hayy...hayy.. :-D
aku balik lagi bawa cerita repost hehe :-)
makasih yang udah setia nungguin, semoga kalian ngga pada bosen :-)
oke langsung saja !!
C
E
K
I
D
O
T
!!
****
“Sekarang semuanya telah
berubah.”
Kalimat itulah yang diucapkan Ashilla pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya didepan cermin.
Sementara ia duduk berdiam diri, para pelayannya sedang sibuk menata rambutnya.
Ada yang khusus dibagian
menggelung, ada yang khusus dibagian memberi hiasan-hiasan rambut, ada pula yang khusus menyisiri rambutnya. Sungguh Ashilla dibuat pusing karenanya.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah duduk diam sambil mengamati dirinya dan pelayannya dari depan cermin sampai mereka selesai mendandaninya.
Ashilla benar-benar lega ketika akhirnya mereka selesai juga. Dia tidak tahu apa jadinya kalau kegiatan ini lebih lama lagi, mungkin dia bisa mati kebosanan.
“Bawa masuk makan siang untuk
Yang Mulia Ratu.” Angel memberi perintah pada pelayan-pelayan lainnya.
"Baik !!" seru para pelayan tersebut.
“Kurasa saat ini aku tidak akan makan siang, Angel.” ucap Ashilla yang membuat Angel menghentikan pekerjaannya.
"Tapi Yang Mulia... Anda pasti sangat lelah dan pastinya juga lapar. Apa tidak sebaiknya Anda makan dulu, Yang Mulia" jawab Angel memohon.
"Tidak Angel !!" ucap Ashilla tegas.
“Baik Yang Mulia seperti keinginan Anda akan saya lakukan. Kalau begitu saya mohon undur diri, Yang Mulia Ratu.” ucap Angel seraya menunduk memberi hormat.
Ketika Angel sang pelayannya mohon ijin untuk keluar, pada saat itu Ashilla menangkap kekecewaan yang ada diwajah Angel. Ashilla ingat Sivia pelayan setianya. Sivia selalu kecewa apabila ia menolak untuk makan apa yang ia telah siapkan untuknya. Hal itu yang membuat Ashilla pada akhirnya menerima permintaan Angel yang menyuruhnya untuk makan siang.
“Tunggu!!” teriak Ashilla mencegah. Dengan tersenyum, ia melanjutkan perkataannya, “Aku tidak akan membuat usaha kalian sia-sia. Jadi, aku akan makan. Tetapi, aku tidak ingin makan sendirian. Tolong panggilkan
Gabriel dan Rio untuk menemaniku makan siang.”
Walau ia tidak menampakkannya, tapi Ashilla tahu bahwa Angel sangat senang ketia ia menerima permintaannya. Terlihat dari nada
suaranya ketika ia menjawab,
“Baik, Yang Mulia Ratu!!”
Angel segera menyuruh pelayan-pelayan itu untuk berangkat menyiapkan makan siang untuk Yang Mulia Ratu Ashilla dan ia sendiri bertugas untuk memanggil kedua Menteri itu.
Ashilla mendesah pelan. Tenda yang disiapkan untuknya benar-benar sangatlah besar. Mungkin kalau seratus orang masuk semua kedalam tenda ini, takkan membuat suasana didalam tenda penuh sesak. Karena daya tampungnya yang sangat besar bagi sebuah tenda.
Benar-benar tenda seorang Raja, pikir Ashilla.
Ashilla duduk dikursi ditengah
tenda. Ia diam merenung sambil menunggu kedua Menteri itu datang kesini. Sampai ada suara yang menginterupsi dirinya dari kegiatan merenungnya. Ternyata itu suara milik Angel yang datang untuk melapor,
“Yang Mulia Ratu saya Angel. Saya datang bersama Tuan Gabriel dan Tuan Rio untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu..” teriak Angel dari luar tenda.
“Persilakan mereka untuk masuk.” jawab Ashilla.
"Baik, Yang Mulia Ratu!" ucap Angel setelah mendapatkan ijin untuk memasuki tenda sang Ratu.
“Hamba datang untuk menghadap Anda, Yang Mulia Ratu ” kata kedua Menteri itu sambil membungkuk hormat.
“Duduklah,” kata Ashilla. “Dan temani aku makan siang.”
Lalu mereka duduk dan para pelayan mulai berdatangan dengan membawa bermacam-macam makanan yang lezat.
