mengatakan ia tidak mau. Karena ia sudah merasa cukup kenyang.

Pelayan itu pun mengerti dan beralih untuk melayani Gabriel dan Rio lalu mohon ijin untuk meninggalkan tenda.

Setelah pelayan pergi meninggalkan tenda, Ashilla melanjutkan perkataannya. “Aku tidak akan memaksa kalian
untuk mempercayaiku,” Ashilla
mengambil gelasnya yang berisi air jeruk dan meminumnya dengan tenang.

Waktu makan siang pun telah usai para pelayan segera membersihkan meja dan membawa semua peralatan makan keluar tenda untuk dibersihkan.

Tiba-tiba Ashilla berdiri dan berlalu menuju meja rias dan
mencari-cari sesuatu di lacinya.

Kedua menteri itu pun memandangi Ashilla dengan penuh ingin tahu.

Ashilla menulis sesuatu pada
selembar kertas lalu kembali pada
kedua menterinya.
“Rio, aku perintahkan kau untuk
membawa pulang pasukanmu sore
ini. Dan bawa pula kereta kudaku serta para pelayan.”

Mereka berdua sangat terkejut dengan perintah dari Ashilla. Mereka ingin membantah tetapi Ashilla tidak memberi mereka kesempatan untuk membantah.

“Dari sini ke Perenolde
membutuhkan waktu berapa
lama?" tanya Ashilla.

“Paling cepat satu minggu, Yang Mulia Ratu.” jawab Gabriel.

“Bukannya tiga hari?” tanya Ashilla heran.

“Dengan kecepatan tinggi, waktu
itu bisa tercapai, Yang Mulia. Tetapi kita tidak bisa secepat itu mengingat Anda sedang bersama kami. Kami harus berhati-hati dalam setiap langkah kami demi keselamatan Anda, Yang Mulia Ratu.” jawab Rio dengan tegas dan mendapatkan anggukan setuju dari Gabriel.

Ashilla berpikir keras. “Aku ingin kalian berdua kembali ke Perenolde sore ini juga. Dan kau Gabriel, aku perintahkan  untuk
menyebar titahku ini pada para
Menteri disana.”

"Titah hamba akan saya lakukan, Yang Mulia Ratu" jawab Gabriel menunduk hormat.

Sementara Gabriel membaca kertas yang diberikan Ashilla padanya itu, Ashilla melanjutkan perkataannya, “Aku ingin kalian mempersiapkan rapat di Istana tepat hari minggu depan. Aku ingin kalian berdua juga membuat laporan atas apa yang kalian kerjakan selama ini. Mulai dari ayahku sakit hingga saat ini.”

"Baik, Yang Mulia Ratu!!" seru mereka berdua kompak.

“Tapi bagaimana dengan Anda sendiri, Yang Mulia Ratu?” Rio memberanikan diri untuk bertanya.

“Tinggalkan saja seekor kuda untukku dan empat prajurit terbaikmu, Rio. Aku akan segera berangkat setelah kalian pergi." Ashilla berhenti sejenak dan untuk beralih menatap Gabriel. "Dan Satu tugas lagi untukmu, Gabriel. Aku ingin kau memberitahu pada Sivia bahwa kabarku disini baik-baik saja
dan aku akan segera tiba nanti.” lanjut Ashilla.

“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu.Tetapi saya tidak setuju dengan usul Anda, Yang Mulia. Rencana ini terlalu berbahaya untuk Anda. Kami sangat mengkhawatirkan
keselamatan Anda, Yang Mulia.” bantah Rio seraya menunduk minta maaf.

“Apa kau kira dengan sekompi pasukan mu ini, aku akan selamat?” tanya Ashilla tajam. “Tidak, Rio!! Sebuah kereta emas saja telah menarik perhatian mereka apalagi dengan banyak pasukan seperti ini. Kau juga harus ingat, Rio, aku baru saja meninggalkan Lasdorf.  Dan tentunya saat ini mereka sedang mengawasi kita, terlebih dengan aku. Mereka akan bersiap-siap untuk menculikku kembali. Karena aku telah mengetahui tempat persembunyian mereka. Bagi mereka, aku terlalu berbahaya untuk mereka lepas di tengah-tengah kalian.”

Ketika Rion ingin mengatakan sesuatu kepada Ashilla, Ashilla telah mengangkat tangannya terlebih dahulu untuk menghentikannya dan Ashilla melanjutkan perkataanya dengan tegas.

“Jangan menyarankan aku untuk
menyerang mereka, Rio. Aku tidak akan pernah menyerang mereka. Mereka berjuang untuk kemakmuran mereka dan rakyat. Bukan untuk menggulingkan pemerintahan. Disamping itu, saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan masalah pergantian tahta, bukan masalah peperangan untuk melawan pembrontak.”

Mereka berdua diam memikirkan rencana yang diutarakan Ashilla.

Ashilla tidak ingin memberi mereka kesempatan untuk berpikir terlalu lama.

"Hari sudah mulai siang.Kembalilah kalian untuk beristirahat. Pukul lima sore nanti kalian mulai berangkat ke Perenolde. Dan, bila kalian masih
mengkhawatirkan keselamatanku,
tinggalkan empat jendral terbaikmu, Rio, untuk mengawalku.”

Kedua menteri itu pun akhirnya menyetujui rencana Ashilla dan berusaha untuk menjalankan titahnya dengan sebaik-baiknya. “Kami mengerti, Yang Mulia Ratu,” kata mereka berdua kompak."Kami mohon undur diri, Yang Mulia." lanjut mereka berdua sambil membungkuk hormat dan meninggalkan tenda.

Angel masuk kedalam tenda tak lama setelah kepergian kedua Menteri itu.

“Sore ini kembalilah ke Perenolde bersama pasukan yang lain,” kata Ashilla pada Angel, “Katakan pada Sivia juga untuk tidak mencemaskanku. Aku akan segera tiba nanti.”

“Apa Anda tidak akan pulang bersama kami, Yang Mulia?” tanya Angel penuh keheranan.

“Aku akan pulang setelah kalian
berangkat.” jawab Ashila tersenyum.

“Biarkan saya ikut dengan Anda,
Yang Mulia. Saya ingin melayani Anda terus.” pinta Angel.

“Kau akan melakukannya, Angel.
Tapi tidak untuk saat ini. Banyak yang ingin aku lakukan sepanjang
perjalanan pulang nanti. Aku ingin
kau kembali ke Azzereath terlebih dahulu, Angel.” jawab Ashilla seraya membayangkan rencana-rencana yang akan ia lakukakan pada saat ia pulang nanti.

“Baiklah, Yang Mulia Ratu. Titah Anda akan saya lakukan." jawab Angel seraya menunduk hormat.

Ashilla menghela nafas kasar. Kenapa semua orang disini tidak ada yang berani membantahnya. Mereka semua takut padanya. Kalau ada yang salah dimata mereka, mereka hanya berani bertanya lalu diam lagi setelah mendapatkan jawaban. Untuk mengatakan tidak setujupun mereka takut dan pasti didahului
dengan kata ‘maaf’.

“Apa sedemikian kejamnya ayahku, hingga kalian takut pada
keturunannya?” tanya Ashilla pelan, “Apa aku sekejam dia di mata kalian?”

“Ti…tidak, Yang Mulia Ratu. Kenapa Anda bisa berkata seperti itu, Yang Mulia?" jawab Angel takut-takut karena tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu oleh Ashilla.

“Aku tahu, Angel..” Ashilla berkata
lembut untuk menenangkan
ketakutan wanita itu, “Didalam
tubuhku memang mengalir darah serigala itu. Aku juga pastinya mempunyai jiwa kejam seperti serigala itu dan kalian patut takut kepadaku. Karena anak serigala adalah serigala juga, bukan?”

Angel ingin membantah semua pernyataan Ashilla tapi sayangnya
Ashilla sudah berkata terlebih dahulu,

“Beristirahatlah, Angel.. Karena tidak sampai tiga jam lagi kau akan kembali ke Perenolde dan sebelum itu kau juga harus berbenah.”

"Baiklah, Yang Mulia. Saya mohon undur diri." ucap Angel seraya
pergi tanpa sempat menjawab pertanyaan dari Ashilla.

Ashilla merasa awal-awal
pemerintahannya ini akan menjadi
tugas yang sangat berat. Karena ia harus membuat mereka percaya kepadanya. Bahwa dia tidak sama seperti Ayahnya yang sangat kejam. Dia berbeda.

Satu jam kemudian kesibukan yang terjadi diperkemahan ditepi Thamasha itu sudah mulai terlihat.
Dari prajurit-prajurit yang sudah mulai membongkar tenda tendanya. Pelayan-pelayan yang sedang membereskan perlengkapaan saat bekemah disini. Serta kusir kuda yang sedang menyiapkan keretanya. Para Jenderal pun sedang mengatur pasukannya.

Sementara itu Ashilla hanya boleh duduk diam di dalam tendanya.

Ashilla sangat bersyukur atas
kecermatan yang dimiliki Sivia. Wanita tua itu membawakan baju berkuda untuknya lengkap dengan segala perlengkapannya. Baju itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk Ashilla.

Tepat ketika para pasukan sudah
bersiap-siap untuk berangkat,
Ashilla pun kini sudah selesai berganti baju.

Rio dan Gabriel serta pasukan yang
lainnya berbaris rapi didepan
tenda milik Ashilla. Mereka hendak berpamitan pada gadis itu
sebelum mereka pergi.

Ashilla melangkah keluar dari tendanya. Ia mengernyitkan dahi ketika menemukan orang-orang yang ada dihadapannya kini sedang menatapnya dengan tatapan terpana.

“Ada apa? Apa ada yang tidak beres?” tanya Ashilla penuh keheranan.

“Ti…tidak, Yang Mulia Ratu.” Rio segera menjawab, “Kami…kami..hanya..”

“Kami hanya tidak menduga Anda sekecil ini, Yang Mulia. Maafkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia Ratu.” Gabriel memberanikan diri untuk berterus terang.

Ashilla hanya tertawa geli mendengarnya.

Gadis itu tidak menyadari bahwa ia
nampak bersinar saat mengenakan baju berkudanya tersebut. Baju berkudanya yang kini membungkus ketat tubuhnya dan menonjolkan kerampingannya.

Sepatu bot kulit berwarna hitam yang bertumit membungkus kakinya yang telah terbalut celana berkudanya yang berwarna putih hingga ke lutut. Baju merah yang ia kenakan kini membungkus tubuhnya dan nampak sangat serasi dengan warna kulitnya yang
putih. Ujung sarung tangannya yang berwarna putih tersembunyi dengan rapi dibalik lengan bajunya yang panjang. Serta tangannya yang mungil menggenggam erat cemeti hitam.

Rambutnya yang panjang tersembunyi dibalik topi hitamnya. Rambutnya yang terjuntai keluar yang tertimpa sinar matahari sore dan bersinar indah seperti perhiasan yang tak ternilai harganya.

Wajah cantiknya bersinar ceria.
Matanya memandang lembut.
Senyuman manisnya yang selalu tersungging diwajahnya yang berseri.

Gadis itu berdiri tegak dan
menampakkan wajah wibawanya sebagai seorang Ratu.

“Kalian membuatku geli,” kata
Ashilla seraya tertawa, “Apa kalian berpikir aku sebesar gajah hingga kalian terkejut ketika aku tiba-tiba
menjadi tidak lebih besar dari
semut? Hidup makmur seperti ini
dapat membuat aku bertambah
gemuk tetapi waktu dua bulan
lebih belum cukup untuk
membuatku tampak subur seperti
gajah.” lanjut Ashilla yang masih setia dengan tawanya.

“Sudahlah..” Ashilla menghentikan tawa gelinya, “Segeralah kembali ke Perenolde sebelum hari semakin gelap. Jangan buat keluarga kalian menanti dengan cemas lebih lama lagi.”

“Baik, Yang Mulia. Kalau begitu kami berangkat.”

Ashilla melambaikan tangannya
sampai mereka jauh. Dan setelah tak terlihat lagi bayangan mereka, pandangan Ashilla kini beralih kepada empat jendralnya itu.

“Kita juga harus segera berbenah
dan kembali ke Perenolde.”

“Baik, Yang Mulia.” seru mereka kompak.

Keempat jendral terbaik yang
ditinggalkan Rio untuk
mengawalnya, kini mulai membongkar tenda yang di tempati Ashilla. Segala perabotan yang ada didalam tenda itu telah dibawa kembali oleh pasukan tadi. Sekarang yang tertinggal hanya sebuah tenda kosong.

Gaun-gaun milik Ashilla juga telah
dibawa pulang semua. Ashilla lah
yang memerintahkan hal itu. Ia
menolak membawa baju ganti
karena itu akan merepotkan
rencananya.

Hari sudah mulai gelap ketika Ashilla akan menaiki kuda hitam yang ditinggalkan untuknya.

“Kemana kita akan pergi, Yang Mulia Ratu?” tanya Jenderal Bastian.

“Kita akan meninggalkan tempat
ini,” kata Ashilla, “Semakin larut
kita melewati daerah pemberontak, semakin baik. Malam-malam seperti inilah mereka tidak akan mengenali kita.”

“Kami mengerti, Yang Mulia.”

Segera dua orang menempatkan
diri dikanan dan dikiri Ashilla dan
yang lainnya mengekor dibelakang
Ashilla.

Tepat seperti perhitungan Ashilla,
suasana sekitar Lasdorf sangatlah
sepi. Tak tampak seorang pun yang berada didaerah tersebut
hingga mereka berada jauh dari
tempat itu.

Melihat hari semakin larut, Ashilla berkata pada empat jendralnya itu, “Kita harus segera mencapai kota terdekat.”

“Jidoor terletak di sekitar tempat
ini, Yang Mulia” kata Jenderal Ray,
“Kita bisa mencapainya dalam waktu lima belas menit.”

“Baik sekarang kita kesana,” Ashilla
memutuskan, “Tunjukkan jalannya
padaku, Ray.”

Ray pun memimpin mereka menuju ke Jidoor.

Di kota kecil itu Ashilla memutuskan akan tinggal untuk
malam ini. Kota kecil ini tidak
mempunyai penginapan mewah,
tapi Ashilla tidak mengeluh akan hal ity. Ia tahu ia tidak bisa mengharapkan kemewahan dari kehidupan rakyatnya yang sedang menderita.

Ray memesan tiga kamar yang
berjajar untuk mereka. Kamar
Ashilla berda ditengah dan kedua
kamar lain untuk mereka para jendralnya.

Malah sudah sangat larut ketika mereka tiba di penginapan. Ashilla tidak ingin membuat para Jenderal yang mengawalnya lelah. Ia tahu tugas mereka sangat berat. Ia pun segera masuk kedalam kamarnya seusai makan malam.

Paginya setelah sarapan, mereka
melanjutkan perjalanan.

Setelah melihat kehidupan rakyat
Lasdorf, Ashilla sama sekali tidak terkejut melihat kehidupan rakyat di Jidoor. Rakyat tampak letih dan lemah. Mereka seperti sudah berhari-hari tidak makan. Hanya mereka yang cerdik yang bisa bertahan dalam situasi seperti ini.

Ashilla melihat sendiri bagaimana orang kaya di Jidoor menolak membantu rakyat yang lain. Bagi mereka, mengumpulkan uang sepenny adalah hal yang palinb sangat sulit. Terlalu berharga uang satu penny untuk diberikan pada orang yang miskin.

Hari ini mereka kaya, tetapi belum
tentu dengan hari esoknya. Kekayaan di negara ini tidak pernah terjamin. Raja yang serakah itu selalu merebutnya dengan kejam.

Ashilla ingin sekali rasanya menyumbangkan uang yang dimilikinya pada mereka, tetapi ia tidak melakukannya. Ashilla tidak ingin menarik perhatian orang-orang disini bila ia melakukannya.

Saat ini setiap orang sibuk mencari
kekayaan sendiri untuk dapat
membayar pajak. Semua orang tahu, tidak membayar pajak berarti melawan Raja.Hukumannya adalah masuk penjara. Bahkan, bisa saja hukuman mati.

Situasi Vandella saat ini benar-
benar sangat kacau. Semua saling
menekan dan saling bersaing dalam mengumpulkan uang. Tidak
ada lagi yang peduli pada sesama
mereka.

Ashilla mendesah cukup panjang.

“Apa ada yang salah, Yang Mulia?”
tanya Bastian cemas.

“Kehidupan rakyat benar-benar sangat parah,” jawab Ashilla. “Semuanya lebih buruk dari yang akau bayangankan. Rakyat ini benar-benar membutuhkan Raja yang baik.”

“Saya menyarankan kita segera
kembali ke Perenolde secepatnya,
Yang Mulia.” ucap Debo tiba-tiba.

“Bila kau bermaksud untuk
mengatakan semakin cepat aku
mengambil alih pemerintahan maka akan semakin baik.” kata
Ashilla, “Aku sependapat denganmu, Debo.”

Walaupun Ashilla telah berkata
seperti itu, ia tetap memacu
kudanya dengan lambat. Setiap
kali memasuki daerah pemukiman rakyat, ia akan berjalan dengan lambat.

Tetapi, ia akan mulai memacu kudanya dengan kencang ketika meraka berada di jalan antara dua kota.

Keempat Jenderal itu tampak
senang mengawal Ashilla. Gadis
itu tidak banyak menuntut seperti
layaknya seorang Ratu. Ia lebih
banyak mempelajari sekitarnya.

Mereka tiba di Perenolde dua hari
lebih cepat dari perhitungan Ashilla.

Ketika memasuki Perenolde,
Ashilla tidak melihat perbedaan
kota ini dengan kota-kota lainnya.
Tetapi, ketika ia semakin dalam
berada di Perenolde, ia mulai
melihat ciri ibukota. Gedung-
gedung yang menjulang tinggi tetapi tidak dapat menyaingi kemegahan istana yang menjulang ke langit.

Sepuluh mil di luar Perenolde,
Ashilla dapat melihat betapa megahnya Istana Azzereath. Dan, semakin dekat semakin indah Azzereath itu.

Sangat disayangkan oleh Ashilla
disekeliling istana megah ini
terdapat kehidupan yang
memprihatinkan. Istana ini berdiri
dengan sangatvangkuh menatap kehidupan diluar dirinya yang penuh dengan penderitaan.

“Tidak lama lagi semuanya akan
berubah!!” Ashila meyakinkan
dirinya sendiri.

Setelah melihat sendiri penderitaan rakyatnya, Ashilla
mengubah rencan awalnya. Ia mengerti, ia tidak dapat dengan mudah mengalihkan tahta pada orang lain seperti mainan. Ia harus
memperbaiki kesalahan ayahnya.
Walaupun ia membenci ayahnya,
sebagai keturunannya ia merasa
harus mewakili serigala itu untuk
meminta maaf.

Pintu gerbang istana yang menjulang tinggi tertutup rapat
seperti tidak mau menerima
kehadiran orang lain. Dan dua prajurit sedang berdiri tegak menjaga pintu gerbang.

“Buka pintunya!!” perintah Jenderal Bastian pada prajurit tersebut.

"Baik, Tuan!!" seru mereka berdua kompak.

Lalu kedua prajurit itu membuka pintu gerbangnya dan dengan penuh ingin tahu mereka terus memperhatikan Ashilla yang dikawal oleh keempat Jenderal terbaik yang dimiliki Vandella.

Ashilla tersenyum ramah dan
berkata, “Terima kasih.” Kemudian
ia memacu kudanya untuk memasuki halaman Istana yang sangat luas.

Karena kedatangan Ashilla dua
hari lebih cepat dari yang
direncanakan, maka tidak ada pesta penyambutan untuknya. Ashilla sendiri tidak peduli akan hal itu.

Gadis itu lali menghentikan kudanya ditangga masuk. Seumur hidupnya, Ashilla tidak pernah membayangkan akan tinggal di bangunan setinggi danbsemegah ini.

Istana Azzereath lebih megah dari yang Ashilla bayangkan tetapi juga lebih dingin dari bayangan Ashilla.

Kemudia Ashilla turun dari kudanya dan menapaki tangga menuju pintu masuk.

“Berhenti!” tiba-tiba dua prajurit yang sedang berjaga menghadang
jalan Ashilla dengan tombak milik
mereka yang sangat runcing. “Siapa kau? Mau apa kau masuk kesini?”

Ashilla tersenyum memaklumi. Karena mereka tidak mengetahui siapa dirinya.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak Jenderal Debo memarahi mereka,
“Mengapa kalian menghadang jalan
Yang Mulia??”

“Mereka tidak mengenaliku, Debo.” Ashilla mengingatkan, “Ini pertama kalinya aku menginjakkan
kaki di Azzereath.”

“Maaf, Yang Mulia. Tapi mereka tidak berhak menghadang jalan Anda.” ucap Debo seraya menunduk.

“Apa kalian akan mengenaliku
kalau aku tiba-tiba muncul tanpa
memberitahukan kepada kalian siapa aku terlebih dahulu?” tanya Ashilla tenang.

“Tentu saja tidak, Yang Mulia” jawab Jenderal Ray.

“Jadi..” kata Ashilla, “Kalian tidak
boleh memarahi mereka.”

“Kami mengerti, Yang Mulia” sahut
mereka.

“Ijinkan saya memperkenalkan diri saya pada Anda, Tuan-tuan,” kata Ashilla seraya tersenyum, “Nama saya Ashilla Zahrantiara. Saya datang dari desa yang bernama Marshwillow, Roma.”

Kedua prajurit itu terkejut setelah
mendengar nama ‘Ashilla Zahrantiara’ lalu ketika menyadari kesalahannya mereka cepat-cepat berlutut dan berkata, “Maafkan atas kelancangan kami, Yang Mulia Ratu. Kami pantas dihukum, Yang Mulia”

“Berdirilah... Jangan mudah mengatakan untuk pantas dihukum,” Ashilla menasehati, “Belum tentu setiap kesalahan adalah kesalahan kalian. Seperti kali ini, kalian sama sekali tidak bersalah. Kalian hanya tidak mengenaliku.”

“Terima kasih atas kebaikan Anda,
Yang Mulia Ratu.” Mereka pun mulai berdiri.

“Aku menyerah,” kata Ashilla pasrah, “Aku tidak tahu bagaimana lagi membuat kalian berhenti bersikap sekaku ini padaku.”

“Sejujurnya, Yang Mulia, Andalah yang harus merubah pandangan Anda,” kata Jenderal Riko tanpa rasa takut.

Keempat Jenderal itu telah mengenal watak Ashilla dalam
perjalanan pulang tadi. Mereka
yang terus mengawal Ashilla
tahu Ashilla tidak akan mudah marah.

Gadis itu mengharapkan orang-
orang tidak terlalu memujanya
walaupun ia adalah seorang Ratu.

“Aku?” tanya Ashilla heran.

“Anda adalah Ratu. Sudah sepantasnya kami menyanjung
Anda, Yang Mulia” jawab Ray.

Ashilla mengeluh panjang, tidak menjawab pernyataan dari Ray dan memilih untuk melangkah masuk kedalam istana.

Tindakan pertama yang dilakukan Ashilla setelah ia berada didalam Istana adalah melepas topinya.

Ashilla merapikan rambutnya dengan jari tangannya.

“Benar-benar istana orang yang serakah,” gumam Ashilla.

Semua yang ada didalam Istana ini
bersinar cerah. Semuanya terbuat
dari bahan-bahan terbaik. Tak satu
pun yang tampak buruk. Semuanya
bersinar angkuh.

“Selamat datang di Istana Azzereath Yang Mulia Ratu.” ucap Gabriel seraya menunduk memberi hormat.

Ashilla menatap Gabriel dengan
heran. “Bukankah kau seharusnya menyusun laporan?”

“Saya telah menyuruh orang lain
untuk mengerjakannya selama saya mengatur penyambutan Anda disini, Yang Mulia.” jawab Gabriel.

“Tetapi sekarang itu tidak perlu
lagi, bukan?” sambung Ashilla.

“Iya.. Karena Anda datang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bagaimana perjalanan Anda, Yang Mulia Ratu?” ucap Gabriel seraya tersenyum.

“Semua lancar. Tidak ada gangguan sedikit pun. Bagaimana
dengan perjalananmu, Gabriel?”

“Ketika melewati Lasdorf, kami
melihat beberapa orang yang sedang mengawasi kami tetapi mereka membiarkan kami terus berlalu.” jawab Gabriel lagi.

“Tepat seperti harapanku.” sahut
Ashilla, “Sekarang kita harus
menyelesaikan tugas pertamaku.”

“Yang Mulia Ratu Ashilla!!”

Tiba-tiba ada suara yang meneriakinya. Ashilla tidak terkejut mendengar teriakan itu dan terlebih melihat Sivia yang sedang berlari kearahnya. Wanita tua itu menubruk dan memeluknya sangat erat.

Ashilla mengrenyit kesakitan merasakan kuatnya pelukan wanita gemuk itu. Ia merasa seperti akan diremukkan oleh Sivia.

“Anda membuat saya cemas, Yang Mulia. Sudah dua bulan Anda berada di Lasdorf. Saya sngar khawatir mereka mencelakakan Anda.” kata Sivia cemas.

“Sekarang aku sudah ada disini, bukan?” jawab Ashilla menenangkan pelayan setianya.

“Ya, tapi Anda terus membuat saya
cemas akhir-akhir ini. Saya takut setengah mati ketika Tuan Gabriel mengatakan Anda akan kembali dikawal oleh empat Jenderal saja.”

“Jangan terlalu khawatir, Sivia. Aku baik-baik saja, buktinya aku samapi disini dengan selamat. Dan selama diperjalanan tidak ada yang menggangguku.” Ashilla masih dengan senyuman manisnya

“Anda harus beristirahat, Yang Mulia. Anda pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh ini.” bujuk Sivia.

“Tidak, Sivia. Aku harus menyelesaikan sesuatu dulu.” tolak Ashilla dengan lembut.

“Sesuatu apa, Yang Mulia?” rupanya Sivia tidak senang dibantah.

“Pengumuman kematian ayahku,”
jawab Ashilla masih dengan tersenyum.

Kemudian tatapan beralih pada Gabriel dan ia berkata, “Aku lihat kita mempunyai gedung Parlemen tapi keanapa aku tidak melihat orang-orangnya. Kemana perginya mereka semua?”

“Mereka ada, Yang Mulia. Tetapi selama Raja Sion berkuasa, mereka tidak lagi berfungsi. Yang Mulia Raja Sion menghentikan semua kegiatan mereka. Yang Mulua Raha menolak semua bantahan terhadap perintah-
perintahnya dan semua
keputusannya.” jawab Gabriel tegas.

“Aku ingin kau memanggil
mereka kembali, Gabriel. Buatkan
janjiku dengan mereka untuk besok pada saat makan malam. Aku ingin undangan tersebut atas nama Raja Sion. Sebarkan pada para anggota dewan untuk hadir pada acara makan malam di Gedung Parlemen bersama Raja
Sion.” kata Ashilla pada Gabriel.

“Baik, Yang Mulia.” jawab Gabriel mengerti.

“Aku menekankan untuk tidak
menyebutkan namaku. Biarlah esok aku yang akan memberitahu
mereka apa yang telah terjadi
selama ini.”

“Apa itu tidak terlalu berlebihan, Yang Mulia?” tanya Gabriel heran.

“Tidak, Gabriel. Aku tahu ayahku
tidak pernah bersedia makan
malam dengan bawahannya. Kalau
ia tiba-tiba mengatakan akan makan malam dengan para anggota dewan di Gedung Parlemen, aku yakin perhatian banyak orang akan mulai terpancing. Akan banyak koran
yang mencatat kejadian pada saat itu nanti dan aku tidak perlu membuang waktu untuk menyebarkan hal ini di seluruh penjuru Vandella.” jawab Ashilla dengan nada yang sangat tegas.

“Hamba mengerti, Yang Mulia.” jawab Gabriel mengerti.

“Saya tidak setuju!” bantah Sivia, “Anda baru saja tiba tetapi Anda sudah akan mulai bekerja. Kapan Anda akan beristirahat, Yang Mulia?”

“Hari ini sampai besok malam, Sivia” jawab Ashilla.

“Itu tidak cukup! Anda terlalu
lelah, Yang Mulia.” bantah Sivia tak mau kalah.

“Tolong jangan membantahku, Sivia. Aku harus segera mengumumkan kabar kematian
ayahku. Semakin cepat semakin
baik.”

“Tapi…”

Ashilla mengangkat tangannya untuk menghentikan bicara Sivia.

“Sebarkan sekarang juga, Gabriel.” perintahnya pada Gabriel.

“Baik, Yang Mulia, titah Anda akan saya laksankan” seru Gabriel seraya menunduk hormat lalu meninggalkan Ashilla.

Ashilla menarik tangan Sivia dan berkata, “Tunjukkan padaku di
mana tempat tidurku.”

Melihat gelagat Sivia yang ingin berkata sesuatu, Ashilla langsung mendahului, “Apa kau tidak ingin melayaniku?”

“Itu adalah hal yang paling saya
inginkan di dunia ini, Yang Mulia Ratu.” jawab Sivia tersenyum senang.

Ashilla tersenyum geli melihatnya dan terus mengikuti langkah pelayan tuanya yang setia sekaligus ibu asuhnya itu.

*******************************

Senin, 25 Agustus 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 5

duhh padahal baru kemaren aku ngepost sekarang ngepost lagi :-)
tapi ngga papa deh aku juga ngga masalah hihihi :-D

*WARNING!! please, jangan jadi
pembaca gelap -_- walaupun ini bukan karya asli aku tapi aku tetap butuh tanda kehadiran kalian biar aku nambah semangat buat ngedit-ngedit :-D

kalian bisa komen atau apalah di akun fb aku Peni Rofiani atau di twitter aku @penirofiani
sekali lagi please jangan jadi pembaca gelap :-)

Terimakasih. . . :-)

*******************************

“Berani-beraninya kalian melanggar perintahku!!” geram Ashilla murka.

Gadis itu menatap tajam pada setiap orang yang ada didepannya. Ia seperti akan menelan mereka satu-satu hanya dengan tatapan tajamnya.

Semua orang menunduk ketakutan. Tak ada seorang pun yang berani menatap Ashilla apalagi menentangnya.