Selama kegiatan makan siang, Ashilla tidak banyak berbicara. Ia terus memusatkan perhatiannya pada pikirannya. Sikapnya itu membuat Gabriel dan Rio was-was. Memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Ashilla menyadari sikap canggung dan waspada dari kedua Menterinya itu. “Ada apa?” tanyanya, “Apa kalian sudah makan
siang?”
“Belum, Yang Mulia Ratu” jawab mereka berdua sambil menunduk ketakutan.
Ashilla tersenyum memaklumi. Mungkin mereka kira mereka akan mendapatkan hukuman darinya. “Aku meminta kalian untuk menemaniku makan siang bukan untuk memberikan hukuman pada kalian. Aku selalu merasa harus menghabiskan semua makanan ini bila aku
makan sendirian. Apa Ayahku tidak
pernah mengajak kalian untuk makan bersama. Benar begitu?”
Mereka berdua diam, tidak ada yang berani untuk membuka mulutnya hanya untuk menjawab 'Iya' atau 'Tidak'.
“Hanya satu yang dapat aku katakan kepada kalian,” Ashilla melanjutkan dengan tegas, “Aku
bukan Ayahku dan aku membenci
segala sikapnya.”
Selang beberap menit pelayan masuk membawakan hidangan penutup untuk mereka bertiga.
Ashilla menggerakkan tangannya untuk mengatakan ia tidak mau. Karena ia sudah merasa cukup kenyang.
Pelayan itu pun mengerti dan beralih untuk melayani Gabriel dan Rio lalu mohon ijin untuk meninggalkan tenda.
Setelah pelayan pergi meninggalkan tenda, Ashilla melanjutkan perkataannya. “Aku tidak akan memaksa kalian
untuk mempercayaiku,” Ashilla
mengambil gelasnya yang berisi air jeruk dan meminumnya dengan tenang.
Waktu makan siang pun telah usai para pelayan segera membersihkan meja dan membawa semua peralatan makan keluar tenda untuk dibersihkan.
Tiba-tiba Ashilla berdiri dan berlalu menuju meja rias dan
mencari-cari sesuatu di lacinya.
Kedua menteri itu pun memandangi Ashilla dengan penuh ingin tahu.
Ashilla menulis sesuatu pada
selembar kertas lalu kembali pada
kedua menterinya.
“Rio, aku perintahkan kau untuk
membawa pulang pasukanmu sore
ini. Dan bawa pula kereta kudaku serta para pelayan.”
Mereka berdua sangat terkejut dengan perintah dari Ashilla. Mereka ingin membantah tetapi Ashilla tidak memberi mereka kesempatan untuk membantah.
“Dari sini ke Perenolde
membutuhkan waktu berapa
lama?" tanya Ashilla.
“Paling cepat satu minggu, Yang Mulia Ratu.” jawab Gabriel.
“Bukannya tiga hari?” tanya Ashilla heran.
“Dengan kecepatan tinggi, waktu
itu bisa tercapai, Yang Mulia. Tetapi kita tidak bisa secepat itu mengingat Anda sedang bersama kami. Kami harus berhati-hati dalam setiap langkah kami demi keselamatan Anda, Yang Mulia Ratu.” jawab Rio dengan tegas dan mendapatkan anggukan setuju dari Gabriel.
Ashilla berpikir keras. “Aku ingin kalian berdua kembali ke Perenolde sore ini juga. Dan kau Gabriel, aku perintahkan untuk
menyebar titahku ini pada para
Menteri disana.”
"Titah hamba akan saya lakukan, Yang Mulia Ratu" jawab Gabriel menunduk hormat.
Sementara Gabriel membaca kertas yang diberikan Ashilla padanya itu, Ashilla melanjutkan perkataannya, “Aku ingin kalian mempersiapkan rapat di Istana tepat hari minggu depan. Aku ingin kalian berdua juga membuat laporan atas apa yang kalian kerjakan selama ini. Mulai dari ayahku sakit hingga saat ini.”
"Baik, Yang Mulia Ratu!!" seru mereka berdua kompak.
“Tapi bagaimana dengan Anda sendiri, Yang Mulia Ratu?” Rio memberanikan diri untuk bertanya.
“Tinggalkan saja seekor kuda untukku dan empat prajurit terbaikmu, Rio. Aku akan segera berangkat setelah kalian pergi." Ashilla berhenti sejenak dan untuk beralih menatap Gabriel. "Dan Satu tugas lagi untukmu, Gabriel. Aku ingin kau memberitahu pada Sivia bahwa kabarku disini baik-baik saja
dan aku akan segera tiba nanti.” lanjut Ashilla.