“Siapa yang memerintahkan kalian untuk melanggar perintahku!!” teriak Ashilla marah.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani membuka mulutnya hanya untuk menjawab pertanyaan dari Ashilla. Mereka semua hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ashilla geram sendiri melihat keterdiaman para prajuritnya itu. Ia menghela nafas kasar dan menyilangkan tangannya didepan dadanya seraya menatap tajam satu per satu para prajurit yang ada dihadapannya itu.

Kini ia sedang menanti munculnya orang yang akan mengaku bertanggung jawab atas penyerbuan tanpa persetujuan darinya. Tidak ada satu orang pun yang luput dari tatapan murka Ashilla.

“Ma.. maafkan hamba, Yang Mulia” kata Gabriel menunduk ketakutan, “Ham..hamba ya…yang me...merintahkan mereka semua untuk datang ke tempat ini, Yang Mulia..”

“Beraninya kau Gabriel melanggar
perintahku!!” bentak Ashilla tajam.

“Atas dasar apa kau melakukan ini??? tanya Ashilla geram, "Aku
memerintahkan kalian untuk diam ditempat dan tidak melakukan apa-apa sampai aku datang!” lanjut Ashilla.

“Saya mengaku bersalah, Yang Mulia.” Gabriel berlutut di hadapan Ashilla seraya menundukan kepala, “Hamba siap menerima hukuman apapun dari Anda, Yang Mulia..”

Ashilla menatap Gabriel dengan tatapan penuh kemurkaan.

“Sebelumnya saya minta maaf Yang Mulai.." ucap Gabriel lagi. "Saya ingin Anda tahu, Yang Mulia. Saya melakukan ini semua karena saya sangat mengkhawatirkan
keselamatan Anda, Yang Mulia. Saya sudah menanti di Thamasha seperti yang Anda perintahkan sebelumnya. Tetapi, Anda berada disana lebih lama dari yang Anda janjikan. Saya sangat khawatir mereka akan melukai Anda, Yang Mulia. Karena itu saya meminta Rio untuk menyiapkan pasukan untuk menyerang mereka, Yang Mulia.” lanjut Gabriel masih dengan menundukan kepala.

"Angkat kepala mu dan tatap aku kalau aku sedang mengajakmu berbicara" kata Ashilla

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi itu tidak boleh dilakukan oleh kami. Sudah tertulis dalam Protokol Kerajaan bahwa kami tidak boleh menatap mata Raja dan Ratu walau hanya sebentar." jawab Gabriel.

Ashilla menghela napas pelan,
pandangannya menjadi lembut menatap Gabriel yang sedang berlutut dihadapannga itu. Lalu kemudian Ashilla ikut berlutut didepan Gabriel.

“Oh, Gabrieell…” kata Ashilla sangat lembut sambil memeluk pria tua itu dari samping, dan berkata “Maafkan aku...”

Gabriel sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ashilla. “Ya..Yang Mulia, Anda tidak pantas melakukan ini semua kepada hamba, Yang Mulia. Maaf Yang Mulia...”

Ashilla tersenyum lembut selembut pandangannya kini. Lalu ia menarik pundak Gabriel untuk berdiri dan berkata, “Lupakan
semua kepantasan dan aturan Protokol Kerajaan itu.”

“Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi Anda adalah Ratu kami dan kami
adalah bawahan Anda sudah sepantasnya kami melakukan apa yang sudah tertulis dalam Protokol Kerajaan.”

Ashilla menghela nafas pelan, “Kata ‘Ratu’ itu hanya untuk menunjukkan sebuah pekerjaan tidak lebih dari itu,” kata Ashilla tegas. “Ratu ataupun Raja tetap saja seorang manusia, bukan?!”

“Tapi Yang Mulia.…”

Ashilla mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Gabriel.

“Maafkan aku..,” kata Ashilla menyesalinya dengan penuh ketegasan tapi sarat akan kelembutan didalamnya.

“Seharusnya aku tahu kalian akan
mengkhawatirkan aku. Seharusnya aku tidak pantas untuk memarahi kalian.” Kata-kata yang keluar dari mulut Ashilla itu berhasil membuat orang-orang yang ada di hadapannya menegakkan kepala dengan spontan. Tetapi seakan menyadari tindakannya, mereka langsung menundukan kepala mereka kembali seraya mengucapkan permintaan maaf.

"Maafkan kami, Yang Mulia..." ucap mereka serempak.

"Ck!!" Ashilla berdecak kesal melihatnya. Karena Sejujurnya Ashilla tidak suka diperlakukan seperti ini walaupun ia adalah seorang Ratu dari Kerajan Vandella.

Tapi tak urung Ashilla melanjutkan perkataannya. “Aku juga mengakui kesalahanku dan aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,” kata Ashilla.

“Karena aku sudah tahu alasan kalian kenapa sampai melanggar perintahku, aku pun juga ingin kalian tahu alasan kenapa aku bisa marah-marah terhadap kalian." Ashilla menghela nafas pelan, "Asal kalian tahu, aku juga sangat mengkhawatirkan keselamatan kalian para prajurit ku. Aku
tidak ingin seorang pun diantara
kalian mati hanya karena aku. Aku juga tahu bagaimana perasaan keluarga kalian bila kalian gugur dalam melindungi aku. Cukup sekali saja aku mengorbankan nyawa orang.” lajut Ashilla.

“Tapi itu memang sudah tugas kami untuk melindungi keselamatan Anda, Yang Mulia Ratu. Dan keluarga kami juga sudah tahu akan konsekuensi dari pekerjaan kami, Yang Mulia Ratu." ucap Gabriel

Ashilla menggeleng pelan. "Tapi aku tidak mau hal itu sampai terulang kembali. Aku tidak mau sampai ada keluarga yang ditinggalkan lagi." kata Ashilla "Oh ya Rio, bagaimana keadaan keluarga dari para prajurit yang tewas kemarin?? tanya Ashilla pada Rio.

"iya Yang Mulia Ratu, keluarga yang ditinggalkan oleh para prajurit yang tewas kemarin telah kami urus, Yang Mulia Ratu.” lapor
Rio, “Dan mayat mereka juga telah kami kuburkan dengan layak.”

“Terima kasih, Rio.” ucap Ashilla seraya tersenyum lembut.

“Itu memang sudah tugas saya melayani perintah Anda, Yang Mulia” jawab Rio merendahkan diri.

“Baiklah.. Lebih baik kalian membubarkan diri sekarang,” Ashilla mulai menutup pertemuannya, “Karena aku sudah berada di sini, kita bisa kembali ke Perenolde. Kalau tidak ada halangan, kita bisa kembali sore ini. Apa kalian setuju?”

Para prajurit itu kelihatan sedang berbisik-bisik. Beberapa di antara mereka memberanikan diri berkata, “Kami setuju, Yang Mulia Ratu!!”

Segera prajurit yang lain mengikutinya.

"Kami setuju Yang Mulia Ratu!!” teriak mereka serempak.

Ashilla tersenyum senang. “Berarti sudah diputuskan,” katanya, “Kalian bisa membereskan peralatan kalian semuanya sampai saatnya tiba nanti.”

"Baik Yang Mulia Ratu!! ucap Para prajurit serempak sambil menunduk memberi hormat pada Ashilla kemudian mereka membubarkan diri.

Kini tinggal Rio dan Gabriel yang masih setia menemani Ashilla.

“Anda juga bisa beristirahat, Yang Mulia." kata Gabriel tiba-tiba.

“Tidak, Gabriel.. Banyak yang harus
aku kerjakan.” jawab Ashilla.

"Tapi Yang Mulia, apa tidak sebaiknya Anda beristirahat dulu sebentar? Anda kelihatan sangat lelah sekali Yang Mulia? Maaf atas kelancangan hamba Yang Mulia." tanya Rio ikut menyuarakan usulannya.

"Tidak apa-apa Rio.. dan terimakasih kalian sudah mengkhawatirkanku.. Aku akan istirahat tapi nanti setelah semuanya beres." jawab Ashilla seraya tersenyum lembut.

"Itu sudah tugas kami, Yang Mulia Ratu" jawab mereka berdua serempak.

Kini pandangan mereka tertuju pada gaun yang dikenakan Ashilla.

“Maaf atas kelancangan hamba Yang Mulia, Tapi apa Anda akan tetap mengenakan gaun usang itu ke Istana?? Anda akan membuat kami berada dalam kesulitan.” tanya Rio seraya menunduk.

Seakan teringat pada pelayan tuanya yang sangat setia itu, Ashilla tertawa. “Aku yakin Sivia telah memberikanmu ancaman.”

“Anda tahu persis, Yang Mulia” jawab Rio sambil tersenyum.

“Baiklah, Rio. Aku tidak akan
membuat kau mengalami
kesulitan dengan hal ini.”

"Terimakasih Yang Mulia Ratu!!" ucap Rio.

Lalu Gabriel memanggil seorang
prajurit. “Suruh Angel untuk menyiapkan segala sesuatu
untuk Yang Mulia Ratu.”

"Baik Tuan!!" ucap Prajurit itu sambil membungkuk lalu pergi.

“Mari, Yang Mulia Ratu” kata Gabriel hormat “Silahkan Anda bisa mengikuti saya.”

Lalu Rio dan Gabriel mengawal Ashilla menuju ketenda besar yang ada ditengah-tengah kumpulan tenda para prajurit kerajaan.

Kemudiam seorang wanita muda muncul dari dalam tenda untuk menyambut Ashilla.

“Selamat datang dan selamat beristirahat, Yang Mulia Ratu Ashilla” kata wanita itu tersenyum seraya menunduk hormat.

Ashilla tersenyum lembut lalu beranjak untuk memasuki tenda.

“Dia mirip sekali dengan Yang Mulia Raja Sion.” kata Rio pada Gabriel.

“Hanya dalam beberapa hal saja,
Rio. Tidak semuanya.” jawab Gabriel.

                -----o0o-----

Ashilla mendesah panjang. Semuanya sama seperti yang ada
difikirannya. Seperti dulu, saat mereka menjemputnya dengan segala sesuatu yang lengkap dan sangat mewah.

Kereta kuda emas, gaun-gaun indah serta pelayan-pelayan yang sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Semua disiapkan khusus hanya untuknya, Yang Mulia Ratu Kerajaan Vandella.

Siapa yang menyangka gadis miskin seperti dirinya tiba-tiba menjadi seorang Ratu dan dihormati oleh semua orang di negara ini?

Ashilla sama sekali tidak pernah menginginkan menjadi seorang Ratu apalagi memimpikannya. Tidak sama sekali !!

Hal ini memang sangat mustahil. Gadis yang hidupnya selalu kekurangan tiba-tiba diangkat menjadi seorang Ratu dari sebuah kerajaan besar di suatu Negara.

Tapi apa yang terjadi menimpa Ashilla adalah kenyataan. Sekarang Ashilla menjadi gadis yang sangat kaya. Kekayaannya melebihi setiap orang yang ada di kerajaan ini.

Keajaiban ini terjadi padanya karena darah biru yang mengalir
ditubuhnya. Darah biru yang sangat kental dan bercahaya.

Ibu maupun ayahnya bukanlah orang biasa. Mereka adalah Raja dan Ratu dari Kerajaan Vandella. Tapi selama bertahun-tahun mereka berdua hidup terpisah.

Dari cerita ibunya, Ashilla tahu
betapa kejamnya sang ayah pada keluarganya sendiri. Bahkan, pada putranya sendiri ia sangat tega.

Walaupun Patton (kakaknya) masih berumur tiga tahun, tetapi bila ia
melakukan kesalahan dan hal yang tak disukai oleh Raja Sion, ia akan mendapat pukulan disekujur tubuhnya. Raja Sion tidak perduli sekecil apa kesalahan itu.

Raja Sion ingin Patton bersikap
sempurna sebagaimana layaknya
seorang Putra Mahkota yang sempurna dalam tindakan maupun kata-kata. Tetapi, kali ini sempurna menurut caranya.

Ratu Zahra tidak berani bertindak
apa-apa untuk melindungi putranya. Ia sendiri juga sering
merasakan pukulan dari sang Raja yang notabenenya adalah suaminya sendiri yang ringan tangan itu.

Dari lubuk hatinya yang terdalam,
Ratu Zahra sebenernya sangat membenci Raja Sion. Kalau bukan karena perjodohan dari orang
tuanya, ia tidak akan memilih untuk dinikahi oleh Raja Sion. Sekalipun ia adalah pria terakhir yang ada didunia ini.

Ratu Zahra tidak bisa menolak dan juga tidak berani kabur.Sebenarnya ia bukan wanita yang penakut tetapi ia tidak berani melawan demi keselamatan keluarganya.

Bila ia melawan, Raja Sion akan menghancurkan keluarganya detik itu juga.

Pria itu tidak akan segan-segan
melakukan segala tindakan untuk
mendapatkan apa yang di inginkannya. Meskipun dengan cara kotor sekalipun.

Ratu Zahra tahu suaminya adalah iblis yang paling kejam diantara para raja iblis yang ada di Hell.

Demi kedua orangtuanya pula ia terus bertahan dan menahan keinginannya untuk kabur meninggalkan Istana Azzereath. Dan setelah orangtuanya meninggal, Ratu Zahra semakin ingin pergi tetapi ia tidak bis melakukannya.

Karena pada saat itu ia baru saja melahirkan Patton anak pertamnya dan ia tidak tega untuk meninggalkannya.

Banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Ratu Zahra kepada
keluarga kecilnya itu. Demi Patton, satu-satunya orang yang sangat dicintainya setelah kedua orangtuanya meninggal. Ratu  Zahra bisa bertahan di Istana yang dingin dan suram itu.

Beberapa tahun kemudian sang Ratu melahirkan anak keduanya. Kali ini ia melahirkan seorang anak yang berjenis kelamin
perempuan yang sangat cantik.

Setelah melihat sendiri apa yang terjadi pada Patton anak pertamanya, sang Ratu yakin Raja juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada Patton anak sulungnya itu.

Ratu Zahra dilanda kebimbangan antara meninggalkan Vandella untuk menyelamatkan Ashilla atau
menetap di Istana untuk menjaga
Patton. Karena ia sangat mencintai kedua anaknya dan tidak tega untuk meninggalkan salah satu dari mereka.

Sekejam-kejamnya Raja Sion, Ratu
yakin ia takkan membunuh Putra
Mahkotanya sendiri yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.

Akhirnya berpegang pada keyakinan itu, sang Ratu memutuskan untuk meninggalkan Vandella untuk selama-lamanya.

Dengan berat hati, Ratu meninggalkan anak sulungnya Patton di malam hari bersama Ashilla yang masih bayi bersama satu pelayannya yang sangat setia, Sivia.

Negara yang akan menjadi tujuan Ratu Zahra adalah Roma. Karena Ratu tahu suaminya takkan berani menyerang kota suci Roma itu kecuali jika ia ingin dimusuhi oleh
Raja-raja di Eropa. Di sana Raja Sion tidak akan bisa menemukan mereka.

Pada tahun pertama pelarian
mereka, mereka bisa hidup enak
berkat perhiasan-perhiasan mahal milik Ratu. Walaupun begitu mereka tidak hidup bermewah-mewah.

Asalkan mereka bisa makan, itu
saja sudah cukup baginya. Ratu tahu ia harus menghemat segala yang dimilikinya untuk putrinya yang masih kecil.

Berkat uang simpanan Ratu itulah
Ashilla bisa tumbuh menjadi gadis
cantik yang selalu ceria. Walaupun hidupnya tidak bergelimangan dengan kemewahan tetapi hidupnya bergelimangan dengan kebahagiaan. Hal itu yang membuat Ratu Zahra sangat bersyukur memiliki putri seorang Ashilla. Karena ia tidak pernah mengeluh.

Ashilla terus tumbuh tanpa mengetahui siapa ayahnya dan
siapa dirinya yang sebenarnya. Yang Ashilla tahu ia hanya anak desa.

Sering kali Ashilla menanyakan siapa ayahnya kepada ibunya tapi sang ibu tidak mau memberitahu. Baik Ratu maupun Sivia mereka akan merahasiakan hal itu dari Ashilla sampai waktunya tiba.

“Aku akan mengatakannya suatu saat nanti.” Itulan yang selalu keluar dari mulut Ratu dan Sivia apabila Ashilla menanyakan siapa Ayahnya.

Sering pula Ashilla melihat ibunya sedang melamun. Ia tampak sangat sedih seperti merindukan seseorang.

Ashilla yang tidak tahu apa-apa
hanya bertanya, “Mengapa Mama
bersedih? Apa mama sedang memikirkan Papa?”

Ratu hanya menjawab pertanyaan
polos itu dengan tersenyum sedih.

Dengan seiring tumbuhnya Ashilla, pikiran gadis itu menjadi lebih dewasa. Ashilla pun mulai berpikir bahwa ayahnya meninggalkan ibunya sehingga membuat ibunya selalu merindukannya. Sejak itulah Ashilla tidak pernah menanyakan tentang ayahnya lagi pada ibunya. Dan sejak saat itu pula muncul kebenciannya pada ayahnya yang tidak pernah diketahuinya itu.

Tahun demi tahun terus berganti.
Tak terasa sudah sembilan tahun
sang Ratu meninggalkan Istana. Tetapi, sejak mereka pergi meninggalkan Istana hingga saat ini tidak pernah terdengar kabar bahwa Raja Sion mencari mereka.

Ratu sangat lega karenanya.Kehidupan yang tenang bisa terus ia jalani bersama anaknya dan pelayan setianya. Kecuali ia sangat mengkhawatirkan Patton, tidak ada lagi yang membuat Ratu cemas selain itu.

Semuanya berubah ketika Natal tahun ke sembilan, Ratu tiba-tiba jatuh sakit. Kehidupan yang penuh denga kerja keras membuat tubuhnya sakit-sakitan. Sebagai orang yang sejak lahir hidup dalam kemewahan, Ratu tidak terbiasa hidup sesederhana ini dan bahkan serba kekurangan seperti ini.

Uang yang sengaja disimpan oleh Ratu untuk masa depan Ashilla nanti terpaksa digunakan untuk
mengobati Ratu. Awalnya sang Ratu tidak setuju untuk
menggunakan uang simpanannya
itu tetapi Sivia terus membujuknya. Kata Sivia, uang bisa dicari tetapi nyawa tidak bisa.

Ashilla yang tidak tahu menahu
tentang uang simpanan ibunya itu,
ia hanya diam saja. Ia hanya bisa terus berdoa agar ibunya bisa sehat kembali dan menjaga ibunya.

Baik Ratu maupun Sivia tidak
ingin pendidikan Ashilla terhenti
karena masalah ini. Mereka pun
mendesak Ashilla agar tidak
meninggalkan pelajarannya demi
menjaga Ratu.

Sebagai anak yang tahu balas
budi, akhirnya Ashilla menurutinya. Ia tahu untuk bisa membesarkannya, ibunya telah bekerja sangat keras. Dulu ketika ibunya masih sehat, hampir tiap hari Ashilla melihat ibunya dan Sivia menenun kain seperti
orang-orang yang ada didesa Marshwillow itu.

Mereka menenun hingga larut malam hanya untuk membiayai hidup mereka terutama Ashilla yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Ratu ingin memberikan yang
terbaik bagi putrinya. Ia ingin Ashilla tumbuh sehat seperti gadis lainnya.

Sejak Ratu jatuh sakit kehidupan mereka menjadi lebih sulit. Seluruh uang yang mereka miliki digunakan untuk mengobati Ratu. Tetapi bukannya makin membaik, kesehatan Ratu terus memburuk.

Sivia, pelayan ibunya yang setia itu
terus bekerja lebih keras hanya untuk mengobati Ratu dan untuk membesarkan Ashilla. Baginya tidak ada waktu untuk istirahat walau hanya sebentar.

Di saat Sivia mempunyai waktu luang, ia akan membantu para tetangga mengerjakan pekerjaan
rumah tangga. Ia telah bekerja
dengan sangat keras tetapi uang
yang dihasilkannya tidak pernah
cukup untuk hidup mereka.

Walaupun masih anak-anak, Ashilla mengetahui kesulitan yang dialami oleh keluarganya. Di balik
kesibukan belajarnya, ia sering
membantu Sivia memintal benang dan menenunnya.

Ashilla juga tahu uang hasil kerja keras mereka tidak cukup untuk membeli semua kebutuhan mereka.

Ashilla meminta Sivia untuk
menggunakan semua uang itu
untuk menyembuhkan ibunya.

“Demi kesembuhan Mama, aku
akan mengorbankan apa saja.”
Itulah yang selalu dikatakannya
pada Sivia.

Sebenarnya Sivia sendiri juga mau melakukan apa saja demi kesembuhan Ratu tetapi ia juga mempunyai kewajiban untuk membesarkan Ashilla.

Ashilla terus mendesak Sivia
hingga wanita itu tidak mampu
melawan keinginannya lagi membiarkan Ashilla membatunya.

Walaupun kesehatan Ratu terus
memburuk, mereka tidak berhenti
untuk selalu berusaha dan berdoa. Mereka rela menahan lapar untuk membeli obat bagi Ratu. Mereka terus berusaha memberikan makanan yang terbaik untuk Ratu.

Ratu tidak pernah tahu kalau Sivia sering meminjam uang pada tetangga hanya untuk membeli obat untuk kesembuhan dirinya.

Penduduk desa Marshwillow tidak
ada yang kaya, tetapi mereka tetap
mau membantu. Ratu dan Sivia
adalah orang asing di desa itu
tetapi mereka telah menganggap bahwa Ratu dan Sivia sudah menjadi bagian dari penduduk desa Marshwillow tersebut. Dan sudah sepantasnya mereka saling tolong menolong jika ada yang mengalami kesusahan. Demikian pula dengan Ashilla yang tumbuh besar disana.

Perjuangan Ratu menghadapi
penyakitnya akhirnya berakhir juga pada suatu musim gugur yang sangat dingin.

Setelah selama dua tahun sang Ratu bergelut melawan penyakitnya, akhirnya Ratu menghembuskan nafas terakhirnya disuatu pagi dengan diiringi hujan yang sangat lebat.

Seperti kehilangan anggota keluarga mereka, seluruh penduduk desa Marshwillow
bersedih atas kepergian sang Ratu.
Berita kematian Ratu yang tersebar sangat cepat di desa kecil itu mengundang penduduk setempat untuk membantu pemakaman Ratu.

Sampai mati pun, Ratu tidak pernah mengatakan siapakah dirinya yang sebenarnya. Baik Ashilla maupun penduduk Marshwillow mengenal Ratu sebagai seorang wanita yang sangat lembut dan penyayang yang bernama Zahra.

Setelah pemakaman ibunya, Ashilla baru mengetahui siapa
dirinya yang sebenarnya. Untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu padanya, Ratu telah menulis surat wasiat dan menitipkannya pada Sivia.

Surat itu hanya boleh diberikan pada Ashilla bila ia telah meninggalkan dunia ini. Dalam surat itu, Ratu mengatakan segala sesuatu yang selama ini dirahasiakannya dari Ashilla.

Mulanya Ashilla tidak percaya bahwa ia adalah Putri Kerajaan. Tetapi setelah mendengar cerita dari mulut Sivia sendiri, barulah ia percaya. Hal itu tidak membuatnya sombong, melainkan
membuatnya makin rendah hati.

Kebenciannya pada ayahnya yang
sudah tumbuh kian menjadi-jadi.
Seperti halnya ibunya, Ashilla tidak
berkeinginan untuk kembali ke
Vandella. Walaupun ia ingin bertemu Patton sang kakak, tetapi Ashilla tetap bersikeras untuk tinggal di Marshwillow yang dicintainya.

Sivia tidak bisa berbuat apa-apa
untuk memaksa Ashilla pulang.
Ashilla adalah majikan dan Putri
Kerajaan dari tanah airnya.

Walaupun ia tahu kehidupannya akan lebih terjamin bila ia kembali pada ayahnya, Ashilla memilih tinggal di sisi pusara ibunya.

Ashilla tidak pernah merasa
dirinya adalah seorang Puteri. Ia
adalah gadis desa yang dibesarkan
didesa yang kehidupannya serba kesulitan, bukan sebagai Puteri Kerajaan.

Setelah mengetahui rahasia itu,
Ashilla mulai menduga-duga bahwa ibunya sering melamun bukan memikirkan ayahnya tetapi memikirkan Kakanya yang berada dalam cengkeraman ayahnya.

Ashilla tahu ibunya dengan sangat berat hati meninggalkan kakaknya dalam kekejian ayahnya. Ashilla juga tahu bagaimana tindakan ayahnya pada Kakanya itu hingga membuat ibunya terpaksa meninggalkan kakanya hanya untuk menyelamatkannya.

Kebencian yang mendalam pada
ayahnya yang kejam, membuat
Ashilla semakin ingin melupakan
jati dirinya. Ia tak peduli apakah
ia seorang puteri atau bukan. Ia
hanya tahu ia adalah gadis desa.

Waktu terus berjalan. Ashilla mulai
melupakan rahasia itu. Dalam
pikirannya maupun dalam tingkah
lakunya, ia tidak pernah lagi
mengingat maupun teringat akan
siapa dirinya.

Ashilla sudah benar-benar bisa melupakan hal itu ketika Obiet, Menteri Luar Negeri Vandella datang kerumahnya yang akan membuat kehidupan tenangnya akan hilang sebentar lagi.

Saat itu Ashilla sedang menanti
Sivia yang pergi berbelanja.
Sambil menunggu, ia menyibukkan
dirinya dengan menyulam. Di tengah kesibukannya itulah tiba-tiba pintu diketuk orang.

“Tidak mungkinkan kalau itu Sivia yang datang,” pikir Ashilla, “Ia tidak perlu mengetuk pintu kalau ingin masuk.”

Dengan segala kebingungannya, Ashilla menuju pintu sambil
bertanya-tanya siapa yang datang kerumahnya. Sejak ibunya dimakamkan, hampir tidak ada lagi penduduk Marshwillow yang datang mengunjungi mereka.

Penduduk tahu dengan segala
keterbatasan yang ada, mereka
tidak dapat menjamu tamu.
Penduduk tidak ingin merepotkan
Sivia maupun Ashilla.

Ketika pintu rumah itu dibuka, Ashilla dibuat terpana dengan melihat seorang pria paruh baya berdiri diambang pintu dengan bajunya yang indah dan mengkilat. Ia diapit dua pria lain yang lebih muda dan pakaiannya lebih sederhana.

Ashilla melihat mereka semua
dengan tatapan bingung dari atas ke bawah. Pria yang berada ditengah mengenakan jas yang sangag rapi sedangkan orang yang  disisinya mengenakan baju prajurit dengan warna biru untuk atasannya dan putih untuk celananya.

Mereka semua membuat Ashilla
bersikap waspada. Ashilla tidak
tahu siapa mereka, tetapi mereka
telah menimbulkan kecurigaannya.

“Anda mencari siapa, Tuan?” tanya Ashilla ragu-ragu.

“Perkenalkan saya adalah Ray, Menteri Luar Negeri dari Kerajaan Vandella. Saya datang untuk menjemput Yang Mulia Ratu Zahra dan Yang Mulia Tuan Puteri Ashilla.”

Seketika itu Ashilla menggenggam tangannya sangat keras saat mendengar pernyataan dari seorang yang mengaku dirinya sebagai Menteri Luar Negeri Kerajaan Vandella, akibatnya buku-buku jari tangan Ashilla memutih. Gadis itu menegakkan tubuhnya dan menatap pria di depannya.

“Mereka berdua tidak ada disini,” katanya tegas.

Walaupun Raja Sion mengirim
jemputan untuk mereka, Ashilla
tidak akan pernah mau kembali. Ibunya telah bersusah payah untuk bisa berada disini. Dan, sebagai anak yang berbakti, Ashilla takkan membuat usaha ibunya menjadi sia-sia.

“Tapi mata-mata yang sempat kami suruh untuk mencari kalian mengatakan kalau mereka berdua tinggal di sini,” kata Ray penuh keheranan.

“Sayang sekali, Tuan. Mereka berdua tidak tinggal disini.” jawab Ashilla.

“Ya, sayang sekali..” Ray nampak
sangat sedih dan kecewa. “Mungkin mereka sudah pindah atau mata-mata kami yang salah memberikan informasinya.”

“Mungkin saja, Tuan.” Ashilla menyetujui.

“Terima kasih, Nona. Dan maaf kami telah menganggu Anda.” ucap Ray meminta maaf.

Tiba-tiba Sivia datang dan menghancurkan sandiwara yang dilakukan oleh Ashilla untuk mengkelabuhi orang itu.

Ashilla sangat yakin mereka akan kembali ke Vandella dengan tangan kosong apabila saat itu Sivia tidak muncul. Sejak ibunya masuk Istana, Sivia dan Ray sudah saling mengenal. Sivia tidak spertinya tidak melupakan Ray.Dan Ray pun juga sepertinya tidak melupakan pelayan ibunya itu.

“Tuan Ray?? Apa yang sedang dilakukan Anda disini?” tanya Sivia heran. Pasalnya Ia sama sekali tidak pernah memberitahukan pada pihak Kerajaan tentang tempat ini.

“Sivia???” tanya Ray tak percaya.pada pelayang setianya sang Ratu. “Kenapa kau ada disini? Apa kau tinggal disini??”

“Tentu saja, Tuan.” jawab Sivia tanpa menyadari kesalahannya, “Sejak meninggalkan Vandella, aku tinggal ditempat ini.”

“Kalau begitu Yang Mulia Ratu dan Tuan Puteri ada disini,” gumam Ray.

Tiba-tiba pria itu berbalik dan
menatap Ashilla lekat-lekat.Ditatap seperti itu Ashilla tetap berusaha bersikap tenang.

Ray mencermati tiap detail wajah Ashilla. Lama-lama semakin dilihat, semakin nampak kemiripannya dengan Ratu Zahra sewaktu sang Ratu masih muda.
Hanya saja mata biru gadis ini
lebih cerah dan rambutnya lebih
bersinar cerah. Selain itu, ia benar-benar seperti gambaran diri Ratu diwaktu muda.