“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu.Tetapi saya tidak setuju dengan usul Anda, Yang Mulia. Rencana ini terlalu berbahaya untuk Anda. Kami sangat mengkhawatirkan
keselamatan Anda, Yang Mulia.” bantah Rio seraya menunduk minta maaf.
“Apa kau kira dengan sekompi pasukan mu ini, aku akan selamat?” tanya Ashilla tajam. “Tidak, Rio!! Sebuah kereta emas saja telah menarik perhatian mereka apalagi dengan banyak pasukan seperti ini. Kau juga harus ingat, Rio, aku baru saja meninggalkan Lasdorf. Dan tentunya saat ini mereka sedang mengawasi kita, terlebih dengan aku. Mereka akan bersiap-siap untuk menculikku kembali. Karena aku telah mengetahui tempat persembunyian mereka. Bagi mereka, aku terlalu berbahaya untuk mereka lepas di tengah-tengah kalian.”
Ketika Rion ingin mengatakan sesuatu kepada Ashilla, Ashilla telah mengangkat tangannya terlebih dahulu untuk menghentikannya dan Ashilla melanjutkan perkataanya dengan tegas.
“Jangan menyarankan aku untuk
menyerang mereka, Rio. Aku tidak akan pernah menyerang mereka. Mereka berjuang untuk kemakmuran mereka dan rakyat. Bukan untuk menggulingkan pemerintahan. Disamping itu, saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan masalah pergantian tahta, bukan masalah peperangan untuk melawan pembrontak.”
Mereka berdua diam memikirkan rencana yang diutarakan Ashilla.
Ashilla tidak ingin memberi mereka kesempatan untuk berpikir terlalu lama.
"Hari sudah mulai siang.Kembalilah kalian untuk beristirahat. Pukul lima sore nanti kalian mulai berangkat ke Perenolde. Dan, bila kalian masih
mengkhawatirkan keselamatanku,
tinggalkan empat jendral terbaikmu, Rio, untuk mengawalku.”
Kedua menteri itu pun akhirnya menyetujui rencana Ashilla dan berusaha untuk menjalankan titahnya dengan sebaik-baiknya. “Kami mengerti, Yang Mulia Ratu,” kata mereka berdua kompak."Kami mohon undur diri, Yang Mulia." lanjut mereka berdua sambil membungkuk hormat dan meninggalkan tenda.
Angel masuk kedalam tenda tak lama setelah kepergian kedua Menteri itu.
“Sore ini kembalilah ke Perenolde bersama pasukan yang lain,” kata Ashilla pada Angel, “Katakan pada Sivia juga untuk tidak mencemaskanku. Aku akan segera tiba nanti.”
“Apa Anda tidak akan pulang bersama kami, Yang Mulia?” tanya Angel penuh keheranan.
“Aku akan pulang setelah kalian
berangkat.” jawab Ashila tersenyum.
“Biarkan saya ikut dengan Anda,
Yang Mulia. Saya ingin melayani Anda terus.” pinta Angel.
“Kau akan melakukannya, Angel.
Tapi tidak untuk saat ini. Banyak yang ingin aku lakukan sepanjang
perjalanan pulang nanti. Aku ingin
kau kembali ke Azzereath terlebih dahulu, Angel.” jawab Ashilla seraya membayangkan rencana-rencana yang akan ia lakukakan pada saat ia pulang nanti.
“Baiklah, Yang Mulia Ratu. Titah Anda akan saya lakukan." jawab Angel seraya menunduk hormat.
Ashilla menghela nafas kasar. Kenapa semua orang disini tidak ada yang berani membantahnya. Mereka semua takut padanya. Kalau ada yang salah dimata mereka, mereka hanya berani bertanya lalu diam lagi setelah mendapatkan jawaban. Untuk mengatakan tidak setujupun mereka takut dan pasti didahului
dengan kata ‘maaf’.
“Apa sedemikian kejamnya ayahku, hingga kalian takut pada
keturunannya?” tanya Ashilla pelan, “Apa aku sekejam dia di mata kalian?”
“Ti…tidak, Yang Mulia Ratu. Kenapa Anda bisa berkata seperti itu, Yang Mulia?" jawab Angel takut-takut karena tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu oleh Ashilla.
“Aku tahu, Angel..” Ashilla berkata
lembut untuk menenangkan
ketakutan wanita itu, “Didalam
tubuhku memang mengalir darah serigala itu. Aku juga pastinya mempunyai jiwa kejam seperti serigala itu dan kalian patut takut kepadaku. Karena anak serigala adalah serigala juga, bukan?”