Lalu pandangan Ray beralih ke Sivia dan menatap Sivia dengan tatapan penuh tanda tanya yang tersirat dimatanya.

“Benar Tuan, ia adalah…” Sivia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Ashilla yang menyuruhnya untuk menutup mulut.

Sayangnya, Ray sudah dapat
menebaknya siapa gadis yang membukakan pintu itu tadi.

Ashilla yang sudah menebak akan hal itu, segera menyingkir dan masuk kedalam rumahnya. Ia menyadari kemiripannya dengan sang ibunya. Tak perlu orang lain untuk mengatakan bahwa mereka berdua mirip, tetapi dirinya sendiri juga berkata seperti itu ketika ia sedang bercemin.

Ashilla tidak mau mendengarkan lagi siapa dirinya yang sesungguhnya itu yang membuatnya kesal, karena itu masuk kedalam rumahnya itu.

Ray bingung melihat kepergian
gadis itu.

Sivia merasa bersalah atas kejadian itu. “Silahkan masuk, Tuan. Saya ingin tahu hal apa yang membuat Anda jauh-jauh datang kesini??”

Ray memandangi keadaan di
dalam rumah kecil itu. Ruangan-
ruangannya sangat kecil dan hampir kosong. Tidak nampak ada sofa-sofa yang indah, dan lukisan-lukisan yang menempel didinding.

Semuanya tidak mencerminkan
gaya hidup keluarga kerajaan
tetapi mencerminkan kehidupan
orang miskin yang penuh penderitaan. Dinding-dinding kayunya nampak lapuk disana-sini dan mulai ditumbuh lumut. Atapnya lebih mengenaskan lagi. Atapnya nampak sangat lemah dan sewaktu-waktu siap runtuh ketika diterjang angin.

Tak pernah disangka oleh Ray bahwa kehidupan sang Ratu dan Puteri kerajaannya sedemikian buruknya. Mereka benar-benar melarat seperti layaknya orang miskin.

“Silahkan duduk, Tuan” kata Sivia sopan. “Maaf tempat kami kotor.”

Ray mendengar deritan kursi
kayunya ketika ia duduk. Ray
melihat sekeliling seperti mencari
seseorang.

“Dimana Yang Mulia Ratu Zahra?”

Mendengar pertanya itu Sivia segera menunduk sedih. “Yang Mulia Ratu Zahra sudah meninggal dunia sejak lima tahun lalu.”

“Oh..,” itulah yang pertama kali
keluar dari mulut Ray. “Aku turut berduka cita.”

“Terima kasih, Tuan.” jawab Sivia.

“Jadi sejak itu, apa kau sendiri yang membesarkan Tuan Puteri?” Ray tiba-tiba bertanya.

Sivia tersenyum. “Tepatnya tidak.” Melihat wajah heran Ray, Sivia segera melanjutkan perkataannya, “Nona tidak membiarkan dirinya merepotkan orang lain. Ia ikut berusaha untuk menghidupi keluarga kecil kami ini.”

Ray terpekur mendengarkan pernyataan yang dibuat oleh Sivia sambil menatap lantai kayu yang ia pijak.

“Apa yang membuat Anda datang kesini, Tuan Ray?” tanya Sivia.

“Berita duka juga..” jawab Ray

“Berita duka? Berita duka apa, Tuan??” tanya Sivia heran.

“Yang Mulia Raja Sion telah meninggal dunia.” jawab Ray seraya menatap Sivia.

“Apa!!!” Sivia terkejut, “Kapan itu terjadi, Tuan?”

“Bulan lalu. Kira-kira tujuh sampai delapan bulan yang lalu.”

“Oh…” gumam Sivia. “Aku sama
sekali tidak menyangka akan hal itu.”

“Kami semua juga tidak pernah
menduga Raja akan pergi secepat ini. Sebulan sebelum beliau meninggal, ia sempat sakit. Kami semua kira itu hanya sakit biasa. Tapi, siapa yang menduga ternyata Tuhan telah berkata lain.”

“Kalau Yang Mulia Raja meninggal, berarti sekarang tahta kerajaan
sedang kosong,” komentar Sivia
tanpa pikir panjang. Tiba-tiba
Sivia teringat akan Patton sang Putra Makhota Kerajaan Vandella. Ia baru saja akan membetulkan kata-katanya ketika ia baru ingat akan adanya Putra Makhota tapi ternyata Ray sudah berkata lebih dulu.

“Karena itulah kami datang kesini, Sivia." ucap Ray.

Sivia heran sendiri dibuatnya. “Bukankah masih ada Putra Makhota Patton, Tuan Ray?”

“Sayang sekali Sivia Putra Makhota Patton juga sudah meninggal.”

“Apa!! Bagaimana bisa, Tuan??” Sivia sangat terkejut mendengarnya. “Putra Makhota yang malang, ia masih terlalu muda untuk mati.”

“Ya, sayang sekali.” kata Ray menetujui perkataan Sivia.

“Saya khawatir Anda tidak akan berhasil membawanya, Tuan.” kata Sivia pelan.

“Maksudmu?” tanya Rat heran.

“Nona… ehm… maksud saya Tuan
Puteri tidak mau kembali ke
Vandella. Seperti halnya ibunya, sedikit pun ia tidak ingin kembali ke Vandella. Ia sangat membenci Raja Sion.” jawab Sivia menjawab sikap keheranan yang ada dimata Ray.

Ray sedih mendengarnya. “Kalau begitu kau harus mau membantuku membujuknya, Sivia. Hanya kaulah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Bujuklah dia.”

“Saya rasa percuma saja membujuknya, Tuan,” kata Sivia, “Maafkan saya, saya tidak bisa membantu Anda, Tuan.”

“Kau harus bisa membantuku, Sivia!!”

“Saya benar-benar tidak bisa, Tuan. Maafkan saya..” Ucap Sivia menolak.

“Kau harus!!” kata Ray tegas.

“Aku menolak!!"

Ray sangat terkejut tiba-tiba mendengar kata penolakan itu dari dalam rumah.

Ashilla muncul diruangan itu.Gadis itu sepertinya sudah mendengarkan semuanya.

“Maafkan aku..,” kata Ashilla, “Aku
tidak bermaksud untuk mendengarkan pembicaraan kalian berdua. Tetapi, rumah ini sangatlah kecil dan dimana pun aku berada, aku pasti dapat mendengarkan pembicaraan kalian.”

“Saya mohon kembalilah ke Vandella, Yang Mulia. Rakyat
Vandella sangat membutuhkan Anda.” kata Ray seraya bangun dari duduknya.

“Jangan pernah memohon padaku. Aku tidak akan mengubah jawabanku!!” kata Ashilla tegas.

“Kini rakyat Vandella sedang menderita, Yang Mulia. Saat ini
mereka membutuhkan bantuan dari Anda. Hanya Anda yang bisa
menyelamatkan mereka semua dari penderitaan ini.”

“Salahkan saja serigala itu!!” ucap  Ashilla geram, “Salahkan saja akan kekejamannya hingga tega membunuh putra kandungnya sendiri.”

“Putra Makhota Patton meninggal bukan karena dibunuh oleh Yang Mulia Raja. Ia yang membunuh dirinya sendiri,” kata Ray membenarkan, “Ia bunuh diri.”

“Kak Patton bunuh diri karena serigala itu, bukan? Dia pasti sangat tertekan dan akhirnya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan bunuh diri.” ucap Ashilla dengan nada sinis.

Ray terdiam.

“Jangan kalian pikir aku tidak tahu apa-apa tentang kekejaman serigala itu. Aku tahu bagaimana ia
memperlakukan kakaku Patton. Aku dapat merasakan kebenciannya terhadap serigala itu karena terus didesak untuk bersikap sempura. Serigala itu selalu memaksa kakaku untuk bersikap seperti Pangeran yang kejam tapi kakaku tidak sanggup melakukannya.” lanjut Ashilla tajam.

Ray benar-benar tidak bisa
membantah. Apa yang dikatakan
Ashilla memang benar adanya. Semua penghuni di Istana tahu bahwa Pangeran Patton sangat tertekan oleh keinginan dan
kekejaman ayahnya hingga
akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Kembalilah ke Vandella. Katakan
pada yang memerintahkanmu
bahwa aku menolak untuk kembali." ucap Ashilla setelah beberapa saat tadi terjadi keheningan.

“Tidak ada yang menyuruh kami,
Yang Mulia. Kami datang atas kemauan kami sendiri.” jawab Ray penuh permohonan.

Ashilla tidak tertarik untuk mendengarkan omong kosong itu.

“Jadi, bukan Raja Sion yang memerintahkan kalian untuk
mencari kami?” tanya Sivia tiba-tiba dengan penuh keheranan.

“Yang Mulia Raja tidak pernah
menyuruh kami untuk mencari kalian,” jawab Ray. “Bahkan, sejak Yang Mulia Raja mengetahui bahwa ia tidak akan pernah bisa sembuh dari penyakitnya. Ia tidak pernah menyuruh kami. Kami sendirilah yang memerintahkan diri kami sendiri untuk mencari Anda semua. Hingga Paduka meninggal, ia tidak tahu kami telah memulai pencarian ini.”

“Kau telah melihat sendiri
kenyataannya, bukan? Bahkan ia tidak mau peduli pada kami. Ia tidak mengharapkan kami untuk kembali.” ucap Ashilla sambil tertawa sumbang.

Lagi-lagi Ray tidak bisa berkata
apa-apa. Ia hanya diam seperti patung.

Sivia tahu ia tidak bisa berbuat
apa-apa. Ia tahu betapa keras kepalanya Ashilla, bila gadis itu telah memutuskan sesuatu dia tidak akan semudah itu untuk mengubah pendiriannya. Dan Sivia tidak punya hak untuk memerintah Ashilla sekalipun ia telah menjadi ibu gadis itu selama lima tahun terakhir ini.

“Saat ini Vandella sedang terjadi
kekosongan tahta, Yang Mulia. Kami…..”

“Siapa yang selama ini memegang
pemerintahan?” potong Ashilla cepat.

“Kami para Menteri, Yang Mulia.” jawab Ray sopan.

“Kalau begitu kalian bisa terus
mengatur Vandella tanpa aku.” ucap Ashilla acuh.

“Yang Mulia.... " ucapan Ray terhenti karena merasa terkejut mendengar perkataan dari Ashilla. "Kami tidak bisa berbuat banyak tanpa seorang Raja, Yang Mulia. Di Vandella, Rajalah yang berhak untuk memutuskan segalanya.”

“Kalau begitu angkat saja Raja yang baru.” usul Ashilla spontan.

“Kami…”

“Selain aku..” potong Ashilla seakan tahu apa yang ada dipikiran Ray.

Ray tampak murung. “Itu tidak bisa, Yang Mulia.”

“Kenapa tidak bisa?” tanya Ashilla
keheranan, “Tidak mungkin serigala itu tidak menunjuk pewarisnya yang baru setelah Putra Makhota meninggal untuk menggantikan posisinya.”

“Andaikan saja itu terjadi, Yang
Mulia.” Ray menyesal. “Hingga
beliau meninggal, ia tidak pernah
menunjuk siapa penggantinya. Di
Vandella ada isu yang tersebar bahwa Putri Febby, anak tunggal dari keluarga Apaleah yang mempunyai hubungan dekat dengan Raja, akan naik tahta bila Yang Mulia Puteri Ashilla telah meninggal. Hal itu benar terjadi bila Anda tidak ada, Yang Mulia."

“Bersikaplah seperti aku telah
meninggal.” kata Ashilla sekenanya.

“Itu sangatlah tidak mungkin, Yang Mulia. Karena Anda masih hidup dan itu sudah menjadi tradisi, Yang Mulia. Kami tidak berani untuk menentangnya. Rakyat Vandella pasti akan memberontak
bila kami melanggar tradisi ini.
Karena itulah hingga hari ini kami
belum mengumumkan kematian
Yang Mulia Raja Sion. Kami tidak ingin terjadi perebutan kekuasaan. Kami juga tidak ingin membuat pemberontak kerajaan melakukan kudeta.” jawab Ray panjang lebar.

“Pemberontak??” Sivia yang dari tadi diam kini menyeruakan ketertarikan dengan cerita Ray.

“Sebenarnya sejak dulu sudah ada
gerakan pemberontakan terhadap
Raja Sion tapi gerakan itu baru kentara tak lama setelah kalian pergi meninggalkan Istana.
Pemimpin pemberontak itu telah
menjadi pahlawan rakyat Vandella
yang miskin dan menderita. Kami
yakin demi pahlawan mereka itu,
mereka sanggup mengorbankan
apa saja terlebih setelah
mengetahui Yang Mulia Raja telah
meninggal. Kami selalu menghindari hal itu dengan menunda pengumuman kematian Yang Mulia Raja sampai Anda kembali ke Vandella Yang Mulia Puteri Ashilla. Kami tidak ingin terjadi perang antara pasukan kerajaan dengan rakyat.” jawab Ray menjelaskan.

“Angkatlah sang pahlawan menjadi
Raja dan semua masalah selesai,”
usul Ashilla lagi masih belum menyerah dengan pendiriannya, “Rakyat pasti tidak akan marah karenanya.”

“Sudah kami jelaskan, Yang Mulia.
tradisi membuat kami tidak bisa
berbuat lain. Selama Anda masih
hidup, diantara kami para menteri tidak ada yang berhak untuk memutuskan siapa yang
menduduki tahta kerajaan setelah Kematian Raja.”

“Apakah Anda tidak ingin pulang
ke Vandella, Nona dan membantu para rakyat Vandella?” akhirnya Sivia ikut membujuk Ashilla.

Ashilla diam tidak mengatakan apa-apa.

Melihat keterdiaman Ashilla membuat Sivia melanjutkan perkataannya. "Walaupun Anda hanya tinggal sehari di Vandella, Tetapi Anda tetap lahir di Vandella, Nona. Dan dalam diri Anda telah mengalir darah Raja Sion. Saya yakin Ratu pun sebenarnya ingin kembali ke Vandella, tanah airnya.”

Ashilla bisa menangkap maksud lain dibalik pernyataan itu. Dengan
lembut ia berkata, “Kembalilah ke
Vandella bila kau ingin, Sivia. Aku tidak akan memaksa mu untuk tetap tinggal bersamaku disini. Karena aku akan tetap tinggal disini.”

“Saya telah berjanji pada Yang Mulia Ratu Zahra untuk tidak meninggalkan Anda, Nona.” tolak Sivia halus

“Kalau begitu aku memerintahkanmu untuk kembali
ke Vandella, Sivia." perintah Ashilla penuh dengan nada otoriter.

“Maafkan saya Nona, Saya tidak dapat meninggalkan Anda sendirian disini. Bila Anda ingin tinggal disini, saya juga tidak akan kembali. Sekalipun Anda memaksa saya, saya tetap akan tinggal disisi Anda untuk melayani Anda.” jawab Sivia lugas.

“Kau harus kembali, Sivia. Aku tahu kau sangat merindukan
keluargamu dan kota tempat kau
dilahirkan. Kau selalu merindukan Vandella.” perintah Ashilla kekeh.

“Maaf Yang Mulia, tapi apa yang dikatakan Sivia memang benar. Anda harus kembali ke Vandella. Dan hanya Andalah yang bisa menjadi Raja kecuali Anda turun tahta dan menyerahkannya kepada orang lain." kata Ray menyela pembicaraan mereka berdua.

Ashilla diam merenung kembali apa yang harus ia perbuat. Dan setelah mendapatkan jawabannya, dengan mantap ia berkata, “Baiklah... Aku ikut dengan kalian.”

Ray dan Sivia tersenyum senang ketika mendengarkan keputusan dari Ashilla. Dan dengan segera Ray mengirimkan utusan untuk memberitahu para Menteri Vandella agar mereka segera menyiapkan segala perlengkapan untuk penobatan Raja pada Ashilla.

Disebuah desa kecil di tepi perbatasan Vandella, Gabriel,
sang Menteri Dalam Negeri kerajaan Vandella telah menantinya untuk upacara penobatan.

Upacara penobatan itu berlangsung sangat sederhana. Uskup Vandella sendiri yang menobatkan Ashilla menjadi Raja dengan Ray dan Gabriel yang menjadi saksinya.

Saat itu yang ada didalam benak
Ashilla adalah kembali ke Vandella untuk mengumumkan
kematian ayahnya dan menyatakan dirinya sebagai Raja baru lalu turun tahta dan menyerahkannya pada Puteri Febby. Dan terakhir, ia bisa kembali ke Roma.

Ashilla sama sekali tidak punya
niat untuk mengunjungi markas
para pemberontak itu. Bahkan, ia sama sekali tidak tahu ia dan rombongan akan melalui tempat para pemberontak itu.

Saat akan melalui Lasdorf, kawasan
para pemberontak itu berada, pasukan pengawal Ashilla mulai memperketat penjagaan.
Kecurigaan Ashilla sempat timbul dan ia memaksa kedua menteri itu
untuk mengatakan apa yang sedang terjadi.

Hingga kini Ashilla tidak tahu
apa yang membuatnya tiba-tiba
memutuskan untuk mengunjungi
benteng pemberontak itu.

Setelah mengetahui yang
sebenarnya, Ashilla mengirim Ray beserta Sivia untuk kembali ke Istana Azzereath. Sementara itu
Gabriel diperintahkan untuk menantinya di Thamasha.

Awalnya mereka berdua tidak setuju pada rencananya. Tetapi, di Vandella titah Raja adalah titah yang tidak dapat dilawan. Ashilla
meyakinkan mereka dengan
menjelaskan rencananya.

Saat itu hampir bersamaan dengan
kembalinya Puteri Febby dari
perjalanannya ke luar negeri.Ashilla akan  memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa ke sarang para pemberontak.

Seorang prajurit diperintahkannya
untuk menyebar isu itu. Beberapa
hari kemudian Ashilla melewati
sarang musuh. Sesuai dengan
perhitungannya, para pemberontak itu muncul dan menculiknya.

Satu-satunya yang salah dalam
perhitungan rencana Ashilla adalah
waktu. Awalnya Ashilla meminta Gabriel memberinya waktu satu bulan untuk mengetahui kehidupan pemberontak itu sebelum ia memulai pemerintahannya.

Ternyata waktu yang digunakan
Ashilla lebih dari satu bulan bahkan hampir dua bulan.

Ashilla memang berniat untuk
memperpanjang masa tinggalnya
dibenteng itu dengan membuat
mereka menduga ia adalah pelayan Puteri Febby.

Ashilla sangat berharap perpanjangan waktu itu bisa membuat mereka mempercayainya dan mau bercerita banyak padanya tentang kehidupannya selama ini.









*******************************

yeyyy akhirnya chapter 5 bisa dipost juga hehe :-D

aku sedih waktu baca dan ngedit chapter ini, membayangkan kehidupan Ashilla dan Patton yang penuh kesengsaraan. hahhh aku juga sempet nangis lho, ngedit sambil dengerin lagu Rindu Setengah Mati (Cover) by. Rio waktu masih di icil :-)

terimakasih lagi buat yang mau baca dan aku mohon Jangan jadi pembaca gelap, okeh!!

selamat membaca :-)

Minggu, 24 Agustus 2014

Anugerah Bidadari (versi Icil) - Chapter 4

akuuuu daataaaaangg hehe :-)

wuiihh ngga nyangka lho ternyata banyak juga yang suka sama cerita repost yang satu ini hihihi :-D

makasih yang udah setia nunggu dan nyempetin waktu buat baca :-)

****

Akhir-akhir ini kepala Cakka terasa sangat pusing.

Belakangan ini semua yang dilakukannya tidak ada yang beres. Ia tidak dapat memanah dengan tepat sasaran dan permainan pedangnya sangatlah kacau.

Semua perhatiannya hilang. Semuanya konsentrasinya hanya tercurah untuk seorang gadis yang telah berhasil mengobrak-abrik ketenangannya.

Setan cilik yang satu ini memang tidak bisa dilepaskan begitu saja walau hanya sesaat. Selalu saja
ada yang mengekori gadis itu. Hal itu yang selalu membuat Cakka uring-uringan setiap harinya.

Cakka heran sendiri bagaimana gadis itu bisa menarik perhatian para pria disini hingga ia selalu dikejar oleh mereka seperti lebah dan madu. Dimana ada gadis itu pasti ada pria-pria yang mengejarnya. Cakka hanya bisa geleng-geleng melihatnya.

“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Alvin tiba-tiba.

Cakka menatap Alvin sambil menghela nafas “Aku juga tidak tahu.”

“Jadi, apa kau sudah mau mengakuinya?”

“Mengakui apa?” tanya Cakka bingung.

Alvin menyandarkan punggungnya dipohon dan berkata, “Kau mulai menyukai Shilla, bukan??”

“AKU!?” teriak Cakka.

“Iya kau, memangnya siapa lagi kalau bukan kau! Semua orang disini sudah mengetahui kalau kau mencintai Shilla,”kata Alvin sambil tersenyum menggoda, “Malam itu ketika kau menariknya dan membawanya kedalam kamarmu saat Shilla sedang berkumpul bersama kami, sadar atau tidak sikapmu itu telah menunjukkan sifat kecemburuan mu terhadap kita para pria disini.” lanjut Alvin sambil terkekeh pelan mengingat kelakuan Cakka malam itu.

“AKU!! Cemburu pada kalian?? Yang benar saja!!” teriak Cakka lagi dengan mimik shock.

“sudahlah akui saja kalau kau cemburu pada kami. Semua orang
yang berada disana waktu itu tahu kalau kau cemburu pada kami termasuk.....padaku.” kata Alvin lagi sambil menyeringai.

Cakka mendengus kesal tetapi tidak membalas perkataan Alvin.

“Dan kau tahu?? Semalam aku bermimpi kalau kau dengan Shilla
menikah.” Alvin tersenyum nakal.

Cakka mengibaskan tangannya
sambil berkata, “Buang saja mimpi-mimpimu itu dan Jangan terlalu banyak bermimpi.”

“Terserah kau saja kalau kau tidak mau mengakui dan mempercayai ku. Tapi, jangan katakan aku tidak pernah memperingati mu,” kata Alvin “Saat ini banyak orang yang nekat merebut Shilla darimu. Aku khawatir kalau kau tidak bergerak cepat, kau akan kehilangan dia untuk selamanya.”

“Untuk apa aku mengkhawatirkannya??" kata Cakka acuh.

“Terserah padamu!!” kata Alvin pasrah. “Saat ini ada beberapa pemuda yang berencana untuk melamar Shilla, jika kau tidak mau kehilangannya bertindaklah lebih cepat. Kalau tidak, kau akan menyesalinya seumur hidup.” lanjut Alvin memperingati.

“Apa?? Melamarnya???” Cakka terlonjak kaget.

“Aku mendengarnya sendiri dari mulut mereka. Katanya mereka akan mengajukannya siang ini.” jawab Alvin santai.

“Apakah mereka tidak dapat
berpikir jernih?? Mereka itu masih terlalu kecil untuk menikah?? Mereka semua masih anak-anak!!” gerutu Cakka.

“Daripada kau ribut di sini nggak ada gunanya, lebih baik kau menemui Shillamu itu,” Alvin memberi usul.

“Aku baru saja akan menemuinya,”
kata Cakka sambil meloncat bangkit.

Alvin tersenyum puas melihat tingkah Cakka dan berseru, “Lamar dia segera sebelum kau didahului oleh yang lain!!!”

Kata-kata Alvin tadi telah memberikan ide dibenak Cakka. Mungkin itu jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan untuknya.

Mereka tidur dalam satu kamar saja telah menimbulkan banyak gosip. Apalagi kalau ada hal-hal yang lain diluar pemikirannya. Pernikahannya dengan gadis itu pasti akan menghentikan gosip-gosip itu dan dapat memulihkan nama baik mereka. Yaa, dengan pernikahannya itu pula ia menjadi lebih leluasa untuk mengawasi gadis itu kapan saja.

Akhirnya Cakka harus mengakui
kecantikkan yang dimiliki Ashilla. Sejak awal gadis itu telah membuat banyak hal yang membuatnya takjub.

Mula-mulanya ia akan marah sambil menangis. Kemudian ia akan terus menghinanya tanpa henti. Cakka yakin tak ada pria satupun yang akan bisa tahan mendengar rentetan hinaannya itu selain dirinya. Dan hanya gadis itu saja yang mampu menahan sakit dan lapar selama berhari-hari.

Cakka yakin ia takkan dapat menemukan gadis lain yang seunik
setan ciliknya. Setan ciliknya itu
sama sekali tidak mengenal rasa
takut dan tidak mengenal kata pantang menyerah.

Ketika melihat wajahnya yang cantik seperti boneka, orang takkan menduga hal itu. Matanya yang biru cerah selalu menatap tajam. Rambut panjangnya keemasannya yang selalu bersinar lembut.

Tidak ada seorang pun yang tidak takut pada kemarahannya selain gadis itu. Dan rupanya gadis itu tidak hanya menarik untuknya saja. Tetapi semua orang yang disini juga telah tertarik dengan kepandaian dan ketangkasan yang dimilikinya.

Akhirnya Cakka harus mengakui
bahwa dia telah tertarik pada gadis itu dan sangat mencintainya.

Alvin benar kalau sekarang ia tidak segera bertindak, ia bisa
kehilangan Shilla untuk selama-
lamanya.

Cakka mempercepat langkahnya menuju gadis pujaannya itu. Ia merasa harus menemukan Shilla
secepat mungkin sebelum ada yang mendahuluinya.

***

Ashilla saat ini sedang berlari-lari kecil sambil bersenandung ria. Kali ini dia merasa sangat gembira.

Hijaunya pepohonan disini mengingatkannya pada desa Marshwillow. Desa dimana tempat ia dibesarkan dulu sebelum ia dibawa kesini. Ia sangat merindukan desanya yang hijau itu.

“Setan cilik!!!”

Tiba-tiba ada seseorang yang meneriakinya. Ashilla tahu sangat tahu, karena setiap hari dirinya selalu dipanggil dengan sebutan "setan cilik" olehnya. Cakka, yaa pemilik suara itu adalah Cakka. Ashilla mendengus kesal, Cakka telah merusak hari gembiranya untuk kesekian kalinya selama dia berada ditempat ini.

“Ada apa?” tanya Ashilla acuh.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” selidik Cakka.

“Khawatir aku kabur, heh??” tanya
Ashilla, “Jangan khawatir, aku pastikan aku tidak akan kabur dari tempat ini. Masih banyak yang harus aku lakukan untuk rakyatmu disini.”

“Aku sangat senang mendengarnya. Kalaupun kau kabur, aku pasti bisa menemukanmu.” jawab Cakka tegas.

“Aku tidak yakin kau akan bisa melakukannya.” ucap Ashilla acuh tak acuh sambil berlalu dari hadapan Cakka.

Sebelum Ashilla beranjak dari hadapannya, Cakka dengan cepat menarik tangan Ashilla untuk lebih dekat dengannya. “Berhentilah, aku ingin berbicara
denganmu.”

“Apa lagi yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Ashilla dengan mimik kesal. “Bukannya aku telah setuju untuk tidur di kamarmu. Dan aku juga telah berjanji untuk tidak akan kabur darimu. Masih adakah yang kurang?”

“Apakah kau tidak bisa bekerja
sama denganku walau hanya
sekali ini saja?” tanya Cakka mencoba untuk tidak ikut terpancing.

“Tidak!!” jawab Ashilla tegas, “Aku
tidak bisa bekerja sama dengan
orang yang aku benci.”

“Sebenarnya, apa yang
membuatmu marah padaku?” tanya Cakka bingung. “Bukankah aku telah berulang kali meminta maaf atas kekasaranku padamu. Apakah itu belum cukup untukmu??” lanjut Cakka.

Ashilla membuang muka tidak mau menatap mata Cakka.

“Kau tahu, hanya kau satu-satunya wanita yang bisa memendam kemarahan lebih dari satu bulan.”

“Terimakasih atas pujianmu itu.” kata Ashilla dengan tersenyum sinis.

Cakka hanya dapat menghela nafas mendengarnya.“Apa kau mau memberitahuku alasannya? kenapa kau masih marah kepadaku sampai saat ini??"

“Kau sudah tahu pasti mengapa aku tidak dapat berhenti
membencimu,” kata Ashilla
dengan tenang.

“Baiklah..,” kata Cakka pasrah, “Aku akan minta maaf lagi atas semua kesalahan dan kekasaran serta segala sikapku yang tidak pantas aku lakukan terhadapmu.” Cakka menatap Ashilla, “PUAS!?”

“Belum!!” kata Ashilla enteng.

Cakka mengangkat tangannya
dengan pasrah. “Aku tidak tahu
apa yang membuatmu terus
membenciku..." Cakka berhenti sejenak, "Aku datang kesini bukan untuk mencari pertengkaran baru denganmu. Aku datang kesini berniat untuk melamarmu.” lanjut Cakka.

“Apa?? Melamarku?” tanya Ashilla kaget.

“Aku bertanya maukah kau
menjadi istriku?” ulang Cakka dengan tegas.

Ashilla memandangi Cakka dengan tatapan bingung sekaligus bertanya-tanya. “Kau tidak sedang dalam keadaan mabuk kan??”

“Tidak!!” sergah Cakka cepat. “Aku sadar apa yang aku katakan tadi.”

Ashilla menatap Cakka lekat-lekat, mencari kejujuran dimata Cakka.

“Apa kau bersedia??” tanya Cakka setelah beberapa saat terjadi keheningan.

“Tidak!” sahut Ashilla tegas, “Aku
tidak.akan.pernah.mau.menikah denganmu!” lanjut Ashilla sambil menekankan kata-katanya.

Cakka menangkap lengan Ashilla. “Kau harus mau!! Aku tidak suka penolakan!!” desisnya.

“Tidak! sekali tidak tetap tidak!!” bantah Ashilla, “kau tidak bisa memaksaku!”

“Baiklah..,” Cakka mengalah mendengar jawaban Shilla yang tetap kukuh menolaknya. “Tapi aku akan tetap  memberimu waktu untuk berfikir sampai malam ini. Ingat!! hanya malam ini." kata Cakka menegaskan sambil berjalan meninggalkan Ashilla.

“Aku tetap tidak mau!!” seru
Ashilla geram pada Cakka yang mulai menjauh.