Angel ingin membantah semua pernyataan Ashilla tapi sayangnya
Ashilla sudah berkata terlebih dahulu,
“Beristirahatlah, Angel.. Karena tidak sampai tiga jam lagi kau akan kembali ke Perenolde dan sebelum itu kau juga harus berbenah.”
"Baiklah, Yang Mulia. Saya mohon undur diri." ucap Angel seraya
pergi tanpa sempat menjawab pertanyaan dari Ashilla.
Ashilla merasa awal-awal
pemerintahannya ini akan menjadi
tugas yang sangat berat. Karena ia harus membuat mereka percaya kepadanya. Bahwa dia tidak sama seperti Ayahnya yang sangat kejam. Dia berbeda.
Satu jam kemudian kesibukan yang terjadi diperkemahan ditepi Thamasha itu sudah mulai terlihat.
Dari prajurit-prajurit yang sudah mulai membongkar tenda tendanya. Pelayan-pelayan yang sedang membereskan perlengkapaan saat bekemah disini. Serta kusir kuda yang sedang menyiapkan keretanya. Para Jenderal pun sedang mengatur pasukannya.
Sementara itu Ashilla hanya boleh duduk diam di dalam tendanya.
Ashilla sangat bersyukur atas
kecermatan yang dimiliki Sivia. Wanita tua itu membawakan baju berkuda untuknya lengkap dengan segala perlengkapannya. Baju itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk Ashilla.
Tepat ketika para pasukan sudah
bersiap-siap untuk berangkat,
Ashilla pun kini sudah selesai berganti baju.
Rio dan Gabriel serta pasukan yang
lainnya berbaris rapi didepan
tenda milik Ashilla. Mereka hendak berpamitan pada gadis itu
sebelum mereka pergi.
Ashilla melangkah keluar dari tendanya. Ia mengernyitkan dahi ketika menemukan orang-orang yang ada dihadapannya kini sedang menatapnya dengan tatapan terpana.
“Ada apa? Apa ada yang tidak beres?” tanya Ashilla penuh keheranan.
“Ti…tidak, Yang Mulia Ratu.” Rio segera menjawab, “Kami…kami..hanya..”
“Kami hanya tidak menduga Anda sekecil ini, Yang Mulia. Maafkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia Ratu.” Gabriel memberanikan diri untuk berterus terang.
Ashilla hanya tertawa geli mendengarnya.
Gadis itu tidak menyadari bahwa ia
nampak bersinar saat mengenakan baju berkudanya tersebut. Baju berkudanya yang kini membungkus ketat tubuhnya dan menonjolkan kerampingannya.
Sepatu bot kulit berwarna hitam yang bertumit membungkus kakinya yang telah terbalut celana berkudanya yang berwarna putih hingga ke lutut. Baju merah yang ia kenakan kini membungkus tubuhnya dan nampak sangat serasi dengan warna kulitnya yang
putih. Ujung sarung tangannya yang berwarna putih tersembunyi dengan rapi dibalik lengan bajunya yang panjang. Serta tangannya yang mungil menggenggam erat cemeti hitam.
Rambutnya yang panjang tersembunyi dibalik topi hitamnya. Rambutnya yang terjuntai keluar yang tertimpa sinar matahari sore dan bersinar indah seperti perhiasan yang tak ternilai harganya.
Wajah cantiknya bersinar ceria.
Matanya memandang lembut.
Senyuman manisnya yang selalu tersungging diwajahnya yang berseri.
Gadis itu berdiri tegak dan
menampakkan wajah wibawanya sebagai seorang Ratu.
“Kalian membuatku geli,” kata
Ashilla seraya tertawa, “Apa kalian berpikir aku sebesar gajah hingga kalian terkejut ketika aku tiba-tiba
menjadi tidak lebih besar dari
semut? Hidup makmur seperti ini
dapat membuat aku bertambah
gemuk tetapi waktu dua bulan
lebih belum cukup untuk
membuatku tampak subur seperti
gajah.” lanjut Ashilla yang masih setia dengan tawanya.
“Sudahlah..” Ashilla menghentikan tawa gelinya, “Segeralah kembali ke Perenolde sebelum hari semakin gelap. Jangan buat keluarga kalian menanti dengan cemas lebih lama lagi.”
“Baik, Yang Mulia. Kalau begitu kami berangkat.”