“Menikah dengannya?” kata Ashilla pada dirinya sendiri. “Apa dia sudah tidak waras lagi mengatakan hal seperi itu??" Ashilla mendengus heran."Dan sampai mati pun aku tidak sudi untuk menjadi istrinya.”

Di luar kemarahannya, Ashilla telah mengakui Cakka adalah pahlawan. Ia hanya mengagumi keberanian yang dimiliki Cakka. Dan untuk saat ini perasaan yang dimiliki Ashilla hanya sampai sebatas mengagumi tidak lebih.

Kalau dia disuruh untuk memilih diantara menikah dengan Cakka atau membiarkan Pricilla merebut Cakka, tanpa berfikir panjang lagi ia pasti akan memilih untuk membiarkan Pricilla merebut Cakka dan menikahinya. Ia hanya mengagumi Cakka tetapi tidak tertarik untuk menikah dengannya.

Ashilla berusaha untuk melupakan pinangan dari Cakka dan tidak memperdulikannya. Apapun yang terjadi, ia tetap akan mengatakan “TIDAK!”.

Dengan hati riang, ia kembali menari-nari didalam hutan. Di hutan itu ia berusaha mengenang kembali desa Marshwillownya yang hijau itu. Ia benar-benar ingin kembali ke desanya sebelum ia dipaksa meninggalkannya.

Ashilla terus bermain di hutan
sampai siang hari.

Seperti biasa, di siang hari ia akan
membantu para wanita untuk memintal benang. Dan di sore hari ia akan membantu mereka untuk menyiapkan makan malam.

Sebenarnya Ashilla ingin sekali makan malam bersama mereka, tetapi Cakka pasti tidak akan memperbolehkannya. Seusai membersihkan diri dan membantu para wanita, Cakka memaksanya untuk naik ke kamar. Seperti halnya Cakka, ia juga sudah lelah untuk terus bertengkar dengannya.

Lebih baik untuk malam ini dan malam seterusnya dia akan berusaha untuk tidak memancing keributan dengan Cakka. Dia akan segera naik ke atas setelah makan malam dan duduk berdiam diri didalam kamar sampai pagi.

Tidak seperti malam biasanya, malam ini Cakka segera masuk kedalam kamar setelah makan malam dan tidak menanyai Ashilla seperti biasanya. Ia menyibukkan dirinya di meja kerja miliknya.

Ashilla tidak memperdulikannya,
kemudian ia duduk di ujung ranjang dan mulai menyulam lagi. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Ashilla yakin malam ini juga pekerjaannya pasti bisa selesai. Yang belum selesai hanya hiasan pada taplakanya seperti awan-awan kecil dan burung-burung yang terbang di angkasa.

Tiba-tiba Ashilla merasa ada yang sedang mengawasinya. Lalu Ashilla
mengangkat kepalanya dan sangat terkejut ketika melihat Cakka tengah memperhatikannya.

“Kelihatannya kau sedang sibuk sekali.” tanya Cakka sambil berjalan mendekatinya.

Ashilla sadar bahwa saat inilah waktunya. Lalu dia meletakkan hasil sulamannya disampingnya.

Cakka duduk di samping Ashilla.
“Bagaimana jawabanmu??” tanyanya lembut.

“Dengan sangat menyesal...” kata
Ashilla lambat-lambat, “Aku tetap tidak mau menikah denganmu.”

Ashilla berkata dengan sangat tenang berusaha agar tidak membangkitkan kemarahan pada diri Cakka tetapi pada akhirnya pria itu akan marah juga.

“Apakah kau tidak bisa berhenti membenciku? Sebenarnya apa dosaku padamu?” tanya Cakka geram.

“Kau pasti tahu sendiri,” balas
Ashilla tidak mau kalah, “Aku
yakin kau tidak terlalu bodoh
untuk mengetahuinya.”

“Apa kau masih marah padaku karena aku telah membunuh para pengawal itu?” tanya Cakka sambil mencengkeram lengan Ashilla.

“Itu kau tahu, kenapa kau masih bertanya lagi??” jawab Ashilla tenang.

“Apa kau tidak punya pemikiran lain selain itu?” tanya Cakka tidak percaya. Kemudian dengan nada yang lebih lembut ia melanjutkan, “Dalam peperangan, kita tidak peduli siapa yang bersalah siapa yang tidak. Di dalam peperangan tidak ada hukum apapun. Begitu pula dalam perjuanganku melawan Raja Sion. Kalau kita
tidak membunuh, kita sendiri yang akan terbunuh. Itulah hukum perang.”

Ashilla menatap Cakka dengan
tajam. Tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Cakka.

“Aku akan memberimu waktu lagi,
pikirkan dengan baik-baik kata-kataku ini. Besok pagi aku akan menanyaimu lagi.” kata Cakka dengan lembut. Ashilla sampai heran melihatnya. Tapi gadis itu tidak heran ketika Cakka mencium bibirnya lagi dengan lembut
lalu berkata, “Selamat malam.”

Ashilla tetap duduk meringkuk
ketika Cakka sudah membaringkan
tubuhnya sendiri disisi kaki ranjang.

Ini semua gara-gara apa yang diucapkan Cakka barusan, yang membuat Ashilla sama sekali tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur. Ia terus memikirkannya. Apakah yang dikatakan Cakka itu memang benar? Atau hanya bualan semata agar ia mau menikah dengan Cakka?? Hahhh, Ashilla menghela nafas lelah. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada hukum dalam peperangan. Tapi, Ashilla tidak habis pikir mengapa orang bisa membunuh orang dengan semudah itu.

Apakah nyawa itu tidak berharga
lagi dalam peperangan? Mereka pasti sudah tahu kalau ikut serta dalam perang, mereka bisa terbunuh begitu saja. Tetapi mengapa mereka masih mau mengorbankan diri mereka sendiri?

Mengapa demi perang orang-orang mau mengorbankan segalanya? Termasuk nyawa mereka dan keluarga mereka.

Apa keuntungan dalam perang?

Perang hanya membuat ibu pertiwi bersimbah darah. Mayat mayat bergelimpangan dimana-mana. Kalau hasil dari peperangan itu adalah kemenangan, itu bagus. Tapi kalau kalah… ?? Apa gunanya mengorbankan nyawa kalau ada cara lain untuk mencapai tujuan?

Cakka sendiri seharusnya bisa menempuh jalan lain yang lebih aman untuk mencapai cita-citanya. Ia bisa menikahi Febby. Kalau Raja Sion mati, Febby akan naik tahta. Dan ia akan menjadi raja dengan
sendirinya.

Ashilla yakin Cakka dapat melakukannya. Ia adalah pria sangat tampan dan baik hati. Tidak mungkin kalau Febby akan menolaknya begitu saja.

Tapi…

Ashilla masih tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang disini. Ia dibesarkan di desa yang damai, adil, tentram, dan makmur. Jadi Ashilla tidak bisa untuk memahami jalan pemikiran orang-orang yang ada disini.

Ashilla menghela nafas pelan, saat ini ia tidak dapat tidur. Ia ingin sekali pergi ke bawah dan berkumpul dengan orang-orang di luar sana.

Melihat Cakka yang didekatnya, seketika itu Ashilla langsung mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Walaupun pria itu sudah tidur dengan nyenyak, tetapi bukan berarti dia tidak tahu keadaan yang ada di sekitarnya.

Pernah suatu malam dirinya
terjaga dari tidurnya. Dia tidak tahu apa yang membuatnya
terbangun. Samar-samar Ashilla
mendengar suara-suara yang sangat menakutkan. Ashilla tidak berani untuk membayangkan itu suara siapa yang berhasil membuatnya ketakutan.

“Apa yang membuatmu terjaga?” tanya Cakka tiba-tiba.

Ashilla terlonjak kaget dan langsung menoleh kesamping ternyata Cakka sudah bangun dari tidurnya. Dia sangat lega mendengar suara lembut itu. “Aku tidak tahu,” katanya pelan, “Aku seperti mendengar suara-suara yang menakutkan.”

Cakka berdiri dan mulai memeriksa keadaan didalam maupun diluar ruangan yang luas ini. Lalu ia kembali masuk kedalam kamarnya.

“Tidak ada apa-apa,” katanya tenang. “Mungkin kau hanya bermimpi.”

“Mungkin,” kata Ashilla ragu-ragu.

Tiba-tiba Cakka duduk di sisi Ashilla kemudian berkata. “Tidurlah lagi.. Aku akan disini disamping mu sampai kau tertidur.”

Ashilla merasakan tangan Cakka yang mengenggam tangannya erat-erat dan memberikan rasa aman
padanya.

Ashilla tahu Cakka tidak akan pernah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Gerakan kecil yang berasal darinya bisa membuatnya curiga dan bersikap waspada.

Saat ini malam sudah sangat larut dan Ashilla tidak ingin mengganggu tidurnya Cakka. Ia mulai berbaring walau ia sendiri tidak yakin ia bisa tidur malam ini.

Kata-kata Cakka tadi terus menghantui benaknya. Pikirannya terus melayang jauh tanpa bisa ia kendalikan, hal itu yang membuat dirinya tidak bisa tertidur.

Malam yang semakin larut membuat pikiran Ashilla semakin ikut terlarut, pikirannya semakin melayang jauh dan sangat jauh.

Pagi harinya....

Ashilla tidak ingat kapan ia mulai telelap, tetapi saat ia terjaga
ruangan itu sudah terang.

Cakka berdiri memandanginya
sambil tersenyum. “Kau tidur
juga akhirnya. Aku pikir kau akan begadang sampai pagi.”

“Sang rembulan yang membiusku” sahut Ashilla sekenanya.

“Bangunlah dan basuh mukamu. Kau tampak kusut sekali.” ucap Cakka seraya tersenyum geli melihat tampilan Ashilla pagi ini.

Ashilla bangun dari tempat
tidur dan menuju jendela untuk menghirup udara pagi. Lalu pandangannya tertuju pada segerombolan orang-orang yang sedang melakukan aktivitasnya. "Kau keberatan bila aku membantu mereka?” tanya Ashilla pada Cakka tanpa mengalihkan pandangannya.

“Lakukan apa yang kau suka.” jawab Cakka.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Cakka, Ashilla berbalik meninggalkan jendela menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan setelah selesai, dia segera merapikan tempat tidurnya lalu meninggalkan Cakka dengan hati riang.

Cakka tersenyum melihat
kegembiraan yang tercetak jelas diwajah gadis itu. Dia tidak kelihatan seperti orang yang telah berpikir keras sepanjang malam. Dia sangat semangat.

Cakka segera mengganti bajunya
dan ikut bergabung dengan rakyatnya untuk sarapan pagi. Ia berniat untuk bertanya lagi setelah makan pagi.

Ashilla nampak tidak terbebani dengan perkataan Cakka kemarin malam. Sepanjang pagi itu dia sering tersenyum.

Tiba-tiba Cakka mengajaknya untuk berbicara di dalam hutan.

“Aku masih belum mengerti,” kata
Ashilla sebelum Cakka memulai berbicara.

“Memangnya apa yang belum kau mengerti??” tanya Cakka dengan sabar.

“Mereka sudah tahu kalau mereka bisa terbunuh dalam peperangan, tetapi mengapa mereka masih mau maju ke medan perang?” tanya Ashilla heran.

“Karena cinta mereka,” jawab
Cakka, “Karena cinta dan kesetiaan
mereka pada pemimpin mereka.
Sama seperti halnya kita yang siap
mengorbankan segalanya untuk
tanah air kita. Kita melakukannya
karena apa? Kita melakukannya
karena kita mencintai tanah air
kita.”

Ashilla merenungkan kata-kata
Cakka dengan mengernyitkan dahi. Dan setelah dia paham apa maksudnya, dia berkata “Sekarang aku mengerti.”

“Lalu bagaimana jawabanmu?’ tanya Cakka lagi. Mengulang pertanyaannya yang ia ajukan sejak dari kemarin.

“Aku tetap menolaknya,” kata
Ashilla tegas dan tetap kukuh dengan jawaban sebelumnya.

“Kenapa?? Kenapa kau tidak mau menikah denganku?? Apakah kau masih membenciku?” tanya Cakka beruntun.

“Tidak!! jawab Ashilla tegas. "Sekarang aku sudah mengerti alasan tindakanmu itu. Tapi... " Ashilla berhenti sejenak, "Aku akan tetap menolakmu untuk menikah denganmu. Alasanku adalah aku baru mengenalmu.”

“Itu bukan masalah...” kata Cakka,
“Setelah kita menikah, kita bisa
berteman dan saling mengenal satu sama lain.”

“Maafkan aku..,” kata Ashilla pelan, “Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai dan aku tidak mau menikah tanpa alasan yang jelas.” lanjut Ashilla.

“Cinta itu bisa datang dengan seiringnya berjalannya waktu. Dengan kita sering bersama-sama rasa Cinta itu bisa muncul dengan sendirinya." Cakka berhenti sejenak, "Dan aku punya alasan mengajakmu untuk menikah dengan ku?? Kau ingin tahu alasannya?”

Ashilla diam membisu tidak menjawab pertanyaan dari Cakka.

Cakka terlihat gemas melihat sikap diamnya Ashilla. Lalu dengan tidak sabar Cakka melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
“Baik.. aku akan memberitahumu alasanku. Aku menikahimu agar aku bisa mendapatkan dukungan lebih dari rakyat.”

“Dukungan?” tanya Ashilla bingung.

“Untuk melawan Raja Sion, aku
membutuhkan setiap dukungan
yang bisa aku dapatkan. Dengan
menikahi pelayan kesayangan putri mahkota, aku yakin akan semakin banyak orang yang berada dipihakku. Dan aku bisa mengalahkan Raja Sion dengan mudah.”

“Apakah kau tidak punya cara lain selain perang?” tanya Ashilla dengan raut wajah tidak suka dengan cara pandang Cakka.

“Memangnya ada cara lain untuk
menggulingkan Raja Sion selain dengan peperangan?” ucap Cakka berbalik tanya.

“Ada." Jawab Ashilla yakin, "Kau bisa menikahi Putri Febby dan kalau ia naik tahta, kau juga dengan sendirinya akan menjadi raja. Dengan cara itu kau bisa menggulingkan Raja Sion tanpa melakukan perang.”

“Kau pikir itu bisa?” ejek Cakka,
“Apa kau tidak pernah tahu bahwa seorang putri mahkota tidak bisa menentukan sendiri calon suaminya?”

Ashilla diam dan termenung.

“Hanya dengan perang saja Raja
bisa ku gulingkan. Dan, aku bisa
memperoleh lebih banyak
dukungan dengan cara menikahimu.” lanjut Cakka.

Ashilla masih tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.

“Apa kau tidak pernah berpikir bahwa pernikahan ini akan menyelamatkan rakyat dari kesengsaraan?? Dengan dukungan yang sangat besar, aku pasti bisa
menggulingkan Raja Sion,” kata
Cakka penuh semangat. “Kau
dan aku memiliki cita-cita yang
sama yaitu membuat hidup rakyat menjadi lebih sejahtera. Aku tidak salah bukan?”

Ashilla masih tetap dengan sikap diamnya. Tetapi matanya
memandang jauh ke langit. Ia terus memikirkan kata-kata Cakka barusan. Dia tidak bisa menikah dengan Cakka, tapi disisi lain dia sangat ingin membantu rakyat di negara ini agar hidupnya menjadi lebih baik.

Cakka memberikan gadis itu kesempatan untuk berpikir.

Ashilla masih tampak ragu-ragu dan akhirnya setelah dia yakin dengan keputusannya dengan tegas ia berkata, “Aku bersedia.”

“Bagus,” kata Cakka seraya tersenyum puas. “Sekarang juga kita menikah.”

“Apa?? Kau sudah gila yah?? Tidak mungkin kita menikah hari ini juga??" tanya Ashilla terkejut.

“Kenapa tidak mungkin?? Jangan khawatir aku sudah menyiapkan segalanya,” kata Cakka enteng. Lalu tiba-tiba Cakka menarik tangan Ashilla untuk menemui Ify.

Sepertinya Ify sudah tahu apa
tugasnya. Begitu melihat Cakka
membawa Ashilla, ia segera
menyambut gadis itu. Kemudian Ify mengeluarkan gaun putih sederhana dari sebuah peti dan menyuruh Ashilla untuk mengenakannya.

Sementara Ashilla sedang merapikan gaunnya, Ify membersihkan cadar pengantin yang akan digunakan oleh Ashilla.Ashilla heran bagaimana Cakka
bisa menyiapkan gaun pengantinnya secepat ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang bersarang dibenaknya kini telah terjawab sudah. Ify telah menceritakan semuanya sambil mendandani Ashilla.

Orang tua Cakka ternyata dulunya adalah pemberontak sama halnya seperti Cakka. Merekalah yang
awal mula mendirikan benteng ini untuk bersembunyi.

Selama bertahun-tahun mereka mengobarkan semangat rakyat untuk melawan pemerintahan Raja
Sion yang sangat kejam. Sayangnya Raja Sion telah berhasil menangkap mereka.

Ia menjatuhkan hukuman mati
pada mereka. Saat itu Cakka baru berumur dua belas tahun. Dan, sejak saat itu pula yang membuat Cakka mulai melakukan pemberontakan terhadap sistem pemerintahan Raja Sion sama seperti yang dilakukan kedua orangtuanya.

Cakka menyempurnakan benteng yang telah dibangun orangtuanya. Untuk menghidupi rakyat yang tinggal disini, ia sering menyerbu pasukan kerajaan yang bertugas menarik pajak.

Tindakannya membuat rakyat
mencintai dan menghormatinya.
Tapi juga membuat Raja Sion sangatlah murka terhadapnya.

Raja memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Cakka. Tapi mereka tidak pernah berhasil.

Mata-mata Cakka sangatlah banyak yang tersebar dimana-mana. Banyak yang akan memberitahunya bila Raja sedang merencanakan sesuatu untuk
menangkapnya diriya.

Selama bertahun-tahun pula Cakka
menjadi buronan sang Raja dan tidak sekali pun dia tertangkap.

Cakka terus menyempurnakan
strateginya agar Raja kewalahan menghadapinya dan segera menyerah untuk tidak menangkapnya lagi.

Semua orang di negara ini sangat membenci Raja Sion. Dia adalah Raja yang sangat tega memeras rakyatnya dengan segala macam-macam pajak yang tinggi hanya untuk memperkaya dirinya sendiri.

Ia bahkan tega membunuh siapa
saja yang berani mengatakan
‘tidak’ padanya. Semua orang di Kerajaan Vandella sangat berharap Raja Sion segera mati dan Cakka bisa naik tahta.

Mereka tidak mengharapkan orang lain selain Cakka.

Ashilla mendengarkan dengan cerita itu dengan penuh perhatian. Ia tertarik ketika mengetahui bahawa gaun pengantin yang akan ia kenakan adalah gaun milik ibu
Cakka.

Ashilla merasa terhormat dan tersanjung bisa mengenakan gaun yang sangat berharga ini.

Ify memberinya serangkaian bunga hutan yang sangat indah.
“Sayang disini tidak ada bunga lili
atau bunga mawar yang akan melengkapi kecantikanmu.”

Ashilla tidak menanggapi perkataan dari Ify tadi. Ia membiarkan Ify membimbingnya
menuju ke ruangan tempat diaman Cakka tengah menantinya.

Cakka nampak sangat tampan
dalam balutan jas hitamnya yang sangat halus. Jasnya sehitam dengan warna rambutnya yang disisir rapi kebelakang.

“Kau sangat mirip pengantin jaman
pertengahan,” bisik Cakka ketika Ashilla sudah ada didekatnya. Lalu Cakka menggandeng tangan Ashilla
untuk menghadap Pastor.

Ashilla masih bingung, kapan
Cakka bisa menyiapkan segalanya
dengan secepat ini?? Ashilla juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Cakka, sepertinya Cakka sengaja menyembunyikan pernikahan mereka berdua. Kalau memang dia  membutuhkan tambahan dukungan, dia pasti akan mengundang orang banyak dalam upacara ini. Tapi nyatanya hanya ada beberapa orang yang menyaksikan acara ini.

“Pangeran!!! Pangeran!!!”

Tiba-tiba ada suara yang sangat panik yang menyela proses upacara pernikahan ini. Dengan terpaksa acara ini dihentikan dulu.

Alvin segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia berbicara sebentar dengan orang itu lalu
membisikkan sesuatu pada Cakka.

“Maafkan saya Bapak, tampaknya
kita harus terpaksa menghentikan
upacara ini untuk sejenak.” kata Cakka meminta maaf.

“Silahkan..,” jawab Pastor itu bijak.

Cakka segera berjalan menemui orang yang diluar itu.

Ashilla menatap Alvin dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi,” kata Alvin seakan mengerti arti dari tatapan Ashilla.

Sesaat kemudian Cakka masuk
kembali kedalam ruangan itu. Ia kelihatan nampak sangat cemas.

Ashilla ingin sekali mengetahui masalah apa yang membuat Cakka menunda hal yang paling penting menurut Cakka sendiri.

“Maafkan aku.. ada urusan yang sangat penting yang harus segera aku tangani,” kata Cakka meminta maaf pada Ashilla.

“Sekali lagi maafkan kami Bapak, nampaknya kami tidak bisa untuk melanjutkan upacara ini. Ada masalah yang sangat mendesak yang harus saya lakukan.”

“Silahkan..” kata Pastor itu lagk.

Alvin segera mengikuti langkah Cakka dari belakang.

Ashilla memandang Pastor itu lalu
kemudian mengalihkan pandangannya pada Cakka yang menghilang dibalik pintu. Terakhir pada Ify.

“Sepertinya ada masalah yang sangat penting yang sangat mendesaknya.” kata Ify menenangkan Ashilla.

“Entahlah...,” kata Ashilla pelan.

Ashilla segera kembali kekamarnya dengan bantuan Ify  dan mengganti gaunnya.

Ketika ia berada di luar, ia melihat Cakka yang sedang berbicara serius dengan beberapa orang. Dari kejauhan tampak sekali bahwa Cakka sangat cemas.

Ashilla tidak tahu apa yang tengah terjadi saat ini, ia hanya berharap
semuanya akan baik-baik saja.

“Apa kau sudah puas?”

Ashilla sangat terkejut mendengar pertanyaan sinis itu.

“Ini ulahmu, bukan? Aku sangat yakin sekali kalau ini pasti ulahmu!!”

“Apa yang Anda maksud, Pricilla?” tanya Ashilla heran.

“Jangan pura-pura!!” bentak Pricilla. “Pasukan kerajaan telah mengepung kita. Pasti kau yang telah memberitahukan kepada mereka!! Dasar wanita tidak tahu diri!!”

“APA!! Apa maksudmu Pricilla?? Aku tidak tahu apa yang kau katakan barusan?” pekik Ashilla kaget.

"Ciihh!! Kau jangan pura-pura tidak tahu!!" geram Pricilla.
“Mereka, prajurit kerajaan telah bergerak menyerbu kita ke tempat ini,”Pricilla mengulangi perkataannya dengan nada sinis.

“Kurang ajar!!” desis Ashilla murka lalu beranjak pergi.

“Mau kemana kau?” Pricilla menahan tangan Ashilla.

Ashilla menepiskan tangan Pricilla yang menahannya dan berlari menuju kuda yang dilihatnya. Ashilla segera melompat keatasnya dan memacunya secepat mungkin.

“Berhenti!” kata Pricilla yang tiba-tiba menghadang Ashilla. “Takkan aku biarkan kau bisa lolos begitu saja!”

Ashilla tidak kehilangan akalnya, ia membelokkan laju kudanya
dan memacunya kuat-kuat
menerobos hutan.

Pricilla sangat terkejut melihat kenekatan Ashilla. Ia segera berlari menemui Cakka.

“Cakkaaa!! Cakkaa!!!” teriaknya ketika melihat keberadaan Cakka.

“Pergilah Pricilla, aku sangat sibuk!” kata Cakka seakan tidak menghiraukan teriakannya.

“Kali ini kau harus mendengarkan aku, Cakkaa!” ucap Pricilla mulai merengek.

Cakka terus menyibukkan diri, tidak perduli dengan rengekan yang keluar dari mulut Pricilla.

“Wanita itu adalah mata-mata!” seru Pricilla,” Sekarang ia kabur!!”

“Apa katamu???” teriak Cakka kaget.

“Mata-mata itu kabur! Ia pasti
memberitahukan siasat kita pada
pasukan kerajaan itu!!” lanjut Pricilla.

“Apa!!” Cakka sangat terkejut mendengarnya.

“Pasti dia yang memberitahu kepada pasukan kerajaan tentang tempat kita ini.” kata Pricilla lagi.

Cakka tidak mendengarkan lagi kata-kata Pricilla selanjutnya. Ia langsung meninggalkan bawahan-
bawahannya dan segera melompat
keatas kuda dan mulai memacunya

“Pangeran!! Pangeran mau kemana???” seru mereka.

“Teruskan penyerbuan tanpa aku!!”
perintah Cakka pada bawahannya.

Cakka memacu kudanya secepat
mungkin. Ia harus menyusul gadis itu sebelum dia bertemu dengan para prajurit kerajaan.

Lalu ia melihat Ashilla sekitar tiga puluh meter didepannya.

Gadis itu dengan sangat lincah mengarahkan kudanya melewati
ranting-ranting pohon. Tangannya
yang satu sibuk melindungi
wajahnya dari debu dan tangan satunya lagi memacu kudanya dengan sangat cepat.

“Setan cilik!!!” teriak Cakka.

Ashilla terus memacu kudanya dengan sangat cepat.

Cakka berusaha memperpendek
jarak mereka. Tapi tiap kali ia berhasil memperpendek jaraknya, gadis itu malah berhasil membuat jarak mereka kembali menjadi jauh.

Cakka sangat geram melihat ketangkasan yang dimiliki Ashilla dalam mengendalikan kudanya. Gadis itu seakan tahu hal apa yang harus dilakukannya agar jarak mereka tetap jauh.

“Berhenti !!!” Angin membawa pergi teriakan Cakka.

Samar-samar Ashilla dapat mendengar langkah kaki kuda di
belakangnya. Ia juga mendengar
teriakan-teriakan Cakka, tapi ia
tidak mau berhenti.

Ashilla terus mempercepat laju kudanya sambil berdoa agar ia tidak terlambat. Hampir dua bulan Ashilla berada di tempat ini.

Dua bulan disini sudah lebih dari cukup baginya untuk mengenali kawasan hutan ini. Ia tahu jalan terpendek untuk memutus laju kedua kubu itu sebelum mereka bertemu.

Ashilla tidak mau terjadi perang. Ia sangat membenci dengan segala yang berbau perang.

Akibat dari cepatnya laju kuda yang ia tunggangi, membuat gelungan rambutnya terurai. Walau rambut pirangnya itu berkibar-kibar seperti gaunnya, Ashilla seakan tidak memperdulikannya. Ia hanya ingin segera tiba tepat waktu.

“Berhenti, setan cilik!!” teriak Cakka lagi.

Ashilla semakin mempercepat laju
kudanya. Saat ini tidak ada lagi
yang ia pedulikan selain mencegah pecahnya peperang diantara kedua musuh ini.

Dari kejauhan Ashilla melihat kedua pasukan itu terus bergerak mendekati satu sama lain.

Dalam hatinya Ashilla terus berdoa agar ia bisa tiba sebelum semuanya terlambat.

Setelah melewati beberapa rimbunan pepohonan, Ashilla segera membelokkan kudanya ke arah pasukan kerajaan.

“Mundur!!” teriak Ashilla sambil
memberi tanda dengan tangannya.

Tiga puluh meter dibelakang
Ashilla, Cakka dapat mendengar gadis itu terus meneriakkan kata
“Mundur” sambil memberi tanda
dengan lambaian tangannya.

Ashilla sangat kesal melihat pasukan itu tidak juga berhenti bergerak.

“AKU PERINTAHKAN UNTUK MENARIK PASUKAN!!!” Ashilla berteriak dengan sekuat tenaganya.

Cakka memperlambat laju kudanya untuk melihat pasukan kerajaan yang tiba-tiba berhenti bergerak.

Tetapi, Ashilla terus memacu kudanya ke arah pasukan kerajaan tersebut.

Dengan gerak tangannya, Cakka
memerintahkan pasukannya untuk
berhenti.

Dari tempatnya, Cakka dapat melihat bahwa Ashilla terus memacu kudanya menerobos puluhan ribu pasukan kerajaan itu.

Pasukan yang paling terdepan segera berbelok mengikuti Ashilla.
Tak seorang pun diantara mereka yang pernah melihat para pasukan kerajaan itu bergerak mundur dengan sangat teratur dan indah itu. Cara mereka mundur sangatlah unik. Mirip seperti segerombolan penari yang berbelok secara teratur dari barisan yang terdepan hingga yang terakhir.

Dengan bubarnya pasukan kerajaan, Cakka pun akhirnya
memerintahkan pasukannya untuk
mundur.

“Ia pasti mata-mata!!” komentar itu yang pertama kali terlontar dari mulut Pricilla setelah ia mengikuti Cakka dan mengetahui apa yang tengah terjadi.

“Tutup mulutmu, Pricilla!” sergah
Cakka, “Jangan lupa, ia adalah
pelayan kesayangan Putri Febby. Dan pastinya mereka datang untuk menyelamatkannya.”

“Tapi sekarang ia bersama mereka,
bukan?” protes Pricilla tidak terima kalau Cakka terus membela gadis itu, “Ia pasti akan membocorkan tempat ini pada
mereka.”

“Dengar, Pricilla!!” kata Cakka
memperingatinya dengan tajam, “Ia sama sekali tidak suka perang.”

“Dia…” kata-kata Pricilla terpotong karena tangan Alvin yang telah menutup mulutnya agar tidak bisa melanjutkan perkataannya.

“Sebaiknya kau diam saja, Pricilla. Shilla bukan gadis seperti apa yang ada dipikiranmu itu. Ia pasti melakukan semua ini untuk menghindari perang..” kata Alvin berhenti sejenak, “Pasti !!” lanjut Alvin menegaskan ucapannya sendiri.

















*******************************

hahhh post juga akhirnya :-D

selamat membaca :-)