Ashilla melambaikan tangannya
sampai mereka jauh. Dan setelah tak terlihat lagi bayangan mereka, pandangan Ashilla kini beralih kepada empat jendralnya itu.
“Kita juga harus segera berbenah
dan kembali ke Perenolde.”
“Baik, Yang Mulia.” seru mereka kompak.
Keempat jendral terbaik yang
ditinggalkan Rio untuk
mengawalnya, kini mulai membongkar tenda yang di tempati Ashilla. Segala perabotan yang ada didalam tenda itu telah dibawa kembali oleh pasukan tadi. Sekarang yang tertinggal hanya sebuah tenda kosong.
Gaun-gaun milik Ashilla juga telah
dibawa pulang semua. Ashilla lah
yang memerintahkan hal itu. Ia
menolak membawa baju ganti
karena itu akan merepotkan
rencananya.
Hari sudah mulai gelap ketika Ashilla akan menaiki kuda hitam yang ditinggalkan untuknya.
“Kemana kita akan pergi, Yang Mulia Ratu?” tanya Jenderal Bastian.
“Kita akan meninggalkan tempat
ini,” kata Ashilla, “Semakin larut
kita melewati daerah pemberontak, semakin baik. Malam-malam seperti inilah mereka tidak akan mengenali kita.”
“Kami mengerti, Yang Mulia.”
Segera dua orang menempatkan
diri dikanan dan dikiri Ashilla dan
yang lainnya mengekor dibelakang
Ashilla.
Tepat seperti perhitungan Ashilla,
suasana sekitar Lasdorf sangatlah
sepi. Tak tampak seorang pun yang berada didaerah tersebut
hingga mereka berada jauh dari
tempat itu.
Melihat hari semakin larut, Ashilla berkata pada empat jendralnya itu, “Kita harus segera mencapai kota terdekat.”
“Jidoor terletak di sekitar tempat
ini, Yang Mulia” kata Jenderal Ray,
“Kita bisa mencapainya dalam waktu lima belas menit.”
“Baik sekarang kita kesana,” Ashilla
memutuskan, “Tunjukkan jalannya
padaku, Ray.”
Ray pun memimpin mereka menuju ke Jidoor.
Di kota kecil itu Ashilla memutuskan akan tinggal untuk
malam ini. Kota kecil ini tidak
mempunyai penginapan mewah,
tapi Ashilla tidak mengeluh akan hal ity. Ia tahu ia tidak bisa mengharapkan kemewahan dari kehidupan rakyatnya yang sedang menderita.
Ray memesan tiga kamar yang
berjajar untuk mereka. Kamar
Ashilla berda ditengah dan kedua
kamar lain untuk mereka para jendralnya.
Malah sudah sangat larut ketika mereka tiba di penginapan. Ashilla tidak ingin membuat para Jenderal yang mengawalnya lelah. Ia tahu tugas mereka sangat berat. Ia pun segera masuk kedalam kamarnya seusai makan malam.
Paginya setelah sarapan, mereka
melanjutkan perjalanan.
Setelah melihat kehidupan rakyat
Lasdorf, Ashilla sama sekali tidak terkejut melihat kehidupan rakyat di Jidoor. Rakyat tampak letih dan lemah. Mereka seperti sudah berhari-hari tidak makan. Hanya mereka yang cerdik yang bisa bertahan dalam situasi seperti ini.
Ashilla melihat sendiri bagaimana orang kaya di Jidoor menolak membantu rakyat yang lain. Bagi mereka, mengumpulkan uang sepenny adalah hal yang palinb sangat sulit. Terlalu berharga uang satu penny untuk diberikan pada orang yang miskin.
Hari ini mereka kaya, tetapi belum
tentu dengan hari esoknya. Kekayaan di negara ini tidak pernah terjamin. Raja yang serakah itu selalu merebutnya dengan kejam.
Ashilla ingin sekali rasanya menyumbangkan uang yang dimilikinya pada mereka, tetapi ia tidak melakukannya. Ashilla tidak ingin menarik perhatian orang-orang disini bila ia melakukannya.
Saat ini setiap orang sibuk mencari
kekayaan sendiri untuk dapat
membayar pajak. Semua orang tahu, tidak membayar pajak berarti melawan Raja.Hukumannya adalah masuk penjara. Bahkan, bisa saja hukuman mati.
Situasi Vandella saat ini benar-
benar sangat kacau. Semua saling
menekan dan saling bersaing dalam mengumpulkan uang. Tidak
ada lagi yang peduli pada sesama
mereka.
Ashilla mendesah cukup panjang.
“Apa ada yang salah, Yang Mulia?”
tanya Bastian cemas.
“Kehidupan rakyat benar-benar sangat parah,” jawab Ashilla. “Semuanya lebih buruk dari yang akau bayangankan. Rakyat ini benar-benar membutuhkan Raja yang baik.”
“Saya menyarankan kita segera
kembali ke Perenolde secepatnya,
Yang Mulia.” ucap Debo tiba-tiba.
“Bila kau bermaksud untuk
mengatakan semakin cepat aku
mengambil alih pemerintahan maka akan semakin baik.” kata
Ashilla, “Aku sependapat denganmu, Debo.”
Walaupun Ashilla telah berkata
seperti itu, ia tetap memacu
kudanya dengan lambat. Setiap
kali memasuki daerah pemukiman rakyat, ia akan berjalan dengan lambat.
Tetapi, ia akan mulai memacu kudanya dengan kencang ketika meraka berada di jalan antara dua kota.
Keempat Jenderal itu tampak
senang mengawal Ashilla. Gadis
itu tidak banyak menuntut seperti
layaknya seorang Ratu. Ia lebih
banyak mempelajari sekitarnya.
Mereka tiba di Perenolde dua hari
lebih cepat dari perhitungan Ashilla.
Ketika memasuki Perenolde,
Ashilla tidak melihat perbedaan
kota ini dengan kota-kota lainnya.
Tetapi, ketika ia semakin dalam
berada di Perenolde, ia mulai
melihat ciri ibukota. Gedung-
gedung yang menjulang tinggi tetapi tidak dapat menyaingi kemegahan istana yang menjulang ke langit.
Sepuluh mil di luar Perenolde,
Ashilla dapat melihat betapa megahnya Istana Azzereath. Dan, semakin dekat semakin indah Azzereath itu.
Sangat disayangkan oleh Ashilla
disekeliling istana megah ini
terdapat kehidupan yang
memprihatinkan. Istana ini berdiri
dengan sangatvangkuh menatap kehidupan diluar dirinya yang penuh dengan penderitaan.
“Tidak lama lagi semuanya akan
berubah!!” Ashila meyakinkan
dirinya sendiri.
Setelah melihat sendiri penderitaan rakyatnya, Ashilla
mengubah rencan awalnya. Ia mengerti, ia tidak dapat dengan mudah mengalihkan tahta pada orang lain seperti mainan. Ia harus
memperbaiki kesalahan ayahnya.
Walaupun ia membenci ayahnya,
sebagai keturunannya ia merasa
harus mewakili serigala itu untuk
meminta maaf.
Pintu gerbang istana yang menjulang tinggi tertutup rapat
seperti tidak mau menerima
kehadiran orang lain. Dan dua prajurit sedang berdiri tegak menjaga pintu gerbang.
“Buka pintunya!!” perintah Jenderal Bastian pada prajurit tersebut.
"Baik, Tuan!!" seru mereka berdua kompak.
Lalu kedua prajurit itu membuka pintu gerbangnya dan dengan penuh ingin tahu mereka terus memperhatikan Ashilla yang dikawal oleh keempat Jenderal terbaik yang dimiliki Vandella.
Ashilla tersenyum ramah dan
berkata, “Terima kasih.” Kemudian
ia memacu kudanya untuk memasuki halaman Istana yang sangat luas.
Karena kedatangan Ashilla dua
hari lebih cepat dari yang
direncanakan, maka tidak ada pesta penyambutan untuknya. Ashilla sendiri tidak peduli akan hal itu.
Gadis itu lali menghentikan kudanya ditangga masuk. Seumur hidupnya, Ashilla tidak pernah membayangkan akan tinggal di bangunan setinggi danbsemegah ini.
Istana Azzereath lebih megah dari yang Ashilla bayangkan tetapi juga lebih dingin dari bayangan Ashilla.
Kemudia Ashilla turun dari kudanya dan menapaki tangga menuju pintu masuk.
“Berhenti!” tiba-tiba dua prajurit yang sedang berjaga menghadang
jalan Ashilla dengan tombak milik
mereka yang sangat runcing. “Siapa kau? Mau apa kau masuk kesini?”
Ashilla tersenyum memaklumi. Karena mereka tidak mengetahui siapa dirinya.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Jenderal Debo memarahi mereka,
“Mengapa kalian menghadang jalan
Yang Mulia??”
“Mereka tidak mengenaliku, Debo.” Ashilla mengingatkan, “Ini pertama kalinya aku menginjakkan
kaki di Azzereath.”
“Maaf, Yang Mulia. Tapi mereka tidak berhak menghadang jalan Anda.” ucap Debo seraya menunduk.
“Apa kalian akan mengenaliku
kalau aku tiba-tiba muncul tanpa
memberitahukan kepada kalian siapa aku terlebih dahulu?” tanya Ashilla tenang.
“Tentu saja tidak, Yang Mulia” jawab Jenderal Ray.
“Jadi..” kata Ashilla, “Kalian tidak
boleh memarahi mereka.”
“Kami mengerti, Yang Mulia” sahut
mereka.
“Ijinkan saya memperkenalkan diri saya pada Anda, Tuan-tuan,” kata Ashilla seraya tersenyum, “Nama saya Ashilla Zahrantiara. Saya datang dari desa yang bernama Marshwillow, Roma.”
Kedua prajurit itu terkejut setelah
mendengar nama ‘Ashilla Zahrantiara’ lalu ketika menyadari kesalahannya mereka cepat-cepat berlutut dan berkata, “Maafkan atas kelancangan kami, Yang Mulia Ratu. Kami pantas dihukum, Yang Mulia”
“Berdirilah... Jangan mudah mengatakan untuk pantas dihukum,” Ashilla menasehati, “Belum tentu setiap kesalahan adalah kesalahan kalian. Seperti kali ini, kalian sama sekali tidak bersalah. Kalian hanya tidak mengenaliku.”
“Terima kasih atas kebaikan Anda,
Yang Mulia Ratu.” Mereka pun mulai berdiri.
“Aku menyerah,” kata Ashilla pasrah, “Aku tidak tahu bagaimana lagi membuat kalian berhenti bersikap sekaku ini padaku.”
“Sejujurnya, Yang Mulia, Andalah yang harus merubah pandangan Anda,” kata Jenderal Riko tanpa rasa takut.
Keempat Jenderal itu telah mengenal watak Ashilla dalam
perjalanan pulang tadi. Mereka
yang terus mengawal Ashilla
tahu Ashilla tidak akan mudah marah.
Gadis itu mengharapkan orang-
orang tidak terlalu memujanya
walaupun ia adalah seorang Ratu.
“Aku?” tanya Ashilla heran.
“Anda adalah Ratu. Sudah sepantasnya kami menyanjung
Anda, Yang Mulia” jawab Ray.
Ashilla mengeluh panjang, tidak menjawab pernyataan dari Ray dan memilih untuk melangkah masuk kedalam istana.
Tindakan pertama yang dilakukan Ashilla setelah ia berada didalam Istana adalah melepas topinya.
Ashilla merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
“Benar-benar istana orang yang serakah,” gumam Ashilla.
Semua yang ada didalam Istana ini
bersinar cerah. Semuanya terbuat
dari bahan-bahan terbaik. Tak satu
pun yang tampak buruk. Semuanya
bersinar angkuh.
“Selamat datang di Istana Azzereath Yang Mulia Ratu.” ucap Gabriel seraya menunduk memberi hormat.
Ashilla menatap Gabriel dengan
heran. “Bukankah kau seharusnya menyusun laporan?”
“Saya telah menyuruh orang lain
untuk mengerjakannya selama saya mengatur penyambutan Anda disini, Yang Mulia.” jawab Gabriel.
“Tetapi sekarang itu tidak perlu
lagi, bukan?” sambung Ashilla.
“Iya.. Karena Anda datang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bagaimana perjalanan Anda, Yang Mulia Ratu?” ucap Gabriel seraya tersenyum.
“Semua lancar. Tidak ada gangguan sedikit pun. Bagaimana
dengan perjalananmu, Gabriel?”
“Ketika melewati Lasdorf, kami
melihat beberapa orang yang sedang mengawasi kami tetapi mereka membiarkan kami terus berlalu.” jawab Gabriel lagi.
“Tepat seperti harapanku.” sahut
Ashilla, “Sekarang kita harus
menyelesaikan tugas pertamaku.”
“Yang Mulia Ratu Ashilla!!”
Tiba-tiba ada suara yang meneriakinya. Ashilla tidak terkejut mendengar teriakan itu dan terlebih melihat Sivia yang sedang berlari kearahnya. Wanita tua itu menubruk dan memeluknya sangat erat.
Ashilla mengrenyit kesakitan merasakan kuatnya pelukan wanita gemuk itu. Ia merasa seperti akan diremukkan oleh Sivia.
“Anda membuat saya cemas, Yang Mulia. Sudah dua bulan Anda berada di Lasdorf. Saya sngar khawatir mereka mencelakakan Anda.” kata Sivia cemas.
“Sekarang aku sudah ada disini, bukan?” jawab Ashilla menenangkan pelayan setianya.
“Ya, tapi Anda terus membuat saya
cemas akhir-akhir ini. Saya takut setengah mati ketika Tuan Gabriel mengatakan Anda akan kembali dikawal oleh empat Jenderal saja.”
“Jangan terlalu khawatir, Sivia. Aku baik-baik saja, buktinya aku samapi disini dengan selamat. Dan selama diperjalanan tidak ada yang menggangguku.” Ashilla masih dengan senyuman manisnya
“Anda harus beristirahat, Yang Mulia. Anda pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh ini.” bujuk Sivia.
“Tidak, Sivia. Aku harus menyelesaikan sesuatu dulu.” tolak Ashilla dengan lembut.
“Sesuatu apa, Yang Mulia?” rupanya Sivia tidak senang dibantah.
“Pengumuman kematian ayahku,”
jawab Ashilla masih dengan tersenyum.
Kemudian tatapan beralih pada Gabriel dan ia berkata, “Aku lihat kita mempunyai gedung Parlemen tapi keanapa aku tidak melihat orang-orangnya. Kemana perginya mereka semua?”
“Mereka ada, Yang Mulia. Tetapi selama Raja Sion berkuasa, mereka tidak lagi berfungsi. Yang Mulia Raja Sion menghentikan semua kegiatan mereka. Yang Mulua Raha menolak semua bantahan terhadap perintah-
perintahnya dan semua
keputusannya.” jawab Gabriel tegas.
“Aku ingin kau memanggil
mereka kembali, Gabriel. Buatkan
janjiku dengan mereka untuk besok pada saat makan malam. Aku ingin undangan tersebut atas nama Raja Sion. Sebarkan pada para anggota dewan untuk hadir pada acara makan malam di Gedung Parlemen bersama Raja
Sion.” kata Ashilla pada Gabriel.
“Baik, Yang Mulia.” jawab Gabriel mengerti.
“Aku menekankan untuk tidak
menyebutkan namaku. Biarlah esok aku yang akan memberitahu
mereka apa yang telah terjadi
selama ini.”
“Apa itu tidak terlalu berlebihan, Yang Mulia?” tanya Gabriel heran.
“Tidak, Gabriel. Aku tahu ayahku
tidak pernah bersedia makan
malam dengan bawahannya. Kalau
ia tiba-tiba mengatakan akan makan malam dengan para anggota dewan di Gedung Parlemen, aku yakin perhatian banyak orang akan mulai terpancing. Akan banyak koran
yang mencatat kejadian pada saat itu nanti dan aku tidak perlu membuang waktu untuk menyebarkan hal ini di seluruh penjuru Vandella.” jawab Ashilla dengan nada yang sangat tegas.
“Hamba mengerti, Yang Mulia.” jawab Gabriel mengerti.
“Saya tidak setuju!” bantah Sivia, “Anda baru saja tiba tetapi Anda sudah akan mulai bekerja. Kapan Anda akan beristirahat, Yang Mulia?”
“Hari ini sampai besok malam, Sivia” jawab Ashilla.
“Itu tidak cukup! Anda terlalu
lelah, Yang Mulia.” bantah Sivia tak mau kalah.
“Tolong jangan membantahku, Sivia. Aku harus segera mengumumkan kabar kematian
ayahku. Semakin cepat semakin
baik.”
“Tapi…”
Ashilla mengangkat tangannya untuk menghentikan bicara Sivia.
“Sebarkan sekarang juga, Gabriel.” perintahnya pada Gabriel.
“Baik, Yang Mulia, titah Anda akan saya laksankan” seru Gabriel seraya menunduk hormat lalu meninggalkan Ashilla.
Ashilla menarik tangan Sivia dan berkata, “Tunjukkan padaku di
mana tempat tidurku.”
Melihat gelagat Sivia yang ingin berkata sesuatu, Ashilla langsung mendahului, “Apa kau tidak ingin melayaniku?”
“Itu adalah hal yang paling saya
inginkan di dunia ini, Yang Mulia Ratu.” jawab Sivia tersenyum senang.
Ashilla tersenyum geli melihatnya dan terus mengikuti langkah pelayan tuanya yang setia sekaligus ibu asuhnya itu.
*******************************